Beranda Opini Aku Adalah Mudik

Aku Adalah Mudik

Ilustrasi - foto istimewa tribunnews.com

Arip Senjaya, Penulis adalah Pengajar Filsafat Bahasa dan Pengrajin Limbah Kayu

Sebenarnya, pulang atau tidak, setuju dengan gerakan pemerintah untuk mengurangi penyebaran virus atau tidak, suka atau tidak suka dengan tradisi ini, setiap manusia, di negara ini atau di mana pun, menurutku merupakan subjek-subjek yang selalu mudik. Itu sebabnya di satu kesempatan diundang membicarakan fenomena mudik tahun ini di minggu terakhir Ramadhan, untuk konsumsi penonton live streaming, aku sekonyong-konyong meminta panitia menuliskan “Aku adalah Mudik” sebagai topik pembicaraanku di poster mereka, sementara pembicara lain mengangkat topik “Mudik sebagai Hasrat”. Secara kefilsafatan pembicara lain itu sangat metodis sebab kau pun bisa bayangkan berapa filosof, psikolog, juga mungkin ahli-ahli gender yang membicarakan hasrat itu, sedangkan pada topikku sendiri rasanya terasa lebih puitik atau menyerupai judul bagi sebuah esai yang isinya lucu atau reflektif entengan. Tapi kalau dipikir lagi kini sebenarnya topikku itu jauh lebih dalam, sebab aku merupakan bagian dasar ilmu apa pun yang berkaitan dengan manusia. Ia hampir mirip dengan beragam isu subjek. Mereka yang ilmiah menyebut “subjek”, mereka yang kreatif menyebut “aku”. Setiap penyair tertarik dengan “aku”, karena mereka tertarik dengan subjek. Aku-lirik dengan demikian selalu—dan semestinya—tentang subjek yang tidak sekadar aku-penyair. Dan memang tak pernah kutemukan satu pun aku-lirik yang identik dengan aku-penyairnya sendiri, bahkan dalam puisi penyair baru muncul sekalipun. Itu sebabnya kepenyairan sangat dekat dengan isu eksistensi subjek kolektif karena tak ada subjek yang sendirian selain Allah. Setiap subjek selain Allah memiliki sejumlah kesamaan dan salah satu kesamaan itu adalah menegasi atau mengafirmasi mudik. Baik menegasi maupun mengafirmasi pada dasarnya memudikkan diri pada mudik itu sendiri. Menolak mudik sama dengan mengakui eksistensi mudik, apalagi menyetujuinya sebagai tradisi, atau/bahkan sebagai bagian dari rangkaian ibadah Ramadhan/Idul Fitri itu sendiri. Dan mengapa kusebut tadi hal ini terjadi di belahan dunia mana pun, karena pada dasarnya tanpa agama macam Islam-Indonesia-khususnya, setiap manusia menetap pada asalnya: ibu, ayah, tanah kelahiran, handai-taulan. Aku yakin seorang ateis sekalipun, ia tak bisa lepas dari kenangan asal. Bahasa setiap manusia adalah bahasa yang mengandung kenangan asal itu. Perspektif setiap manusia pada hidup selalu dipengaruhi kenangan asal pula. Setiap temuan besar dari para ilmuwan pasti mengandung kenangan asal. Tidaklah apel jatuh menghasilkan teori gravitasi jika bukan karena nilai kenangannya, sebab jika Newton lahir di satu desa tanpa buah jatuh macam apel, ia tak akan punya teori itu. Beberapa teori dari para penemu lain juga muncul dari kenangan-kenangan mereka, baik itu kenangan menyenangkan macam apel, maupun dari kenangan traumatik macam pemerkosaan, kekerasan, perang, kemiskinan, pembunuhan, dan lain sebagainya. Para sastrawan macam Mo Yan, Alice Munro, Patrick Modiano, Svetlana Alexievich, Kazuo Ishiguro, bahkan Bob Dylan yang paling kusuka segala nyanyiannya itu, masing-masing mengakui dasar penulisan mereka tersebab kenangan. Maka menulis atau bernyanyi bagi para pemenang Nobel Sastra adalah sebuah mudik.

Dan kini aku ingin tambahkan bahwa pengertian mudik tentu tidak terbatas pada kenangan “tumpah darah” dalam arti tempat kelahiran. Setiap manusia yang “beruntung” akan menambahkan kenangan-kenangan lain pada sejarah hidupnya, seperti kenangan demonstrasi di saat mahasiswa, kenangan pahit macam diselingkuhi, kenangan kemiskinan macam krisis moneter, kenangan indah macam pertama melihat musim semi di Paris, kenangan menggemaskan macam ditipu tukang becak asal Rusia, kenangan kedamaian macam salat di Masjid Nabawi, kenangan jadi bagian dari “mesin kompromistik” macam yang dialami mereka yang pernah menjadi pejabat, dan masih banyak lagi. Dalam hal ini aku sangat setuju dengan “tubuh” sebagai gagasan utama sejarah subjek. Tubuh yang mengalami tentu berarti aku yang otentik, dan aku yang otentik adalah aku yang berpikir di atas kemudikannya pada segala peruntungan hidup.

Aku juga masih akan tambahkan unsur ketiga setelah tumpah darah dan peruntungan itu, yakni kemudikan aku pada kenangan aku-lain yang dikenalinya. Dan di sinilah terutama sekali peran pengarang! Pengarang tidak harus memudikkan diri pada tubuh yang otentik, tapi juga pada tubuh yang ia sempurnakan dengan daya pikir fiksional. Kau datang ke satu daerah baru dan kau iseng-iseng melakukan riset, mengobrol dengan tokoh-tokoh daerah itu sehingga tergambarlah satu alam sejarah mereka dalam alam fiksimu. Perbedaan sejarawan dan pengarang fiksi tentu akhirnya menjadi tipis karena yang pertama bekerja atas fakta dan merajut fakta itu, sedangkan yang kedua bekerja dengan asumsi tak ada fakta paling faktawi selain melulu kisah-kisah subjek yang mengitari fakta itu sehingga ia mengambil kesempatan untuk mengarang. Karangan akhirnya tidak untuk kebenaran fakta, tapi untuk membela dan melulu menguatkan daya pikir fiksional tadi. Dan masing-masing pihak akan gagal pula disebabkan caranya masing-masing: sejarawan gagal karena keterbatasan fakta dan caranya merajut fakta, sedangkan pengarang gagal karena keterbatasannya dalam membela daya pikir. Yang pertama bisa digagalkan metodenya, yang kedua bisa digagalkan oleh “bakat ideologis”nya. Apa itu bakat ideologis? Aku kira setiap orang, khususnya pengarang, punya keberpihakan yang tak ia sadari, maka kusebut bakat, dan ia akan gagal karena ia akan berpihak. Beberapa kali aku menceritakan seorang ibu, aku selalu terganggu oleh ibuku sendiri dan di mataku setiap ibu kekurangan cacat dan kelebihan kebaikan. Dengan kata lain, aku berideologi pada ibuku sendiri! Sepanjang kuperhatikan cerita-cerita pendek yang menjelekkan sosok ayah, aku tahu para pengarangnya juga sedang berideologikan ibu yang tipis cacat dan akhirnya meletakkan ayah sebagai subjek yang penuh catat dan titip kebaikan. Ketika para pengarang bersentuhan dengan teori-teori gender dan mereka sudah membawa serta bakat ideologis itu, makin-makin saja mereka itu mengukuhkan bakatnya sebagai ideologi sungguhan karena percaya laki-laki adalah subjek dan perempuan adalah objek, karena percaya dengan teori subordinasi.

Maka mungkinkah manusia melangkah ke depan jika depan itu adalah mudik? Baik kita melihat “perspektif” dalam dirinya sendiri agar hal ini menjadi jelas! Masa depan hanya ada di dalam perspektif kita ke depan, tapi perspektif itu sendiri adalah sebuah struktur-mudik. Tidak ada perspektif tanpa kenangan. Cara pandang kita pada masa depan, sebut saja itu prediksi, hanya mungkin jika kita punya modal masa lalu, kenangan itu. Maka menatap yang depan sama artinya dengan mengajak kemudikan kita dalam imajinasi masa depan. Masa depan dengan kata lain hanya konstruksi mudik secara kreatif dengan cara meletakkan sang mudik di waktu nanti: dari sudah ke nanti. Karena itu hal yang belum sering diperlakukan sebagai hal yang sudah seperti tampak pada ungkapan “Mumpung orang tua masih ada, kita harus bisa mudik”. Pada ungkapan ini jelas sekali hal yang belum terjadi (kematian) diperlakukan sebagai sudah terjadi, sehingga mudik adalah memasuki masa depan sebelum masa depan itu benar-benar terjadi macam matinya orang tua. Model ini dapat kita lihat terapannya pada kasus-kasus lain yang dengannya aku melihat mudik itu sudah ditransformasi bagi perspektif masa depan kolektif umat manusia: “Mumpung masih menjabat kita harus pandai mengatur uang”, “Mumpung masih mudah kau sebaiknya kuliah lagi”, “Mumpung anak-anak masih kecil…”, “Mumpung suami masih berjaya…”, “Mumpung mertua masih ada…”, dan masih banyak lagi hal lain yang disebabkan mekanisme mudik. Ya, aku kira mudik yang telah bisa ditransformasi adalah mudik yang telah mengalami satu mekanisme dalam arti menggerakkan cara pikir umpama mesin-mesin mekanik kompleks yang tergerakkan dan menghidupkan dan fatalnya menentukan jalannya hidup! Mengapa fatal? Karena kita ternyata berpikir dengan sesederhana itu, aku adalah mudik, tapi kita tidak menyadarinya. Kalau seorang pejabat mengenangkan berbagai pejabat yang selamat dari korupsi sebagai mekanisme mudiknya—ingatlah teori kedua “kemudikan aku pada kenangan aku-lain yang dikenalinya”—maka ia akan memutuskan dirinya untuk iseng-iseng, coba-coba, dan mungkin akhirnya menjadi koruptor betulan. Kalau seorang jawara mengenangkan jawara lain yang kawin lagi sebagai bagian dari mekanisme mudiknya, maka ia akan bergerak ke depan dengan belajar, mendalami, dan akhirnya kawin lagi pula. Kalau seorang guru besar mengenangkan guru besar lainnya yang salin-tempel karya ilmiah orang lain dan selamat dari stempel plagiarisme dan menjadikannya sebagai bagian dari mekanisme kemudikannya, ia akan mudik satu kali nanti ke kampung halaman plagiarisme yang sejenis pula. Ketika tubuh aku harus mengalami tubuh aku-lainnya di satu masa kemudikan maka aku harus pandai-pandai mengambil tubuh-mentor. Untuk menjadi pecundang aku tinggal tinggal belajar pada tubuh-tubuh pecundang, dan untuk menjadi gemilang dalam kemuliaan aku tinggal mengambil mentor tubuh aku lain yang gemilang pula dalam kemuliaan. Kau kini mungkin mengerti mengapa Nabi Muhammad itu disebut teladan dan harus diteladani? Itu karena Allah khawatir tubuh muslim itu mengambil mentor tubuh yang tidak berperang di jalan Allah, tubuh yang rakus pada hak fakir miskin, tubuh yang bernafsu pada maksiat dan zinah, tubuh yang tak menahan diri dari lapar dan haus. Nabi tidak dihadirkan sebagai teladan pemikiran melulu, tapi juga telan pada tubuhnya yang otentik: lapar dalam puasa, luka dalam perang, sakit dalam dakwah, melawan mereka yang menyerangnya, bercinta dengan istri-istrinya, meringis karena terkena panah, tersenyum menghadapi goncangan dan kedunguan, menghindar dari hal yang tidak ia sukai, berlari menjauhi wabah, bersembunyi di gua Hira, berjaga di malam hari untuk salat, duduk dan terbaring dalam dzikir, mengangkat satu lututnya di saat makan, dan segala hal lain yang mengandung aspek tubuh. Tubuh Nabi adalah pikiran Nabi, dan sejauh aku belajar pada berbagai orang, tidak ada memang manusia yang tubuh dan pikirannya satu dan otentik selain Nabi. Pernah kukagumi Nietzsche, misalnya, tapi hanya pikirannya, aku dan kita sekalian tak dapat mempelajari tubuhnya. Pernah kukagumi Sokrates, Plato, Aristoteles, dan masing-masing mereka adalah pikiran tanpa tubuh, kecuali sosok-sosok patungnya atau gerak mereka yang aku bayangkan. Aku menghormati banyak sastrawan dan seniman, tapi mereka kuhormati karena pemikirannya. Tidak ada tubuh yang bisa kuteladani selain tubuh Nabi sehingga jika mudik ini kutarik ke dalam ranah teologis maka mudik sebenarnya mesti pada Nabi dan ini dapat berlangsung setiap detik dalam hidup kita sehari-hari. Sejak aku bangun tidur aku langsung berdoa dengan cara Nabi berdoa, dan itu artinya aku akan bangun hari ini dengan posisi tubuh mudik ke Nabi. Lalu aku akan bangkit, berjalan, mandi, makan, dan melakukan berbagai aktivitas dengan cara “tinggal” di masa lalu Nabi. “Hari ini”nya seorang muslim mesti mengandung dan bersama “masa lalu”nya Nabi. Maka aku bisa mengerti mengapa begitu banyak muslim tidak percaya dengan masa depan selain kenyataan masa depan, yakni kematian. Satu-satunya yang nyata di masa depan adalah kematian, baik dalam arti kematian per individu, serempak macam dalam wabah dan musibah, maupun kematian paling akbar di hari Kiamat.

Kini kita akan sampai pada akhir penalaranku. Aku adalah mudik merupakan mekanisme subjek yang sadar atau tidak meletakkan dirinya di hari ini bersama penggerak masa lalu. Aku tidak benar-benar tinggal di hari ini, atau hari ini hanya mungkin jika aku adalah mudik. Dan hal ini akan menginsafkan kita pada hakikat waktu yang tidak lain hanya tentang dialektika dinamik aku dan kemudikannya. Kepada siapa ia mudik, ke arah itulah dan dari arah itulah waktu bergerak, dan waktu tidak bersifat jarak terukur sehingga antara kita dan Nabi tidak seribu-empat-ratus-lima-puluh-satu tahun jaraknya, tetapi berlangsung bersamaan saja! Ketika kau duduk makan dengan cara duduk makan Nabi, maka kau sedang bersama Nabi. Kebersamaan manusia adalah inti dari mudik, dan dalam bersama ini tidak pernah ada waktu lagi. Sedetik pun tidak. Maka kita hidup untuk menunggu kenyataan kematian yang juga tak pernah punya waktu karena sifatnya yang selalu rahasia. Aku malah selalu mengamalkan cara berpikir macam ini: bukankah dulu pun kita pada mulanya mati sehingga hidup ini memang tidak bermakna kalau kita tak pernah mudik ke kematian kita sendiri. Lalu untuk apa kita berjalan-hidup kalau tujuannya untuk mudik ke kematian lagi? Jawabannya adalah untuk mengambil perbekalan yang memadai sehingga kita sampai pada kebersamaan lagi. Sebermula kita bersama Allah, maka kita harus mudik ke titik awal lagi, dan Nabilah yang mengajari kita mengenal cara-cara mengumpulkan perbekalan yang memadai itu. Kalau kita mengambil mentor tubuh kotor macam koruptor atau plagiator, tidak mungkinlah kita di hari fitri kematian bisa mudik ke Yang Mahafitri. Kita akan dibengkel dulu di Neraka hingga ratusan tahun untuk bisa melanjutkan perjalanan ke tempat Yang Mahabersih.

Aku menyampaikan ini semua kepadamu karena kukira kamu dan aku sama, sering kali kehilangan orientasi hidup dan lalu akhirnya berkata “Jalani saja!”. Apa yang kita jalani mestilah ke mana kita berjalan, yakni ke kuburan kemudikan belaka! Dari tanah ya ke tanah lagi. Dan semoga tulisan ini menjadi penolongku karena sudah berdakwah dengan caraku, dan bukan karena aku tak bisa berdakwah seperti para ustad, tetapi karena aku lebih tahu ilmu-ilmu kefilsafatan, kesusastraan, seni, ketimbang ilmu agama, dan kau adalah orang yang seperti aku pula kurang lebih.[]

Banten, 2021