Beranda Opini Soal Bohong dan Fiksi?

Soal Bohong dan Fiksi?

Ketua Kubah Budaya Eka Ugi Sutikno.

Oleh : Eka Ugi Sutikno, Ketua Kubah Budaya dan Pengajar di UMT

SEBENARNYA saya terpikir untuk berbicara mengenai ‘bohong’ dan ‘fiksi’ karena keduanya memiliki corak yang sama, yakni membicarakan sesuatu yang tidak nyata terjadi. Sedikit saya teringat dengan peristiwa seperti ini: ketika seorang anak ditanya oleh orang tuanya mengapa ia tidak membayarkan uang SPP-nya, lantas ia menjawab bahwa uang yang mereka berikan dicuri oleh pencopet. Anak sekolah itu memberikan narasi yang masuk akal agar orang tuanya percaya dengan apa yang terjadi sehingga dengan memberikan cerita yang logis itu maka si anak tidak akan menjadi orang yang bersalah. Namun pada kenyataannya, uang bayaran itu habis untuk digunakan voucer gim daring.

Atau kita dapat melihat berita di bulan Juni 2021 di salah satu media daring. Di sana terdapat seorang perempuan yang membunuh suaminya. Alasan ia membunuh pasangan hidupnya adalah karena memiliki hubungan dengan laki-laki lain. Sebelum ditangkap oleh polisi, perempuan ini memberikan sebuah narasi yang sangat baik agar ia tidak menjadi tersangka, yakni perampokan dan pembunuhan.

Saya akan memberikan contoh narasi singkat yang diberikannya kepada penyidik. Begini. Malam itu ia tertidur di dalam mobil, ia dan suami dalam perjalan pulang setelah membeli obat. Tiba-tiba ia terbangun di dalam mobil dan mendapatkan suaminya tengah diancam oleh empat orang. Setelah suaminya menolak dipaksa keluar untuk mengeluarkan benda-benda berharganya akhirnya si perampok membunuh suaminya.

Melalui kedua peristiwa di atas, saya teringat dengan penyataan bahwa fiksi dapat ditafsirkan sebagai rekayasa bernalar (Chaer, 2017). Boleh jadi bernalar di sini adalah dengan memasukkan unsur-unsur rekaan untuk membangun sebuah realitas lain. Ya. Realitas dusta yang dimaksudkan untuk menimbulkan suatu efek yang afirmasi atau dapat dipercaya. Proses pembuatan rekayasa ini tentunya membutuhkan imajinasi atas narasi sehingga narasi memiliki fungsi sebagai bangunan suatu peristiwa penting mulai dari awal cerita, konflik, klimaks, hingga resolusi. Bangunan cerita si istri di atas sudah jelas bahwa di sana terdapat awal cerita yang memperlihatkan bahwa ia tengah terbangun di dalam mobil dan mendapatkan suaminya sedang terancam lalu diakhiri atas terbunuhnya si suami. Selanjutnya, tokoh dan latar (tempat dan waktu). Keduanya dibangun atas kehadiran jalan cerita yang harus selaras.

Lalu apabila fiksi berupa penceritaan mengenai tafsiran atau imajinasi pengarang akan peristiwa yang pernah terjadi atau hanya terjadi dalam khayalannya saja (Semi, 2000) maka terdapat suatu realitas dari pengarang yang memiliki dampak terhadap pandangannya hingga pemikirannya sehingga lahirlah cerita pendek maupun novel. Dengan begitu, terdapat suatu afirmasi ketika ada yang berpendapat bahwa fiksi adalah membicarakan berbagai hal mengenai kehidupan manusia (Nurgiyantoro, 2010) entah itu manusia dengan manusia, manusia dengan lingkungan, manusia dengan penciptanya. Maka di dalam fiksi tidak hanya terdapat kompleksitas cerita melainkan terdapat cara pandang yang disematkan oleh penulis melalui tokoh untuk melihat suatu peristiwa sehingga perspektif atas fenomena dihadapi penulis sangat beragam. Hal inilah yang menjadikan mengapa fiksi adalah turunan dari fakta bahwa penulis yang baik memanfaatkan fenomena yang ia alami maupun hadapi (Gardner, 1985). Tidak hanya itu, ia pun memanfaatkan harapan pembaca, memutarbalikkan konvensi lama atau gaya penceritaan sebelumnya, hingga memuaskan pembaca atas harapan yang tidak diduga-duga. Melalui, dapat dimungkinkan, alasan-alasan inilah fiksi selalu lahir dan dibaca.

Lalu, kembali kepada permasalah di atas. Apakah fiksi dan bohong adalah serupa? Memang tidak mudah sekali untuk menjawab pertanyaan satu ini karena di satu sisi ‘iya’ dan di lain sisi ‘tidak.’ Akan tetapi, yang jelas bahwa, hal penting dalam fiksi adalah imajinasi dari pengalaman nyata seorang pengarang yang dideskripsikan secara logis sehingga ilusi cerita tampak menjauhi pembaca (Leech & Short, 2007). Ini mengapa seseorang akan terharu dan senang ketika membaca cerita pendek dan novel mengenai percintaan. Maka visualisasi kata yang ditampilkan oleh pengarang begitu riil sehingga contoh ini memiliki indikasi bahwa fiksi menjadi alam semesta yang ateistik karena si penulis sendiri menjadi Tuhan yang menciptakan narasi, akan tetapi Tuhan sendiri tidak boleh berada di dalamnya (Rand, 2000). Untuk mengetahui dan membuktikan pernyataan ini bagaimana? Jawabannya adalah dengan membaca.

(***)