Belajar Dari Iran

Oleh: Andriono Kurniawan M.Pd

Ketika nilai tukar rupiah melemah atau ketidakpastian ekonomi global meningkat, perdebatan tentang ketahanan nasional kembali mengemuka. Sebagian orang menganggap kekuatan sebuah negara ditentukan oleh besarnya cadangan devisa, tingginya nilai mata uang, atau derasnya arus investasi asing. Ukuran-ukuran tersebut memang penting, tetapi bukan satu-satunya penentu. Sejarah menunjukkan bahwa daya tahan sebuah bangsa sering kali lahir dari sesuatu yang lebih mendasar: kemandirian dan kemampuan bertahan menghadapi tekanan.

Dalam konteks itu, Iran menjadi salah satu contoh yang menarik untuk dipelajari. Selama puluhan tahun negara tersebut hidup di bawah berbagai bentuk sanksi dan embargo ekonomi. Mata uangnya mengalami tekanan, akses terhadap teknologi modern dibatasi, dan ruang geraknya dalam perdagangan internasional tidak seluas negara-negara lain. Namun hingga hari ini Iran tetap berdiri sebagai negara berdaulat. Bukan tanpa masalah, bukan tanpa kesulitan, tetapi juga tidak runtuh sebagaimana diperkirakan banyak pihak.

Apa yang bisa dipelajari Indonesia dari pengalaman tersebut?

Pelajaran pertama adalah bahwa ketahanan nasional tidak dapat dibangun di atas ketergantungan yang berlebihan. Ketika sebuah negara terlalu bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan strategisnya, maka pada saat terjadi krisis global, gangguan pasokan, atau konflik geopolitik, kemampuan negara untuk bergerak menjadi terbatas. Ketergantungan yang berlebihan menciptakan kerentanan yang sering kali tidak terlihat pada masa normal.

Indonesia sebenarnya memiliki modal yang jauh lebih besar dibanding banyak negara lain. Kekayaan sumber daya alam, jumlah penduduk yang besar, serta pasar domestik yang luas merupakan fondasi yang tidak dimiliki semua bangsa. Namun potensi tersebut hanya akan menjadi angka statistik apabila tidak diikuti dengan pembangunan industri yang kuat dan berorientasi pada nilai tambah.

Selama ini kita terlalu sering merasa puas menjadi pemasok bahan mentah. Kita mengekspor hasil bumi, tetapi mengimpor barang jadi dengan nilai yang jauh lebih tinggi. Akibatnya, keuntungan terbesar sering kali dinikmati oleh pihak yang menguasai teknologi dan industri pengolahan. Padahal bangsa yang benar-benar kuat adalah bangsa yang mampu mengolah sumber dayanya sendiri dan menciptakan nilai tambah bagi rakyatnya.

Pelajaran kedua adalah pentingnya investasi pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Salah satu alasan Iran tetap mampu bertahan di tengah berbagai keterbatasan adalah karena mereka tidak berhenti membangun kapasitas sumber daya manusia. Pendidikan, penelitian, dan pengembangan teknologi tetap menjadi bagian dari strategi nasional mereka.

Indonesia perlu mengambil pelajaran yang sama. Di era persaingan global, kekayaan alam bukan lagi jaminan kemajuan. Negara yang unggul adalah negara yang mampu menghasilkan inovasi. Kita membutuhkan lebih banyak peneliti, insinyur, ilmuwan, dan wirausahawan berbasis teknologi. Masa depan bangsa tidak ditentukan oleh apa yang tersimpan di bawah tanah, tetapi oleh apa yang lahir dari pikiran dan kreativitas anak-anak mudanya.

Namun ada satu pelajaran yang mungkin paling relevan bagi Indonesia saat ini, yaitu pentingnya tata kelola yang bersih. Sehebat apa pun potensi ekonomi yang dimiliki suatu negara, semuanya dapat terkikis oleh korupsi. Korupsi bukan hanya soal hilangnya uang negara. Korupsi adalah pencurian kesempatan, pencurian masa depan, dan pencurian harapan masyarakat.

Bangsa yang korup akan sulit menjadi bangsa yang kuat. Infrastruktur menjadi mahal, pelayanan publik memburuk, investasi terhambat, dan kepercayaan masyarakat terhadap negara perlahan menurun. Dalam jangka panjang, kerusakan yang ditimbulkan korupsi sering kali lebih berbahaya daripada ancaman dari luar negeri.

Karena itu, jika Indonesia ingin menjadi negara yang tangguh, perhatian kita tidak boleh hanya tertuju pada ancaman eksternal. Kita juga harus berani membenahi kelemahan internal. Ketahanan nasional bukan semata-mata urusan militer. Ketahanan nasional juga menyangkut kualitas pendidikan, integritas birokrasi, produktivitas ekonomi, ketersediaan pangan, penguasaan teknologi, dan rasa percaya masyarakat terhadap institusi negara.

Belajar dari Iran bukan berarti meniru seluruh kebijakan yang mereka lakukan. Setiap negara memiliki sejarah dan konteks yang berbeda. Yang perlu dipelajari adalah semangat untuk membangun kemandirian dan kemampuan bertahan dalam situasi sulit.

Pada akhirnya, kekuatan sebuah bangsa tidak ditentukan oleh seberapa banyak pujian yang diterimanya dari dunia luar. Kekuatan bangsa ditentukan oleh kemampuannya berdiri tegak ketika menghadapi tekanan. Dan kemampuan itu hanya dapat dibangun melalui kerja keras, integritas, penguasaan ilmu pengetahuan, serta keberanian untuk mengutamakan kepentingan nasional di atas kepentingan kelompok. Indonesia memiliki semua syarat untuk menjadi bangsa yang besar. Pertanyaannya bukan apakah kita mampu, melainkan apakah kita memiliki kemauan untuk mewujudkannya.

Andriono Kurniawan, M.Pd, IEP recipient 2007 di GSU, Georgia, Wakil Indonesia program pertukaran guru Indonesia-Korsel 2015 dan mengajar di Jam-Il High School, Ketua GML Provinsi Banten, guru SMA Islam NFBS Serang

Bagikan Artikel Ini