Beranda Opini Puisi dan Aurat

Puisi dan Aurat

752
0
(Sumber gambar: bjorkbloggen.com)

Oleh Arip Senjaya

 

Esai ini paling tidak berguna bagi saya khususnya untuk mencari tahu (1) kapan puisi pertama manusia lahir? Pertanyaan ini disertai manusia sebab tentu kata-kata Tuhan dalam versi manusia sering juga disebut puisi—Alquran, misalnya, sering pula dianggap suatu puisi. Bahasa Tuhan yang tidak tertulis, seperti keindahan alam, sering juga dinilai puitik. Karena pertanyaan pertama tentang manusia, maka (2) Siapa penyair pertama di tingkat manusia itu? dan (3) Apa konsekuensinya bagi sejarah perkembangan manusia dan puisi itu sendiri?

Dari sejak awal spekulasi, bahwa sejarah puisi tidak akan jauh dari sejarah penciptaan manusia, ternyata benar saya temukan dalam salah satu sumber yang mengklaim kata-kata Adam pertama kali sebagai puisi. Sumber tersebut akan dibahas pada bagian selanjutnya. Tapi dengan membaca sumber tersebut dan sumber lainnya sebenarnya persoalan ini memperkembangkan banyak hal di luar tema manusia dan puisi, misalnya tentang penciptaan, dan ini mungkin tema klasik dalam diskusi teologi, tapi semoga tidak terasa begitu bagi para pecinta puisi. Tidak salah kiranya jika bagian-bagian yang meluas itu dihadirkan pula sehingga esai ini bertahan sebagai esai: sebuah obrolan ketimbang penyelidikan akademik metodologis.

Tentu begitu banyak sumber yang bisa menyampaikan masalah ini, sehingga segalanya sangat rentan debat (debatable) dan bisa membuat siapa pun menjadi frustrasi ketika menyadari segala sumber itu tidak bisa dipercaya, meragukan, oleh satu dan lain sebab. Dan, selaku peminat bacaan-bacaan, pada akhirnya saya harus memasrahkan hasilnya pada sidang pembaca jika, misalnya, salah satu alasan kelemahan tulisan ini didasari oleh problem iman masing-masing pembaca. Mengapa iman yang saya jadikan misal? Karena sedikit banyak sumber tertua sejarah manusia itu ada pada kitab-kitab agama, sedangkan masing-masing pembaca esai ini memiliki agama yang berlain-lainan, dan terhadap sumber-sumber tersebut tafsir masing-masing sudah bekerja pikir dengan aktif pula. Di sini saya sedapat mungkin tidak memihak, dan mendeskripsikan temuan-temuan apa adanya, tak demi membela keimanan saya sendiri atau dalam rangka mengkritik keberimanan pihak lain.

1. Genesis selayang pandang

Apa itu Genesis? Genesis adalah Bibel yang masih dalam tradisi Judeo-Christian atau bisa kita sebut sebagai Alkitab Yahudi-Kristen. Sejak pudarnya Kekaisaran Romawi hingga pertengahan abad ke-19, kitab inilah yang menjadi rujukan Barat dalam menjelaskan penciptaan[1]. Barat mengalami penambahan alternatif pandangan terhadap penciptaan mulai dari 1859, disebabkan Charles Darwin mempublikasikan The Origin of Species yang teori pokoknya adalah evolusi. Tradisi pemikiran Barat saat itu dibayang-bayangi pemikiran kaum naturalis yang diperkuat oleh kehadiran Darwin[2]. Dalam versi Moore, mudahlah bagi Darwin untuk mengajak kaum ini berkiblat padanya, sebab ada kesamaan minat. Agama Kristen, dikatakan Moore, tidak menolak, tetapi lambat mengapresiasi Darwin. Baru pada paruh kedua abad ke-20 mereka dapat menerima evolusi dan Pope John Paul II melihat evolusi relevan dengan tradisi Gereja Katolik Romawi.

Perdebatan berlanjut pada munculnya kaum kreasionis yang adalah Kristen fundamental dan evolusionis Darwinian. Pemikiran para saintis sendiri, yang mulai diadopsi ke dalam kurikulum pendidikan Barat, mendapat kecaman dari kaum kreasionis: boleh evolusi diajarkan dalam sains di sekolah, tetapi harus ditekankan bahwa itu hanya bentuk altertatif “logis”. Ada ketakutan dari pihak kreasionis. Artinya, evolusi tidak harus dijadikan landasan kebenaran tapi boleh dimasukan sebagai tambahan semata pada bidang sains. Sejarah sains saat itu memang telah membicarakan penciptaan melalui temuan-temuan tentang kapan semesta tercipta, ledakan bintang, keterciptaan bumi, makhluk hidup pertama, hingga fosil-fosil multisel yang sudah ditemukan.

Kaum kreasionis adalah kaum “beriman” yang meyakini dan membenarkan Genesis. Tapi mereka dapat pula disebut saintis-kreasionis sebab karakternya yang memperhatikan sains. Menurut Seckbach kaum kreasionis ini belum hilang dan masih mengonsultasikan keimanannya kepada versi-versi sains[3]. Sitchin melukiskanya sebagai konfrontasi yang masih berlangsung[4] sebagai tanda kaum ini tidak menolak sains dengan cara meninggalkannya, tetapi terus mencari celah untuk membenarkan versi Genesis.

Bagaimana Genesis sampai ke tangan kita hingga sekarang ini? Wastermann[5] secara implisit menyampaikan bahwa ia bertahan karena ia menginspirasi perkembangan sains di Barat, khsusunya dalam hal penciptaan yang menjadi minat utama mereka. Namun, dari zaman antik hingga modern ini, menurut Wastermann, persinggungan perkembangan pemikiran para ahli belum mematahkan garis hubung dengan Genesis. Alih-alih sains itu mengungguli, sains sendiri seperti ingin tetap berdialog dengan Genesis.

Sumber tertua Genesis dirancang[6] oleh Yahwist (abad 10-9 SM), dan sejak saat itu, sumber-sumber berikutnya tak lebih dari rangkuman versi Yahwist. Secara garis besar Wastermann menerangkan perkembangan pembicaraan tentang penciptaan ini dari Yahwist melangkah ke Deutro-Isaiah, ke Sintesis Kependetaan, ke Paul dan John dalam Perjanjian Baru, ke Marcion, ke kampanye anti-Marcionite, ke tradisi skolastik Abad Pertengahan, ke zaman Reformasi, ke tradisi filsafat Barat baru[7] yang berkembang karena pengaruh teori evolusi. Dan segala perkembangan ini, menurut Wastermann, tak lebih dari semakin jelasnya pengaruh penciptaan versi Genesis atau kuatnya tradisi gereja-gereja Kristen. Sedangkan Yesus Kristus sendiri tidak berada di dalam arena penciptaan itu. Ia muncul di “pertengahan waktu”.

Kapan itu “pertengahan waktu”?

Jika kita mengengal Alkitab Perjanjian Lama maka inilah yang dimaksud sebagai Genesis versi Yahwist yang digunakan hingga Sintesis Kependetaan. Setelah itu, Genesis menjadi Perjanjian Baru. Masa Perjanjian Lama disebut juga masa pra-Kristen. Tradisi pemahaman teologis untuk Perjanjian Lama berasal dari Israel dan Perjanjian Baru datang dari luar Israel. Karena itu, Yahweh (Yawist penyebutan Jerman), adalah Tuhannya bangsa Israel. Tapi beberapa tahun yang lalu di Indonesia pernah ribut para ahli agama ini, bahwa ‘Yahweh’ adalah penyebutan bagi tetragram ‘YHWH’ yang sebenarnya pada aslinya tak bisa diucapkan ‘Yahweh’, tetapi dipahami begitu oleh Israel, dan menjadi ruwet lagi ketika ia diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi ‘Tuhan’[8].

Genesis pada dasarnya merupakan kitab-bagian dari Pentateuch (bahaya Yunani untuk menyebut Taurat, semua ada lima kitab) dan berisi kisah-kisah purba manusia. Genesis sendiri berada di bagian awal dan ia adalah kitab yang membicarakan kejadian dan kejatuhan. Sedangkan Perjanjian Baru sudah berisi ajaran-ajaran gereja Kristen dan memunculkan Yesus. Percampuran antara penuturan Genesis versi Yahweh (sering disingkat menjadi versi J dari Yahwist yang Y-nya diucapkan J) dan versi Sintesis Keimaman (disingkat P dari Priestly) diidentifikasi dari perbedaan karakter turuannya. J itu numeratif dan P itu naratif. Yang bertanggung jawab pada penyusunan ini sering disingkat R (dari Redaktur).

Penggunaan versi P dan versi J ini saya gunakan juga untuk penjelasan kapan manusia dan puisi lahir. Ada tiga bagian di Genesis, sebelum Bab 2:4b, yang menyampaikan dua perbedaan sejarah penciptaan manusia. Dua perbedaan ini ditandai pula oleh dua penyebutan Tuhan yang berbeda. Ada Elohim dan ada Yahweh Elohim. Masing-masing nama tersebut dalam Bibel berbahasa Inggris diterjemahkan menjadi God (Tuhan) dan Lord God (Tuhan Raja). Menurut sejumlah sarjana bidang ini, Elohim itu versi penulisan sejarah penciptaan sekitar 500-400 SM dan Yahweh Elohim sendiri muncul dari abad ke-10-9. Tapi hal ini, dalam bahasa Jerman, tidak menjadi petunjuk bahwa ada Tuhan sebelum Tuhan (Tuhan Raja terlebih dahulu sebelum Tuhan): Yahweh yang menjadi Yahwist itu masih Tuhan yang sama dengan Elohim: Yahwist adalah titel bagi Elohim, seperti kalau kita menyebut manusia dengan titel yang berbeda-beda dan yang dimaksud adalah sama, atau dalam Islam ada penyebutan ‘Allah’ dan ada penyebutan lain (99 penyebutan dalam asmaul husna) yang masing-masing menunjuk pada Allah yang sama. Orang Sunda biasa mengucapkan kata Gusti Allah dan maksud Gusti adalah titel bagi Allah seperti Yahwist dalam bahasa Jerman yang meniteli Elohim, meski kadang-kadang saya mendengar juga penggunaan ‘Gusti’ sebagai pengganti Allah—jadi, bukan sekadar titel, misalnya pada Gusti Nu Mahasuci. Gusti dalam contoh penggunaan terakhir bisa pula diartikan ‘Tuhan’.

Pada versi Tuhan/Elohim (selanjutnya P), versi kemudian terlebih dahulu, manusia atau ‘adam[9] diciptakan di hari keenam, hari bagi klimaksnya penciptaan, dan ‘adam itu kata benda yang jamak: terdiri dari laki-laki dan perempuan dan kedua-duanya mendapat perintah untuk menjadi pemimpin bumi. Sedangkan pada versi terdahulu, Tuhan Raja (selanjutnya J), tidak disebutkan hari penciptaan namun seakan-akan ‘adam itu ciptaan berikutnya setelah ‘adam yang muncul di abad kemudian. Logika ruang-waktunya terbalik. Aneh sekali, tetapi begitulah salah satu sumber menerangkan.

In the J[10] story everything begins again, but this time there is no orderly progress over six days of divine activity. God makes man (‘adam again) from the dust of the ground (‘adamah[11], the first of several puns in this part of the story) and breathes into his nostrils the breath of life[12].

‘Adam yang dibuat lagi inilah yang lahir di Sorga setelah (seharusnya sebelum) ia diciptakan (ingat kembali posisi yang terbalik tadi: di abad ke-4 SM). Saya tidak akan teruskan diskusi tentang blundernya masalah waktu di sini, sebab keblunderan ini diluar kemampuan saya, dan tujuan kita adalah membicarakan bagaimana manusia diciptakan dan bagaimana puisi tercipta pertama kali (jadi, ini hanya latar tambahan yang menurut saya penting). Yang jelas jika saya berkaca pada penjelasan Alquran, saya kira memang dapat dibenarkan ada manusia sebelum manusia itu, sehingga apa yang dilaporkan pada abad ke-4 tersebut seharusnya ada pada laporan abad ke-10-9, sebab menurut Alquran ketika Allah akan menciptakan Adam, malaikat protes, dan ini tanda (tersirat) bahwa malaikat telah tahu manusia sebelum Adam[13].

Mungkin yang dimaksud para malaikat dalam Alquran adalah manusia yang mendapat mandat memimpin bumi pada versi P. Dan jika benar begitu, berarti memang sejak awal manusia itu ada dalam dua jalur keturunan, ada keturunan ‘adam versi P dan ada keturuan ‘adam versi J, atau dalam Islam mengakui adanya manusia dari jalur manusia sebelum Nabi Adam dan ada jalur keturuan manusia dari Nabi Adam (berdasar QS. 2: 30). Saya sungguh tidak tahu penjelasan Islam selanjutnya tentang siapa saja yang turunkan Adam-nabi dan ‘adam-manusia itu sekarang ini. Siapakah yang lebih banyak? Di mana saja mereka tinggal? Apakah saya sendiri berasal dari jalur Adam-nabi atau ‘adam-manusia? Atau para manusia dari jalur ‘adam-manusia itu digantikan Allah setelah Allah menciptakan lagi ‘adam-nabi di Surga sehingga kita semua adalah penerus ‘adam-nabi ini? (Atau ini bisa dilacak pada sejarah pascabanjir bandang Nuh).

Mudah-mudahan suatu hari saya dan atau pembaca sekalian menemukan sumber yang dapat menjelaskan nasib ‘adam-bumi sebab khawatir kalau ternyata di antara kita ini ada sekelompok manusia yang sejak awal memang diciptakan untuk menciptakan kehancuran, menumpahkan darah, dan mereka yang lahir dari jalur ‘adam-nabi adalah mereka yang tugasnya sangat berat: menjaga bumi dalam kondisi yang Allah inginkan sambil menghalangi mereka yang hendak merusaknya. Berat rasanya jika menerima kenyataan sejarah tersebut sebagai ketetapan Allah dan itu artinya kita yang bejat memang sudah ditetapkan bejat (dari versi P) dan kita yang saleh sudah ditetapkan saleh (dari versi J). Mengubah diri yang bejat menjadi diri yang saleh sama beratnya dengan mengubah diri yang saleh menjadi diri yang bejat sebab hal itu sama dengan mengubah jalur sejarah masing-masing atau menghubah ketetapan Allah. Tapi dalam Islam memang ada keterangan bahwa Allah tidak akan mengubah suatu kaum jika kaum ini tidak mengubahnya[14]. Artinya, ketetapan itu—jika kita dari versi P—dapat kita ubah sehingga kita bisa memasuki jalur J, dan yang dari jalur J, jika berminat jadi bejat bisa pula pindah ke jalur P.

  1. Detik-detik kelahiran puisi: versi P

Pada versi P, ‘adam sempat dibiarkan seorang diri sebab untuk beberapa hari ke depan Tuhan sibuk dengan urusan pembangunan taman di timur Eden[15]. Di taman inilah Tuhan menumbukan (1) pohon kehidupan dan (2) pohon pengetahuan Tuhan dan (3) pohon pengetahuan Iblis[16]. Tuhan menjelaskan bahwa ‘adam boleh memakan buah dari pohon mana pun kecuali yang terakhir. Jika ‘adam memakan pohon pengetahuan Iblis, maka ia akan mati. Tak jauh dari keterangan itu, Tuhan berkata (Genesis, 2.18) “Tak elok benar jika ‘adam harus hidup sendirian; aku akan buatkan ia penolong sebagai patnernya.”[17]

Sementara menunggu penciptaan patner ‘adam, Tuhan menciptakan hewan-hewan dan burung-burung. Apakah burung bukan hewan? Memang begitulah Genesis menyebutkannya: para hewan dan burung-burung[18]. Setelah burung-burung beres, barulah Tuhan “sadar” bahwa tiada satu pun penciptaan-Nya di luar ‘adam—pohon-pohon, hewan-hewan dan burung-burung—yang layak menjadi teman ‘adam. Tuhan sempat membawa hewan-hewan dan burung-burung itu ke hadapan ‘adam, dan memberinya nama di depan ‘adam[19]. Akan tetapi rupanya ‘adam tidak lerlalu berkenan dengan semua yang disajikan Tuhan kepadanya[20]. Karena itu, Tuhan kemudian memperdaya ‘adam dengan tidur yang lelap. Inilah detik-detik menentukan bagi sejarah kelahiran puisi. Sebab ketika ‘adam terlelap, Tuhan mengambil tulang rusuknya dan menutup kembali dengan daging. Dari tulang rusuk inilah menjelma manusia yang bernama perempuan (‘ishshah), dan bersama kelahiran perempuan inilah lahir pula puisi pertama itu:

This at last is bone of my bones and flesh of my flesh;

this one shall be called Woman, for out of Man this one was taken.[21]

 

Dan akhirnya ada juga tulang dari tulangku dan daging dari dagingku;

dan akan disebut Perempuan, karena yang satu ini diambil dari Laki-laki.

 

Kata perempuan dalam bahasa Ibrani (‘ishshah) adalah betukan dari laki-laki (‘ish) yang tampak pada Genesis 2: 23b. Jadi, bisa disebut, karena aku ini ‘ish maka kau itu ‘ishshah. Jadi, puisi pertama itu bersifat empirik (tidak metafisik) dan permainan bahasawi. Tubuh (tulang, daging, seks/jenis kelamin) adalah diksi tertua dalam puisi. Seks itu berati kelamin (tubuh) sekaligus berarti konstruksi bahasa dari ‘ish menjadi ‘ishshah.[22]

 

Kebejatan adalah sejarah kemudian yang mulai mengintai setelah tubuh dari tubuh ini tercipta, dan perempuan seringkali menjadi kambing hitam dari segala kebejatan manusia. Fakta versi J ini menunjukkan bahwa puisi lahir dari perkawinan yang bukan biologis, tapi perkawinan penubuhan: Adam memproyeksikan tubuhnya pada tubuh pasangannya, dan tidur adalah ruang antara bagi penubuhan itu. Kalau Adam tidak ditidurkan Tuhan, Adam akan tahu proses, dan Adam tidak akan menjadi penyair, tetapi seorang ilmuwan. Menjadi penyair, dengan demikian, harus bisa absen dari pengetahuan seperti tidurnya Adam yang membuatnya membaca pasangannya secara tak lengkap, absen dari proses penciptaannya. Itu sebabnya penyair bukan ilmuwan yang tahu bagaimana sebuah pohon tumbuh dari biji, dan biji dari perkawinan serbuk, dan serbuk dari bunga-bunga, dan bunga-bunga dari pohonan, dan pohonan dihidupi oleh hara, dan hara dari pohonan mati.

Penyair adalah manusia yang tahunya dunia di depan matanya sudah jadi, maka ia layak terkejut, takjub, dan terangsang ketika mendapatinya betapa telanjang. Kerja ini lebih natural ketimbang kultural. Sedangkan perkawinan biologis menciptakan anak-anak manusia yang sebagian beribadah dan sebagian berperang. Adapun kerja abadi penyair adalah tidur. Metode-metode lain tentu ada, tetapi ahistoris atau saintis, dan itu sama dengan menuhankan diri. Hanya Tuhan, bukan, yang tahu dapur penciptaan itu?

Dan ibadah sendiri pada hakikatnya adalah pujian. Tentu Tuhan senang ketika puisi pertama itu lahir, sebab ketakjuban pada ciptaan Tuhan adalah ketakjuban pada Tuhan sendiri. Dalam versi Islam, “puisi”[23] pertama itu berbunyi alhamdulilah, dan itu pun berarti pujian pada Tuhan. Tapi alhamdulilah tidak diucapkan dalam konteks Adam melihat Hawa. Karenanya banyak penyair menganggap puisi sebagai bentuk ibadah sejauh mereka bersandar pada otentisitas dan spontanitas setelah bangun dari tidur. Adakah ibadah dari kata-kata yang tidak otentik jika ibadah berarti hubungan teramat personal manusia-Tuhan? Dalam lingkup ibadah sosial sekalipun, tujuan ibadah adalah mendialogkan diri dengan Tuhan sehingga sosial hanya sarana bagi tujuan individu. Prinsip orang-orang saleh adalah menolong sesama bukan untuk tujuan mendapat pujian sesama, tetapi pujian Tuhan. Contoh yang saya akrabi ada dalam pernyataan Islam: “Sesungguhnya kami memberi makan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak mengaharap balasan dan terima kasih dari kamu” (Q.S. 76: 9).

 

Dan terangsang itu menciptakan rasa malu, karena itu puisi adalah cara manusia untuk mengatakan aurat dunia secara tertutup/simbolik. Puisi Adam tidak mengatakan kau, Hawa, betapa aduhai, tetapi kau adalah bagian daripadaku sehingga penubuhan itu bisa dianggap bibit eksistensialisme dan humanisme. Aneh benar mungkin kata orang-orang yang peka gender bahwa pada kenyataanya Adam itu mengawini bagian dari tubuhnya sendiri sehingga ia adalah makhluk hemafrodit. Tapi apalah yang dikawini oleh para penyair kalau bukan bagian dari tubuhnya sendiri pula? Siapa aku siapa engkau di dalam puisi adalah bermula dari tubuh yang sama yang terkejut setelah tidur. Aku dan engkau yang pada mulanya satu, setelah tidur, terpisah oleh jarak tubuh. Ingatlah puisi tragik “Isa (Kepada Nasrani Sejati)” Chairil Anwar (1943): Itu tubuh/ Mengucur darah/ Mengucur darah, yang memandang tubuh di luar engkau seakan senyeri tubuh di dalam aku jika aku pun berdarah seperti engkau: aku berkaca dalam darah kata Chairil sehingga Chairil bertukar rupa dengan Tubuh yang disebutnya itu.

Tidur-metodis itu memisahkan tubuh dari ruh. Pada saat manusia bangun dari tidur—bangun dari keterlenaan dunia—ia tidak segera mendapatkan tubuh-ruhnya utuh. Keterpisahan sejenak ini kemudian menciptakan aku yang sejenak terpisah dari kau. Ketika itulah Tuhan senang sebab aku membutuhkan konsep pada keakuannya dan harapan Tuhan hanya satu: manusia tahu dirinya kecil dan tak mampu membuat apa yang Tuhan buat sehingga keluarlah puisi ketakjuban yang mendorong manusia memuji Tuhan.

Namun suatu hari Tuhan cemburu sebab akuengkau itu menjauhkan aku-manusia pada Aku-Tuhan. Maka Tuhan menghukum Adam melalui keterpisahan dari Hawa berpuluh-puluh tahun di bumi. Keterpisahan itu membuat Adam memanggil-manggil Engkau yang lebih berkuasa daripada engkau-Hawa. Bukankah hampir sebagian besar orang-orang yang ditinggikan derajatnya oleh Tuhan itu selalu sempat menempuh hidup keterpisahan dari engkau-makhluk dan engkau-dunia? Muhamad menjauh dari semua itu dengan cara bertafakur di Gua Hira. Ibrahim memisahkan dirinya dari sang anak, Ismail, yang adalah engkau-makhluk melalui penyembelihan-metodis agar diterima oleh Engkau Yang Berkuasa. Nuh dipisahkan dari komunitas yang tak menerimanya sebagai nabi. Para pemuda Kahfi dipisahkan dari kondisi negerinya yang brutal. Kenabian ini dalam bentuk lain juga dialami oleh orang-orang saleh: tak terhitung manusia unggul yang dipisahkan dari keluarganya, dipenjara oleh kekuasaan yang tak menghendakinya, agar ia bertambah saleh. Para penyair bahkan memanfaatkan segala situasi keterpisahan sebagai metode untuk bisa memanggil-manggil engkau-makhluk dan Engkau-Tuhan. Pecahan metode ini berturut-turut menghasilkan puisi-puisi sekuler dan puisi-puisi sufistik. Istilah ‘puisi sufistik’ semoga bisa berlaku umum, dan tidak menunjuk agama mana pun, atau yang pada bagian sebelumnya saya sebut metafisik.

Dan bahasa Tuhan sangat generatif: Tuhan berkata jadi, maka jadilah. Jadi, segala realitas bersumber dari bahasa Tuhan. Sedangkan manusia tidak bisa melakukan hal itu sehingga tidak ada yang menjadi di tangan puisi. Puisi hanya menciptakan pengaruh, seperti Rendra mempengaruhi semangat para mahasiswa di era Orde Baru dan Reformasi, dan puisi Rendra tidak menciptakan negara ideal yang bebas dari koruptor atau masyarakat ideal yang penuh cinta. Bahasa pertama Adam adalah puisi pertama manusia yang lahir dari inspirasi tubuh pasangannya dan tidak pernah menciptakan pasangannya. Maka, bahasa/puisi datang kemudian setelah tubuh seperti tampak pada puisi Acep Zamzam Noor “Menjadi Penyair Lagi” (2015): bau aneh dari tengkuk, leher dan/ketiakmu itu/…menjelmakan kata-kata.

  1. Versi J

Pada versi J, Tuhan menciptakan Adam dan Hawa pada waktu bersamaan, tapi mereka tidak segera bertemu. Adam sibuk mencari binatang yang bisa dijadikannya teman, dan di antara hewan-hewan itulah Adam bertemu perempuan (belum bernama Hawa). Jadi Hawa adalah nama-kemudian setelah Adam. Implikasinya tentu serius sebab Hawa itu dinamai dan bukan nama yang melekat pada tubuhnya sendiri. Perempuan inilah yang mengajari Adam cara membuka mata—jangan tidur lagi—agar semakin tahu wajah Tuhan. “Makanlah buah terlarang itu, agar kau tahu Tuhanmu!” kata perempuan itu. Mereka pun memakan buah Surga itu, dan terbukalah mata keduanya sehingga tahu tubuh keduanya ternyata telanjang (arummim). Jadi, kesalahan Adam adalah ia ingin benar-benar terbangun dari tidur-metodisnya, dan di hadapan ketelanjangan tidak ada lagi puisi, tetapi dosa. Puisi fokus pada ketakjuban dan rasa syukur, sains pada pengetahuan, dan dosa kemudian menjadi urusan agama[24]. Setelah ada dosa, urusan Adam kemudian adalah urusan dunia semata: kawin, melahirkan, mencari makan untuk dan anak-anak mereka dan mereka sendiri. Kata Tuhan, “Makanlah roti saja di bumi sebagai hukuman dari memakan buah terlezat di Sorga—bola tanah itu—sebab kau Kuciptakan dari tanah.” Di bumi itulah Adam menamai pasangannya dengan sebutan Hawa (hawwa dari hay yang artinya ‘ibu segala yang hidup’ atau ‘ibu kehidupan’). Versi J ini lebih baik mungkin bari para feminis sebab perempuan tidak berasal dari tulang rusuk laki-laki, dan mereka menanggung resiko hidup bersama.

Dan di Bumi mereka berdua mengenakan pakaian sebab tubuh itu aurat. Untuk kembali ke hasrat telanjang, manusia harus menjadi penyair lagi alias menjadi Adam lagi saat ia mengetahui jarak tubuhnya dengan tubuh pasangannya itu. Kini aku sendirian di hotel ini dan merasa/Menjadi penyair lagi kata Acep dalam puisi yang sama. Kesendirian di mana pun menciptakan rasa kepenyairan—mulai dari Adam hingga Acep—yang menikmati rangsangan segala realitas dengan baju simbolik. Ini tidak paradoks sama sekali. Pada kata ‘membajui’, selalu berarti mengakui ada aurat yang dibungkusnya.

  1. Puisi selanjutnya versi manusia?

Sejarah puisi tertua versi Bumi yang sejauh ini sudah ditemukan adalah karya-karya Alcman[25], di abad ke-7 SM, dua abad lebih muda dari Genesis abad ke-10-9 SM. Dan puisi-puisi Alcman sudah bersifat untuk konsumsi publik, mengangkat tema populer masyarakat bangsa Sparta ketika itu, dan disajikan dalam bentuk puisi nyanyian (choral lyric, paduan suara), dengan metrum yang ketat: abababab ccddef. Tema populer yang dimaksud adalah mitos dan moral. Artinya, mitos lebih tua dari puisi Alcman itu sendiri, dan puisi adalah alat untuk menyampaikan mitos tersebut serta sekalian untuk menyampaikan ajaran kebaikan. Kehadiran Alcman ini menjadi bisa menjadi bahan renungan lain: apakah sedemikian cepat dari kemunculan Genesis yang berbicara penciptaan ke arah mitos-mitos yang berisi konflik antarmanusia? Sesuatu disebut mitos pasti pula telah berusia lama dan mengakar pada masyarakatnya dan bisa saja mitos-mitos itu telah ada sejak abad-abad yang jauh di belakang puisi Alcman sendiri. Sejarah Alcman ini berdekatan dengan Thales (orang Crete yang pindah ke Sparta) dan membuat hymne persembahan untuk Apollo, juga dengan Pindar yang sudah menghasilkan aneka prosodia di Sparta. Arion dari Korintus adalah murid Alcman yang paling dikenal, dan penerus bidang komposisi Alcman adalah Scadas dari Argos. Scadas ini dinilai kreatif.

Mungkin Anda bertanya jika Alcman sudah menulis puisi padus dengan ketat, apakah itu berarti telah tumbuh tradisi penulisan puisi yang kurang ketat sebelumnya? Itu sangat dibenarkan Robbins[26] setelah ditemukannya puisi-puisi bersifat pribadi yang ditulis dengan komponen bahasa Dorian yang kemudian menjadi bahasa publik puisi padus. Perbedaan Alcman dengan karya-karya berbahasa Dorian ini adalah bahwa ia menggunakan bahasa lokal Dorian—Dorian sudah menjadi kota saat itu—yang dikenal dengan bahasa Lacon. Ini salah satu alasan Alcman dipahami sebagai penyair-padus yang lebih tua ketimbang Pidar dan beberapa lainnya (Stesichorus, Simonides, Bacchylides). Dan ini juga merupakan bukti bahwa para penyair di mana pun memiliki peran besar pada pemertahanan sekaligus pengembangan bahasa wilayahnya masing-masing. Yang tidak kalah menarik adalah bahwa puisi-puisi tersebut justru lahir dari sebuah negara yang tertutup dan militeristik.

Kenapa ia disebut-sebut sebagai penyair terbesar di abad tersebut? Salah satu penilaian Robbins adalah karena karya-karya Alcman yang jauh lebih rumit ketimbang karya-karya penyair semasanya. Ia juga mengangkat tema-tema yang sangat sensitif, antara lain tema kekerasan erotik yang melibatkan Tyndaridae dan Hippocoontidae, juga tema pembunuhan yang melibatkan anak-anak raja: Pollux, Castor, juga Heracles.

Maka, jika Adam tak tercatat waktu penulisannya, sejak waktu diciptakan bagi manusia saja saya kira, penyair-penyair kemudian menulis dalam bahasa yang telah menjadi sarana untuk mengungkapkan aurat dunia pula: kekerasan erotik dan pembunuhan yang melibatkan kerluarga raja. Aurat tubuh di zaman Adam adalah noda dan dosa bagi kesucian manusia, sedangkan aurat dunia berisi aib kehidupan amoral manusia.

  1. Simpulan

Demikian kiranya dapat ditarik simpul sederhana bahwa (1) puisi pertama itu lahir dari Adam dalam versi sitesis Kependetaan P atau masih dalam bagian Perjanjian Lama/Genesis dan ia tak terpisahkan dari tradisi sains Barat yang masih membicarakan kejadian/penciptaan hingga sekarang—artinya, sejarah sains adalah sejarah yang tidak harus melupakan puisi pertama ini. (2) Keterkejutan Adam melihat tubuh lain di luar tubuhnya adalah dasar dari lahirnya puisi. (3) Keterkejutan disebabkan oleh ketidaktahuan Adam pada proses penciptaan Hawa melalui tidur. (4)  Tema puisi pertama itu empirik—tapi mungkin Tuhan senang sebab Ia telah berhasil membuat Adam terkejut. (5) Kepenyairan adalah tradisi Adam sejauh masih memanfaatkan metodologi tidur dan keterkejutan. Dengan kata lain, semaju apa pun sains, kelahiran puisi masih menerapkan metodologi Adam dan puisi pertamanya itu seperti dicontohkan pada kerja Chairil Anwar dan Acep Zamzam Noor. (6) Kepenyairan Adam adalah gejala natural, sedangkan kepenyairan manusia merupakan kejala sosial politik seperti tampak pada pengalaman para penyair di zaman Alcman.

Apa yang bisa kita pelajari dari semua ini kalau bukan betapa tua dan aktualnya puisi bagi kita sekalian. Demikian, semoga bermanfaat.[]

 

Arip Senjaya, dosen sastra dan filsafat di FKIP Untirta, mahasiswa S3 FIB Unpad. Email: aripsjy@gmail.com, telp. 081 905 188 292 Daftar Acuan

 

Daftar Acuan

 

  1. Forsyth, N. (2007). Adam and Eve. In F. Malti-Douglas (Ed.), Encyclopedia of Sex and Gender (Vol. a-c, 6-12): Thomson.
  2. Husaini, A (2013). Debat kata ‘Allah’ Mencuat Lagi: Tuhan atau Yahweh? http://www.m.hidayatullah.com/kolom/catatan-akhir-pekan/read/2013/01/24/24/3848/debat-kata-allah-mencuat-lagi-tuhan-atau-yahweh.html, (terakhir akses 14/10/2018).
  3. Moberly, R. W. L. (2013). The theology of the book of Genesis. Cambridge; New York: Cambridge University Press
  4. Moore, J. A. (2003). From Genesis to genetics : the case of evolution and creationism. Berkeley, Calif.; London: University of California Press.
  5. Robbins, E. I. (2013). Thalia Delighting in Song: Essays on Ancient Greek Poetry (B. MacLachlan Ed.). Toronto: University of Toronto Press.
  6. Seckbach, J. (2010). Origins genesis, evolution and diversity of life. [La Vergne (Tenn.)]: MyiLibrary.
  7. Sitchin, Z. (2002). Genesis revisited : is modern science catching up with ancient knowledge? Rochester, Vt.: Bear & Co.
  8. Westermann, C., & Scullion, J. (1992). Genesis : an introduction. Minneapolis: Fortress Press.
  9. https://en.wikipedia.org/wiki/Adamah.

 

 

 

 

[1] Lihat Moore, J. A. (2003). From Genesis to genetics : the case of evolution and creationism. Berkeley, Calif.; London: University of California Press. Hal. xi.

[2] Artinya, sebelum Darwin, gejala permenungan ke arah evolusi itu sudah ada. Cek Moore, ibid., xii.

[3] Lihat Seckbach, J. (2010). Origins genesis, evolution and diversity of life. [La Vergne (Tenn.)]: MyiLibrary. Hal. 36.

[4] Sitchin, Z. (2002). Genesis revisited : is modern science catching up with ancient knowledge? Rochester, Vt.: Bear & Co. hal. 159.

[5] Westermann, C., & Scullion, J. (1992). Genesis : an introduction. Minneapolis: Fortress Press. Hal. 1.

[6] Kata ini mungkin belum tepat, tetapi ini menurut Wastermann, ibid.

[7] Tidak tepat disebut filsafat Barat modern karena modernisme telah tumbuh di Abad Pertengahan.

[8] Lihat diskusi yang komprehensif dari Adrian Husaini (Ketua Program Dotor Pendidikan Islam Universitas. Ibn Kaldun Bogor) tentang YHWH, Yahweh, dan Tuhan sebagai nama-nama bagi Tuhan Kristen pada http://www.m.hidayatullah.com/kolom/catatan-akhir-pekan/read/2013/01/24/24/3848/debat-kata-allah-mencuat-lagi-tuhan-atau-yahweh.html (“Debat kata ‘Allah’ Mencuat Lagi: Tuhan atau Yahweh?” tearkhir akses 14/10/2018). Mengapa nama ‘Tuhan’ memperuwet, dalam Husaini, loc.cit., dikutip argumen Ellen Kristi yang mengilustrasikan pertanyaan ini: “Siapa nama Tuhanmu?” “Tuhan saya adalah ‘Tuhan’”. Kristi menyarankan “Tuhan saya adalah Yahweh”.

[9] Perhatikan, ini bukan Adam, tetapi ‘adam.

[10] Dalam esai ini, J adalah TR.

[11] Dari bahasa Ibrani: אדמה, yang berarati debu atau tanah. Tambahan ini dari https://en.wikipedia.org/wiki/Adamah.

[12] Lihat Forsyth, N. (2007). Adam and Eve. In F. Malti-Douglas (Ed.), Encyclopedia of Sex and Gender (Vol. a-c, 6-12): Thomson. Kutipan dari hal. 6. Dua garis bawah, ck. 2 & 3, dari saya.

[13] Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di Bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. 2: 30)

[14] QS. 13: 11.

[15] Entah siapa pernah menulis bahwa taman Surga itu ada di sebelah timur sebagai pengaruh dari kebiasaan Barat memandang Timur sebagai Surga dunia. Spekulasi ini seakan memandang Genesis sebagai karangan manusia.

[16]God then makes all the trees grow, including the tree of life and the tree of the knowledge of good and evil”, Forsyth, ibid.

[17] Saya tetap gunakan ‘adam agar konsisten dengan versi TR, sebab dalam Forsyth (ibid) kutipan ini bukan ‘adam, tetapi ‘man’: “It is not good that the man should be alone; I will make him a helper as a partner”. Garis bawah dari saya.

[18] Lihat urutan penciptaan dari Moore, ibid. hal. 22. “On the first day God created heaven and earth and light and darkness; on the second He made the firmament and divided the waters; on the third day He separated land from the seas and created the land plants; on the fourth day Hecreated the sun, moon, and other celestial bodies; on the fifth day animals in the sea and birds in the air came into being; on the sixth day the land animal sappeared, and God also created, in his own image, two human beings.” (Garis bawah dari saya). Forsyth tidak menyebut animals in the sea, tetapi animals and birds.

[19] Bandingkan dengan QS. 2: 31: “Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (beda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, ‘Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!”

[20] Inilah bedanya dengan Dayang Sumbi yang berkenan menerima kedatangan seekor anjing, Si Tumang, yang menjadi patner hidupnya.

[21] Forsyth, ibid., hal. 7. Saya menyebut kalimat ini puisi mengikuti Forsyth, ibid. loc. cit.

[22] Di dalam bahasa Arab terdapat kata ‘Isa’ (seperti nabi Isa), dan ada nama seperti Aisyah yang dengan demikian berakar pula dari bahasa Ibrani untuk menyebut laki-laki dan perempuan.

[23] Mungkin tidak banyak yang menyebut kata ini sebagai puisi.

[24] Agama yang dimaksud ada dalam pengertian subjektif, sebab ‘agama’ di Indonesia tidak sama dengan ‘religion’ dalam kebudayaan Barat. Di Barat agama itu istilah generik untuk pengetahuan, keyakinan, dan praktik kebaikan yang membedakannya dengan aktivitas politik, ekonomi, dan ilmu alam. Lihat Moberly, R. W. L. (2013). The theology of the book of Genesis. Cambridge; New York: Cambridge University Press. Hal. 4

[25] Lihat Robbins, E. I. (2013). Thalia Delighting in Song: Essays on Ancient Greek Poetry (B. MacLachlan Ed.). Toronto: University of Toronto Press, hal. 1. Puisi-puisi Alcman ditemukan oleh Mariette pada tahun 1855 dan sekarang menjadi koleksi museum Louvre Paris (Robbins, ibid, hal. 3).

[26] Ibid., hal. 2.