Author: Jingga Puspita Amartatiah

Bank Sampah Digital SukaLoop Hadirkan Inovasi Pemilahan Sampah Berbasis Aplikasi, Dorong Masyarakat Terapkan Gaya Hidup Sirkular

Kota Serang – Pengelolaan sampah berbasis komunitas di Perumahan Sukawana Asri, Kelurahan Sukawana, Kecamatan Curug, Kota Serang, menunjukkan perkembangan yang semakin positif melalui hadirnya Bank Sampah Digital SukaLoop. Sejak mulai dijalankan pada tahun 2023, program ini terus berkembang dengan menghadirkan berbagai inovasi digital yang memudahkan masyarakat dalam memilah dan mengelola sampah rumah tangga. Berbeda dengan sistem bank sampah konvensional, SukaLoop mengintegrasikan teknologi digital melalui platform www.sukaloop.com, sehingga proses pengelolaan sampah menjadi lebih praktis, transparan, dan menarik bagi masyarakat. Warga tidak hanya memperoleh informasi mengenai jenis sampah yang dapat didaur ulang, tetapi juga mendapatkan panduan pemilahan yang benar sesuai kategori material. Melalui aplikasi tersebut, masyarakat dapat mengetahui secara langsung potensi nilai ekonomi dari sampah yang dipilah. Sistem akan menampilkan estimasi reward yang dapat diperoleh berdasarkan jenis dan jumlah sampah yang disetorkan. Fitur ini menjadi salah satu daya tarik utama karena mampu meningkatkan motivasi warga untuk melakukan pemilahan sampah secara konsisten dari rumah. Selain memberikan informasi mengenai nilai ekonomi sampah, SukaLoop juga menyediakan edukasi mengenai pentingnya penerapan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R)dan ekonomi sirkular. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya didorong untuk memperoleh manfaat finansial, tetapi juga memahami bahwa pengelolaan sampah merupakan bagian dari upaya menjaga lingkungan dan mengurangi beban sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA). Pengelolaan berbasis komunitas menjadi kekuatan utama program ini. Warga dilibatkan secara aktif mulai dari proses pemilahan di rumah, penyetoran sampah, hingga pemanfaatan hasil pengelolaan. Pendekatan tersebut berhasil membangun budaya gotong royong sekaligus meningkatkan kesadaran lingkungan di tingkat permukiman. Seiring berjalannya waktu, SukaLoop terus melakukan penyempurnaan fitur digital berdasarkan kebutuhan masyarakat. Pengembangan aplikasi dilakukan agar semakin mudah digunakan oleh seluruh kelompok usia, mulai dari pencarian kategori sampah, pencatatan transaksi, hingga pemantauan akumulasi reward yang diperoleh setiap pengguna. Digitalisasi ini juga membuat seluruh proses pengelolaan menjadi lebih akuntabel karena setiap transaksi tercatat secara otomatis. Keberadaan Bank Sampah Digital SukaLoop membuktikan bahwa transformasi digital dapat menjadi solusi dalam meningkatkan partisipasi masyarakat terhadap pengelolaan sampah. Dengan memanfaatkan teknologi, proses yang sebelumnya dianggap rumit kini menjadi lebih sederhana, efisien, dan memberikan manfaat nyata bagi warga. Lebih jauh lagi, inovasi ini diharapkan mampu mendukung implementasi ekonomi sirkular di tingkat lokal, di mana sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah, melainkan sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan baik. Melalui kolaborasi antara teknologi dan partisipasi masyarakat, SukaLoop berupaya menciptakan lingkungan permukiman yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan. Ke depan, Bank Sampah Digital SukaLoop menargetkan semakin banyak masyarakat yang bergabung dalam gerakan pemilahan sampah berbasis digital. Dengan semangat inovasi yang terus dikembangkan sejak tahun 2023, SukaLoop berharap dapat menjadi salah satu model pengelolaan sampah berbasis komunitas yang dapat direplikasi di berbagai wilayah Indonesia sebagai bagian dari upaya mewujudkan pengelolaan sampah yang modern, inklusif, dan berkelanjutan.

Pemanfaatan Gulma Air dan Tanaman Liar sebagai Bahan Baku Ecoprint

Sabtu, 18 Juli 2026 telah dilaksanakan kegiatan Sosialisasi dan Pelatihan Ecoprint dari Gulma Air sebagai Pewarna Alami yang bertempat di Desa Kareo, Kecamatan Jawilan, Kabupaten Serang, Banten. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan edukasi sekaligus keterampilan kepada masyarakat dalam memanfaatkan gulma air dan tanaman liar menjadi produk ecoprint yang bernilai ekonomis. Acara diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara (MC), kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa oleh mahasiswa Program Studi Ilmu Kelautan. Setelah itu, kegiatan memasuki sesi inti berupa sosialisasi teknologi tepat guna ecoprint dari gulma air dan tanaman liar. Materi pertama disampaikan oleh Moch. Saad, S.Pi., M.Si. Beliau menjelaskan mengenai dampak negatif penggunaan pewarna kimia pada industri tekstil terhadap kesehatan dan lingkungan. Sebagai solusi yang lebih ramah lingkungan, diperkenalkan teknik ecoprint dengan memanfaatkan gulma air seperti eceng gondok dan genjer yang selama ini dianggap sebagai gulma, namun memiliki potensi sebagai sumber pewarna alami dan bahan baku produk bernilai tambah. Selain itu, peserta juga dikenalkan dengan berbagai tanaman liar yang banyak ditemukan di pekarangan maupun pinggir jalan yang memiliki bentuk dan warna daun yang menarik untuk menghasilkan motif ecoprint yang unik. Pada sesi pelatihan dijelaskan beberapa teknik dalam pembuatan ecoprint, yaitu mordanting, pounding, steaming, dan fiksasi. Namun, teknik yang dipraktikkan langsung kepada peserta adalah teknik pounding yang dilanjutkan dengan fiksasi menggunakan tawas, karena metode ini dinilai lebih mudah, murah, praktis, dan cepat diterapkan oleh masyarakat. Sesi materi berlangsung interaktif melalui tanya jawab yang dipandu oleh Ketua Tim Pengabdian, Ginanjar Pratama, S.Pi., M.Si. Antusiasme peserta sangat tinggi yang ditandai dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan. Untuk menambah semangat peserta, panitia juga menyediakan doorprize bagi para penanya. Materi berikutnya disampaikan oleh Wahyu Wulansari, S.I.K., M.Si. mengenai strategi pemasaran digital melalui pemanfaatan media sosial dan marketplace. Peserta diberikan pelatihan membuat akun Shopee dan TikTok Shop sebagai sarana pemasaran produk ecoprint agar memiliki jangkauan pasar yang lebih luas. Sesi ini juga berlangsung interaktif dan disertai pemberian doorprize kepada peserta yang aktif. Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan praktik pembuatan ecoprint. Peserta yang didominasi oleh ibu-ibu secara langsung mencoba membuat motif ecoprint pada kain goodie bag yang telah disediakan dengan cara memukul daun dan berbagai jenis tanaman menggunakan teknik pounding. Setelah motif terbentuk, kain kemudian melalui proses fiksasi menggunakan larutan tawas agar warna alami yang dihasilkan lebih awet. Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama sebagai bentuk dokumentasi sekaligus penanda berakhirnya rangkaian Sosialisasi dan Pelatihan Ecoprint dari Gulma Air sebagai Pewarna Alami. Diharapkan kegiatan ini dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta membuka peluang usaha baru berbasis pemanfaatan sumber daya alam lokal yang ramah lingkungan dan bernilai ekonomi bagi masyarakat Desa Kareo.