Inovasi PMT: Dari Bubur Kacang Hijau Jadi Pancake Kacang Hijau untuk Balita!

Masalah gizi di Indonesia masih menjadi perhatian nasional, termasuk stunting. Berdasarkan data SSGI 2024 (2025), prevalensi balita stunting di Indonesia yaitu 19,8%. Angka ini menunjukkan lebih tinggi dibanding target nasional RPJMN (2025) yaitu sebesar 18,8% yang menandakan masih menjadi masalah serius. Balita merupakan kelompok umur yang dapat menjadi generasi masa depan. Balita dengan asupan status gizi baik berpeluang tinggi menjadi generasi masa depan yang cerdas.

Tumbuh Kembang Balita Sangat Ditentukan oleh Asupan Makan

Makanan mempunyai peran penting dalam tumbuh kembang anak. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dengan bahan pangan lokal termasuk salah satu upaya pemerintah dalam menangani masalah gizi pada ibu hamil dan balita. Bahan pangan lokal digunakan sebagai bahan utama makanan tambahan bagi ibu hamil dan balita dengan masalah gizi dapat berperan dalam mengoptimalkan status gizi dengan tetap mempertahankan perputaran ekonomi.

Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pada Balita

Balita dengan masalah gizi T (berat badan tidak naik), berat badan kurang, dan gizi kurang mendapatkan PMT berbahan pangan lokal, selain ibu hamil Kurang Energi Kronis (KEK) dan risiko KEK. PMT dengan bahan pangan lokal diberikan pada anak usia 6-59 bulan, dengan anak usia 6-23 bulan diberikan PMT bahan pangan lokal sambil tetap dilanjutkan pemberian ASI.

Standar PMT Berbahan Pangan Lokal untuk Balita

Pemberian Makanan Tambahan berbahan pangan lokal untuk balita diberikan dengan standar seperti berikut.

  1. Berupa makanan siap santap, dalam bentuk makanan lengkap atau kudapan, tinggi proten hewani
  2. Berupa tambahan asupan, bukan pengganti makanan utama

Pemberian makanan disertai edukasi salah satunya berupa demonstrasi masak (Keputusan Direktur Jenderal Kesehatan Primer Dan Komunitas Tentang Petunjuk Teknis Pemberian Makanan Tambahan Berbahan Pangan Lokal Bagi Ibu Hamil Dan Balita Bermasalah Gizi, 2025)

Demonstrasi Masak PMT Pankā: Pancake Kacang Hijau

Kacang hijau mengandung tinggi protein yang bermanfaat untuk tumbuh kembang balita, murah, dan mudah dibudidayakan (Syariena, 2025). Oleh karena itu, penggunaan kacang hijau sebagai bahan baku utama dalam pembuatan PMT dapat menjadi salah satu pilihan terbaik.

Menu pancake kacang hijau menggunakan bahan yang mengandung gizi seimbang, meliputi karbohidrat (tepung terigu), protein hewani (telur), protein nabati (kacang hijau), dan sumber serat (labu kuning) dengan perhitungan per pcs yaitu 233,8 kkal, protein 9,62 g, lemak 7,18 g, dan karbohidrat 32,68 g yang sesuai standar Kemenkes untuk usia 12-23 tahun, pemberian nilai gizi setiap porsinya yaitu kalori 225-275 kkal, protein 3,5-8 g, lemak 5,6-17,9 g (Ditjen KPK Kemenkes RI, Keputusan Direktur Jenderal Kesehatan Primer Dan Komunitas Tentang Petunjuk Teknis Pemberian Makanan Tambahan Berbahan Pangan Lokal Bagi Ibu Hamil Dan Balita Bermasalah Gizi, 2025).

Hasil organoleptik yang dilakukan di Posyandu Krida Swadiri Kelurahan Pabuaran Tumpeng 04 Desember 2025 menunjukkan kesukaan secara keseluruhan dengan rincian 6 responden sangat suka dan 10 responden suka.

Referensi:

Bappenas. (2025). Ringkasan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2025-2029.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Survei Status Gizi Indonesia 2024 dalam Angka.

Keputusan Direktur Jenderal Kesehatan Primer Dan Komunitas Tentang Petunjuk Teknis Pemberian Makanan Tambahan Berbahan Pangan Lokal Bagi Ibu Hamil Dan Balita Bermasalah Gizi (2025).

Syariena. (2025). Edukasi Pentingnya Manfaat Konsumsi Kacang Hijau bagi Kesehatan Balita di Posyandu Desa Danau Usung. JURAGAN: Jurnal Ragam Pengabdian, 2(2), 298–302.

Bagikan Artikel Ini