Beranda Opini Ihwal Sastra dan Fiksi Naratif

Ihwal Sastra dan Fiksi Naratif

Ilustrasi - foto istimewa

Oleh: Sulaiman Djaya (pembaca buku filsafat, sastra, seni dan budaya)

Sebagai entitas kearifan dan kecerdasan naratif untuk membangun dan menciptakan struktur wacana dan tulisan, sastra tentulah memiliki metode dan gaya tersendiri dalam penyampaian dan pengkomunikasiannya, berbeda dengan seni lainnya. Karena perbedaan bentuk dan substansi keduanya itu pula antara keduanya akan membutuhkan metode dan pendekatan yang berbeda pula pada praktik pengajaran dan penyampaiannya kepada subjek penerimanya. Dalam praktik pengajaran dan pengenalan kepada para siswa di sekolah, sebagai contohnya, penyampaian materi dan wacana sastra dilakukan dengan menghadirkan contoh-contoh karya sastra itu sendiri, termasuk di dalamnya ketika kita hendak mengajarkan kecakapan berbahasa. Begitu juga sastra sebagai seni yang media dan bahan materialnya adalah bahasa tentu saja mensyaratkan dan sekaligus mengandung nilai-nilai estetik atau artistik yang memungkinkannya menjadi indah dan menghibur bagi pembacanya ketika hendak mengkomunikasikan pelajaran dan kearifan yang termuat dan terkandung di dalamnya.

Lalu apakah sastra itu sendiri? Tentu ada ragam pendapat mengenainya, secara istilah dan pengertian. Dalam hal ini. Sebagai contohnya Mario Klarer dalam bukunya yang bertajuk An Introduction to Literary Studies: Secara istilah atau etimologis, kata Latin “litteratura” berasal dari “littera”, yang merupakan elemen terkecil dari penulisan abjad. Sedangkan kata teks berkaitan dengan tekstil dan dapat diterjemahkan sebagai tenunan: hanya berupa benang tunggal tenunan, sehingga kata dan kalimat membentuk teks yang bermakna dan koheren. Oleh karena itu, asal mula dua istilah ini sesungguhnya tidak banyak membantu dalam mendefinisikan sastra atau teks. Akan lebih mencerahkan untuk melihat sastra atau teks sebagai fenomena budaya dan sejarah dan untuk menyelidiki kondisi produksi dan penerimaannya di kalangan para pembacanya. (Mario Klarer, An Introduction to Literary Studies, Routledge 1999: 1-2).

Lebih lanjut Mario Klarer mengemukakan: produksi sastra yang mendasari hasrat atau keinginan manusia untuk meninggalkan jejak diri kehidupan mereka melalui ekspresi kreatif, yang ada sesungguhnya terlepas dari intensi individu dan, oleh karena itu, lanjut Klarer, karya sastra bisa hidup lebih lama ketimbang usia penciptanya. Manifestasi paling awal dari keinginan kreatif ini adalah lukisan prasejarah di gua-gua, yang menyimpan informasi yang dikodekan dalam bentuk tanda-tanda visual. Komponen visual ini mau tidak mau tetap berhubungan erat dengan sastra melalui berbagai manifestasi sejarah dan sosialnya. Sebuah ulasan yang tentu sangat menarik dan mencerahkan. (Mario Klarer 1999: 2).

Sebagaimana dinyatakan Mario Klarer di atas, produksi sastra yang mendasari hasrat atau keinginan manusia untuk meninggalkan jejak diri atau atsar hidup dan kehidupan mereka melalui ekspresi kreatif, yang ada sesungguhnya terlepas dari intensi individu dan, oleh karena itu, lanjut Klarer, karya sastra bisa hidup lebih lama ketimbang usia penciptanya. Manifestasi atau wujud paling awal dari keinginan kreatif ini adalah lukisan prasejarah di gua-gua, yang menyimpan informasi yang dikodekan dalam bentuk tanda-tanda visual. Komponen visual ini mau tidak mau tetap berhubungan erat dengan sastra melalui berbagai manifestasi sejarah dan sosialnya. Sebuah ulasan yang tentu sangat menarik dan mencerahkan.

Sementara itu, di sisi lain, sehubungan dengan kajian atau disiplin kritik sastra sebagai sebuah bidang tersendiri pula, Mario Klarer menyatakan: kritik sastra, seperti biologi, menggunakan konsep evolusi atau perkembangan dan kriteria klasifikasi untuk membedakan berbagai genre. Wilayah yang pertama disebut sebagai sejarah sastra, sedangkan yang terakhir disebut puitika. Kedua bidang tersebut berkaitan erat dengan masalah yang dihadapi, karena setiap upaya untuk mendefinisikan teks atau sastra tidak hanya menyentuh perbedaan antara genre tetapi juga pada dimensi historis dari ekspresi sastra ini. Istilah genre sendiri biasanya mengacu pada salah satu dari tiga bentuk sastra klasik: yaitu epik, drama, atau puisi. Kategorisasi ini sedikit membingungkan karena epik juga muncul dalam syair, tetapi tidak diklasifikasikan sebagai puisi. Sebenarnya, ini adalah pendahulu dari novel modern (yaitu, fiksi prosa) karena fitur strukturalnya seperti plot, penyajian karakter, dan perspektif naratifnya. Meskipun klasifikasi lama ini masih digunakan, kecenderungan saat ini adalah untuk meninggalkan istilah epik dan memperkenalkan istilah prosa, fiksi atau prosa fiksi untuk bentuk sastra novel dan cerita pendek yang relatif muda dan masih baru. (Mario Klarer 1999: 3-4).

Pertanyaannya adalah: bagaimana dengan yang tidak tercakup kategori genre itu? Untuk menjawab hal itu Mario Klarer menyatakan: selain genre yang menggambarkan bidang umum sastra tradisional yang selama ini telah dikenal luas, istilah lain untuk menyebut jenis teks telah diperkenalkan, dibawah pengaruh kajian linguistik. Teks-teks yang tidak dapat dikategorikan di bawah genre kanonik fiksi drama dan puisi sekarang ini sering dibahas dalam linguistik modern. Para sarjana sedang melihat teks-teks yang sebelumnya dianggap tidak berharga atau tidak relevan untuk analisis tekstual. Istilah jenis teks itu sendiri sebenarrnya mengacu pada dokumen tertulis yang sangat konvensional seperti instruksi manual, khotbah, obituari, teks iklan, katalog, dan tulisan saintifik atau risalah ilmiah kesarjanaan. Tentu saja, itu juga dapat mencakup tiga genre sastra utama dan sub-genrenya. (Mario Klarer 1999: 4).

Selanjutnya, selain itu, kata kunci lain dalam soal sastra dan bahasa adalah wacana atau diskursus, yang dalam hal ini Mario Klarer mengemukakan: Istilah kunci yang lainnya dalam risalah teoretis tentang fenomena sastra adalah wacana. Seperti jenis teks, istilah itu digunakan sebagai istilah untuk segala jenis ekspresi linguistik yang dapat diklasifikasikan. Dan istilah ini telah menjadi denotasi yang berguna untuk berbagai konvensi linguistik yang mengacu pada bidang konten dan tema; misalnya, seseorang dapat berbicara tentang wacana laki-laki atau perempuan, politik, seksual, ekonomi, filsafat dan sejarah. Klasifikasi bentuk ekspresi linguistik ini didasarkan pada tingkat isi, kosakata, sintaksis, serta elemen gaya dan retorika. Sedangkan istilah jenis teks mengacu pada dokumen tertulis, wacana yang mencakup ekspresi tertulis dan ekspresi lisan. (Mario Klarer 1999: 4).

Dan akhirnya terkait praktik naratif dan diantara studi narasi disebut naratologi yang menurut Mark Currie dalam Transitions Postmodern Narrative Theory (Macmillan Press 1998: 1): is the theory and systematic study of narrative. Sedangkan nilai-nilai dan kandungan-kandungan estetik atau artistik dimungkinkan karena bentuk dan struktur bahasa sastra berbeda dengan yang bukan sastra. Kaum formalis (Michael Ryan 2007: 2-3), sebagai contoh, menyatakan bahwa sastra menjadi sastra karena struktur dan bentuknya yang menjadikannya sebagai unik atau khas bersifat sastra, bukan karena isinya semata. Sementara yang lainnya memandang keduanya, bentuk dan isi sama pentingnya sebagai kesatuan dan kepaduan yang saling membentuk dan menguatkan satu sama lain. Terry Eagleton (1983:2) mengemukakan bahwa kesusastraan bukan karena sifatnya yang semata imajinatif dan karya fiktif, melainkan karena penggunaan bahasa dan bagaimana mengolah serta memperlakukan bahasa secara unik dan khusus. Apa yang Eagleton nyatakan itu karena tidak semua karya imajinatif dan fiksi disebut sebagai karya sastra, seperti komik, kartun, manga dan yang sejenis lainnya. (*)