Oleh: Jamilatuz Zahra
Penulis merupakan mahasiswi Ilmu Komunikasi Untirta
Malam itu, snapgram berhasil terunggah, sebuah story yang bahkan kuunggah sekadar menjadi pengingat diri. Malam perlahan meredup. Aku merebahkan tubuh di atas kasur, menarik selimut hingga dada, membiarkan segala lelah hari ini luruh sedikit demi sedikit. Sebentar lagi mata akan terpejam dan aku menyerahkan diri pada tenangnya malam.
Tiba-tiba notifikasi pesan masuk, terkirim dari orang yang tak pernah disangka. Menyapa dengan tutur yang hangat, “Ra, kamu terlihat paham agama dan istiqamah. Aku juga ingin hijrah.”
Aku tersenyum. Namun, begitu selesai membalas pesan dan berdialog malam itu, aku duduk di tepi kasur, menatap layar ponsel yang masih menyala. Merenung.
Itulah pertama kali aku benar-benar menyadari bahwa aku bisa tampak “salehah” di hadapan manusia, sementara di hadapan diri sendiri dan Tuhan aku masih sangat jauh dari kata sempurna.
Di bawah temaram gemerlap dunia akhir zaman ini, sebuah standar salehah sering kali tegak dengan begitu kokoh sekaligus rapuh. Ketika kita hadir melangkah dengan pakaian yang longgar, tutur kata yang terjaga, dan paras yang teduh, masyarakat dengan begitu ringkas akan langsung menghadiahkan sebuah predikat suci: “salehah”. Label ini seolah menjadi garis finis, sebuah stempel mutlak bahwa urusan spiritual seorang perempuan telah selesai dan paripurna.
Namun, apa yang terjadi ketika lampu sorot itu padam, pintu kamar dikunci, dan manusia kembali pada kesunyian batinnya sendiri?
Yang tersisa sering kali bukanlah rasa tenang, melainkan sebuah kerisauan yang sunyi, sebuah kesadaran yang menghentak bahwa atribut luar yang rapi itu hanyalah penutup dari jiwa yang sebenarnya masih tertatih-tatih, rapuh, dan penuh dengan monolog manusiawi.
Yang paling menyakitkan dari label salehah bukan ketika ia diberikan dengan tulus, melainkan ketika ia berubah menjadi standar yang tidak boleh retak. Aku tahu rasanya berjalan di antara dua cermin yang saling berhadapan. Cermin pertama memantulkan gambaran yang orang lain ingin lihat, sedangkan cermin kedua memantulkan gambaran yang aku tahu sebagai kebenaran.
Ruang di antara dua cermin itulah yang paling sunyi dan menyakitkan.
Akibat label yang terlalu cepat disematkan, banyak dari kita kehilangan hak untuk berproses secara utuh. Kita takut terlihat goyah. Kita akhirnya memilih diam, menyimpan keraguan dalam lipatan sejadah yang terlipat rapi, dan terus melangkah dengan kepala tegak meski kaki gemetar.
Fenomena ini menjadi potret nyata dari hijrah culture yang marak terjadi di media sosial, di mana batas antara identitas spiritual dan performa visual menjadi kian kabur. Pakaian dan hijab tidak lagi sekadar berfungsi sebagai pelindung tubuh, melainkan telah bergeser menjadi sebuah papan nama moral.
Ketika selembar kain terjuntai rapi dan menutup lekuk raga, masyarakat dengan ringkas berasumsi bahwa ketaatan sang pemilik pakaian telah berada di titik puncaknya. Sebuah stempel mutlak bahwa urusan spiritualnya telah selesai dan paripurna. Label tersebut seolah menuntut kesempurnaan mutlak tanpa celah, abai bahwa di balik atribut yang tampak teduh itu ada seorang manusia biasa yang masih bergelut dengan ego, kemalasan, dan godaan duniawi.
Akibatnya, predikat salehah yang disematkan lingkungan sekitar sering kali beralih fungsi menjadi sebuah penjara ekspektasi, ruang yang terlalu sempit untuk salah, terlalu terang untuk jujur, dan terlalu sesak untuk benar-benar berproses.
Oleh karena itu, kita perlu melangkah keluar dari romantisme pujian publik atau sekadar pemujaan terhadap penampilan luar. Perjalanan ini semestinya dipahami bukan sebagai status instan yang bersifat final dan absolut, melainkan sebuah dialektika yang melelahkan sekaligus jujur antara ekspektasi citra publik dan realitas iman pribadi yang penuh kelemahan.
Pada akhirnya, esensi dari upaya mendekatkan diri kepada-Nya bukanlah tentang bagaimana cara tampil sempurna di bawah sorot mata manusia, melainkan tentang bagaimana kita mengenali langkah-langkah kaki berdebu yang berkali-kali jatuh dan tergelincir, namun menolak untuk berhenti berjalan.
Di sinilah letak ironi dari sebuah perjalanan spiritual yang tidak kasatmata. Menghitung langkah di jalan yang berdebu berarti berani jujur pada diri sendiri bahwa ada jarak yang terbentang antara apa yang dilihat orang lain dan apa yang dirasakan oleh hati.
Ada hari-hari ketika ibadah mengalir dengan khusyuk, namun ada pula malam-malam sepi ketika batin dipenuhi keraguan, rasa bersalah atas khilaf yang lalu, dan perasaan tidak pantas menerima pujian sesama.
Mengaku bahwa diri “sedang berusaha taat” bukanlah sebuah bentuk kepura-puraan atau kemunafikan. Sebaliknya, itu adalah pengakuan paling jujur dari seorang hamba. Bahwa jubah atau kerudung anggun yang dikenakan bukanlah sebuah pengumuman bahwa dirinya telah suci, melainkan sebuah ikhtiar dan pengingat fisik agar langkah kakinya tidak melenceng terlalu jauh dari jalur yang semestinya.
Pergulatan antara citra yang ditampilkan dan realitas batin sebenarnya bukan fenomena baru. Dalam kajian sosiologi, kondisi ini dapat dipahami melalui konsep dramaturgi yang diperkenalkan oleh Erving Goffman. Goffman membagi kehidupan manusia menjadi dua wilayah utama, yakni panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage).
Panggung depan adalah ruang di mana manusia menampilkan performa terbaiknya demi memenuhi ekspektasi sosial, termasuk di dalamnya atribut salehah yang ditampilkan di hadapan publik maupun media sosial. Sementara itu, panggung belakang adalah ruang sunyi yang jujur, tempat manusia melepaskan seluruh topengnya dan berhadapan langsung dengan kelemahan dirinya sendiri (Goffman, 1959).
Tantangan terbesar umat saat ini adalah kerap menghakimi isi panggung belakang seseorang hanya berdasarkan dekorasi di panggung depannya. Padahal, bagi seorang hamba yang sedang berproses, panggung depan yang tampak “salehah” itu bukanlah sebuah kepura-puraan, bukan pula langkah untuk menaikkan atensi atau mencari perhatian, melainkan sebuah doa dan cita-cita yang sedang diikhtiarkan di belakang panggung secara tertatih-tatih.
Kita perlu mendefinisikan ulang makna ketaatan. Ketaatan bukanlah sebuah trofi kesempurnaan yang bisa dipamerkan, melainkan sebuah proses dialektika yang abadi dengan Tuhan. Dialog yang sering kali berisi kalimat yang sama: mengakui kelemahan diri dan terus memohon ampunan-Nya meski tertatih dan letih karena berulang kali terjatuh ke dalam lubang dosa yang sama.
Namun, betapa baiknya Tuhan, Dia tidak pernah menghakimi hamba-Nya. Menjadi taat tidak menuntut kita untuk langsung suci tanpa noda, melainkan menuntut kejujuran untuk terus melangkah meski kaki sering kali tergelincir oleh ego dan khilaf.
Malam itu, setelah aku meletakkan ponsel dan menatap langit-langit kamar yang gelap, aku akhirnya memilih untuk tidak berpura-pura. Aku berbicara dalam diam kepada Tuhan dengan cara yang tidak pernah aku lakukan di depan orang lain: tanpa kalimat yang tertata, tanpa lafaz yang fasih, hanya pengakuan mentah bahwa aku belum sampai.
Dan di situ, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku merasa ringan.
Mungkin itulah esensi dari menghitung langkah di jalan yang berdebu. Bukan tentang bagaimana tampil sempurna di bawah sorot mata manusia, melainkan tentang keberanian untuk mengenali setiap langkah kaki yang jatuh dan tergelincir, lalu memilih untuk tetap berjalan.
Ketaatan bukan trofi yang dipajang. Ia adalah dialog yang abadi, percakapan yang berulang dengan kata-kata yang sama: “Aku belum sampai, tetapi aku tidak berhenti.”
Daftar Pustaka
Goffman, E. (1959). The Presentation of Self in Everyday Life. New York: Doubleday Anchor Books.
