SERANG – Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Banten membantah klaim bahwa air Sungai Ciujung di Kampung Jongjing, Desa Cerukcuk, Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang, menghitam dan mengeluarkan bau menyengat.
Kepala DLHK Banten Wawan Gunawan mengatakan timnya tidak menemukan kondisi sungai seperti yang beredar dalam sejumlah foto dan video di media sosial. Kata dia, timnya telah terjun langsung ke lokasi pada Selasa (23/6/2026) lalu. Sample air bahkan diklaim diambil dari tengah sungai
Wawan bahkan mempertanyakan visual yang memperlihatkan warna air tampak hitam yang beredar di media sosial. Dalam beberapa video yang tersebar memang ada video yang diambil menggunakan drone dan menunjukan Sungai Ciujung menghitam.
“Hitamnya di mana? Kalau ngambil dari drone orang lain pakai drone pasti hitam semua, laut juga,” kata Wawan saat dihubungi BantenNews.co.id melalui sambungan telepin, Minggu (28/6/2026).
Meski demikian, Wawan mengatakan pihaknya belum dapat memastikan kondisi kualitas air Sungai Ciujung karena hasil uji laboratorium terhadap sampel yang diambil di Kampung Jongjing belum selesai. Pemeriksaan parameter chemical oxygen demand (COD) dan biological oxygen demand (BOD), menurut dia, baru keluar dalam waktu sekitar 14 hari kerja.
“Kalau hasil lab tahun 2024 dan 2025 COD dan BOD-nya itu dari tiap tahun memang sudah melebihi baku mutu. Perusahaan perusahaan nakal pembuangan limbahnya malem kita juga ada beberapa perusahaan yang kita sanksi juga. Tiap tahun rutin kalau musim panas begitu,” ujarnya.
Menurut dia, tingginya nilai COD dan BOD yang selama ini ditemukan di Sungai Ciujung tidak serta-merta menunjukkan pencemaran akibat limbah industri. Parameter tersebut, kata dia, juga dipengaruhi limbah domestik dari permukiman dan aktivitas usaha kecil.
Meskipun hasil pemantauan pada tahun-tahun sebelumnya menunjukkan nilai COD dan BOD Sungai Ciujung kerap melampaui baku mutu, terutama saat musim kemarau, Wawan menilai persoalan kualitas air sungai tidak bisa dibebankan hanya kepada sektor industri.
Menurut dia, pencemaran Sungai Ciujung dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari limbah rumah tangga, usaha kecil, perusahaan yang membuang limbah secara ilegal, hingga persoalan sedimentasi sungai. Karena itu, penanganannya membutuhkan keterlibatan pemerintah daerah, pengelola sungai, dan pemerintah pusat.
“Kalau COD BOD itu kan kaya dari MCK, domestik dari masyarakat, UMKM yang jualan, usaha minyak ke drainase terus aliran ke sungai berminyak bagaimana kan,” ujarnya.
“Kita juga tidak bisa menyalahkan pihak industri juga kalau ditutup tidak boleh dibuang ke sana kan ya harusnya ada kejelasan dari kementerian seperti apa ya tidak bisa hanya menyalahkan DLHK saja kan semua keterikatan keterkaitan,” sambungnya.
Sebelumnya, pada Kamis (18/6/2026), BantenNews.co.id telah datang langsung ke Kampung Jongjing, Desa Cerukcuk, Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang untuk melihat langsung kondisi aliran sungai.
Pantauan saat itu menunjukan selain berwarna hitam, permukaan air sungai tampak bercampur lapisan menyerupai minyak dan mengeluarkan aroma menyengat yang tercium hingga permukiman warga. Kondisi ini membuat sejumlah usaha yang bergantung pada air sungai terpaksa menghentikan operasional.
Ahmad Khotib, pekerja cuci steam motor yang berlokasi di dekat Jembatan Pelangi Jongjing, mengaku tempat usahanya sudah tutup selama dua pekan sejak air Sungai Ciujung kembali menghitam.
Menurut Ahmad, usaha cuci steam tempatnya bekerja selama ini mengandalkan pasokan air dari Sungai Ciujung. Namun, karena air kini tercemar dan berbau menyengat, air tersebut tidak lagi layak digunakan.
“Ya harus gimana lagi, paling masyarakat kecil mah diem aja. Mau gimana lagi. Enggak ada pemasukan, baru ini paling nambal ban,” kata Ahmad saat ditemui.
Untuk tetap memperoleh penghasilan, Ahmad kini membantu pekerjaan tambal ban di bengkel yang berada di samping lokasi usaha cuci steam. Di sisi lain, ia juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk melakukan pengeboran sumur guna mendapatkan sumber air bersih.
“Terpaksa, keluar duit lagi,” keluhnya.
Ahmad menuturkan, pencemaran Sungai Ciujung yang ditandai air menghitam dan bau menyengat bukanlah kejadian pertama. Menurutnya, kondisi tersebut hampir terjadi setiap tahun dan selalu berdampak pada masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai.
Selain kehilangan akses air bersih dan harus membeli air galon atau membuat sumur bor, warga juga terganggu oleh bau menyengat yang kerap terasa hingga malam hari. “Ya cape sebetulnya, lelah,” ujarnya.
Dampak pencemaran tidak hanya dirasakan pelaku usaha. Hamparan persawahan yang memanfaatkan air Sungai Ciujung sebagai sumber irigasi juga ikut terdampak. Pantauan di lokasi menunjukkan air yang mengalir ke saluran irigasi tampak menghitam dan berbusa.
Roni (58), buruh tani asal Desa Laban, Kecamatan Tirtayasa, mengakui air sungai yang tercemar masuk ke area persawahan warga. Tanaman kacang panjang yang ditanam dekat aliran sungai juga kerap mengalami kerusakan hingga membusuk.
“Udah dirugikan oleh tanaman, baunya menyengat ke mana-mana. Ya tau lah baunya seperti apa,” ujarnya.
“Kemaren-kemaren jangankan buat mandi, buat cuci tangan aja enggak berani. Waktu kemarin airnya masih bagus lah ya, diminum juga masih bisa. Tapi begitu saya ambil buat dimasak seduh kopi, batuk saya enggak berhenti-berhenti,” sambungnya.
Penulis: Audindra Kusuma
Editor: Usman
