Beranda Kesehatan Upacara Kawalu di Baduy, Mirip Lockdown untuk Virus Corona

Upacara Kawalu di Baduy, Mirip Lockdown untuk Virus Corona

2441
0
Rangkaian Acara Seba Baduy 2019 - foto istimewa

 

SERANG – Di tengah isu fase penularan virus Corona atau Covid-19 di dunia, khususnya di Indonesia dan lebih khusus Provinsi Banten, masyarakat Baduy memasuki ritual Kawalu.

Ritual Kawalu di Baduy sendiri berdasarkan kesepakatan tangtu tilu dan Kepala Desa Kanekes berlangsung dari tanggal 25 Februari hingga 30 Mei 2020 atau 1 Kawalu Tembey – 1 Safar menurut kalender Baduy.

Ritual kawalu merupakan ritual rutin tahunan di mana masyarakat Baduy Dalam menutup diri dari wisatawan atau pendatang. Ritual Kawalu tersebut akan berlangsung hingga tiga bulan kedepan. Dalam ritual Kawalu sendiri dikenal tiga tahapan yakni kawalu mitembey (awal), kawalu tengah, kawalu tutug (akhir).

Momentum kawalu tersebut menurut Pendamping Masyarakat Adat Baduy, Uday Suhada bisa dibaca dalam kaca mata modern sebagai lockdown untuk menghidari segala macam penyakit baik fisik maupun nonfisik yang dibawa oleh para pendatang.

“Tentu ada relevansi secara kebetulan, dari sisi timing (waktu) saat ini kebetulan Kawalu kita kaitkan (dengan) situasi dunia saat ini. Kita bisa ambil teladan dari kearifan lokal Baduy mengenai proteksi komunitas terhadap penyebaran penyakit saat ini,” kata Uday berbincang dengan BantenNews.co.id, Senin (23/3/2020).

Tradisi kawalu sebagai upaya menutup akses masyarakat luar ke Baduy Dalam sendiri menurut Uday bertujuan untuk memfokuskan persiapan-persiapan di lembaga adat dalam. “Kalau Kawalu tertutup karena mereka khawatir ketika ada tamu datang tidak bisa menerima dengan baik karena sibuk di lembaga adat,” jelasnya.

Ibarat lalu lintas internasional, kata Uday, masyarakat Baduy me-lockdown semua akses masyarakat luar yang akan ke Baduy Dalam. “Istilahnya Baduy di-lockdown dari tamu. Ibarat bandara itu ditutup. Mulai dari Ciboleger, Cisimeut, Cibeo, itu bagian upaya mencegah penyebaran virus Covid-19,” kata Uday.

Ritual di masyarakat Baduy untuk memproteksi komunitas yang belum banyak diketahui publik yakni tradisi Nyapuan. “Tradisi nyapuan ini dilakukan berkala untuk membersihkan masyarakat Baduy dari sampah dan penyakit, baik yang bersifat fisik maupun non fisik. Upacara itu mereka lakukan secara berkala tiap bulan, setidaknya tiga bulan sekali,” katanya.

Penyakit fisik misalnya sampah anorganik seperti plastik hingga wabah yang kini terjadi di tengah masyarakat Banten. Sementara penyakit non fisik misalnya kebiasaan luar yang akan merusak sendi-sendi tradisi hidup berdampingan dengan alam.

“Mereka mempertahankan adat dengan begitu berat dan teguh. Padahal aturan tersebut tidak tertulis, tapi mereka menerapkan berbagai kebijakan dengan keteladanan dengan aksi nyata. Ada 1001 tabu tidak tertulis di Baduy tapi dipatuhi dengan tertib. Berbeda dengan masyarakat luar seperti kita, aturan seabrek (banyak) tumpang tindih tapi hidup tidak beraturan dan sulit mencari teladan. Buat aturan tidak boleh keluyuran malah keluyuran,” tuturnya.

Uday sendiri mengaku selama bergaul dengan masyarakat Baduy sejak 1994 silam belum pernah mendengar komunitas tersebut terkena wabah penyakit dengan jumlah korban yang besar. “Mereka punya proteksi komunitas yang luar biasa.”

Pemerhati Budaya dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Arip Senjaya menilai negara bisa mengadopsi masyarakat Baduy dalam menerapkan ritme kehidupan untuk menanggulangi penyakit. “Secara teori virus itu ada siklusnya, seperti di Eropa pernah terjadi berbagai wabah pada beberapa abad lalu, kemudian muncul lagi pada abad berikutnya. Ada siklus, rupanya kearifan lokal sudah mencatat itu,” kata pengajar filsafat tersebut.

Mengenai ritme tersebut, Arip memberi contoh pada waktu-waktu tertentu di mana masyarakat masih menerapkan tabu. “Misalnya magrib tidak boleh ada di luar rumah (ruang) karena sandekala (senja kala karena perubahan suhu udara) dan sebagainya,” tutur Arip.

Dalam situasi seperti ini, menurut Arip, negara dapat mengadopsi kearifan lokal menjadi kebijakan politik. “Kearifan lokal itu sejauh ini masih ‘seksi’ hanya di ranah akademik belum menjadi isu politik negara. Kepentingan negara (terhadap Baduy) sejauh ini hanya sebatas pada soal pariwisata,” ujar Arip.

Merlihat negara saat ini, Arip menyebut kehilangan ritme dalam mengantisipasi Corona atau Covid-19. Termasuk ritme dalam menghadapi bencana alam rutin persoalan banjir yang tidak kunjung selesai menghantui Ibukota.

“Ketika negara tidak punya ritme, maka terpaksa mengikuti ritme negara lain. Contohnya mengimpor alat kesehatan dari luar,” jelasnya.

Masyarakat Baduy, hemat Arip dapat dimaknai memiliki ritmenya sendiri. Mereka memiliki siklus dan ritme dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. “Kita maknai punya ritme sendiri. Harusnya negara mengadopsi kearifan lokal semacam Baduy.”

Budayawan dari Komunitas Untuk Perubahan Budaya (Kubah Budaya) Muhammad Alfaris menyebut pengalaman terhadap bencana dan wabah bukan cuma dihadapi oleh manusia di perkotaan. “Dari pengalaman itu, orang dulu juga punya pengalaman dan melahirkan strategi. Tentu saja di Baduy pewarisan itu secara turun temurun lewat narasi lisan,” kata dia.

Di sisi lain, Alfaris menilai masyarakat adat memiliki self sensor yang cukup baik. Mereka bisa menyaring pengaruh budaya dari luar yang cenderung polutif terhadap alam dan budaya.

“Itulah mengapa orang Baduy menilai mereka hidup di wilayah Mandala, wilayah suci. Itu sejalan dengan Konsep kosmologi Baduy. Bahwa wilayah Baduy adalah wilayah suci, lalu berjenjang, di luar wilayahnya tak suci (kotor). Karena apa yang datang dari luar, selain dapat menjadi sumber penyakit bersifat budaya juga penyakit fisik,” jelasnya.

Lebih jauh, Alfaris menilai lockdown bagi masyarakat Baduy bukan sesuatu yang asing. Secara prinsip mereka sudah mempraktikan secara berkala dalam momentum ritual tradisi

Local wisdom Baduy isolasi diri (isolasi wilayah) sudah berlangsung sejak dulu. Jadi sekarang local wisdom Baduy tersebut relevan maknanya.
Mereka tak kaget dan bingung dengan anjuran lockdown itu.
Sangat bermakna dan operatif,” katanya. (you/red)