Author: Dafa Fauzan Irawan

Keramba Sungai Kali Angke di Perumahan Villa Pamulang Sebagai Upaya Mencegah Banjir

KERAMBA SUNGAI KALI ANGKE DI PERUMAHAN VILLA PAMULANG, TANGERANG SELATAN SEBAGAI UPAYA MENCEGAH BANJIR DAN MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS MASYARAKAT Ajimat, S.Si., M.M. Dosen Universitas Pamulang Pemerhati Lingkungan Hal yang selalu terulang bagi masyarakat yang berada disekitar villa pamulang adalah merasakan banjir akibat meluapnya sungai kali angke yang disebabkan air kiriman atau curah hujan yang tinggi. Seperti pada tanggal 16 Juli 2022, banjir tersebut menyebabkan terendamnya rumah warga, memutus akses jalan kendaraan dan menggangu aktivitas warga ditambah dengan sisa lumpur yang ditinggalkan menjadi pekerjaan rumah warga. Keramba sungai adalah bentuk pembudidayaan ikan sungai di dalam sebuah kotak bambu atau kayu yang ditancapkan ke dasar sungai.  Kegiatan ini sudah banyak dilakukan di beberapa daerah, seperti di Sungai Widuri, Bantul, Yogyakarta. Jenis ikan yang dibudidayakan adalah ikan sungai seperti ikan nila dan ikan mas. Dengan adanya kegiatan pembudidayaan ini tentu akan meningkatkan taraf perekonomian masyarakat terutama para stakeholder. Kegiatan pembudidayaan keramba sungai di Kali Angke dapat difungsikan sebagai peran aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan dan normalitas sungai. Mengapa demikian? Hal ini tergantung pada aturan dan kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Pemerintah dapat menggerakan dan memfasilitasi masyarakat membuat keramba sungai di Kali Angke dengan siteplan dan aturan yang komprehensif. Misalkan, masyarakat perorangan atau kelompok atau komunitas diperkenankan dengan mengikuti aturan sebagai berikut: Keramba: Bahan dan Ukuran serta Titik Lokasi Penempatan; Wajib menjaga dan dinding penyangga bibir sungai minimal dengan bambu ; Wajib menjaga kedalaman sungai minimal; Wajib menjaga kebersihan dan keindahan serta kenyaman lingkungan sekitar sungai; Memperkenankan masyarakat untuk dapat berekreasi di sekitar keramba; Berbagai aturan tersebut bukan hanya dituliskan di atas kertas, tetapi harus dijalankan secara tegas. Pengawasan akan pelaksanaan aturan tersebut tentu harus melibatkan, RT, RW, Organisasi Keagamaan dan Komunitas masyarakat setempat. Berdasarkan beberapa informasi terkait kelemahan keramba sungai adalah bukan sesuatu yang tidak dapat diselesaikan seperti berkurangnya volume sungai dalam menampung air dan pencemaran yang diakibatkan berlebihnya pemberian pakan. Coba kita perhatikan, terkait berkurangnya volume sungai dalam menampung air, dapat diatasi dengan memperdalam sungai dan mewajibkan pemilik keramba memperdalam sungai dengan kedalaman minimal yang ditetapkan dan diawasi, diukur. Terkait kelebihan pakan, maka dapat dibuat area khusus setiap berapa keramba dan area di luar keramba untuk khusus ikan tertentu, misalkan ikan wader, ikan sapu-sapu, ikan patin. Upaya keramba sungai kali angke yang dilakukan dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat ini diharapkan dapat mencegah banjir yang terjadi di Villa Pamulang, Tangerang Selatan. Selain itu kebahagiaan masyarakat akan meningkat melalui peningkatan perekonomian dan tempat rekreasi di sekitar rumah. Yang paling penting adalah terciptanya kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan kebersihan, keindahan dan kenyamanan lingkungan.

Tirempah Cetuskan Hasil Tani Sebagai Bahan Baku Masker Organik Dan Teh Herbal

ANIS NURUL FITRIANA MAHASISWA AKUNTANSI UNIVERSITAS PAMULANG Mulanya, memang negara kita selalu kaya akan hasil pertanian seperti beras, kacang-kacangan dan biji-bijian. Dampak positif bisa kita rasakan seiring berkembangnya intensitas pertanian di Indonesia. Bukan hanya untuk urusan dalam negeri saja seharusnya, di mana petani kecil di bermacam wilayah masih terkendala akses pasar dan sulit menjual hasil pertaniannya. Petani di wilayah tersebut hanya akan menjual produknya pada tengkulak yang biasanya memiliki nilai jual yang rendah. Ini dikarenakan barang yang dipasarkan masih berupa barang mentah, sehingga tak bisa langsung diserap oleh masyarakat luas. Sebenarnya, jika mau berinovasi sedikit saja, seperti apa yang dikatakan Anisa Nurul Fitriana—yang merupakan mahasiswi Universitas Pamulang, jurusan Akuntansi S1 Prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi Bisnis yang mengusung dua lini yang termasuk primer di dalam kehidupan, yaitu, kesehatan dan kecantikan. Melalui konsep ‘TIREMPAH’, diharapkan bermacan produk pertanian yang berguna di dua lini tersebut, mampu dipasarkan dalam bentuk jadi. Alias, produk siap pakai. Dalam kurun waktu yang lama masyarakat Indonesia memang belum cukup sadar bahwa apapun yang terdapat pada alam sekitar adalah pendukung dari kehidupan itu sendiri. Begitu pula dengan negara yang terkenal akan kekayaannya rempah-rempahnya ini. Komoditi petani mungkin tidak terlihat jika hanya menghasilkan produk mentah, namun akan berbeda ketika produk-produk tersebut telah disulap menjadi lebih elementer dan spesifik, tetapi juga meliputi banyak aspek. Contoh mudahnya yang paling familier di telinga kita adalah masker herbal dan teh herbal. Untuk sampai pada titik ide tercetusnya “TIREMPAH” ini, tentu saja Anis tak lepas dari banyaknya keterbatasan. Gadis berusia 21 tahun menyadari untuk memunculkan sebuah inovasi yang luar biasa, maka ia juga menyadari diperlukan adanya bantuan dari beberapa pihak untuk menuju sebuah kesempurnaan yang diharapkannya. Dr. (H.C). Drs. H. Darsono selaku Ketua Yayasan Sasmita Jaya, Dr. E. Nurzaman AM, M.M., M.Si selaku Rektor Universitas Pamulang,  Dr. H. Endang Ruhiyat, S.E., M.M., CSRA, CMA., selaku Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Effriyanti, S.E., M.Si, Ak.,CA., selaku Ketua Program Studi Akuntansi, Afridayani, S.E., M.M, selaku Dosen Pembimbing yang telah membimbing penulis juga seluruh Dosen Program Studi Akuntansi Universitas Pamulang yang berjasa. TIREMPAH vs Petani Kecil, Mikro, dan Menengah Tantangan bagi para pertanian di Indonesia pada saat ini adalah penyerapan hasil tani pascaproduksi. Petani harus berhadapan dengan tengkulak, tidak ada opsi lain, karena untuk masuk ke supplier distributor besar petani perlu juga menembus beberapa lapis seleksi hingga akhirnya memperoleh keuntungan dari hasil tani mereka. Karena tidak semua hasil panen mempunyai kualitas yang dibutuhkan oleh pasar, maka pasar besar maupun distributor hanya akan membeli hasil panen dengan kualitas Grade A saja. Presentase ini pun hanya akan mencakup 40% dari hasil panen. Berdasarkan masalah tersebut, “Tirempah” melihat masalah yang ada dalam pola distribusi petani daerah ini tidak disebabkan oleh sistem pemasaran saja, namun olahan hasil tani dan penambahan nilai jual yang kurang dari hasil tani yang akan dijual tersebut. Sebab itulah, diperlukan wadah sebagai sarana pemasaran guna menyerap hasil tani masyarakat daerah, yang didominasi oleh petani kecil dan petani mikro. “Tirempah” ini akan mewadahi hasil-hasil panen mereka dan menjadikan nilai jual lebih tinggi ke dalam produk siap pakai seperti masker organik dan teh herbal, juga jenis-jenis wedang yang bisa disajikan secara instansi. Dengan ini, akses pasar agar inovasi produk hasil tani masyarakat daerah bisa ditemukan dengan mudah oleh calon konsumen. Sehingga, inovasi produk dan sulitnya akses pasar yang merupakan masalah utama para petani kecil, mikro, maupun menengah bisa teratasi. Tujuan TIREMPAH “Tirempah” ingin mengubah orientasi masyarakat tentang susahnya mengonsumsi dan menggunakan produk yang berasal dari bahan alami/tradisional yang minim pemakai menjadi produk yang aman, sehat dan kaya akan manfaat dari bahan alam serta mudah dinikmati agar disukai setiap kalangan. Adapun tujuan dari brand “TIREMPAH” ini adalah: Menambahkan nilai jual hasil tani dari petani daerah Memanfaatkan hasil tani petani daerah menjadi produk konsumsi Menjadi rantai distribusi hasil tani petani daerah untuk menjangkau pasar lebih luas Mendorong kemampuan peneliti di perguruan tinggi untuk bermitra dengan petani. Menghasilkan produk masker organik dan produk minuman herbal yang aman dan terjangkau Meningkatkan minat dan pengembangan ilmu pengetahuan tentang kewirausahaan dan inovasi pemanfaatan hasil tani. Menjadi produk wirausaha baru berbasis bahan organik.

Kualitas Pelayanan dan Harga Terhadap Kepuasan Pelanggan yang Berdampak Pada Loyalitas Pelanggan

ADE SAIF ALI, MAHASISWA MAGISTER AKUNTASI Di era globalisasi saat ini, penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di lingkungan kerja merupakan hal wajib bagi setiap perusahaan. Sebagai landasannya, Pemerintah telah mengeluarkan Undang-Undang No. 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja yang mengatur tentang keselamatan kerja dalam segala tempat kerja, baik di darat, di dalam tanah, di permukaan air, di dalam air maupun di udara, yang berada di dalam wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia. Salah satunya adalah penerapan K3 di perusahaan khususnya K3 dibidang peralatan, instalasi, mesin dan lain-lain. Adapun berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI melalui PERMENAKER No. 5 tahun 1985 perubahan PERMENAKER No 8 tahun 2020 tentang pesawat angkat dan angkut dan Peraturan Menteri ESDM melalui PERMEN ESDM No. 18 tahun 2018 tentang pemeriksaan keselamatan instalasi dan peralatan pada kegiatan usaha minyak dan gas bumi, mengatur dan mewajibkan perusahaan menerapkan K3 atas peralatan,instalasi, mesin yang digunakannya. Tujuan dari penerapan K3 terhadap peralatan atau instalasi adalah untuk meminimalisasi angkat kecelakaan kerja yang diakibatkan oleh penggunaan peralatan atau pemakaian instalasi baik terhadap pekerja, terhadap peralatan/ instalasi dan terhadap lingkungan sekitar. Namun tidak semua perusahaan mau menerapkan K3 di peralatan yang dimilikinya, hal ini karena membutuhkan biaya yang besar dan juga keterbatasan SDM yang dimiliki oleh masing-masing perusahaan. Seiring dengan kesadaran akan pentingnya K3, saat ini K3 bukan lagi menjadi himbauan namun sudah merupakan kewajiban yang harus dilakukan, perusahaan-perusahaan besar yang bergerak di bidang MIGAS, Tambang, Konstruksi, Industri dan lainnya menerapkan ISO 45001 (dulu OHSAS 18001)  tentang sistim manajemen K3 yang tujuannya membangun lingkungan kerja yang aman dan meningkatan kinerja kesehatan dan keselamatan kerja secara berkesinambungan, Standar ini berlaku untuk organisasi dari semua ukuran, yang bertujuan untuk mengelola, mencegahan kecelakaan di tempat kerja, kesehatan buruk, dan bahkan kematian. Penerapannya dilakukan diseluruh aktivitas organisasi termasuk pada semua kontraktor dan sub kontraktornya, hal tersebut membuat banyak perusahaan bersaing sangat ketat dalam memenuhi persyaratan ini sehingga bisa beroperasi dan mendapatkan proyek. Karena persaingan usaha semakin ketat, setiap perusahaan dituntut untuk berkompetisi dan menyesuaikan diri, terkadang dalam penyesuaian tersebut membutuhkan jasa pihak ketiga. Pihak ketiga disini merupakan perusahaan yang menyediakan jasa untuk membantu dalam hal standarisasi, inspeksi, mengkaji, mensupervisi, dan melakukan pengujian, yang diinginkan oleh perusahaan yang membutuhkan jasa ini guna meningkatkan daya saing perusahaan tersebut. persaingan perusahaan jasa inspeksi  di wilayah Jabodetabek cukup tinggi. Untuk mempertahankan agar pangsa pasar tetap stabil dan terus meningkat, pihak manajemen harus menerapkan strategi yang tepat dalam menjalankan bisnis ini. Manajemen harus mulai berpikir seperti pelanggan, agar dapat mengetahui apa kebutuhan mereka, sehingga pelanggan akan terpuaskan oleh pelayanan dan harga yang diberikan. Perusahaan dalam mendapatkan peluang memenangkan persaingan adalah memiliki hubungan yang baik dengan pelanggan, hubungan yang baik tersebut akan membentuk loyalitas pelanggan, loyalitas pelanggan akan terbentuk jika pelanggan memiliki kepuasan akan jasa/produk yang diterimanya, dan kepuasan pelanggan akan dipengaruhi antara lain kualitas pelayanan dan harga dari jasa/produk yang diterimanya. Kualitas pelayanan merupakan suatu profit strategy untuk menarik lebih banyak pelanggan baru, mempertahankan pelanggan yang ada, menghindari berpindahnya pelanggan dan menciptakan keunggulan khusus. Perusahaan yang mengutamakan kualitas pelayanan yang baik akan berdampak pada kepuasan pelanggan. Buruknya kualitas pelayanan jasa yang diberikan kepada para pelanggan mengakibatkan banyak kerugian bagi perusahaan dan juga bagi pelanggan itu sendiri, bagi perusahaan mengakibatkan pelanggan tidak akan kembali, sementara bagi pelanggan mengakibatkan kerugian dalam bentuk biaya dan waktu. pelanggan pada masa sekarang sudah mulai selektif untuk mencari tempat jasa yang bagus dan baik secara pelayanannya. Kualitas pelayanan yang kurang memuaskan mengakibatkan terjadinya demarketing yaitu berkurangnya permintaan pelanggan atas layanan jasa perusahaan. Efek berikutnya akan terjadi pemberitaan yang negatif dalam jangka panjang dari mulut ke mulut antara mantan pelanggan dengan relasinya, dan sekali lagi itu adalah kerugian yang harus dialami oleh organisasi atau perusahaan. Pelayanan berkualitas yang diberikan kepada pelanggan juga sangat berhubungan langsung dengan keberlangsungan suatu perusahaan karena akan mendapatkan kepuasan sehingga berdampak pada loyalitas pelanggan. kualitas pelayanan adalah upaya penyampaian jasa untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan serta ketepatan penyampaian untuk mengimbangi harapan pelanggan. Harapan konsumen merupakan keyakinan konsumen sebelum mencoba atau membeli suatu produk yang dijadikan acuan dalam menilai kinerja produk tersebut. Pasuraman et.al dalam Algifari (2019:5) menyebutkan ada 5 indikator kualitas pelayanan yaitu: 1) Tangibles/ Bukti langsung, 2) Reliability/ Keandalan, 3) Responsiveness/ Ketanggapan, 4) Assurance/ Jaminan dan 5) Emphaty/Empati. Dari 5 indikator tersebut, tangibles/bukti langsung secara umum masih kurang memadai diantaranya: lokasi inspeksi hanya tersedia di Tangerang Selatan, banyak peralatan penunjang yang tidak dimiliki sehingga sedikit jenis inspeksi yang diberikan, kurangnya personil yang berkompetensi yang dimiliki perusahaan sehingga banyak pelanggan yang mencari ke tempat lain yang memiliki fasilitas dan personil yang lebih lengkap dan hal ini menyebabkan pelanggan tidak kembali lagi. Faktor reliability/keandalan cukup terpenuhi, petugas yang melayani pelanggan mengikuti sesuai prosedur, pelaksanaan jasa mememenuhi waktu yang telah dijanjikan kepada pelanggan. Faktor responsiveness/ketanggapan, perhatian dan kecepatan karyawan yang terlibat untuk menanggapi permintaan, pertanyaan, dan keluhan pelanggan cukup baik. Faktor assurance/ jaminan perusahaan terhadap jasa cukup baik sesuai permintaan pelanggan, perusahaan memiliki kemampuan dalam memberikan jasa kepada pelanggan dengan karyawan yang berkompetensi meliputi ketrampilan, pengetahuan melakukan pelayanan dan kredibilitas perusahaan yang meliputi hal-hal yang berhubungan dengan kepercayaan pelanggan kepada perusahaan seperti, reputasi perusahaan dan lainnya. Faktor emphaty/empati kepada pelanggan ditunjukan oleh karyawan digaris terdepan, dimana petugas terdepan memberikan perhatian, kepedulian keramahan dan informasi kepada pelanggan terhadap layanan yang sedang mereka berikan sehingga pelanggan memahami setiap hasil yang diterima. Faktor lain yang mempengaruhi kepuasan pelanggan adalah harga, harga sangat menentukan kepuasan pelanggan dalam penggunaan jasa inspeksi ini, karena besarnya biaya yang ditetapkan berkaitan dengan tingkat keterjangkauan dari pelanggan. Semakin tingginya biaya inspeksi akan mengakibatkan pelanggan harus berpikir dua kali dalam penggunaan jasa perusahaan tersebut, demikian sebaliknya apabila biaya inspeksi semakin rendah maka pelanggan cenderung memanfaatkan jasa perusahaan tanpa melakukan pertimbangan lebih banyak. Hal ini sesuai pernyataan Lupiyoadi dalam Febri Putra (2012:4) bahwa harga merupakan faktor yang mempengaruhi tingkat kepuasan konsumen. Dalam menentukan harga yang tepat juga harus mempertimbangkan fasilitas yang didapat oleh pelanggan. Faktor tersebut sangat berpengaruh agar pelanggan merasakan kepuasan karena harga yang diberikan sesuai dengan fasilitas dan pelayanan yang di dapatkan. Banyak perusahaan bangkrut karena mematok harga tidak cocok, harga yang ditetapkan harus sesuai dengan perekonomian calon pelanggan, agar dapat membeli produk/jasa tersebut. Sedangkan bagi pelanggan, harga merupakan bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan pembelian. Karena harga suatu produk/jasa mempengaruhi persepsi pelanggan mengenai produk tersebut. Kepuasan pelanggan memberikan dampak bagi perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung, menurut Kotler & Keller (2016:136) kepuasan pelanggan merupakan nilai yang dipersepsikan oleh pelanggan itu sendiri dari manfaat dari produk/jasa yang diterima yaitu total manfaat dari pelanggan antara lain kualitas pelayanan serta total biaya pelanggan antara lain harga dari produk/jasa tersebut. Untuk itu kepuasan pelanggan merupakan aspek yang harus diperhatikan, jika pelanggan merasa puas dengan pelayanan diberikan tentu saja akan menimbulkan dampak psikologis yang positif, yang mungkin akan berdampak pada loyalitas terhadap perusahaan yang memberikan kepuasan tersebut. Jika pelanggan telah memiliki perasaan puas akan pelayanan yang diberikan, dapat dipastikan pelanggan tersebut akan menjadi pelanggan yang loyal dan tidak akan berpaling pada jasa layanan pesaing. Signifikansi loyalitas pelanggan sangat terkait dengan kelangsungan perusahaan dan terhadap kuatnya pertumbuhan perusahaan di masa datang. Adapun indikator kepuasan pelanggan menurut Hawkins dan Lonney dalam Tjiptono (2016:101) menyatakan bahwa indikator-indikator kepuasan konsumen sebagai berikut: 1) Kesesuaian harapan, 2) Minat berkunjung kembali, dan 3) Kesediaan merekomendasikan. Kesesuain harapan para pelanggan perusahaan cukup memuaskan, dari sisi kualitas pelayanan dan juga dari harga pelanggan menerima dengan baik. Kesediaan merekomendasikan para pelanggan terhadap jasa perusahaan cukup tinggi, terlihat dari hasil penjualan lebih 50% adalah merupakan hasil rekomendasi dari para pelanggan sebelumnya. Namun masih banyak juga pelanggan yang tidak memiliki minat berkunjung kembali, dan memilih mendapatkan jasa dari pesaing. Kotler dan Keller dalam Chintya Damayanti dan Wahyono (2015:240) mengemukakan bahwa ada 3 indikator yang bisa digunakan untuk mengukur loyalitas pelanggan, yang terdiri dari: 1) Kesetiaan terhadap pembelian produk (repeat purchase), 2) Ketahanan terhadap pengaruh yang negatif mengenai perusahaan (retention), 3) Mereferensikan secara total esistensi perusahaan (referalls). Secara umum ketahanan terhadap pengaruh yang negatif mengenai perusahaan (retention) memiliki sisi positif, perusahaan telah memberikan yang terbaik kepada pelangganya dari kualitas, kecepatan pelaporan dan respon kepada pelanggan sangat baik. Selama ini banyak pelanggan telah mereferensikan perusahaan kepada klien, rekanan, supplier dan sub kontraktornya untuk menggunakan jasa PT SATOIL. Namun kesetiaan terhadap pembelian produk (jasa) selama ini memiliki masalah, banyak pelanggan yang pada akhirnya memilih pesaing, terlihat dari tabel 1.2 dibawah terjadinya pasang surut pelanggan perusahaan. Dalam mendapatkan pelanggan yang loyal perusahaan perlu berbenah memperbaiki kekurangan agar bersaing dan menjadi perusahaan besar, dalam meningkatkan kualitas layanannya perusahaan berkomitmen meningkatkan mutu layanan sesuai dengan standar, salah satunya akan menerapkan standard ISO 17020 tentang lembaga sertifikasi, tujuannya agar perusahaan bisa bersaing dengan kompetitor yang lebih besar. Selain itu perusahaan secara bertahap akan melengkapi peralatan sebagai fasilitas pelayanan kepada pelanggan, meningkatkan kompetensi karyawan sesuai bidang inspeksi yang ditawarkan kepada pelanggan, penetapan harga yang bersaing agar pelanggan menengah ke bawah bisa menjangkau Membangun nilai, kepuasan dan loyalitas pelanggan bukan perkara mudah, seluruh level organisasi harus bekerja sama dengan menghilangkan ego sektoral dalam meningkatkan pelayanan yang baik, Perusahaan harus mendapatkan nilai tersebut dari pelanggan, nilai yang didapatkan dari pelanggan itu akan menjadi modal untuk besok dan masa depan, karena nilai yang didapatkan dari pelanggan itu adalah tujuan perusahaan bisa dibangun, berkembang, dan bertahan. Nilai itu adalah kepuasan pelanggan dan kepuasan itu didapatkan dari pelayanan berkualitas yang diterima baik dalam pelayanan maupun dari manfaat produk/jasa, kualitas pelayanan ini merupakan karakteristik produk/jasa yang bergantung pada kemampuan untuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan atau tersirat. Selain dari pelayanan, kepuasan juga bisa didapatkan dari harga yang diberikan kepada pelanggan, harga yang bersaing untuk produk/jasa dengan mutu/kualitas baik, nilai ini dipersepsikan oleh pelanggan didasarkan pada selisih antara apa yang didapatkannya dan apa yang diberikan, pelanggan mendapatkan manfaat dan menanggung biaya dengan harga, sementara perusahaan sebagai pemilik produk/jasa meningkatkan nilai produk/jasa dengan berbagai manfaat yang diterima pelanggan. Kepuasan pelanggan yang telah didapatkan tersebut akan memenangkan pelanggan dan mengalahkan pesaing dan membentuk kesetiaan dari pelanggan sehingga akan kembali lagi. Kesetiaan adalah loyalitas, dan loyalitas merupakan hal yang emosional, banyak pemasar berhasil mendapatkan pelanggan tetapi belum tentu berhasil mempertahankan pelanggan tersebut, untuk itu menciptakan pelanggan yang loyal inti dari setiap bisnis

Strategi Pemasaran Online Untuk Meningkatkan Volume Penjualan

APRILIANI MAHASISWA SARJANA AKUNTASI Seiring dengan perkembangan zaman, teknologi, pemikiran, pemahaman, gaya hidup, yang semakin berkembang dari masa ke masa, membuat persaingan dalam dunia perdagangan dan bisnis semakin ketat. Hal ini dikarenakan terbukanya pasar global dan sangat mudahnya mendapatkan informasi perkembangan zaman melalui berbagai macam media global salah satunya internet. Jika suatu organisasi tidak dapat menyikapi hal tersebut, maka kelangsungan produk yang akan dipasarkan oleh organisasi tersebut akan terhambat. Untuk itu, tentunya harus ada strategi pemasaran yang baik yang dimiliki organisasi atau perusahaan dalam meningkatkan penjualan agar tetap bisa bersaing dipasar yang semakin berkembang. Sebuah organisasi atau perusahaan harus memiliki strategi yang inovatif agar mampu bersaing karena sebuah strategi penjualan yang baik akan sangat berperan dalam menjalankan usaha atau kegiatan pemasaran produk dari perusahaan atau organisasi. Perlu diketahui bahwa untuk berpacu terhadap perubahan – perubahan dan kemajuan berbagai aspek, seorang manager pemasaran harus lihai dalam menerapkan strategi, untuk menghadapi berbagai ancaman dari para competitor terutama strategi untuk meningkatkan volume penjualan. Salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan volume penjualan adalah dengan melakukan penerapan strategi penjualan yang tepat yaitu dengan melakukan inovasi penerapan strategi penjualan. Inovasi yang dimaksud adalah manager pemasaran harus melakukan strategi penjualan yang baru dengan mengikuti perkembangan zaman, strategi yang dimaksud adalah strategi pemasaran secara online karena mengikuti perkembangan teknologi yang mempengaruhi perilaku konsumen. Pemasaran online itu sendiri merupakan serangkaian kegiatan menjual produk kepada calon pembeli baik melalui pesan elektronik, telephone dan media lainnya mengikuti perkembangan zaman yang mana antara penjual dan pembeli bisa melakukan interaksi tampa bertemu atau bertatap muka secara langsung. Setiap perusahaan akan tumbuh dan berkembang di dalam lingkungan masing-masing baik lingkungan eksternal maupun lingkungan internal. Kelangsungan hidup setiap perusahaan tidak hanya begantung kepada kemampuannya menghasilkan barang secara efisien. Kemudian menjual barang atau produknya dengan harga yang dapat dijangkau pembeli dan terdapat pembeli yang cukup untuk menjamin operasinya yang menguntungkan. Ada faktor lain yang juga berpengaruh dan menentukan kemampuan perusahaan untuk memperoleh keuntungan dari kegiatannya. Faktor-faktor lain tersebut dinamakan lingkungan kegiatan usaha atau iklim usaha. Tingkat pertumbuhan ekonomi suatu negara sangat berhubungan erat dengan keadaan iklim usaha yang didapati di negara dimana perusahaan itu berada. Pada masa ini peristiwa-peristiwa yang berlaku di negara lain, dapat menimbulkan pengaruh yang sangat penting kepada sifat iklim usaha yang berlaku. Keadaan social, ekonomi dan politik juga turut berpengaruh pada iklim usaha tersebut. Setiap perusahaan baik yang bergerak dibidang produk ataupun jasa mempunyai tujuan untuk tetap hidup dan berkembang. Tujuan tersebut dapat dicapai melalui upaya untuk dapat mempertahankan dan meningkatkan tingkat keuntungan atau laba operasional perusahaan. Hal ini dapat dilakukan, jika perusahaan dapat mempertahankan dan meningkatkan penjualan produk yang dihasilkan. Dengan penerapan strategi pemasaran yang akurat melalui pemanfaatan peluang dalam peningkatan penjualan, sehingga posisi dan kedudukan perusahaan di pasar dapat ditingkatkan dan dipertahankan. Sehubungan dengan hal tersebut pelaksanaan strategi pemasaran modern dewasa ini mempunyai peranan yang sangat besar sebagai penunjang langsung terhadap peningkatan penjualan dan laba perusahaan. Strategi pemasaran adalah suatu wujud rencana yang terurai dibidang pemasaran untuk memperoleh hasil yang optimal. Strategi tersebut mempunyai ruang lingkup yang luas diantaranya adalah strategi dalam menghadapi persaingan, strategi harga, strategi produk, strategi pelayanan dan sebagainya. Perusahaan perlu mengenali kekuatan dan kelemahan dalam menghadapi persaingan hal ini akan sangat membantu dalam mengenali diri, serta mamanfaatkan setiap peluang yang ada dan menghindari atau meminimalkan kelemahan serta kekurangan. Strategi pemasaran merupakan upaya mencari posisi pemasaran yang menguntungkan dalam suatu industry atau arena fundamental persaingan berlangsung. Dalam persaingan bisnis yang semakin ketat, maka perusahaan dituntut untuk memikirkan kembali misi dan strategi pemasaran secara kritis. Intensitas persaingan yang semakin meningkat menuntut perusahaan untuk merancang strategi untuk menghadapi persaingan tersebut. Tujuan dasar suatu bisnis disamping meningkatkan pertumbuhan penjualan dan menciptakan keuntungan, juga untuk meningkatkan pertambahan nilai bagi pelanggan dan perusahaan, dalam arti pernciptaan pelanggan yang puas dan karyawan diberikan imbalan yang layak. Perusahaan harus menyadari bahwa dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, maka pelanggan pada saat ini dapat menemukan bermacam-macam produk dengan beragam pilihan, pelanggan akan cenderung memilih tawaran yang paling sesuai dengan kebutuhan serta harapan mereka masing-masing. Dalam menjalankan strategi bisnis, jika kita tau pesaing melakukan strategi yang cukup berhasil, barangkali kita belum tentu harus meniru mereka, tetapi yang harus kita lakukan adalah diferensiasi yakni dengan menciptakan hal yang berbeda. Poin penting bagi sebuah perusahaan untuk memenangkan persaingan pasar yaitu mengetahui dan memperhatikan apa yang melandasi seseorang memilih suatu produk, dalam hal ini keputusan  pembelian dari seorang konsumen yang selalu timbul setelah adanya proses evaluasi alternative pembelian yang dilakukan. dalam melaksanakan kegiatan pemasarannya juga menggarap pasar online dengan menyiapkan team pemasaran, team pemasaran ini bertugas untuk mengiklankan produk di situs website, blogger, email dan di media social seperti facebook, twitter, line, whats app,olx, bbm dll. Yang mana nanti mendapatkan respon dari calon pembeli, apabila ada yang berminat maka akan dikirimkan packing list dan invoice kepada calon pembeli, setelah invoice diterima maka akan dilakukan pembayaran via transfer dan produk segera dikirimkan ke alamat pembeli. Seperti tabel dibawah ini dapat dilihat mengenai volume penjualan online produk Dust Mop setiap bulannya dari tahun 2016 sampai tahun 2018: Berdasarkan hasil survei bahwa setiap tahun pengguna internet di Indonesia mengalami pertumbuhan. Ambil contoh pada tahun 2010 pengguna internet di Indonesia hanya 42 juta pengguna, dibandingkan pengguna tahun 2017 yaitu sebanyak 143,26 juta pengguna maka terdapat kenaikan sebanyak 3 kali lipat dalam kurun waktu 7 tahun. Dengan semakin kompleksnya permintaan konsumen menyebapkan timbulnya perusahaan-perusahaan baru yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen. Masing-masing perusahaan berusaha untuk menawarkan keunggulan yang dimiliki pada produk yang mereka hasilkan. Maka dampak yang ditimbulkan dari persaingan tersebut adalah turunnya tingkat penjualan sehingga perusahaan tidak mendapatkan hasil penjualan yang sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Upaya yang bisa dilakukan perusahaan untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan konsumen serta mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan adalah melaksanakan strategi perusahaan yang tepat dan terkendali, seperti meningkatkan atribut produk, kebijakan penetapan harga, promosi dan memilih saluran distribusi yang tepat untuk menghadapi persaingan yang semakin ketat.

Karakteristik Komite Audit dan Kepemilikan Publik

ANI LAELANI . MAHASISWA PROGRAM STUDI MAGISTER AKUNTANSI Tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi tentang posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi pihak yang berkepentingan dalam pengambilan keputusan ekonomi. Para pihak yang berkepentingan (stakeholders) yang menggunakan informasi keuangan tersebut antara lain meliputi pihak internal dan pihak eksternal perusahaan. Pihak internal perusahaan seperti direksi, komisaris, manajer dan juga karyawan, sedangkan pihak eksternal meliputi investor atau calon investor, kreditur atau calon kreditur, rekanan, pelanggan, badan pemerintah, dan publik. Sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan go public kepada para pemangku kepentingan (stakeholders) maka laporan keuangan yang disusun haruslah memenuhi karakteristik kualitatif (qualitative characteristics) tertentu agar dapat memberikan informasi yang berguna. Terdapat 4 (empat) karakteristik kualitatif pokok yaitu dapat dipahami (understandability), relevan (relevance), keandalan (reliability), dan dapat diperbandingkan (comparability). Laporan keuangan juga harus disampaikan secara tepat waktu, jika tidak disampaikan secara tepat waktu maka akan mengurangi manfaat laporan keuangan tersebut. Suatu informasi yang terlambat akan menjadi tidak relevan bagi pengambilan keputusan (Hans et al., 2016). Ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan juga dapat mempengaruhi tingkat relevansi informasi keuangan yang disajikan. Semakin cepat suatu perusahaan dalam menyampaikan laporan keuangannya maka semakin relevan informasi keuangan yang disajikan. Informasi keuangan dikatakan tidak relevan apabila tidak mampu mempengaruhi keputusan ekonomi pemakai dalam mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini dan masa depan. Tuntutan akan kepatuhan terhadap ketepatan waktu dalam penyampaian laporan keuangan perusahaan go public di Indonesia diatur dalam keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM) dan Lembaga Keuangan (LK), Nomor Kep-431/BL/2012, bahwa emiten atau perusahaan publik yang pernyataan pendaftarannya telah menjadi efektif wajib menyampaikan laporan keuangan tahunan disertai dengan laporan akuntan dalam rangka audit atas laporan keuangan yang memuat opini auditor kepada BAPEPAM dan LK paling lama 4 (empat) bulan setelah tahun buku berakhir (Prastyo, 2016). Penelitian mengenai audit report lag telah dilakukan oleh beberapa peneliti. Penelitian yang dilakukan oleh (Ratnasari & Ardiati, 2016) menyatakan bahwa karakteristik komite audit berpengaruh terhadap audit report lag. Hal ini menunjukan bahwa peran komite audit yang baik akan mempersingkat waktu penyampaian laporan keuangan. Dalam penelitian (Metta & Effriyanti, 2020) menyatakan bahwa kepemilikan publik berpengaruh signifikan terhadap audit report lag. Hal ini mengindikasikan bahwa persentase kepemilikan publik yang besar dapat mendorong pihak perusahaan untuk lebih tepat waktu dalam menyampaikan laporan keuangannya. Menurut (Nugroho et al., 2021) karakteristik komite audit tidak berpengaruh terhadap timeliness pelaporan keuangan. Hal ini mengindikasikan bahwa jumlah anggota komite audit yang terlalu banyak dianggap dapat menyebabkan anggota komite audit kehilangan fokus dan kurang berkontribusi dalam melaksanakan tugasnya. Komite audit yang independen sebagai mekanisme dari GCG belum mampu secara optimal dalam menjalankan prinsip-prinsip GCG khususnya transparansi dan akuntabilitas. Komite audit tidak mampu memanfaatkan dengan baik kesempatan pertemuan bersama anggota komite audit untuk memecahkan masalah yang ada dalam proses penyusunan laporan keuangan. Kepemilikan publik tidak berpengaruh terhadap audit report lag. Hal ini dikarenakan perusahaan yang mempunyai tingkat kepemilikan publik yang besar akan membuat pihak manajemen lebih berhati-hati dalam menyusun laporan keuangannya, dengan harapan nantinya laporan keuangan tersebut akan memenuhi seluruh kebutuhan informasi yang dibutuhkan oleh pemilik eksternal perusahaan. Dengan penyusunan yang lebih hati-hati maka waktu yang diperlukan pihak manajemen akan cenderung lebih banyak dan lama.

Analisis Model Bisnis Pembuatan Pakan Ikan Mandiri dengan Pendekatan Business Model Canvas

ANI LAELANI, MAHASISWA MAGISTER AKUNTANSI ANALISIS MODEL BISNIS PEMBUATAN PAKAN IKAN MANDIRI DENGAN PENDEKATAN BUSINESS MODEL CANVAS Perikanan merupakan kegiatan manusia yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya hayati perairan. Perikanan dibagi dua, yaitu perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Disaat perikanan tangkap terus mengalami penurunan jumlah produksi akibat tidak berimbangnya antara kegiatan penangkapan dengan ketersediaan stok ikan dilaut, perikanan budidaya dinilai menjadi salah satu penopang industri perikanan nasional untuk bisa bersaing dalam era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Salah satu kendala utama dalam budidaya ikan adalah pakan. Pakan menyedot sampai 70% biaya produksi budidaya ikan, dimana sebagian besar kebutuhan pakan dipenuhi dari pakan ikan pabrikan. Harga pakan pabrikan yang beredar sekarang ini dirasa masih tinggi oleh para pembudidaya ikan. Margin keuntungan yang tipis kurang memberikan insentif yang memadai bagi pembudidaya untuk mengembangkan usahanya sehingga dapat meningkatkan tingkat kesejahteraannya.  Oleh karena itu perlu adanya upaya dari pemerintah untuk mengatasi permasalahan pakan terutama dalam hal penyediaan pakan ikan yang berkualitas dengan harga terjangkau sehingga pakan tidak lagi menjadi kendala dalam pengembangan perikanan budidaya khususnya budidaya air tawar. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah melakukan berbagai upaya untuk menurunkan harga pakan ikan yang diantaranya adalah melalui penghapusan pajak biaya masuk bahan baku pakan ikan impor. Walaupun kebijakan tersebut telah dimanfaatkan oleh para pengusaha pakan ikan skala besar namun harga pakan di tingkat pembudidaya tidak mengalami penurunan yang signifikan. Upaya lain yang dilakukan pemerintah pada 5 tahun terakhir (2015 – 2019) adalah terus mengembangkan usahapembuatan pakan ikan mandiri melalui program Gerakan Pakan Ikan Mandiri (GERPARI) yaitu dengan pemberian bantuan mesin dan modal pembuatan pakan kepada kelompok pembudidaya atau kelompok masyarakat lain yang mempunyai usaha pembuatan pakan ikan. Program GERPARI berupaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku pakan impor, dengan lebih memanfaatkan bahan baku lokal. GERPARI diharapkan mampu menekan ketergantungan terhadap pakan pabrikan. Melihat besarnya kebutuhan pakan ikan dan mahalnya harga pakan ikan pabrikan membuat usaha pembuatan pakan ikan mandiri tersebut bisa menjadi solusi para pembudidaya untuk mengurangi biaya pakan yang sangat tinggi. Pembudidaya ikan dapat mengembangkan pembuatan pakan ikan mandiri menjadi usaha kelompok maupun komersial. Tingginya biaya pakan dalam proses budidaya mengindikasikan bahwa produk pakan hasil pembuatan pakan ikan mandiri memiliki prospek yang baik. Pengembangan usaha pembuatan pakan ikan mandiri memerlukan konsep manajemen sebagai strategi bisnis. Manajemen strategi dapat dikatakan sebagai seni dan pengetahuan untuk merumuskan dan mengimplementasikan, dan mengevaluasi keputusan lintas fungsional yang membuat organisasi mencapai obyektifnya. Manajemen strategi juga dikatakan sebagai serangkaian keputusan dan tindakan manajerial yang menentukan kinerja perusahaan dalam jangka panjang baik dalam bidang bisnis dan ekonomi diperusahaan. Strategi manajemen tersebut dikenal dengan model bisnis. Secara umum model bisnis dapat didefinisikan sebagai gambaran hubungan antara keunggulan dan sumber daya yang dimiliki perusahaan, serta kegiatan-kegiatan yang dilakukan untuk menciptakan atau menambahkan nilai sehingga perusahaan mendapatkan laba. Sebuah perusahaan yang ingin memperbaiki keberlanjutan usahanya harus merubah model bisnisnya (Freud, 2009). Konsep model bisnis menawarkan strategi dan cara baru dalam menghadapi lingkungan tak terduga dan bergerak cepat (McGrath, 2010). Salah satu pendekatan dalam membuat suatu pengembangan adalah dengan menggunakan pendekatan model bisnis. Pendekatan model bisnis salah satu faktor kritis untuk sukses dari suatu organisasi. Pendekatan model bisnis harus inovatif agar suatu organisasi mampu bertahan ditengah perkembangan zaman yang pesat. (Giesen et al, 2010). Pendekatan model bisnis ini cukup banyak macamnya, namun yang saat ini cukup populer, terutama untuk usaha kecil dan menengah  adalah Business Model Canvas(BMC). Model bisnis ini dikembangkan oleh Alexander Ostewalder dan Yves Pigneur pada tahun 2010.  BMC terdiri dari 9 elemen blok bangunan yang digunakan untuk membantu memetakan model bisnis suatu organisasi disempurnakan menjadi model bisnis yang lebih baik. Dengan demikian diharapkan tercipta suatu program pengembangan yang tepat bagi organisasi.