Purnama Malam: Mengenal Bapak Rabin
Kisah Keluarga & Warisan Lisan dari Batuceper, Tangerang
Di sebuah teras rumah teduh di kawasan Batuceper, duduklah Bapak Hu. Pria berusia 70 tahun ini—anak pertama dari istri pertama Bapak Rabin—terlihat khusyuk menyeruput kopi hangatnya. Malam itu, ia tidak sekadar bercerita; ia sedang membuka kembali gerbang ruang waktu.
Bagi masyarakat Batuceper, nama Bapak Rabin bukan sekadar barisan huruf di atas kertas. Ia adalah legenda. Sosok jawara besar yang jejak hidupnya berkelindan di antara misteri, karomah, dan keteladanan budi pekerti. Darah ketangguhan itu mengalir dari sang kakek, Amat, yang pada zamannya tersohor sebagai saudagar kerbau yang ulet dan disegani.
Si “Kancil” dari Batuceper dan Keluarga Besarnya
Untuk memahami ketokohan Bapak Rabin, kita perlu melompat mundur ke masa mudanya. Di dunia persilatan tempo dulu yang keras, namanya melesat bak anak panah. Tubuhnya lincah dan gerakannya gesit melampaui tangkapan mata. Karena kelincahan itulah, para pendekar menjulukinya Si “Kancil”. Pengaruhnya menembus hingga ke luar Tangerang. Ketika menginjakkan kaki di pelabuhan Tanjung Priok, ia memakai nama samaran “Lami”—sebuah identitas perlindungan selama masa perantauan.
Sebagai sosok yang kerap mengembara, Bapak Rabin memiliki keluarga besar di beberapa wilayah. Di Batuceper sendiri, ia membina rumah tangga bersama Mamiah, Masal, dan Masani. Sementara itu, sebagian keluarganya yang lain menetap di Kebayoran, Kemanggisan, hingga Tanjung Priok.
Menariknya, di balik nama besar yang menggentarkan lawan, di mata anak-anaknya ia adalah figur pelindung yang hangat. Bapak Hu mengenang masa kecilnya saat kerap diajak naik bak truk terbuka menuju Bogor. Perjalanan itu bukan untuk adu tanding atau unjuk kebolehan, melainkan hanya untuk duduk tenang di tepi lapangan, menyaksikan warga setempat berlatih silat atau belajar pukul. Itulah sisi humanis sang jawara: mendidik melalui teladan tanpa perlu mendikte.
Menembus Terali dan Siksaan Zaman Perang
Reputasi Bapak Rabin ditempa di dalam kancah perjuangan menghadapi penjajah. Pada masa pendudukan Jepang, ia menjadi salah satu target utama. Militer Jepang yang frustrasi karena gagal menangkapnya sempat melampiaskan amarah dengan membakar hangus rumah keluarganya yang telah dikosongkan.
Pelarian itu sempat terhenti ketika ia tertangkap dan mengalami siksaan fisik yang berat. Namun, daya tahan tubuh dan keteguhan batinnya membuat sang jawara mampu bertahan melampaui batas ketahanan manusia biasa.
Memori lisan keluarga juga mencatat peristiwa pelariannya dari Lapas Nusakambangan pada era kolonial Belanda. Setelah divonis hukuman mati, pada malam menjelang eksekusi, Bapak Rabin berhasil meloloskan diri dari jeruji sel, melompati dinding pembatas benteng, lalu menceburkan diri menyeberangi derasnya arus Selat Segara Anakan hingga tiba di daratan utama Jawa.
Setibanya kembali di Batuceper, sosok pertama yang ia temui adalah H. Kilin, seorang tokoh masyarakat setempat. Setelah memulihkan kondisi, ia bergegas pulang ke rumah, mendapati keluarganya tengah menggelar doa karena mengira ia telah wafat. Menariknya, dalam perjalanan pulang, ia berpapasan langsung dengan patroli tentara Belanda bersenjata lengkap. Namun berkat ketenangan dan perlindungan batinnya, para serdadu tersebut melintas begitu saja tanpa menyadari siapa pria di hadapan mereka.
Teka-Teki Kamar Terkunci dan Tuah Pusaka
Hubungan kucing-kucingan antara Bapak Rabin dan militer Belanda melahirkan kisah yang terus hidup di tengah warga, sebagaimana dituturkan almarhumah Nyai Siah (Cing Siah), adik iparnya.
Suatu malam saat suasana mencekam, Bapak Rabin menyelinap masuk ke kamar belakang tepat sebelum sekelompok tentara Belanda mendobrak pintu rumah. Ketika kamar tersebut digeledah dengan sangkur terhunus, ruangan itu kosong melompong; hanya seekor kucing melangkah tenang melewati barisan serdadu. Begitu pasukan Belanda pergi meninggalkan lokasi, pintu kamar kembali terbuka dan Bapak Rabin melangkah keluar dengan tenang.
Ketokohannya juga lekat dengan benda pusaka, salah satunya Golok Betok. Senjata bersejarah ini konon ditemukan di laut lepas dalam kondisi utuh dan bersih tanpa karat. Cing Siah pernah mengisahkan saat api lampu pelita tak sengaja menyambar dinding bilik rumah bambu mereka. Golok Betok yang tergantung mendadak terlepas dari sarungnya melintasi ruangan, dan kobaran api langsung padam seketika.
Kekuatan fisiknya pun kerap dimanfaatkan untuk menolong warga. Pada masa kepemimpinan Lurah Usman, sebatang pohon asem raksasa tumbang di depan kantor Kecamatan Batuceper. Warga yang bergotong-royong kesulitan mengangkat akar pohon yang tertancap kuat. Bapak Rabin meminjam sebatang linggis dari Bang Delih—putra dari Ki Lisong—lalu mencabut tunggul akar pohon besar tersebut seorang diri dalam hitungan menit. Sebagian kayu galih asem tersebut kemudian ia berikan kepada Bang Delih sebagai cenderamata.
Laku Spiritual di Sunyinya Malam
Di balik seluruh kemampuan fisik dan reputasinya, Bapak Rabin menjaga kerendahan hati lewat laku tirakat. Berdasarkan penuturan sang istri, almarhumah MaMiah, suaminya rutin menjalankan amalan membersihkan diri dan menyelaraskan ilmu di sungai setiap malam Senin dan Kamis.Ia berangkat tepat pukul satu dini hari ketika perkampungan telah lelap, ia lalu kembali saat azan subuh berkumandang dari surau.
Kedalaman spiritual ini membuat para teman teman menaruh hormat. Murtani dari Al-Barkah kerap berkunjung dan menyapanya takzim dengan panggilan “Uwa”. Berdasarkan ingatan Bang Delih, rentang hayat Bapak Rabin melintasi berbagai era hingga diperkirakan berusia sekitar 125 tahun—sebuah simbol ketahanan fisik dan berkah umur panjang yang terus dikenang masyarakat.
Penutup
Bagi masyarakat luar, kisah Bapak Rabin barangkali terdengar seperti babad tutur yang sarat nuansa magis. Namun bagi keluarga besar dan tanah Batuceper, kisah ini adalah rekaman sejarah tutur yang tak ternilai. Merawat cerita lisan ini bukan perkara membenturkannya dengan parameter sains modern, melainkan menjaga memori kolektif, identitas, dan akar kebudayaan lokal agar tetap lestari bagi generasi mendatang.

