Beranda Opini Tegangan Antara Sastra dan Sains

Tegangan Antara Sastra dan Sains

1477
0
Ilustrasi - foto istimewa rimma.co

Oleh: Sulaiman Djaya, Penyair dan Esais Bergiat di Kubah Budaya

Meski ada banyak ragam definisi tentang fiksi dan sastra, umumnya tetap memandang fiksi dan sastra tidak terlepas sebagai kerja kreatif yang berhubungan dengan wilayah imajinasi dan rasa. Karena ia merupakan wilayah rasa dan imajinasi, sebagai contohnya, maka ia berbeda dengan sosiologi atau “ilmu” dalam arti umum yang kita pahami. Bila ilmu seperti bis kota yang dapat dipercaya dan jelas rutenya, maka imajinasi lebih merupakan peta-peta dan tempat-tempat yang belum dijelajahi sebelumnya, yang oleh individu-individu yang mandiri dan berjuang berusaha ditemukan dan dihidupi.

Wawasan dan lingkup yang demikian itu seperti semesta yang menyediakan dirinya bagi sekian kemungkinan, bukan objektivitas. Sedikit banyaknya, estetika, atau lebih khusus kesusasteraan, berada dan meletakkan kepentingannya di sana. Ia bermain dengan eksepsionalitas, penjelajahan, dan pencarian tanpa henti demi terus-menerus menemukan sekaligus menghidupi apa yang disebut wawasan, bukannya objektivitas dan kebenaran.

Dalam hal ini, Rene Wellek dan Austin Warren, sekedar mengutip, mendefinisikan atau mengkategorikan sastra sebagai sebuah kegiatan kreatif yang tidak jauh berbeda dengan kegiatan kreatif dalam dunia seni pada umumnya, yang sama-sama berkaitan dengan kreativitas-imajinatif, di mana dengan hal itu pula kita menyebut sastra sebagai “karya fiksi”. Sementara itu, secara fungsional, sebagaimana dikemukakan oleh Edgar Allan Poe, sastra berfungsi untuk menghibur dan sekaligus mengajarkan sesuatu.

Namun penting untuk diperhatikan, tak semua karya imajinatif disebut sastra, seperti novel pop, kartun, manga, dan komik, yang lebih tepat dikategorikan sebagai pernak-pernik budaya pop yang hanya merayakan entertaining masyarakat pekerja dan budaya konsumtif cepat usang yang tak memberikan hikmah serta kearifan bagi terbukanya wawasan-wawasan baru yang mencerahkan.

Fungsi Profetik Sastra

Dalam sebuah perbincangan akrab yang mengambil tema Seputar Intelegensi dan Kecerdasan Insani, Daisaku Ikeda bertanya kepada Arnold Toynbee: “Apa yang bisa dilakukan sebuah karya sastra bagi kaum papa?”. Pertanyaan itu, sebagaimana diakui oleh Daisaku Ikeda, memang dipinjam dari Jean-Paul Sastre. Segera saja, Toynbee menanggapi bahwa adalah sesuatu yang akan sangat keliru bila memaksakan kesusastraan menjelmakan dirinya sebagai fungsi sains, karena karya sastra, lanjut Toynbee, lebih sering berfungsi sebagai pengguggah jiwa dan kesadaran. Toynbee mencontohkannya dengan dampak novel-novelnya Tolstoy dan Dostoievsky yang telah membangkitkan rasa iba-hati dan tanggungjawab dalam rangka menciptakan solidaritas-humanis, yang pada akhirnya menggerakkan kesadaran masyarakat untuk saling-membantu dan mengubah nasib mereka.

Toynbee kemudian menerangkan bagaimana Tolstoy menuliskan novel-novelnya, yang menurut Toynbee sendiri berkembang bersama-sama antara jiwa Tolstoy sebagai pengarang dan penulis dengan novel-novelnya. Dalam tahapan dan fase-fase perkembangan itu, lanjut Toynbee, sikap dan pandangan “dunia” Tolstoy sekurang-kurangnya tercermin lewat tokoh-tokoh setiap novelnya. Pada awalnya, demikian papar Toynbee dalam dialognya dengan Daisaku Ikeda itu, Tolstoy menulis secara spontan, sekedar menurutkan dan melampiaskan desakan hatinya untuk menulis dan menghasilkan sebuah prosa. Tetapi dalam perkembangannya, karena bersamaan dengan kematangannya menangkap “dunia” dan menuliskan ulang dalam sebuah prosa, karya-karyanya justru menjadi nyata bagi para pembacanya, yang seolah-olah bercerita tentang “dunia” para pembaca itu sendiri.

Seperti juga Heidegger ketika membincang puisi, sastra bagi Toynbee kadang-kadang malah menciptakan pilar baru atau wawasan dan kuriositas bagi ilmu pengetahuan, intelegensi, dan kecerdasan insani. Jika demikian, “realisme kesusasteraan” tentulah bukan berarti sebuah usaha dan upaya “menjinakkan” kosmologi kesusasteraan hanya sekedar sebagai “fungsi sosiologis” semata. Dapatlah dikatakan, kesusasteraan tidak menghendaki hanya menampilkan data-data survey, tapi lebih mencerminkan sebuah ikhtiar alegoris dan kiasan untuk mencipta “wawasan”. Karena garisnya ini, “kesusasteraan” tak jarang mendekati fungsi yang agak “profetik”.

Dan demi mengimbangi perbincangan itu, Daisaku Ikeda kemudian menambahkan bahwa memang, spirit dan rasa bebas yang didasarkan pada panggilan jiwa kreatif-lah yang menjadi “pilar” dunia kesenian dan kesusasteraan. Sebab acapkali, demikian Daisaku Ikeda menambahkan dalam dialognya yang amat bernas dengan Arnold Toynbee pada sesi tentang “pentingnya kecerdasan itu”, kesusasteraan yang secara sengaja meniatkan menjelmakan dirinya memiliki tujuan sosial atau fungsi realis malah jatuh pada pragmatisme dan jebakan politis, yang alih-alih membuatnya kehilangan tujuan sosial yang diniatkannya. Karena itu, demikian mereka mengakhiri sessi kesekian dialognya itu, “spirit yang dilandasi pada kebebasan-kreatif-lah” yang akan membuat karya sastra memiliki fungsi sebagaimana mestinya sebuah karya sastra.

Sastra dan Sains

Mereka yang disebut “penulis” (penyair, novelis, cerpenis atau kapasitas ketiganya yang menyatu dalam satu orang) biasanya mampu mengungkap kemungkinan–kemungkinan baru dari sebuah pemahaman. Mereka menjangkau bentuk-bentuk baru dari pemahaman dengan karya-karya mereka, memberikan wacana dan diskursus alternatif yang sebelumnya tidak dilihat dan tidak dipikirkan mereka yang bukan penulis. Bagi para pengarang, menulis adalah masalah mengeksplorasi makna, horizon baru yang selama ini tidak dipikirkan mereka yang bukan penulis. Karena itulah, acapkali karya-karya sastra mampu melahirkan wawasan baru dan pandangan-pandangan alternatif yang tidak disentuh dan dipikirkan para ilmuwan, misalnya, oleh para pengamat politik dan yang sejenisnya, dan karena itulah, bersama filsafat, para filsuf menyebut sastra sebagai ‘ibunya’ sains dan ilmu pengetahuan.

Dan hal lainnya adalah sudut pandang, yang mana sudut pandang akan menentukan suatu ‘identitas’ dari ‘yang memandangnya’. Suatu subjek dapat dipandang secara berbeda tergantung kepentingan dan perspektifnya. Sebagai contoh: seekor kuda bagi seorang ahli biologi adalah binatang mamalia yang memiliki surai yang berbeda dengan sapi, kerbau, dan binatang lainnya. Tetapi bagi seorang penyair, seekor kuda akan dilihat dalam konteks yang beragam dan dalam kadar eksistensial. Kuda yang dibayangkan sebagai makhluk hidup yang konkrit, yang menarik pedati, yang menjadi sahabat seorang ksatria, yang mengalami kelelahan dalam perjalanan menuju medan perang, dan lain sebagainya.

Seorang penulis, entah ia seorang penyair, novelis, cerpenis (atau kapasitas ketiganya dalam satu orang) biasanya mahir dalam mengisahkan, menarasikan, mewacanakan, memainkan, dan mendadarkan sebuah sudut pandang yang sebelumnya tidak dipikirkan oleh mereka yang bukan penulis atau oleh penulis sebelumnya. Sudut pandang inilah yang akan turut menentukan apakah seorang pengarang adalah seorang penulis yang berhasil atau sebaliknya. Sudah banyak penulis hebat yang melahirkan karya-karya hebat, dan karena itu, penulis berikutnya dapat menawarkan materi yang sesuai jaman atau mengeksplorasi bentuk dan eksperimentasi narasi itu sendiri. Sudah maphum pula diterima bahwa materi dan bahan pokok utama seorang pengarang adalah bahasa, yang dengannya ia mengungkapkan wawasan personalnya atau pun lanskap realitas dunia dan kesehariannya sembari ‘menghidupkan’ bahasa itu sendiri. (Red)