Author: Guntur Ramadan

MAKSI Beraksi Edukasi Membangun Negeri

Indonesia saat ini memasuki babak baru dalam pemulihan ekonomi di pandemic Covid-19. Perekonomian nasional dipastikan sudah melewati masa resesi setelah sebelumnya terkontraksi empat kuartal berutur-turut. Ekonomi Indonesia tumbuh 7,07%, pada kuartal II-2021 dibandingkan tahun lalu di periode yang sama. Hasil ini membuat kinerja perekonomian indonesia berhasil melampaui level sebelum ada pandemi, dan lebih baik dibanding negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Pemerintah Indonesia dengan berbagai langkah yang dilakukan telah berhasil melampaui level sebelum krisis pandemi, dapat dilihat dari PDB Indonesia yang mengalami peningkatan, dari sebelumnya Kuartal II 2019 PDB riil sebesar Rp. 2.735 Triliun, namun di Kuartal II 2021 sudah mencapai 2.773 Triliun, kata Sri Mulyani dalam Kongres ISEI XXI, Pencapaian ini meningkat dibandingkan pada kuartal II-2020 yang hanya memperoleh Rp 2.590 triliun. Lebih rendah dari pada kuartal II-2019.”Ekonomi kita merosot pada Q2-2020 sehingga GDP terkontraksi diangka Rp 2.590 triliun,” kata Sri Mulyani. Komponen pembentuk PDB tumbuh positif di kuartal II-2021 dapat memberikan kontribusi yang jauh lebih baik daripada kuartal II 2020 ataupun kuartal I 2021. Dalam Fase melanjutkan pemulihan ekonomi melalui PDB, UMKM memegang peran penting dalam percepatan peningkatan ekonomi indonesia, maka dari itu perlu ada penguatan dalam sisi instrumen laporan keuangan agar dapat mendukung umkm dalam melakukan profit planning agar operasional umkm lebih terarah dan terorganisir. Sektor UMKM mempunyai peranan besar dalam kebangkitan ekonomi nasional Indonesia. UMKM Indonesia akan menjadi sektor yang memegang peranan penting di dalam pemulihan ekonomi nasional. Kata Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara. Wamenkeu mengatakan Presiden Joko Widodo mengarahkan agar porsi pendanaan kredit UMKM tahun 2024 sedikitnya 30%, dengan mengedepankan visi UMKM menjadi tonggak dari dunia usaha Indonesia. UMKM memiliki peran yang strategis untuk menopang pertumbuhan ekonomi nasional setelah terdampak pandemi Covid-19, yang telah terbukti tangguh dalam menghadapi goncangan akibat pandemi Covid 19. Hal itu terlihat dari kontribusi UMKM terhadap PDB Indonesia terus meningkat sampai sekitar 60% di masa pra pandemi. Penyerapan tenaga kerja oleh UMKM juga memainkan peran yang sangat penting untuk mengurangi pengangguran yaitu mencapai 96,99% – 97,22% dengan jumlah pelaku UMKM mencapai 62 juta atau sekitar 98% dari pelaku usaha nasional. Peran penting UMKM dalam perekonomian nasional sejatinya mencerminkan peran penting UMKM dalam pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan atau (SDGs) di Indonesia. Hasil studi Ogunlana (2018) menemukan bahwa UMKM memainkan peran penting dalam mencapai pertumbuhan ekonomi negara dalam mengatasi krisis ekonomi nasional. Ia menegaskan kewirausahaan dapat menghasilkan  inovasi, lapangan  kerja, meningkatkan produksi, dan diversifikasi sumber pendapatan ekonomi dengan mendorong pengembangan UMKM. Pengembangan kewirausahaan UMKM diharapkan dapat menjadi jawaban untuk mengatasi potensi ledakan pengangguran, sekaligus menjaga daya beli masyarakat agar tidak merosot ditengah kondisi Pandemi Covid-19 yang belum diketahui kapan berakhirnya. Sejarah telah membuktikan bahwa usaha menengah kecil mikro atau UMKM, mampu bertahan sekaligus menjadi penyelamat perekonomian di tengah krisis besar, seperti pada tahun 1997-1998,  demikian pula sekarang sejarah pun berulang, ketika perekonomian global dan nasional lesu akibat pandemi Covid-19, sektor UMKM masih bertahan dan terus bergerak. Kita tentunya berharap dengan pengembangan kewirausahaan UMKM akan dapat menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi  sekaligus menjawab permasalahan penyerapan tenaga kerja dan penyelamat ekonomi nasional di tengah kondisi pandemi Covid 19. Demi mendukung percepatan kebangkitan ekonomi Indonesia, perlu dukungan juga dari pihak pihak lain untuk mempercepat proses pemulihan ekonomi. Dalam hal ini beberapa pihak independen yang di perlukan yaitu Akademisi dan Motivator yang diperlukan untuk memberikan penyuluhan, pelatihan dan juga pendampingan bagi umkm yang minim pengalaman agar tetap bisa survive dan memberikan dampak baik untuk pemulihan ekonomi Nasional. Mahasiswa Magister Akuntansi universitas Pamulang tergugah untuk melakukan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) kepada salah satu perusahaan UMKM start up yaitu PT. SR Herbal sebagai salah satu bentuk dukungan kepada negara untuk mempercepat pemulihan ekonomi setelah pandemi Covid-19, PKM yang digelar oleh Mahasiswa Magister Akuntansi mengusung tema “Pelatihan Implementasi SAK EMKM dalam Laporan Keuangan PT. SR Herbal”, dengan konsep webinar motivasi dan pelatihan berbasis online. Acara tersebut berfokus pada beberapa hal antara lain memberikan motivasi untuk terus berinovasi dalam melakukan pengembangan usaha, memberikan arahan tentang pembuatan laporan keuangan, dan memberikan arahan untuk melakukan perencanaan pemasaran. Dalam acara tersebut Wardokhi, SE., M.M, sebagai pembicara menjelaskan bahwa tidak semua UMKM yang sedang berkembang pada masa sekarang memahami tentang pembentukan strategi pemasaran dan memahami pentingnya pembuatan laporan keuangan. Padahal menurutnya laporan merupakan instrumen penting dalam keberlanjutan bisnis UMKM, laporan keuangan pada sektor UMKM sangat penting karena selain bisa mengontrol biaya operasional bisnis perusahaan, terlebih sektor UMKM di Indonesia merupakan salah satu bidang yang memberikan kontribusi yang signifikan dalam memacu pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal ini dikarenakan daya serap UKM terhadap tenaga kerja yang sangat besar dan dekat dengan rakyat kecil. Dalam webinar tersebut Wardokhi menerangkan bahwa setiap umkm sebaiknya mencatat setiap pengeluaran dan pemasukan dana, penjualan produk, pembelian bahan baku, dan melakukan kontrol terhadap arus piutang dan hutang yang outstanding. Sehingga UMKM dapat mengetahui laba rugi usaha, hutang piutang, dan memperhitungkan pajak, dan pemilik pun bisa mengontrol tingkat pertumbuhan laba setiap bulan nya dan melakukan evaluasi terhadap biaya yang dikeluarkan. Dengan adanya laporan keuangan UMKM bisa mendapatkan dana tambahan dari pengajuan pinjaman ke bank, dana tersebut dapat dijadikan leverage untuk perluasan usaha UMKM sehingga bisa terus berkembang. Mahasiswa Magister Universitas Pamulang dalam hal ini juga memberikan aplikasi untuk pembuatan laporan keuangan sederhana berbasis microsoft excel kepada UMKM, aplikasi ini diharapkan dapat memudahkan pelaku usaha dalam melakukan pencatatan transaksi yang terjadi, dan melihat laporan keuangan hasil kinerja selama waktu tertentu, aplikasi ini diharapkan dapat mengenalkan UMKM dengan laporan keuangan sebagai dasar untuk menunjukan kondisi keuangan dan laba rugi yang di hasilkan dalam usaha, serta sebagai landasan untuk mengambil langkah bisnis terkait perluasan usaha untuk mengembangkan usaha. Perencanaan pemasaran juga merupakan faktor penting dalam binis, dalam webinar yang tersebut Wardokhi menjelaskan mengenai kondisi pasar di era pemulihan ekonomi seperti sekarang ini, tingkat konsumsi masyarakat akan mengalami peningkatan yang harus dimanfaatkan UMKM untuk melakukan inovasi agar produk produknya dapat diminati oleh  konsumen, teknik pemasaran yang dilakukan oleh pelaku bisnis juga sudah harus beragam mulai dari promosi dengan mengenakan diskon untuk pembelian dalam jumlah tertentu, aktif melakukan pengenalan dan memasarkan produk melalui media sosial dengan teknik digital marketing, dan melalui platform marketplace yang tersedia. Dengan hal itu diharapkan usaha umkm dapat berkembang ke arah yang lebih baik, mendapatkan jangkauan pasar yang lebih luas sehingga keuntungan pun akan mengalami peningkatan dan penyerapan tenaga kerja dari masyarakat lokal akan mengalami peningkatan, dengan hal tersebut tentu saja masyarakat yang kehilangan pekerjaan karena pandemi covid dapat bekerja kembali dengan banyak perusahaan UMKM yang berkembang. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) mahasiswa Magister Akuntansi Universitas Pamulang diharapkan menjadi influencer bagi mahasiswa yang lainnya untuk mulai berfokus kepada pendampingan dan Pelatihan UMKM sesuai bidang keahliannya, mengingat UMKM memegang peranan yang sangat penting bagi kebangkitan ekonomi Indonesia Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi lebih besar dan dapat menjangkau pelaku usaha yang lebih banyak. Sehingga diharapkan hal ini akan membantu negara dalam mempercepat pemulihan ekonomi nasional pasca pandemi. Magister Akuntansi Universitas Pamulang 1.Guntur Ramadan, S.Ak. 2.Wardokhi, SE., M.M. 3.Husnul Khotimah, S.E., M.M., CAP. 4.Desi Kurniawati, S.E., M.M., CAP.

Dampak Covid terhadap Pendidikan di Indonesia

Sejak merebaknya pandemi Covid-19 pada Maret 2020 lalu, banyak perubahan besar yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Salah satu yang paling terkena imbasnya adalah dunia pendidikan, dimana pembelajaran di sekolah terpaksa dilakukan secara online. Hal ini menimbulkan pro kontra yang tak berujung. Pasalnya, penyampaian materi menjadi kurang efektif jika dilakukan secara online. Belum lagi rendahnya akses internet di beberapa daerah. Namun, para orangtua juga khawatir jika sekolah dibuka kembali, sementara pandemi belum juga pergi.Rentetan Kebijakan PemerintahDampak pandemi Covid-19 terhadap perkembangan dunia pendidikan di Indonesia tentu tak terlepas dari kebijakan yang diterapkan pemerintah. Untuk mencegah penyebaran virus corona, pemerintah memberlakukan kebijakan “belajar dari rumah” melalui surat edaran bertanggal 24 Maret 2020.Sejak saat itu, semua lembaga pendidikan, mulai dari TK, SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi meniadakan pembelajaran langsung. Sebagai gantinya, para siswa mengikuti kelas online yang diselenggarakan melalui platform teleconference, seperti Zoom atau Google Meet. Tentu saja tidak semua sekolah di seluruh Indonesia menerapkan cara pembelajaran seperti itu. Bagi masyarakat kota yang telah akrab menggunakan gadget tentu bukan hal yang sulit untuk sekadar mengaktifkan Zoom. Namun, beda ceritanya dengan para pelajar yang ada di pedesaan.Sejumlah sekolah yang menyadari terbatasnya kepemilikan gadget dan akses internet akhirnya hanya melaksanakan pembelajaran setengah-setengah. Para guru lebih sering memberikan tugas, tugas, dan tugas. Sedangkan siswa diminta belajar secara mandiri bersama orangtua dan buku. Selama tahun pelajaran 2020, pembelajaran lebih sering dilakukan secara online, dengan sesekali siswa diminta datang ke sekolah secara bergantian. Berbagai kebijakan terkait pendidikan pun lebih dilonggarkan seperti penghapusan Ujian Nasional untuk siswa tingkat SD, SMP, dan SMA.Akhirnya Mendagri mengeluarkan Instruksi nomor 35 tahun 2021 yang mengijinkan pembelajaran tatap muka secara terbatas di beberapa daerah. Aturan itu membolehkan sekolah di daerah dengan PPKM level 2 dan 3 melaksanakan pembelajaran langsung mulai 31 Agustus 2021 lalu. Karena sifatnya terbatas, pembelajaran langsung itu pun masih belum merata di semua daerah. Sekolah yang menggelar pembelajaran tatap muka pun masih belum bisa menerapkannya secara maksimal. Misalnya karena pengurangan jam pelajaran dan pergantian pemakaian ruang kelas.Dampak Negatif Pembelajaran OnlineSekolah daring yang diberlakukan sejak awal pandemi punya banyak kekurangan yang tidak hanya menimpa murid, tapi juga guru dan orangtua. Berikut 3 hal yang paling dirasakan siswa ketika harus bersekolah secara online berkepanjangan. Pembelajaran Kurang EfektifDibandingkan online, penyampaian materi secara langsung tentu lebih efektif. Karena siswa bisa lebih fokus memperhatikan dan menyimak materi pelajaran dari guru. Apalagi untuk materi-materi praktis yang membutuhkan praktek di lapangan atau laboratorium. Tidak maksimalnya pembelajaran online juga semakin diperburuk dengan ketimpangan akses internet. Menurut survei INOVASI, dari 300 responden yang tersebar di 18 kabupaten, hanya 28% yang menggunakan media daring. Sisanya, masih mengandalkan pembelajaran mandiri dari buku. Beberapa guru dan orangtua juga tidak mempunyai keterampilan yang baik dalam mengakses teknologi digital. Khususnya keluarga kurang mampu yang memang tidak terbiasa menggunakan gadget. Sehingga mereka pun kurang maksimal saat mendampingi siswa belajar secara online. Siswa Rentan Mengalami KejenuhanTerus menerus memperhatikan layar HP atau laptop, tentu membuat para siswa mudah merasa jenuh. Apalagi ditambah dengan minimnya aktivitas fisik di luar rumah. Mereka pun cenderung lebih malas belajar dan kurang fokus saat mengikuti pembelajaran daring.Kurangnya Aktivitas Sosial SiswaBelajar di rumah menjadikan siswa tidak bisa bertemu teman-teman sebayanya yang biasa ditemui di sekolah. Hal ini berakibat pada rendahnya kemampuan komunikasi dan sosialisasi antar siswa. Bahkan, beberapa siswa justru lebih senang ketika menghabiskan waktunya bersama ponsel.Dampak Positif Pembelajaran OnlineSelain menimbulkan banyak dampak negatif, pembelajaran online selama pandemi sebenarnya juga punya sisi positif. Berikut beberapa manfaat pembelajaran daring yang bisa dinikmati masyarakat. Khususnya para siswa, guru, dan orangtua.Meningkatnya Inovasi Teknologi DigitalPelaksanaan sekolah daring mendorong banyak ahli dan kreator menciptakan inovasi digital untuk mendukung proses belajar. Mulai dari penyediaan platform belajar online yang digagas pemerintah, seperti Rumah Belajar dan Spada. Sehingga siswa bisa belajar lebih optimal melalui internet.Melatih Siswa Lebih Kreatif dan MandiriMeski pembelajaran dilakukan secara terbatas, namun beberapa guru menyiasatinya dengan cara-cara kreatif. Misalnya, guru menyediakan materi pelajaran di YouTube atau TikTok, sehingga siswa lebih semangat menyimaknya.Para siswa pun mulai diajarkan cara mengkreasikan video untuk mengumpulkan tugasnya. Sehingga mereka bisa melatih kreativitasnya sejak dini. Orangtua Lebih Aktif Menemani Anak Belajar Jika sebelumnya orangtua cenderung melepas anaknya agar belajar mandiri bersama guru di sekolah, kini orangtua lebih peduli untuk menemaninya belajar. Tentu ini adalah hal yang positif, karena orangtua bisa lebih memahami perkembangan perilaku dan kemampuan akademik anaknya. Secara tidak langsung, pembelajaran online telah mendorong siswa, guru, dan orangtua untuk lebih meningkatkan keterampilan digital. Namun, hal itu juga membatasi sejumlah proses belajar. Itulah mengapa kita berharap pembelajaran tatap muka bisa segera dilaksanakan secara normal kembali.   Guntur Ramadan – Magister Akuntansi Universitas Pamulang

Transformasi Digital: Strategi Umkm Indonesia Untuk Bertahan Di Masa Pandemi

Epidemi global Covid-19 mewabah di setiap negara di dunia dan telah mempengaruhi semua aspek kehidupan masyarakat. Di Indonesia, hampir semua sektor terkena dampaknya, terutama ekosistem ekonomi yang selama ini menjadi fokus perhatian sosial. Selain itu, pandemi Covid-19 dan berbagai turunannya telah memperlambat sektor ekonomi Indonesia. Sebagai bagian terpenting dari sektor ekonomi, sektor usaha kecil, menengah dan mikro (UMKM) sangat terpengaruh. Pada tahun 2019, usaha kecil, menengah dan mikro memberikan kontribusi penting terhadap produk domestik bruto (PDB). Usaha kecil, menengah dan mikro menyumbang 60% dari PDB dan 14% dari total ekspor negara. Namun kini, akibat pandemi Covid-19, industri UMKM menjadi salah satu industri terburuk. Harus diakui, pandemi Covid-19 telah menurunkan daya beli masyarakat. Pasalnya, masyarakat telah mengurangi interaksi di luar ruangan untuk mencegah penyebaran pandemi. Oleh karena itu, banyak konsumen yang menjaga jarak dan beralih secara digital. Akibatnya, banyak usaha kecil, menengah, dan mikro yang harus menutup tokonya karena penurunan pembelian dan masih mengandalkan penjualan offline. Akibatnya, beberapa usaha kecil, menengah, dan mikro yang tidak melakukan adaptasi digital akhirnya terkena imbas parah dan menutup cabang-cabangnya. Meski begitu, pandemi Covid-19 secara tidak langsung telah membawa perubahan baru pada gaya bisnis Indonesia. Pergeseran ini merupakan pergeseran dari bisnis offline ke bisnis digital yang juga dikenal dengan fenomena digital entrepreneurship. Media sosial dan pasar (perantara) dapat menjadi konsep yang memudahkan akses pemasaran yang lebih luas oleh pelaku UMKM (Purnomo, 2019). Oleh karena itu, diperlukan model wirausaha yang dapat beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Hal ini melahirkan model wirausaha digital. Model bisnis ini berawal dari kombinasi teknologi digital dan kewirausahaan, kemudian menciptakan fenomena karakteristik baru yang terkait dengan bisnis (Giones & Brem, 2017). Dalam hal ini, peran teknologi digital berdampak besar pada bidang bisnis yang baru tercipta. Paradigma teknologi yang muncul memanfaatkan potensi kolaborasi dan kecerdasan kolektif untuk menciptakan dan memulai rencana bisnis yang lebih kuat dan berkelanjutan. Namun, ada empat dimensi yang terkait dengan digital entrepreneurship, yaitu digital partisipan (siapa), aktivitas digital (what), motivasi digital (why), dan organisasi digital (how) (Elia et al., 2020). Namun, usaha kecil, menengah dan mikro menghadapi tiga kendala, yaitu: Pertama, masih tunduk pada kapasitas produksi komoditas. Banyak usaha kecil, menengah dan mikro juga gagal di pasar digital karena tidak memenuhi persyaratan pasar digital. Kedua, kualitas ketahanan peserta usaha kecil, menengah dan mikro tidak merata. Karena di pasar digital ini, pemain harus bisa bersaing dengan perusahaan besar yang juga beralih ke platform digital di masa pandemi. Ketiga, penguatan digital skill building dan sumber daya manusia bagi pelaku usaha kecil, menengah dan mikro (Suwarni et al., 2019) perlu diperkuat. Karena literasi digital dan kualitas sumber daya manusia peserta usaha kecil, menengah dan mikro selama ini sangat rendah, ini berarti mereka tidak ideal dalam menghasilkan produk sendiri yang berkualitas. Bahkan, sebagian besar pelaku usaha UMKM berharap dapat mempraktekkan bisnis digital dalam pengembangan usahanya (Susanti, 2020). Pengembangan UMKM berbasis digital menjadi pilihan lain untuk menyelamatkan industri UMKM di masa pandemi Covid-19. Namun, sejauh ini, pemerintah, koperasi, dan Kementerian UKM telah bekerja keras untuk mendorong transformasi digital. Dengan cara ini, pandemi Covid-19 telah mendorong pengembangan ekosistem kewirausahaan digital. Dalam hal ini, digital entrepreneurship merupakan bentuk bisnis yang memanfaatkan kompleksitas teknologi digital untuk memasarkan produk dan jasa. Dengan kata lain, semua perusahaan yang menjual produk secara online, baik melalui situs web atau aplikasi, termasuk dalam bidang kewirausahaan digital. Penggunaan aplikasi e-commerce dan penggunaan media sosial dalam pemasaran digital mencakup bidang kewirausahaan digital. Oleh karena itu, kewirausahaan digital ke depan dapat menjadi salah satu sektor yang telah memberikan banyak kontribusi positif bagi penguatan perekonomian Indonesia. Selain itu, media sosial dalam konteks ekonomi semakin membuka peluang bisnis baru bagi masyarakat dalam pengembangan model wirausaha digital. Namun, pengusaha digital tidak cukup hanya memiliki satu atau dua keterampilan teknis, mereka juga perlu memperhatikan inovasi teknologi yang didukung dengan penemuan ide. Artinya pengembangan bisnis di bidang teknis masih membutuhkan partisipasi banyak peserta, seperti creative provider (pengusaha digital), research center, pemodal dan negara. Tantangan yang dihadapi oleh usaha kecil, menengah dan mikro Indonesia memang sangat beragam, karena terkait erat dengan hanya 3,5% kewirausahaan Indonesia. Oleh karena itu, peningkatan kualitas usaha kecil, menengah dan mikro mutlak diperlukan untuk menciptakan kondisi bagi kegiatan usaha di masa depan. Perlu dicatat bahwa usaha kecil, menengah dan mikro telah memainkan peran penting dalam memperkuat perekonomian Indonesia. Dalam rangka mengembangkan UMKM digital, salah satu alternatif Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) adalah mengundang inovator muda untuk mendukung program digitalisasi UMKM melalui Program Pahlawan Digital UMKM. Rencana tersebut bertujuan untuk memastikan pelaku UMKM dapat bertahan dari pandemi Covid19 dengan meningkatkan penjualan dengan dukungan ekosistem digital. Karena selama ini baru sekitar 1,011 miliar UMKM yang terkoneksi dengan ekosistem digital. Ada banyak hal yang perlu diperhatikan ketika mengembangkan UKM berbasis digital di Indonesia, terutama dalam hal konten kreatif. Karena di era digital, konten menjadi andalan persaingan di bidang digital. g pengembangan UKM digital tentu akan sulit mencapai hasil yang signifikan. Desain konten  kreatif peserta UMKM harus dilakukan secara mandiri, dan juga harus dilakukan melalui berbagai pelatihan tambahan. Para pelaku UMKM perlu didorong untuk memahami hakikat dunia digital, khususnya media sosial. Dalam konteks media sosial, fokusnya adalah pada konten, sehingga produk dan layanan yang ditampilkan dapat menarik perhatian konsumen. Oleh karena itu, pelaku usaha UMKM perlu memahami konten kreatif dari digital marketing. Sejumlah penelitian menemukan bahwa konten kreatif dapat menarik banyak perhatian dari netizen (Arianto, 2015). Tentunya konten-konten tersebut bisa berasal dari produk dan jasa usaha kecil, menengah dan mikro itu sendiri, atau bisa juga dari konten yang dapat mendukung produk dan jasa yang mereka hasilkan. Faktanya, beberapa faktor masih menghambat perkembangan usaha kecil, menengah dan mikro Indonesia, terutama dalam pemasaran produk dan jasa. Hambatan ini berkisar dari manajemen produk (pengemasan dan branding) hingga keterampilan pemasaran. Apalagi dalam konteks pandemi Covid-19, para pelaku UMKM harus mampu mentransformasikan diri di dunia digital khususnya dalam digital marketing. Kendala utama terutama terletak pada kemasan produk. Karena Indonesia masih memiliki banyak produk dan jasa UMKM, serta produk asli. Oleh karena itu, produk dan layanan yang diberikan tidak memiliki nilai yang menarik untuk menarik perhatian konsumen. Perlu untuk menarik perhatian konsumen melalui pelatihan pengemasan produk dan layanan, sehingga dapat memberikan segala macam bantuan. Dengan kata lain, dibutuhkan teknologi untuk membuat konten kreatif terkait kemasan dan branding produk. Oleh karena itu jika dipasarkan melalui media sosial dan pemasaran tentunya dapat menarik perhatian konsumen. Transformasi digital UMKM di masa pandemi Covid-19 akhirnya dapat memungkinkan UMKM untuk kembali mengembangkan usahanya. Misalnya, pengembangan UMKM digital di masa pandemi Covid-19 bisa menjadi alternatif penyelamatan sektor UMKM untuk terus berkembang. Namun, upaya pengembangan UKM digital juga perlu didukung oleh pemerintah, koperasi dan Kementerian UKM. Pasalnya, para pelaku UMKM masih membutuhkan banyak dukungan, pembinaan dan pendanaan yang notabene berasal dari pemerintah di masa pandemi Covid-19. Jika ada efek sinergi antara usaha kecil, menengah dan mikro, pemerintah dan pendukung lainnya, maka dipastikan proses transformasi digital usaha kecil, menengah dan mikro dapat berjalan dengan sempurna. Sehingga tujuan pemerintah untuk meningkatkan UMKM berbasis digital dapat segera tercapai. Selain itu, pengembangan UMKM digital pasca pandemi Covid-19 juga harus menjadi prioritas utama pemerintah dan seluruh pihak terkait agar ekosistem ekonomi digital Indonesia dapat terus berfungsi dengan baik. Karena pengembangan usaha kecil, menengah, dan mikro digital juga akan membantu memperkuat ekosistem wirausaha digital Indonesia. Akhir kata, artikel ini meyakini bahwa pengembangan UMKM digital di masa pandemi Covid19 dapat menjadi alternatif pengembangan UMKM di era ekonomi digital. Selain itu, pengembangan UMKM digital juga menjadi salah satu strategi untuk menyelamatkan UMKM agar tetap eksis di masa pandemi Covid-19. Selain itu, berbagai proyek pengembangan digital untuk usaha kecil, menengah dan mikro dapat mempercepat proses transformasi digital ekosistem ekonomi digital Indonesia dan memungkinkan usaha kecil, menengah dan mikro untuk dapat bersaing dalam persaingan internasional Guntur Ramadan – Magister Akuntansi Universitas Pamulang (***)

Literasi Digital Menghadapi Toxic Media Sosial

Saat ini manusia memasuki era revolusi digital dan internet. Di mana peradaban manusia dibangun atas serangkaian teknologi informasi dan komunikasi yang sangat canggih. Roger McNamee investor pertama Facebook menyatakan kesaksiannya bahwa pada 50 tahun pertama Silicon Valley, industri teknologi terkemuka di dunia ini membuat produk baik itu hardware maupun software yang dijual ke publik. Itu menjadi model bisnis yang sederhana. Namun, sepuluh tahun terakhir perusahaan teknologi besar di Silicon Valley tidak lagi menjual produk, tetapi menjual penggunanya. Aza Raskin penggagas Firefox & Mozilla Labs pun mengatakan bahwa karena pengguna memakai sosial media secara gratis, maka pengiklan-lah yang sejatinya membayar layanan sosial media yang kita gunakan. Dengan kata lain model bisnis sosial media adalah menarik sebanyak mungkin pengiklan memasang produknya, di mana pasar iklan tersebut tak lain adalah para pengguna media sosial di seluruh dunia. Secara garis besar, perusahaan teknologi ini bekerja untuk mencapai tiga visi utama. Pertama, tujuan keterikatan yaitu untuk meningkatkan penggunaan Anda untuk terus memakainya. Kedua, tujuan pertumbuhan dengan membuat Anda kembali dan mengundang sebanyak mungkin teman dan ketiga tujuan periklanan yaitu untuk memastikan bahwa karena semua itu terjadi, mereka menghasilkan uang sebanyak mungkin dari iklan. Di satu sisi, pengguna sosial media merasakan bahwa aktivitasnya memakai pelbagai platform sosial media itu menguntungkan karena pemakaiannya gratis dan tampilan dan pelbagai fiturnya menarik bisa berinteraksi secara menyenangkan dengan banyak orang yang tak terbatas. Namun di sisi lainnya, perusahaan teknologi memanfaatkan data pribadi, serta riwayat aktivitas pengguna tersebut sebagai sebuah aset yang bisa diolah menjadi profit. Ada pepatah kuno, “If you’re not paying for the product, then you are the product.”. Facebook, Google, Twitter, Instagram, YouTube, TikTok, Pinterest Reddit, Snapchat dan lainnya model bisnis perusahaan mereka adalah memikat sebanyak mungkin pengguna dan membuat pengguna selama mungkin terpaku di layar komputer, smartphone maupun tablet. Seberapa lama waktu pengguna bisa dihabiskan untuk berinteraksi di platform media sosial tersebut semakin besar data yang bisa diserap. Mereka berlomba-lomba menarik pengguna untuk membuat pengguna merasakan kenyamanan menghabiskan waktunya untuk berselancar di media sosialnya. Selama itu pula pengguna tanpa sadar dikendalikan pola pikir dan persepsi, hingga perilakunya tentang segala hal. Shoshana Zuboff, professor emeritus Harvard Business School, menyatakan bahwa media sosial saat ini menjadi bisnis yang diimpikan seluruh perusahaan. Media sosial memiliki keunggulan berupa jaminan keberhasilan pada iklan-iklan yang dipasang di beranda mereka. Dengan kepemilikan data pengguna yang besar, maka media sosial menyajikan prediksi-prediksi yang akurat tentang segala hal, dan bisa menopang kepastian jalannya suatu bisnis. Kepastian tersebutlah yang menjadi uang. Dengan kata lain, media sosial mampu mempengaruhi persepsi dan perilaku penggunanya diarahkan kepada keinginan si pengiklan. Media sosial menjadi jenis lokapasar baru yang belum pernah ada sebelumnya. Media sosial juga disebut sebagai kapitalisme pengawasan data pengguna. Bentuk kapitalisme baru yang mengambil profit sebesar-besarnya dari jutaan pengguna tanpa jejak dan tak terbatas. Jeff Seibert mantan eksekutif pendiri Twitter menjabarkan aktivitas seluruh orang yang berselancar di internet diawasi, dilacak, diukur, dipantau dan direkam dengan hati-hati. Semisal seberapa lama gambar yang dilihat dan seberapa lama waktu keterlibatan pada sesuatu. Mereka tahu saat orang kesepian, depresi, gembira, bahagia, dan keseluruhannya. Perusahaan teknologi memiliki lebih banyak informasi tentang kepribadian seseorang daripada yang pernah dibayangkan dalam sejarah manusia. Senada itu, Sandy Paraklas, mantan manajer operasi Facebook dan Uber, pun mejelaskan bahwa segala rekaman aktivitas pengguna dimasukkan ke sistem big data yang dikelola kecerdasan buatan. Sistem ini terus memproduksi prediksi yang semakin membaik karena selalu update sesuai aktivitas pengguna media sosial dalam rentang detiknya. Dengan big data, sosial media mampu membuat prediksi bahkan manipulasi penggunanya. Contohnya cara hidup generasi Z yang mengenal sosial media sejak usia remaja telah dimanipulasi dan diarahkan lebih mementingkan aktivitas di internet ketimbang dunia nyata. Dengan demikian media sosial yang sebelumnya digadang menghubungkan orang-orang yang terpisah jarak, justru kini berdampak pada menjauhkan komunikasi langsung ke komunikasi tidak langsung lewat ruang media sosial yang yang sarat manipulasi dan didanai oleh kepentingan bisnis, kelicikan dan penipuan. Media sosial dibangun atas teknologi persuasif yang diterapkan secara ekstrem untuk mengubah perilaku seseorang. Di mana pengguna akan terus berselancar dengan jari-jarinya terus mengeklik dan menggeser layar dan selalu muncul hal baru dan menarik. Dalam  psikologi ini disebut penguat intermiten positif. Kita tak tahu kapan atau apakah kita akan mendapatkannya. Media sosial bukan hanya ingin membuat pengguna menghabiskan banyak waktu saja tetapi secara tidak sadar ia sudah masuk ke batang otaknya dan menanamkan kebiasaan secara tak sadar ke dalam diri si pengguna. Agar secara tidak sadar otak diprogram untuk selalu melihat ponsel atau melihat notifikasi yang mungkin berisi hal menarik untuk dibuka. Teknologi media sosial didesain dengan teknik persuasif seperti itu. Sosial media itu adalah narkoba. Kita mempunyai perintah biologis dasar untuk terhubung dengan orang lain. Itu secara tidak langsung memicu pelepasan dopamin dalam tubuh kita. Jadi tak bisa diragukan lagi kalau sosial media yang mengoptimalkan hubungan antar orang ini akan memiliki potensi kecanduan. Di antara dampak buruk kecanduan media sosial antara lain: Kesehatan mental pengguna; Berita palsu (hoax) yang cepat menyebar; Membuat remaja frustasi dan depresi; Pengguna diarahkan oleh perusahaan teknologi sehingga tidak mempunyai preferensi sendiri, bahkan preferensi diarahkan oleh platform : misalnya harus cantik dengan operasi plastik;Pengguna dibombardir oleh iklan-iklan perusahaan komersial; Pengguna dibuat halusinasi dengan harus selfie dan dipercantik dengan aplikasi agar bagus saat di upload sehingga mendapat like, pujian dari pengguna lain; Cara berpolitik yang tidak sehat. Maka untuk menanggulanginya dibutuhkan literasi digital. Istilah literasi digital dikemukakan pertama kali oleh Paul Gilster (1997) sebagai kemampuan memahami dan menggunakan informasi dari berbagai sumber digital. Ia mengemukakan bahwa literasi digital merupakan kemampuan menggunakan teknologi dan informasi dari piranti digital secara efektif dan efisien dalam berbagai konteks, seperti akademik, karier, dan kehidupan sehari-hari. Seseorang harus memiliki kemampuan dalam penguasaan perangkat teknologi digital, dengan harapan individu tersebut sudah memiliki keterampilam literasi digital Literasi digital sama pentingnya dengan membaca, menulis, berhitung, dan disiplin ilmu lainnya. Generasi yang tumbuh dengan akses yang tidak terbatas dalam teknologi digital mempunyai pola berpikir yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Literasi digital akan menciptakan tatanan masyarakat dengan pola pikir dan pandangan yang kritis-kreatif. Mereka tidak akan mudah termakan oleh isu yang provokatif, menjadi korban informasi hoaks, atau korban penipuan yang berbasis digital. Dengan demikian, kehidupan sosial dan budaya masyarakat akan cenderung aman dan kondusif. Membangun budaya literasi digital perlu melibatkan peran aktif masyarakat secara bersama-sama. Keberhasilan membangun literasi digital merupakan salah satu indikator pencapaian dalam bidang pendidikan dan kebudayaan. Guntur Rammadan, Universitas Pamulang