Beranda Opini Habis

Habis

287
0
Ilustrasi - foto istimewa

Oleh Arip Senjaya Dosen Filsafat dan Sastra FKIP Untirta

Dunia tak pernah banyak dipikirkan sebanyak orang-orang yang menghuninya. Kita membayangkan kompleksitas dunia, tapi kita tidak berpikir sekompleks dunia itu sendiri. Jumlah buku bagaimanapun jauh lebih sedikit dibanding jumlah manusia. Dan alogori-alegori malah hadir untuk menciptakan kesederhanaannya: dunia ibarat telor di atas tanduk kerbau, misalnya. Demikian juga munculnya modernisme, malah menyetop kita untuk jadi si pemikir kompleks. Kita hanya tahu kita ragu dan kita tahu kita tertipu hingga satu-satunya kebenaran adalah kita meragukan (meski hal ini aneh juga sebab aku-yang-ragu boleh saja dipahami aku-yang-ragu-bahwa-aku-ragu!). Maka orang macam Borges itu penting bingits, ia mengingatkan kita pada Biran. Bahwa Biran berpikir linier untuk kenonlinierannya, karena ia filosof; bahwa Borges berpikir—kadang—simetris karena ia berusaha untuk linier: sejarah pengetahuan manusia di mata Borges adalah variasi-variasi untuk bahan-bahan yang sama saja, dan itulah kompleksitas sebenarnya!

Paling tidak, menurut saya, modernisme lebih baik karena ia membikin batas untuk menyudahi pesona dunia jika maksudnya adalah mengajak kita untuk berpikir lain. Bahwa kemudian ia menghasilkan anak-anak produk berpikir seperti teknologi, mekanisme, dijauhinya jasmani, menjadi objeknya alam, bukan karena Descartes menginginkan itu. Modernisme hanya kebetulan saja lahir di zaman kekuasaan kian sederhana, tahta-harta-wanita, sehingga ia menjadi kebanggaan para sarjana haus eksistensi: aku ada karena aku beratakhta. Tentu takhta itu hanya kata untuk hal-hal yang jauh lebih sederhana lagi seperti pangkat, gelar, golongan. Saking sederhananya urusan takhta, ia kini tak terasa ketika meracuni, ketika menipu, bahkan ketika mengungkung, dan menurut Capra yang mengungkung itu adalah paradigma! Jadi, tidak ada paradigma ilmiah sebenarnya dalam kasus bawah sadar kekuasaan ini. Yang mengungkung adalah syahwat.



Paling tidak, Descartes menjadikan berpikir itu sebagai satu dunia yang diberi harga yang darinya seharusnya tercipta kompleksitas seperti kompleksnya hidup hingga usaha-usaha penyimetrisan sejarah pengetahuan macam Borges harus distop di wilayah fiksi, dan Borges melakukannya hingga tidak ada paradoks: “Emang gue cuma menulis cerpen! Apa salah gue?” mungkin begitu Borges akan berdalih di hadapan para pecinta Descartes dan para pecinta sejati Descartes sendiri tentu sebenarnya tidak usah bertanya pada hal-hal yang sudah jelas, itu pun masih menghendaki syarat mutlak: kaum ini memang pernah membaca beberapa cerpen Borges. Masalahnya, di negara kita mana banyak orang membaca Borges. Jangan membayangkan yang banyak, beberapa profesor dan doktor bidang sastra pun rupanya lebih banyak yang pura-pura tahu karena bisa jadi pernah dengar nama Borges di sebuah seminar yang penuh batuk.

Jadi, apa hubungannya Borges dan Biran? (Untuk sementara kita lupakan dulu Descartes dan para pecintanya yang tinggal di gelapnya dasar pengetahuan). Pengetahuan itu kata Borges ada di sebuah dasar yang tidak berdasar lagi: jika di bawah ikan Bahamut ada dasar yang gelap, itulah pengetahuan. Tapi jika dasarnya adalah tanduk kerbau macam yang biasa kita gunakan, itu belum jadi pengetahuan. Jika di bawah awan terdapat gelap, nah itulah pengetahuan. Akan tetapi jika di bawah awan ternyata daratan, maka daratan bukan pengetahuan. Pengetahuan kata Borges mesti suatu yang kita bayangkan sebagai penyebab pertama.

Kembali kepada Descartes, penyebab pertama itu adalah substansi yang berpikir (maka ini bukan pengetahuan karena betapa terang), dan Biran kemudian memberi landasan lagi, yakni hayat-dalam (sens intime) sehingga melalui Biran kita pun bertemu dunia yang terang. Maka Borges memang juara. Tidak ada pengetahuan dalam jelas, dalam dasar, dalam terang, pengetahuan mesti merupakan gelap. Hanya dalam gelap kita peroleh ketakterbatasan! Sayang sekali Borges tidak menyebut sebab pertama itu Tuhan sebab mungkin ia tak mau diadili suatu hari—baik oleh Tuhan maupun oleh para pecinta Tuhan yang gemar menumpahkan darah itu—sebab menyebut Tuhan sebagai Sang Gelap.

Pada abad ke-19 di Indonesia malah lahir pemikir perempuan yang menyibakkan kegelapan, namanya Kartini. Gelap itu bukan Tuhan, tapi kekuasaan. Dan terang itu bukan juga pengetahuan, tapi kehendak untuk bebas menentukan diri. Kehendak itu sendiri, kalau memakai teori Biran adalah hal yang mesti menghadapi hambatan. Jangan-jangan kita kini ada di dalam dasar yang mampet, gelap pula, dan mengklaim itu sebagai ilmu, pengetahuan, kebenaran, bahkan Tuhan.

Inti gelap adalah terang! Karena gelap adalah fenomena. Demikian mungkin Habib Ali Al-Jufri mengutamakan kemanusiaan sebelum kebergamaan. Melalui esai-esainya saya menyadari alternatif baru di antara persoalan terang dan gelap ini adalah kesejukan. Tundalah gelap jika itu menakutkan, tundalah terang jika itu menyilaukan, dan mari kita masuki dunia yang sejuk, yakni dunia yang ada di tengah-tengahnya. Gelap itu kuburan, Neraka; terang itu Tuhan; dan sejuk itu Surga, yakni kemanusiaan. Cara menjadi manusia sejuk menurut Al-Quran dan ajaran Nabi adalah menjadi yang tengah-tengah, memang!

Siapa manusia paling tengah-tengah? Oh, dunia, andai kau dapat kutaruh dalam diagram cartesian, maka akan aku pilih ‘Nol’, tak kurang tak lebih, tak atas tak bawah, tak terang tak gelap. Pada empat kata poluper Habis Gelap Terbitlah Terang, saya akan memilih ‘habis’ dan hanya itu yang bisa kita capai selaku manusia puncak. Di atas nol masih ada dasar, yakni yang dibaginya, yang selalu Tak Terhingga.

(Red)