CILEGON – Walikota Cilegon, Robinsar menegaskan bahwa arah kebijakan pembangunan kota dalam empat tahun mendatang akan dipusatkan pada kebutuhan riil masyarakat.
Ia menolak pola belanja yang boros untuk seremonial dan lebih memilih mengalokasikan anggaran ke sektor infrastruktur, pendidikan, dan fasilitas publik.
Robinsar menyebut ada sekitar 2.100 rumah yang ditargetkan untuk diselesaikan sejak 2024. Namun karena beberapa sudah terealisasi, ia memperkirakan jumlahnya menjadi sekitar 2.000 unit. Program ini akan dikolaborasikan dengan APBD serta dukungan Corporate Social Responsibility (CSR) dari pihak swasta.
Selain itu, perbaikan jalan kota juga menjadi prioritas. Jalan-jalan yang masih berupa aspal dan berlubang akan secara bertahap dibetonisasi dalam empat tahun ke depan.
Dimana sebelumnya pada tahun 2024, pihaknya telah melakukan pemangkasan anggaran sebesar Rp124 miliar. Langkah itu diambil agar tidak terjadi defisit pada 2025.
“Kalau tidak kita lakukan efisiensi, potensi defisit akan berulang. Kami pastikan tahun depan tidak ada lagi defisit, tidak ada utang pihak ketiga,” tegasnya.
Ia menjelaskan, pola realisasi anggaran tahun 2024 mirip dengan tahun-tahun sebelumnya. Hingga Agustus–September, pendapatan dan belanja rata-rata baru mencapai 50–55 persen. Tanpa koreksi, risiko defisit cukup besar.
“Makanya tahun ini kita rasionalkan belanja. Banyak kegiatan yang akhirnya terpangkas, tapi tujuannya menormalkan kembali keuangan daerah,” ungkapnya.
Pemkot Cilegon juga sudah menyiapkan skenario APBD 2026 dengan pendekatan lebih realistis. Dari proyeksi awal Rp2,2 triliun, anggaran disesuaikan menjadi Rp2,18 triliun dengan koreksi sekitar Rp78 miliar.
“Kami koreksi target PAD yang terlalu tinggi. Pajak BPHTB, contohnya, sering over estimate. Kita turunkan agar lebih rasional. Sebaliknya, potensi yang bisa digenjot kita naikkan. Jadi APBD 2026 benar-benar lebih realistis,” jelas Robinsar.
Ia menambahkan, kegiatan yang bersifat seremonial akan dihapus. Fokus diarahkan pada program yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat.
“Tahun 2025 kita kencangkan ikat pinggang, supaya tahun 2026 lebih leluasa dalam mengalokasikan anggaran,” katanya.
Walikota juga menyoroti kondisi fasilitas pendidikan yang dinilai belum layak. Masih banyak sekolah di Cilegon yang kekurangan kursi, meja, dan toilet yang layak pakai. Robinsar menegaskan seluruh sarana tersebut sudah didata dan akan diperbaiki secara bertahap.
Ia mencontohkan hasil rapat dengan Dinas Pendidikan bidang pendidikan dasar. Dari total anggaran sekitar Rp75 miliar, Rp50 miliar digunakan untuk gaji guru dan pegawai. Sisa Rp20,5 miliar awalnya hanya Rp6–7 miliar yang dialokasikan untuk mebeler dan revitalisasi sekolah.
“Saya ubah, saya arahkan Rp18 miliar dari sisa anggaran itu untuk kebutuhan pokok sekolah, mulai dari kursi, meja, toilet, hingga gedung baru. Jangan dipakai untuk hal-hal yang tidak jelas,” tegasnya.
Robinsar mengkritisi pola anggaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang selama ini terlalu banyak dihabiskan untuk kegiatan sosialisasi dan seremonial.
Ia menyatakan jumlah kegiatan sosialisasi perlu dipangkas drastis. Jika sebelumnya bisa mencapai enam hingga sepuluh kali dalam setahun, ke depan hanya akan digelar dua hingga tiga kali. Bahkan, ia menegaskan mulai tahun depan anggaran untuk makan minum rapat dihapuskan.
“Rapat cukup dengan snack sederhana. Anggaran makan minum itu kecil kalau dilihat, tapi nilainya bisa puluhan miliar. Lebih baik dialihkan ke pembangunan yang nyata,” katanya.
Robinsar menekankan bahwa peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) memang penting. Namun, ia mengingatkan bahwa efektivitas belanja jauh lebih krusial.
“Percuma PAD meningkat kalau belanjanya tidak efektif. Yang utama adalah belanja harus tepat sasaran, menyentuh kebutuhan pembangunan dan pendidikan masyarakat,” ujarnya.
Melalui kebijakan ini, Pemkot Cilegon di bawah kepemimpinan Robinsar berharap pembangunan infrastruktur dasar dapat berjalan merata, kualitas pendidikan meningkat, serta penggunaan anggaran daerah lebih transparan dan efisien.
Robinsar menegaskan bahwa ia ingin setiap rupiah yang dikeluarkan APBD memberi dampak langsung bagi kesejahteraan warga Cilegon.
Penulis: Usman Temposo
Editor: Wahyudin
