
SETIAP bulan Rabiul Awal atau warga lokal menyebutnya Mulud, suasana Banten berubah. Arak-arakan memenuhi jalan, membawa aneka bentuk hiasan yang disebut panjang mulud. Di dalamnya terdapat makanan, lauk-pauk, sembako, hingga berbagai barang yang kemudian dibagikan kepada masyarakat.
Bagi banyak orang Banten hari ini, Panjang Mulud mungkin tampak sebagai tradisi tahunan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Namun, di balik kemeriahannya, tersimpan sebuah jejak sejarah panjang yang berkaitan dengan Kesultanan Banten, hubungan dengan Mekkah, hingga penobatan penguasaan kerajaan dari gelar maulana berubah menjadi sultan.

Kisah itu bermula pada masa Pangeran Ratu atau Sultan Abdul Kadir Kanari bin Maulana Muhammad. Pada masa pemerintahan Sultan Abdul Kadir Kanari, Banten telah memiliki hubungan bilateral dengan Mekkah.
Dalam menjalin hubungan ini, Kesultanan Banten mengirim sejumlah pembesar istana ke Mekkah untuk membawa pesan Sultan sekaligus meminta arahan mengenai persoalan keagamaan.
Rombongan tersebut dipimpin Lebe Panji, Tisnajaya, dan Wangsaraja. Pangeran Pekik, putra Sultan, juga ikut dalam perjalanan itu.
Mereka membawa pesan untuk meminta pembahasan mengenai tiga kitab, yakni Kitab Markum, Kitab Muntahi, dan Kitab Wujudiah. Sultan Abdul Kadir juga meminta agar Sultan Syarief Jahed di Mekkah mengirimkan ahli agama ke Banten.
Permintaan itu memperlihatkan perhatian besar Sultan Abdul Kadir terhadap ilmu agama. Ia bukan hanya seorang penguasa, tetapi juga dikenal sebagai sosok yang gemar mendalami keagamaan.
Salah satu karya yang dikaitkan dengannya adalah kitab Insan Kamil, yang kemudian disebut dicuri oleh Snouck Hurgronje.
Perjalanan rombongan dari Banten ke Mekkah tidak dilakukan dengan tangan kosong. Mereka membawa hadiah berupa cengkeh, pala, dan kasturi. Barang-barang itu menjadi bagian dari diplomasi Banten dengan dunia luar.
Setelah cukup lama berada di Mekkah, rombongan tersebut akhirnya kembali ke Banten.
Kepulangan mereka bukan sekadar kedatangan sebuah rombongan dari perjalanan jauh. Istana menyiapkan penyambutan dengan upacara kebesaran kenegaraan.
Sultan memerintahkan Tumenggung Wirautama menyiapkan segala keperluan penyambutan.
Pada hari yang telah ditentukan, seluruh persiapan selesai.
Sultan bersama para pengiringnya menunggu di Srimanganti. Sementara itu, Ki Pekih menjadi orang yang menerima surat dari Khalifah Mekkah di atas kapal.
Ketika kapal hendak merapat, suara meriam terdengar sebelas kali dari kapal. Meriam dari perbentengan Banten kemudian membalas dengan jumlah tembakan yang sama.
Gamelan dimainkan. Meriam kembali ditembakkan sebagai tanda penghormatan.
Bendera dari Mekkah dibawa oleh Kiyai Rangga Paman, sementara hadiah-hadiah dari Mekkah dibawa Tumenggung Indrasupati.
Gambaran mengenai penyambutan tersebut dicatat Halwany Michrob dan Mudjahid Chudori dalam Catatan Masa Lalu Banten, dengan mengutip tulisan Djajadiningrat.
Di balik kemegahan penyambutan itu terdapat sesuatu yang jauh lebih penting: hubungan Banten dengan Mekkah telah menjadi bagian dari perjalanan politik dan keagamaan Kesultanan Banten.
Gelar Sultan
Rombongan tersebut tidak hanya membawa kabar dan hadiah.
Dari Mekkah datang pula pemberian berupa bendera berlambang pedang Dzulfikar.
Yang lebih penting, Sultan Abdul Kadir memperoleh gelar kebesaran: Sultan Abdul Mafakhir Mahmud Abdul Kadir. Sementara Pangeran Pekik memperoleh gelar: Sultan Ma’ali Ahmad.
Peristiwa tersebut memiliki arti penting dalam sejarah Kesultanan Banten.
Peneliti Pusat Arkeologi Nasional, Tubagus Najib, menyebut Banten ditetapkan sebagai kesultanan yang menggunakan gelar Sultan pada masa Abulmafakhir. Sebelumnya pemimpin kerajaan Banten bergelar Maulana.
Penetapan tersebut berlangsung pada 12 Rabiul Awal 1044, bertepatan dengan 7 Oktober 1634 Masehi.
Tanggal tersebut kemudian terus dikenang setiap tahun pada bulan Maulid Nabi Muhammad.
Peringatan itu bukan sekadar ritual keagamaan. Simbol-simbol dan regalia kesultanan diarak mengelilingi pusat kota Kesultanan Banten.
Dari sinilah hubungan antara penobatan Sultan, peringatan Maulid, dan tradisi arak-arakan mulai menemukan jejaknya.
Perintah Sultan yang Menjadi Tradisi
Jejak sejarah tersebut dapat ditemukan dalam manuskrip pupuh Asmarandana.
Pada pupuh 21 disebutkan:
“sampun palasta tinulis, lan name sanak ingwang, kang rama ika jenenge, Saulthan Abu Mapakir ika, Mahmud Zulkadir ika, ingkang putra jenengipun, Sulthan Abul Ma’ali Ahmad.”
Sementara pada pupuh 19 terdapat pesan:
“iki wewekas manira tunggul punika, benjang ing saban ing wulan Mulud, iderana maring kutha.”
Catatan dalam manuskrip itu menunjukkan adanya perintah untuk melakukan pawai atau arak-arakan pada bulan Rabiul Awal, yang dalam sistem penanggalan Jawa dikenal sebagai bulan Mulud.
Dengan demikian, arak-arakan pada bulan Mulud bukan sekadar kebiasaan masyarakat yang muncul belakangan. Tradisi tersebut memiliki jejak dalam kehidupan Kesultanan Banten.
Pada masa kesultanan, yang diarak adalah panji-panji kebesaran kerajaan. Namun sejarah tidak pernah berhenti pada satu bentuk. Ketika Kesultanan Banten runtuh, kegiatan pawai Maulid tidak lagi berlangsung di lingkungan istana. Tradisi itu menyebar ke tengah masyarakat.
Di tangan masyarakat, bentuknya mengalami perubahan. Panji kebesaran kesultanan perlahan berganti dengan arak-arakan berisi sedekah makanan dan berbagai kudapan.
Tradisi itulah yang kemudian dikenal luas sebagai Panjang Mulud.
Panjang Mulud kemudian menjadi bagian penting dari peringatan Maulid Nabi di Banten.
Masyarakat membuat berbagai bentuk hiasan dan mengisinya dengan makanan. Dalam pelaksanaannya, pembacaan sirah nabawi dari kitab Barzanji juga dilakukan, disertai zikir-zikir.
Masuknya aliran tarekat dalam kegiatan Maulid di Banten turut memberikan pengaruh terhadap perkembangan tradisi tersebut.
Dalam salah satu praktik zikir, kelompok tarekat mengucapkan kalimat tauhid laa ilaaha illallah. Namun, dalam praktik tertentu, mereka menyebut “hu”, yang merupakan bentuk singkat dari Allah.
Kata hu kemudian berkembang dalam masyarakat Banten menjadi lahu.
Menariknya, kata tersebut kemudian digunakan untuk menyebut wadah makanan dan ikan yang diarak dalam tradisi Panjang Mulud.
Lahu selanjutnya mengalami perubahan penyebutan menjadi lahe atau lehe.
Makanan yang ditempatkan di dalam lahe atau lehe dikenal sebagai nasi berkat.
Nasi berkat itu kemudian dibagikan kepada para pezikir maupun masyarakat yang ikut ngeropok atau menikmati hidangan dalam rangkaian tradisi tersebut.
Panjang Mulud ternyata tidak berhenti sebagai tradisi yang bentuknya tetap.
Seiring perubahan zaman, isi lahe atau lehe pun mengalami perubahan.
Dahulu, masyarakat mengisinya dengan makanan, lauk-pauk, sambelan, bekakak, telur hias atau pentol. Kini, di sejumlah daerah, isinya semakin beragam. Bahan sembako mulai menjadi bagian dari isi Panjang Mulud. Bahkan ada yang memasukkan voucher pulsa, uang, telepon seluler, hingga sepeda motor.
Perubahan tersebut menunjukkan bagaimana sebuah tradisi dapat bergerak mengikuti kehidupan masyarakat tanpa sepenuhnya kehilangan akar sejarahnya.
Penulis : TB Ahmad Fauzi
Editor : TB Ahmad Fauzi