KAB. SERANG – Puluhan peguron pencak silat dan padepokan debus turun bersama, membawa jurus, tradisi, dan identitas budaya Banten dalam Kick Off Festival Anyer-Panarukan, sekaligus rangkaian menuju Hari Jadi Kabupaten Serang ke-500.
Satu per satu perguruan menampilkan jurus khas masing-masing. Ketika debus mulai beraksi, warga mendekat. Sorak dan tepuk tangan mengiringi atraksi yang selama ini lekat dengan identitas budaya Banten.
Camat Anyar, Imron Ruhyadi mengatakan, kegiatan tersebut menjadi langkah awal Kecamatan Anyar menyambut Festival Anyer-Panarukan yang lahir dari kerja sama Kabupaten Serang dan Kabupaten Situbondo.
“Ini bentuk dukungan masyarakat Kecamatan Anyar. Ke depan kegiatan Anyer-Panarukan, masyarakat Anyar akan mendukung penuh,” kata Imron, Senin (17/8/2026).
Kegiatan itu sekaligus mengukuhkan pengurus DPC Perguruan Pencak Silat Terumbu Banten (PPSTB) Kecamatan Anyar dan enam padepokan di wilayah tersebut.
Menurut Imron, penyatuan puluhan peguron bukan sekadar agenda seremonial. Ia ingin Festival Anyer-Panarukan ikut menjadi panggung untuk menjaga seni silat dan debus agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
“Kita akan coba kegiatan yang lebih meriah lagi dalam rangka Festival Anyer-Panarukan sekaligus melestarikan seni budaya silat, terutama di Kecamatan Anyar, umumnya di Kabupaten Serang,” ujarnya.
Menghidupkan Kembali Jejak Jalan Raya Pos
Festival Anyer-Panarukan membawa sejarah panjang jalur Anyer-Panarukan yang pemerintah kolonial bangun pada era Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels pada 1808. Jalur yang kemudian dikenal sebagai Jalan Raya Pos itu membentang sekitar 1.000 kilometer.
Kabupaten Serang dan Kabupaten Situbondo kini ingin menghidupkan kembali jejak tersebut melalui program Anyer-Panarukan 3R (Road, Route, Roots).
Kedua daerah menandatangani nota kesepahaman pada 29 Juli 2026. Mereka mendorong jalur bersejarah itu menjadi koridor pariwisata sejarah, ekonomi kreatif, sekaligus ruang kolaborasi antardaerah.
Bagi Anyar, langkah itu tidak cukup hanya mengandalkan sejarah. Silat, debus, dan kekayaan budaya lokal menjadi modal untuk menghidupkan kembali kawasan tersebut.
Imron pun mengajak warga Anyar mengambil bagian dalam agenda tersebut. Ia berharap festival ke depan tidak berhenti pada pertunjukan, tetapi mampu membuka manfaat ekonomi dan pariwisata bagi masyarakat.
“Tentunya membawa manfaat bagi kedua kabupaten, baik Kabupaten Serang maupun Kabupaten Situbondo,” katanya.
Penulis : Tb Moch. Ibnu Rushd
Editor : Gilang Fattah
