Beranda Bisnis Talas Beneng Mendunia, Petani Cilegon Ikut Ambil Peruntungan

Talas Beneng Mendunia, Petani Cilegon Ikut Ambil Peruntungan

789
0
Kepala Karantina Pertanian Cilegon, Arum Kusnila Dewi saat meninjau lokasi talas beneng di Kelurahan Grogol, Kota Cilegon - foto istimewa

CILEGON – Kementerian Pertanian melalui Karantina Pertanian Cilegon berhasil mengangkat varietas lokal Talas Beneng beserta produk turunannya menjadi komoditas yang mendunia.

Berkolaborasi dengan Asosiasi Pelaku Usaha Talas Beneng (ASPUTABEN) Kota Cilegon yang mengupayakan untuk pemenuhan kuota permintaan talas beneng lokal asli Cilegon dengan menambah lahan tanam.

Data Asputaben menunjukan, permintaan ekspor talas beneng berupa daun kering sebanyak 340 ton ke Australia, Malaysia dan New Zeland. Selanjutnya 370 ton umbi basah ke Belanda dan Korea Selatan, sedangkan permintaan umbi kering sebanyak 100 ton dari India dan Turki. Selama ini pemenuhan kuota permintaan ekspor dipenuhi dari daerah lain. Untuk itu, diperlukan perluasan lahan tanam di kota Cilegon.





“Di Kota Cilegon ada lahan perbukitan seluas 4.000 hektar, sedangkan lahan datar ada 1.100 hektar untuk persawahan padi dan lainnya. Ayo kita manfaatkan lahan tidur ini,” ujar Kepala Karantina Pertanian Cilegon, Arum Kusnila Dewi ketika melakukan monitoring di desa pendukung gratieks (gerakan tiga kali lipat ekspor) dengan komoditas budidaya talas beneng di Kelurahan Gerem, Kecamatan GrogolKota Cilegon, Rabu (25/11/2020)

Arum menjelaskan bahwa talas beneng ditemukan dihutan gunung karang Kabupaten Pandeglang. Pada habitat aslinya, talas beneng merupakan tanaman liar yang tumbuh dibawah pohon tinggi atau ternaungi.

“Sampai saat ini Kota Cilegon belum pernah mengekspor komoditas pertanian lokal, bahkan ekspor produk turunan talas beneng melalui daerah lain, kami yakin Cilegon mampu mengambil potensi ini, mengingat talas beneng mudah beradaptasi, dan tak perlu lahan terbuka, atau cukup perbukitan yang bisa tersentuh,” tambahnya.

Dalam implementasi di lapangan, Karantina Pertanian Cilegon akan membantu membuka pintu ekspor langsung dari Cilegon. Karantina Pertanian Cilegon akan memberikan bimbingan teknis terkait sanitari dan fitosanitari serta persiapan di lapangan untuk memenuhi standar persyaratan ekspor.

“Jika ini terwujud maka dalam kurun waktu 4 tahun ke depan, Provinsi Banten dapat memenuhi target program strategis Kementerian Pertanian yaitu Gerakan Peningkatan Tiga Kali Lipat Ekspor Produk Pertanian”. pungkas Arum.

Robudin, Ketua Asputaben Kota Cilegon yang melihat potensi ekspor komoditas talas beneng terinspirasi, sehingga mengumpulkan 131 kelompok tani sesuai data base Dinas Pertanian Kota Cilegon untuk diajak membudidayakan talas benang.

Saat ini di Kota Cilegon, kata dia, talas beneng telah ditanam di beberapa Kelurahan seperti di Kelurahan Gerem, Rawa Arum dan Grogol dengan perkiraan 12.000 bibit, dan tahun depan diperkirakan ada 5 hektar, atau setidaknya 50.000 batang.

Sejalan dengan kebijakan Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo bahwa ekspor komoditas pertanian tak melulu pada komoditas original, namun juga untuk produk-produk turunannya dengan pangsa pasar baru sejalan dengan kebutuhan negara-negara lain akan pasokan komoditas tersebut. Sebagai informasi, varietas beneng sudah dilepas menjadi varietas unggul talas melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian.

Secara terpisah, Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil menyampaikan bahwa eksplorasi komoditas pertanian emerging sebagai unggulan lokal merupakan bagian dari tugas karantina. Hal ini disampaikan saat didaulat menjadi pembicara utama dalam Diskusi Kelompok Terpumpun.

Langkah Strategis Pendampingan Ekspor Varietas Lokal Talas Beneng dan Produk Turunannya, secara virtual, tanggal 21 dan 22 November 2020.

Lebih lanjut, Jamil menyebutkan, jika nanti daun talas beneng dapat diekspor langsung dari Banten, maka hal yang terpenting adalah menjamin kuantitas, kualitas dan kontinuitas (3K). Permintaan pasar ekspor umbi yang sudah diolah menjadi bahan pangan dan bahan kosmetik berpotensi besar.

Prof. Ahmad Sulaeman, Dosen Fema IPB yang juga berkesempatan menjadi narasumber dalam acara tersebut menyampaikan bahwa talas beneng lebih unggul dan berpotensi menggantikan terigu.

“Karena bebas gluten, tinggi serat, indeks glikemik rendah dan cocok dijadikan menu sehat sehari-hari,” ujarnya.

Pengkajian talas beneng telah dimulai sejak tahun 2007 dan 100% dapat mensubstitusi tepung terigu pada produk kue di Kota Bogor.

(Red)