Beranda Opini Puisi dan Aurat

Puisi dan Aurat

300
0
Ilustrasi - foto istimewa merdeka.com

Oleh : Arip Senjaya

Pada kitab Genesis Bab 2:4b penulisan Tuhan antara 500-400 SM tidak disertai ‘Raja’, Elohim, atau Lord dalam bahasa Inggris. Tapi Ia adalah Tuhan yang menciptakan segalanya, termasuk puisi pertama yang diucapkan manusia, Adam.

Setelah Adam Ia ciptakan, Adam sempat dibiarkan seorang diri sebab untuk beberapa hari ke depan Tuhan sibuk dengan urusan pembangunan taman di timur Eden. (Mungkin inikah sebabnya Timur selalu dianggap Sorga oleh Barat?). Setelah taman itu subur-makmur, Tuhan disibukkan lagi oleh penciptaan hewan-hewan dan burung-burung. Apakah burung bukan hewan? Memang begitulah Genesis menyebutkannya: para hewan dan burung-burung. Setelah burung-burung beres, barulah Tuhan kembali kepada Adam dan kepikiranlah oleh Tuhan bahwa Adam sebaliknya tidak melajang. Tak ada satu pun makhluk yang layak jadi teman Adam, kata Tuhan, selain harus makhluk sekerabatnya. Karena itu, Tuhan tidak menciptakan teman Adam dari debu, tetapi dari bagian tubuh Adam sendiri, tulang rusuk.

Tuhan pun mengatur rencana agar Adam tidak urusan dapur penciptaan. Maka Tuhan menciptakan tidur yang hingga kini masih kita pakai untuk berbagai tujuan. Tidur pertama itu bertujuan membutakan Adam agar tidak tahu bagaimana Tuhan mengambil tulang rusuknya dan menutupnya kembali dengan daging yang utuh. Ketika Adam terbangun dan menemukan Hawa, lahirlah puisi pertama itu: telah lahir tulang dari tulangku, daging dari dagingku. Jadi, puisi pertama itu bersifat materialistik dan tidak metafisik. Tubuh (tulang dan daging) adalah diksi tertua dalam puisi.

Fakta ini pun menunjukkan bahwa puisi lahir dari perkawinan yang bukan biologis, tapi perkawinan penubuhan: Adam memproyeksikan tubuhnya pada tubuh pasangannya, dan tidur adalah ruang antara bagi penubuhan itu. Kalau Adam tidak ditidurkan Tuhan, Adam akan tahu proses, dan Adam tidak akan menjadi penyair, tetapi seorang ilmuwan. Bukankah puisi selalu lahir dari kejutan-kejutan kebudayaan dan salah satu sarana kebudayaan itu adalah penubuhan? Menjadi penyair, dengan demikian, harus bisa absen dari pengetahuan seperti tidurnya Adam yang membuatnya membaca pasangannya secara tak lengkap, absen dari proses penciptaannya. Itu sebabnya penyair bukan ilmuwan yang tahu bagaimana sebuah pohon tumbuh dari biji, dan biji dari perkawinan serbuk, dan serbuk dari bunga-bunga, dan bunga-bunga dari pohonan, dan pohonan dihidupi oleh hara, dan hara dari pohonan mati.

Penyair adalah manusia yang tahunya dunia di depan matanya sudah jadi, maka ia harus terkejut, takjub, dan terangsang ketika mendapatinya betapa telanjang. Kerja ini lebih natural ketimbang kultural. Sedangkan perkawinan biologis menciptakan anak-anak manusia yang sebagian beribadah dan sebagian berperang. Adapun kerja abadi penyair—dan ini dapat disebut metode kepenyairan abadi—adalah tidur. Metode-metode lain tentu ada, tetapi ahistoris atau saintis, dan itu sama dengan menuhankan diri. Hanya Tuhan, bukan, yang tahu dapur penciptaan itu?

Dan ibadah sendiri pada hakikatnya adalah pujian. Tentu Tuhan senang ketika puisi pertama itu lahir, sebab ketakjuban pada ciptaan Tuhan adalah ketakjuban pada Tuhan sendiri. Dalam versi Islam, puisi pertama itu berbunyi alhamdulilah, dan itu pun berarti pujian pada Tuhan. Tapi alhamdulilah tidak diucapkan dalam konteks Adam melihat Hawa. Karenanya banyak penyair menganggap puisi sebagai bentuk ibadah sejauh mereka bersandar pada otentisitas dan spontanitas setelah bangun dari tidur. Adakah ibadah dari kata-kata yang tidak otentik jika ibadah berarti hubungan teramat personal manusia-Tuhan? Dalam lingkup ibadah sosial sekalipun, tujuan ibadah adalah mendialogkan diri dengan Tuhan sehingga sosial hanya sarana bagi tujuan individu. Prinsip orang-orang saleh adalah menolong sesama bukan untuk tujuan mendapat pujian sesama, tetapi pujian Tuhan. Contoh yang saya akrabi ada dalam pernyataan Islam: “Sesungguhnya kami memberi makan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak mengaharap balasan dan terima kasih dari kamu” (Q.S. 76: 9).

Dan terangsang itu menciptakan rasa malu, karena itu puisi adalah cara manusia untuk mengatakan aurat dunia secara tertutup, simbolik. Puisi Adam tidak mengatakan kau, Hawa, betapa aduhai, tetapi kau adalah bagian daripadaku sehingga penubuhan itu bisa dianggap bibit eksistensialisme dan humanisme. Aneh benar mungkin kata orang-orang yang peka gender bahwa pada kenyataanya Adam it mengawini bagian dari tubuhnya sendiri sehingga ia adalah makhluk hemafrodit. Tapi apalah yang dikawini oleh para penyair kalau bukan bagian dari tubuhnya sendiri pula? Siapa aku siapa engkau di dalam puisi adalah bermula dari tubuh yang sama yang terkejut setelah tidur. Aku dan engkau yang pada mulanya satu, setelah tidur, terpisah oleh jarak tubuh. Ingatlah puisi tragik “Isa (Kepada Nasrani Sejati)” Chairil Anwar (1943): Itu tubuh/ Mengucur darah/ Mengucur darah, yang memandang tubuh di luar engkau seakan senyeri tubuh di dalam aku jika aku pun berdarah: aku berkaca dalam darah, sehingga Chairil bertukar rupa dengan Tubuh yang disebutnya itu.

Tidur-metodis itu memisahkan tubuh dari ruh. Pada saat manusia bangun dari tidur—bangun dari keterlenaan dunia—ia tidak segera mendapatkan tubuh-ruhnya utuh. Keterpisahan sejenak ini kemudian menciptakan aku yang sejenak terpisah dari kau. Ketika itulah Tuhan senang sebab aku membutuhkan konsep pada keakuannya dan harapan Tuhan hanya satu: manusia tahu dirinya kecil dan tak mampu membuat apa yang Tuhan buat sehingga keluarlah puisi ketakjuban yang mendorong manusia memuji Tuhan.

Namun suatu hari Tuhan cemburu sebab aku-engkau itu menjauhkan aku-manusia pada Aku-Tuhan. Maka Tuhan menghukum Adam melalui keterpisahan dari Hawa berpuluh-puluh tahun di bumi. Keterpisahan itu membuat Adam memanggil-manggil Engkau yang lebih berkuasa daripada engkau-Hawa. Bukankah hampir sebagian besar orang-orang yang ditinggikan derajatnya oleh Tuhan itu selalu sempat menempuh hidup keterpisahan dari engkau-makhluk dan engkau-dunia? Muhamad menjauh dari semua itu dengan cara bertafakur di Gua Hira. Ibrahim memisahkan dirinya dari sang anak, Ismail, yang adalah engkau-makhluk melalui penyembelihan-metodis agar diterima oleh Engkau Yang Berkuasa. Nuh dipisahkan dari komunitas yang tak menerimanya sebagai nabi. Para pemuda Kahfi dipisahkan dari kondisi negerinya yang brutal. Kenabian ini dalam bentuk lain juga dialami oleh orang-orang saleh: tak terhitung manusia unggul yang dipisahkan dari keluarganya, dipenjara oleh kekuasaan yang tak menghendakinya, agar ia bertambah saleh. Para penyair bahkan memanfaatkan segala situasi keterpisahan sebagai metode untuk bisa memanggil-manggil engkau-makhluk dan Engkau-Tuhan. Pecahan metode ini berturut-turut menghasilkan puisi-puisi sekuler dan puisi-puisi sufistik. Istilah ‘puisi sufistik’ semoga bisa berlaku umum, dan tidak menunjuk agama mana pun, atau yang pada bagian sebelumnya saya sebut metafisik.

Dan bahasa Tuhan sangat generatif: Tuhan berkata jadi, maka jadilah. Jadi, segala realitas bersumber dari bahasa Tuhan. Sedangkan manusia tidak bisa melakukan hal itu sehingga tidak ada yang menjadi di tangan puisi. Puisi hanya menciptakan pengaruh, seperti Rendra mempengaruhi semangat para mahasiswa di era Orde Baru dan Reformasi, dan puisi Rendra tidak menciptakan negara ideal yang bebas dari koruptor atau masyarakat ideal yang penuh cinta. Bahasa pertama Adam adalah puisi pertama manusia yang lahir dari inspirasi tubuh pasangannya dan tidak pernah menciptakan pasangannya. Maka, bahasa/puisi datang kemudian setelah tubuh seperti tampak pada puisi Acep Zamzam Noor “Menjadi Penyair Lagi” (2015): bau aneh dari tengkuk, leher dan/ketiakmu itu/…menjelmakan kata-kata.

Tapi ada versi lain yang lebih tua, dari abad ke-9 SM, ketika Tuhan bernama Tuhan Raja (Yahweh Elohim, Lord God). Tuhan Raja menciptakan Adam dan Hawa pada waktu bersamaan, tapi mereka tidak segera bertemu. Adam sibuk mencari binatang yang bisa dijadikannya teman, dan di antara hewan-hewan itulah Adam bertemu perempuan (belum bernama Hawa). Jadi Hawa adalah nama-kemudian setelah Adam. Implikasinya tentu serius sebab Hawa itu dinamai dan bukan nama yang melekat pada tubuhnya sendiri. Perempuan inilah yang mengajari Adam cara membuka mata—jangan tidur lagi—agar semakin tahu wajah Tuhan. “Makanlah buah terlarang itu, agar kau tahu Tuhanmu!” kata perempuan itu. Mereka pun memakan buah Surga itu, dan terbukalah mata keduanya sehingga tahu tubuh keduanya ternyata telanjang (‘arummim). Jadi, kesalahan Adam adalah ia ingin benar-benar terbangun dari tidur-metodisnya, dan di hadapan ketelanjangan tidak ada lagi puisi, tetapi dosa. Puisi fokus pada ketakjuban dan rasa syukur, sains pada pengetahuan, dan dosa kemudian menjadi urusan agama. Setelah ada dosa, urusan Adam kemudian adalah urusan dunia semata: kawin, melahirkan, mencari makan untuk dan anak-anak mereka dan mereka sendiri. Kata Tuhan, “Makanlah roti saja di bumi sebagai hukuman dari memakan buah terlezat di Sorga—bola tanah itu—sebab kau Kuciptakan dari tanah.” Di bumi itulah Adam menamai pasangannya dengan sebutan Hawa (hawwa dari hay yang artinya ‘ibu segala yang hidup’ atau ‘ibu kehidupan’). Dan di Bumi mereka berdua mengenakan pakaian sebab tubuh itu aurat. Untuk kembali ke hasrat telanjang, manusia harus menjadi penyair lagi alias menjadi Adam lagi saat ia mengetahui jarak tubuhnya dengan tubuh pasangannya itu. Kini aku sendirian di hotel ini dan merasa/Menjadi penyair lagi kata Acep dalam puisi yang sama. Kesendirian di mana pun menciptakan rasa kepenyairan yang menikmati rangsangan segala realitas dengan baju simbolik. Ini tidak paradoks sama sekali. Pada kata ‘membajui’, selalu berarti mengakui ada aurat yang dibungkusnya.

Arip Senjaya, dosen sastra dan filsafat di FKIP Untirta, mahasiswa S3 FIB Unpad. Email: aripsjy@gmail.com, telp. 081 905 188 292. (**)