TANGSEL — Sebagian aliran Kali Ciputat di Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), diduga tertutup akibat pembangunan kawasan pusat perbelanjaan Bintaro XChange milik PT Jaya Real Property Tbk.
Dugaan tersebut mencuat setelah warga bersama anggota DPRD Tangsel menelusuri perubahan aliran sungai yang diyakini berdampak pada kawasan permukiman di hilir. Namun, pihak PT Jaya Real Property Tbk membantah telah mengubah aliran Kali Ciputat.
Manajer Perencanaan perusahaan, Virona Pinem, menegaskan bahwa pekerjaan yang dilakukan merupakan penataan, bukan pengalihan alur sungai.
“Ini penataan, bukan perubahan aliran,” ujar Virona, Kamis (23/4/2026).
Menurutnya, proyek tersebut telah melalui kajian teknis dan memperoleh izin dari pemerintah pusat. Ia juga menepis anggapan bahwa pembangunan Bintaro XChange menjadi penyebab banjir di Pondok Aren.
“Kajian dari pihak pekerjaan umum sudah ada,” katanya.
Virona menambahkan, penataan dilakukan berdasarkan keputusan kementerian terkait serta mengacu pada undang-undang dan peraturan presiden. Terkait status lahan yang disebut sebagai aset negara, ia memastikan seluruh proses telah mengikuti ketentuan.
Di sisi lain, Ketua Panitia Khusus (Pansus) Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) DPRD Kota Tangsel, Ahmad Syawqi, menyatakan pihaknya menemukan indikasi perubahan aliran sungai di lapangan.
“Kami melihat ada perubahan aliran sungai. Ini yang akan kami dalami,” ujar Syawqi.
Ia menyebut DPRD masih menunggu dokumen tambahan dari pihak pengembang, khususnya terkait status Barang Milik Negara (BMN) pada area aliran sungai tersebut.
“Mereka menyebut kewajiban sudah dijalankan, tapi dokumennya belum kami pegang,” katanya.
DPRD juga akan menelusuri aspek historis perubahan alur Kali Ciputat yang diduga terjadi sejak 2011, sebelum regulasi tata ruang diperketat.
“Kami ingin tahu dasar perubahan itu,” tambahnya.
Ia menegaskan DPRD akan memastikan fungsi sungai tetap terjaga.
“Debit harus aman dan fungsi ruangnya tidak berubah,” pungkasnya.
Pantauan di lapangan pada Jumat (1/5/2026) menunjukkan perubahan signifikan pada aliran Kali Ciputat kecil yang berhulu di kawasan Pintu Air Nuri, Kelurahan Sawah Lama, Kecamatan Ciputat.
Berdasarkan citra satelit Google Earth, hingga 2012 aliran sungai masih terlihat mengalir dari Pintu Air Nuri, melintasi rel kereta di sekitar Stasiun Jurangmangu hingga ke kawasan Pondok Jaya.
Namun pada citra tahun 2013, aliran tersebut mulai menghilang setelah melewati jalan tol dan berganti menjadi kawasan pembangunan Bintaro XChange.
Jejak sungai itu juga tercatat dalam arsip peta kolonial Belanda koleksi Universitas Leiden. Dalam peta “Kebajoran” tahun 1937, sungai tersebut ditandai sebagai “K. Tjipoetat”.
Peta tersebut menunjukkan adanya percabangan aliran di sisi barat yang kini diduga berubah menjadi kawasan pusat perbelanjaan.
Saat ini, kondisi aliran di bagian hulu nyaris mati. Pintu air tertutup sehingga air tidak lagi mengalir ke hilir. Ketika pintu dibuka, arus justru berbelok ke aliran utama Kali Ciputat akibat adanya sodetan di bagian leher sungai.
Selain itu, badan kali mengalami pendangkalan akibat sedimentasi, rumput liar, serta batang pohon tumbang.
Di sekitar rumah pemotongan hewan dan Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE), aliran sungai kembali terisi air. Namun sumbernya berasal dari drainase jalan, limbah domestik, dan saluran lain yang belum teridentifikasi. Air mengalir sempit dan berbau menuju rel kereta di sekitar Stasiun Jurangmangu.
Seorang warga Pintu Air Nuri, Indra (53), mengatakan aliran Kali Ciputat mulai mati setelah rehabilitasi pintu air dan pembangunan tanggul di aliran utama pada 2024.
“Dulu alami banget, bisa berenang, mandi, segala macam. Saya pernah menyusuri sampai Pondok Jaya untuk mencari ikan,” ujarnya, Minggu (3/5/2026).
Menurut Indra, pada periode 1980-an hingga akhir 1990-an, sungai tersebut menjadi bagian penting kehidupan warga.
Ia menyebut anak-anak biasa berenang, sementara warga memanfaatkan air untuk mencuci dan kebutuhan sehari-hari. Sungai itu juga dihuni ikan tawes, gabus, betok, hingga kerang air tawar.
“Dulu fungsinya juga untuk mengairi sawah yang sekarang sudah jadi kawasan Bintaro,” katanya.
Ia berharap aliran sungai tersebut dapat dipulihkan kembali.
“Yang penting hidup lagi, dirapikan,” ujarnya.
Perubahan aliran Kali Ciputat diduga berdampak pada kawasan hilir, terutama Kompleks Taman Mangu Indah di Pondok Aren. Dalam dua tahun terakhir, kawasan tersebut disebut semakin sering dilanda banjir.
Di RW 12, Kelurahan Jurang Mangu Barat, sejumlah rumah terlihat dipasang plang “Dijual”. Diperkirakan sedikitnya 38 rumah kosong dan tidak terurus.
Salah seorang warga, Marwoto, yang telah tinggal lebih dari 30 tahun di kawasan tersebut, menyebut banjir sebagai alasan utama warga memilih pindah.
“Saya kurang tahu detailnya, tapi yang jelas karena banjir,” ujarnya.
Ia menambahkan, kawasan Bintaro dahulu masih didominasi kebun dan lahan terbuka.
“Dulu banyak kebun dan air sungainya masih bersih. Sekarang karena banyak bangunan, aliran airnya ke sini semua,” katanya.
Warga lain menyebut tren penjualan rumah meningkat sejak sekitar 2024, meski tidak mudah terjual.
“Sudah dua tahun ini banyak yang jual, tapi tidak cepat laku,” ujarnya.
Ketinggian air banjir di kawasan tersebut disebut bisa mencapai betis orang dewasa.
Hingga kini, polemik dugaan perubahan aliran Kali Ciputat masih menjadi perhatian publik dan memunculkan pertanyaan mengenai dampak pembangunan kawasan komersial terhadap sistem aliran air serta tata ruang di Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan.
Penulis: Ahmad Rizki
Editor: Usman Temposo
