Beranda Opini Galeri Ingatan

Galeri Ingatan

Arip Senjaya.

Bagian dari Polemik Seni Rupa

Arip Senjaya I Dosen filsafat dan sastra Untirta

Dalam beberapa pertemuan terencana atau tidak dengan mahasiswa seni atau peminat seni, saya sering kali ditanya-tanya tentang keindahan. Beberapa pertanyaan dan jawaban saya berikut ini saya kumpulkan dari yang sanggup saya ingat. Saya baru sadar setelah merapikannya bahwa saya tidak layak merasa sebagai pengamat seni karena ternyata saya tidak pandai mengutip! Saya hanya mengingat seni yang tak selalu memberi saya ingatan dan pertama-tama memang saya rasakan dari pengalaman mengamati. Tapi memang ada beberapa polemik seni di Indonesia yang melupakan seninya, dan ribut dengan teori-teori yang mereka tak kuasai dengan baik bahkan menjadi bumerang buat mereka sendiri. Anda mungkin bisa melihat satu contoh kasus saya menanggapi pengamat seni Hajriansyah di BWCF yang merupakan terusan polemik dari Kompas belakangan ini. Karena itu, tulisan ini saya rasa penting untuk mengingat kembali seninya, juga kita sebagai manusia Indonesia, dan jadi sisi lain dari kecenderungan polemik teoretik yang salah-salah dapat melukai diri sendiri.

Semoga apa yang saya kumpulkan dari ingatan ini bermanfaat.

Apa itu Indah? Saya kira indah itu dapat dicontohkan dengan lukisan AD Pirous “Mentari Setelah September 1965”. Indah itu tentang keseimbangan, misal warna, tak ada yang lebih dominan, serasi: merah-coklat-kuning-biru-hijau dalam porsi masing-masing. Jangan lupa warna putih itu selalu serasi untuk semua, juga hitam. Selain seimbang dan serasi juga jangan terlalu jelas tentang apa.

Mentari Setelah September 1965
cat minyak di atas kanvas, 135 x 150 cm, 1968
(direproduksi dari George 2005: 165)
(Sumber gambar: Indoprogress.com)

Apa yang dimaksud dengan jangan terlalu jelas? Keseharian kita itu jelas, daun jelas, pohon jelas, manusia jelas. Itu bukan seni. Seni membuat yang seperti daun, seperti pohon, seperti manusia. Istilah “refleksi” dalam seni tidak seperti yang dilakukan cermin datar, tapi sejenis prisma, sehingga pantulan, bayang, serta pembiasan realitas itu menjadi realitas tersendiri. Artinya, seni itu meleburkan hal-hal yang jelas dalam batas-batas kesamaran masing-masing.

Dalam lukisan yang tadi saya contohkan, saya dapat melihat ada yang seperti daun, tapi yang seperti daun itu kadang seperti batu berlumut, ada yang seperti pohon tapi sepintas yang seperti pohon itu seperti tubuh manusia—seperti perempuan dengan kebaya. Mungkin warna kuning dalam lukisan tersebut adalah mentari yang dimaksud, tapi pada jarak tertentu itu seperti kepala yang membungkuk dan kita melihatnya dari arah belakang. Lagi pula bagian-bagian kuning yang hampir bulat itu tidak hanya satu, tapi ada tiga sehingga mungkin salah satunya mentari, dua lainnya adalah kepala orang. Kadang saya melihat ada tiga orang dalam lukisan tadi, dan yang paling tengah menghadap kepada kita, tapi kadang seperti tertunduk ke sebelah kanan.

Artinya, keindahan itu dinamis dalam arti berubah-ubah?
Ya, mungkin itu, tergantung subjek melihat dari sudut mana. Indah itu tak pernah habis dalam sekali-dua kali atau seratus bahkan sejuta kali tatapan. Lain yang menatap, lain pula yang dapat ditatapnya. Maka dalam hal ini tentu indah itu ditentukan juga oleh wawasan, pengalaman, atau psikologi penatapnya, juga mungkin saja disumbang oleh kapan benda-benda seni seperti lukisan itu hadir dan di mana pula semua itu hadir.

Apakah lukisan yang baik perlu ruang yang baik?
Galeri adalah ruang yang baik. Galeri yang baik akan menambah baik produk seni. Tapi tentu itu tidak yang paling menentukan. Dulu saya takjub pada lukisan-lukisan Tanto yang dipasang di kamar kontrakan seorang mahasiswa UNPAS di Jalan Setiabudhi Bandung. Lukisan itu dititipkan Tanto di adik iparnya, dan adik iparnya membawanya ke kamar kontrakan itu. Tanto sendiri lulusan ITB dan waktu itu sedang melanjutkan studi di Belanda. Saya tidak kenal Tanto, tapi lukisan-lukisan itu saya kenali. Sampai sekarang saya masing mengingat semuanya.

Jadi, indah itu selalu dapat dilihat meskipun objeknya tidak lagi di depan mata. Seni itu memberi terus. Dan kamar kontrakan bisa saja pas untuk lukisan siapa pun yang baik. Intinya tetap karya yang baik, bukan ruang yang baik. Lukisan Pirous yang tadi saya sebut juga akan tetap baik meskipun dipajang di bale-bale kelurahan. Dan sebaliknya, yang tidak menarik di galeri hebat sekali pun ya tidak menarik.

Suatu hari saya mampir ke rumah pelukis Rudi ST Darma di Bandung dan melihat salah satu lukisannya di garasi. Garasinya kadang dipakai untuk galeri dan pameran-pameran kecil dari siapa saja yang mau tampil. Saat itu tidak sedang ada pameran dan lukisan “Kalam Ilahi” itu saya lihat asal dipasang saja karena tak ada tempat lain mungkin. Saya terkesima melihatnya dan tak peduli dengan latarnya. Itu lukisan yang setiap kali saya membicarakannya selalu hadir di depan mata saya, seperti juga lukisan Pirous atau Tanto.

Galeri juga bisa bermakna luas. Katalog pameran adalah galeri, media sosial macam IG juga galeri. Saya bisa menikmati karya-karya drawing Nandanggawe, Isa Perkasa, Arman Jamparing “Act Move”, Hanafi, atau karya-karya Ugo Untoro dalam galeri-galeri digital macam itu. Ruang seni pada dasarnya adalah tempat seni bersandar dan tidak sangat berpengaruh pada makna seni itu sendiri. Galeri terbaik menurut saya adalah ingatan kita karena di situlah seni memberi makna. Akal sehat hanya mungkin bekerja jika kita tidak melupa.

Kalau Anda berkunjung ke sebuah galeri atau museum seni dan tidak membawa ingatan apa pun, ada beberapa kemungkinan: Anda tidak merasakan seni, Anda melupa seni, atau seni yang Anda lihat memang payah. Untuk merasakan seni mungkin perlu bakat, wawasan, atau ilmu dalam arti luas.

Yang payah macam apa dan ilmu dalam arti luas macam apa?
Yang payah itu sifatnya kepayahan-koletif, karena tidak tentang seorang demi seorang lagi. Kepayahan itu berlaku pada yang banyak, yang tidak bersuara dan memberi makna pada ingatan. Beberapa pameran perupa muda waktu saya kuliah dulu adalah kepayahan-kolektif, karena jarang sekali karya-karya itu yang menciptakan ingatan. Kepayahan bisa menjadi ingatan jika itu tidak kolektif, dan itu pasti seni. Maksud saya, ada seni-seni yang payah secara teknis tapi kepayahannya itu justru jadi kelebihannya. Itu susah saya carikan contohnya kecuali karya-karya yang dinilai baik itu selalu mengandung kepayahan metodis atau yang disengaja. Pada lukisan Pirous yang tadi saya melihat ada garis biru yang terkesan tidak diselesaikan, dan itu contoh kepayahan yang individual, jadi itu bagian dari metode atau pilihan tadi.

Dan ilmu dalam arti luas bisa saya contohkan dengan Pak Soekarno. Ia presiden paling mengerti banyak ilmu, wawasannya luas. Sebagai insinyur lulusan ITB, beliau mengerti filsafat, sastra, bahasa, dan tentu saja seni dan politik. Kita bisa mengerti mengapa ia sangat mencintai lukisan-lukisan dan produk seni lainnya, karena ia berwawasan luas. Ilmu dan seni bertemu atau beririsan dalam inspirasi. Orang belajar apa pun mesti sampai pada inspirasi. Jika matematika tidak menginspirasi Anda untuk memahami realitas, Anda belum belajar matematika. Agama juga mesti menginspirasi dan tidak beragama kita jika baru mengerjakan ibadah-ibadahnya semata.

Inspirasi itu pun maknanya luas sekali dan tak terdefinisi dengan mudah. Lukisan-lukisan Rudi secara umum menginspirasi saya dalam hal apa saja. Ia punya koleksi lukisan-lukisan sapi, dan saya bisa mengambil inspirasi keheningan dan kesabaran dan bahkan keberanian dari sapi-sapi Rudi. Berani itu sebuah tindakan absurd yang paling konkret menurut saya. Kita akan digiring, kita akan disembelih, kita akan dicuri, kita akan disuntik, kita akan disembah, kita seperti sapi, dan apa pun yang terjadi kepada kita memang harus kita hadapi dengan berani karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Berani memasuki ketidaktahuan yang pasti akan mengenai kita adalah sebuah absurditas yang paling konkret.

Bukankah absurd itu tidak konkret?
Banyak orang berpikir begitu karena tidak membaca novel Orang Asing Albert Camus. Saya belajar absurditas pada Camus dalam novel ini. Meursault adalah tokoh berani yang saya maksud. Ia tahu hidup tidak dalam kendali dia, tapi dalam kekuatan kuasa dalam bentuk apa saja—khususnya hukum kolektif dan moral kolektif dan agama kolektif. Maka ia memutuskan untuk berani menempuh kondisi konkret kemanusiaan mancam itu dengan tindakan konkret juga: keberanian individual. Kebenaran sulit diurai karena terhalang kuasa kolektif, sedangkan takdir dapat dipilih dan pilihan itu sudah terbayang. Seekor sapi tidak dapat memilih tapi ia berani dengan segala kemungkinan yang akan mengenai dirinya. Sapi-sapi dalam satu kanvas Rudi kelebihannya adalah tetap menunjukkan sapi-sapi yang sendiri. Kita, manusia, malah tak tahan sendiri, takut sendiri, hingga kita selalu bersandar pada “galeri” kolektif moral, kolektif agama, kolektif kebenaran. Kenapa kita selalu gampang tergoda hoaks, karena teknologi hoaks itu memasuki kita secara kolektif. Hoaks tidak bekerja secara seni, tidak menyapa kita melalui kesadaran individu, tapi kita sebagai bagian dari absurditas yang tak kita pilih! Seni yang baik tak bisa memasuki itu, selalu tanpa hoaks. Anda mengerti kini mengapa seniman itu individualis, jauh lebih individualis dari individu mana pun. Merekalah yang membuktikan Bhineka Tunggal Ika itu sebagai pilihan dan bukan semboyan semata. Absurditas adalah mewujudkan kebhinekaan diri-diri.

Apakah sapi-sapi Rudi itu abstrak?
Aneh sekali untuk kasus Rudi jika pertanyaannya ke arah abstrak. Sapi-sapi Rudi itu mirip dengan sapi dalam umumnya gambar sapi atau foto sapi. Malah disengaja untuk kehilangan dimensi ruang. Mereka seperti bangun datar dan malah dicetak saja sehingga sama bentuk. Abstrak dalam kasus ini bukan pada bentuk, tapi pada abstraksinya. Kejelasan bentuk sapi mengabstraksi ketidakjelasan hidup. Di mana itu bisa kita lihat pada objek seninya sendiri? Saya melihat pada permainan ukuran, latar warna, serta kecohan Rudi dengan permainan bulatan-bulatan warna bagi sapi-sapi itu. Karena itu sapi-sapi Rudi seperti Meursault dalam latar hidup yang absurd. Meursault Camus itu jelas, seorang manusia, seorang anak, seorang kekasih, seorang pegawai, tapi latar sosialnya tidak jelas dalam arti tidak logis, tidak mengerti batin manusia secara individual, tidak mengambil makna dari kejujuran. Sapi-sapi Rudi pun jelas tapi dengan latar-sosial-sapi yang abstrak (abstrak di sini dalam analogi tak terpahami akal sehat, macam kondisi hukum dan moral dalam novel Camus tadi). Karena itu, sapi-kolektif Rudi bukan sapi-sapi yang berkomunikasi, tapi sapi-sapi yang sepi karena dicemaskan kondisi. Sapi-sapi kolektif itu seakan menjelaskan kondisi kedirian-kedirian setiap manusia dalam latar abstak-tak berakal sehat dan menyebabkan jumlah hanya jumlah. Kita di Indonesia hidup dalam jumlah, tapi saya dapat rasakan kita hanya jumlah, kehilangan konektivitas, kehilangan kekuatan bersama, dan hanya pribadi-pribadi yang cemas. Tapi dalam versi Rudi yang saya kaitkan dengan Camus, kita tak ada pilihan selain berani memasuki absurditasnya kondisi negara. Lukisan macam itu pesimistis, tetapi bisa menginspirasi kita untuk sadar dan semoga membangkitkan keberanian itu.

After Counted Cows karya Rudi ST. Darma
(Sumber gambar: http://archive.ivaa-online.org/

Sebaliknya, dalam lukisan-lukisan yang penuh optimisme, kita juga dapat belajar dan mengambil pesimisme. Itu saya dapatkan dari lukisan-lukisan Ugo Untoro. Kuda-kuda Ugo bergerak, beringas, gagah, tapi juga sama tahunya dengan sapi-sapi Rudi. Keberanian akan menghadapi maut dan maut adalah bagian dari akal sehat pesmimisme. Jadi, sapi-sapi Rudi itu seperti antitesis kuda-kuda Ugo.

karya Ugo Untoro
(sumber gambar: invaluable.com/)

Begitulah, seni selalu menarik perhatian siapa saja yang merenungkan hidup.

Menarik dan tidak itu subjektif, bukan?
Katanya sih begitu, tapi saya termasuk yang tidak percaya. Saya melihat ada keindahan-objektif yang berlaku pada banyak subjek penatap. Dalam sastra misalnya, kalimat-kalimat Chairil Anwar dikenal banyak orang, padahal orang-orang itu tidak memiliki buku atau beberapa contekan puisi Chairil. Artinya, yang baik dimiliki banyak orang, dan banyak bukan seluruh. Saya tidak pernah pastikan, tapi yakin, mereka yang tahu lukisan pasti tahu karya Pirous yang tadi itu, dengan analogi Chairil. Saya sering mengunjungi pameran, melihat katalog pameran, membaca ulasan, melihat foto-foto karya, dan tetap saya tidak dikendalikan semua itu, kecuali mungkin sedikit atau yang berkesesuaian dengan keyakinan saya. Mata saya, hati saya, selalu terpaut pada beberapa saja yang menurut saya seni. Ini mengingatkan saya pada pertanyaan dalam sains: teori dulu atau observasi dulu. Saya memilih teori dulu, karena itu milik saya selaku subjek yang membenarkan logikanya. Observasi, seperti melihat pameran atau katalog-katalog, tidak gampang mengubah persepsi saya. Teori itu sepetri keyakinan, seperti ideologi.

Tapi saya tidak tahu apa semua orang seperti saya, seperti pilihan kepercayaan pada sains tadi? Ini harus dibuktikan dengan riset pendataan pengakuan para pengamat lain. Kita bisa pinjam statistika! Dan sulitnya adalah bahwa tidak semua mata, atau indera manusia lain manusia itu, sama. Apa yang saya lihat hijau dalam lukisan Pirous mungkin saja dilihat hijau pula oleh yang lain, tapi saya tidak pernah tahu kadar hijau di mata orang lain sepersis apa persamaannya dengan saya. Dalam lukisan Pirous itu saya juga melihat ada orang sedang memegang tiang, itu persis di bagian tengah lukisan. Tapi apakah itu tiang bagi orang lain, atau itu hanya garis atau bayang? Mungkin Anda sendiri melihat itu seperti pena karena ada dua lengkungan yang seakan memegangnya dan seperti jari. Kadang bagian tengah lukisan tersebut seperti kado berbentuk hati, tapi warnanya kuning dan jari atau pelukan tadi jadinya berubah seakan ikat atau pita pada kado tersebut.

Kalau semua itu tidak dapat dipastikan, mengapa Pirous memberinya judul “Mentari Setelah September 1965”?
Kalau dikaitkan dengan sejarah nasional tentu itu berarti mentari setelah peristiwa Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh) sehingga warna merah dalam lukisan tersebut menjadi—seakan—darah. Saya tidak bisa pastikan, karena kadang dalam latar sejarah yang besar atau penting, seorang seniman bisa melukiskan—baik dengan lukisan atau dengan media lain—suara-suara lainnya saja, dan mereka percaya suara lain itu masih berkaitan. Kita bisa baca pikiran-pikiran Octavio Paz dalam soal ini.

Mentari ya pada dasarnya mentari yang sama sejak sebelum September 1965, tapi setelah itu ia terbit dan terasa lain bagi subjektivitas seniman. Ia mungkin merasakan pagi itu (mentari kan biasanya pagi) ada cekam, sehingga langit seakan berpatahan: warna biru dalam lukisan Pirous seperti potongan-potongan langit. Atau mentari itu dikisahkan murung seperti beberapa orang yang seakan berpelukan dan tak bisa bicara lagi. Kadang saya meyakini ada tokoh paling besar dari lukisan tersebut. Tokoh ini ada di paling kanan lukisan dan ia sedang memegang senjata tajam sejenis pisau, lalu orang yang di tengah tadi ketakutan atau pasrah dengan ancaman pisau. Kadang saya juga melihat pisau itu sudah tidak diancamkan lagi, karena tampak kehilangan daya tikam, sudah lelah. Kalau ini dibaca sebagai perlawanan, ini adalah perlawanan yang sudah, atau tak bermakna lagi. Mungkin.

Dan mungkin seni itu hanya soal mungkin dalam rangka menghindari jelas tadi, jelas yang sudah saya katakan sejak awal pertanyaan, jelas dalam arti keseharian. Karena itu kita sering mendengar istilah bahwa seni itu “mengingatkan” atau “menyadarkan”. Bukan kita ingat pada yang jelas atau sadar pada yang jelas, tetapi seni membuat kita teringat atau tersadar akan sesuatu. Misalnya sejarah Gestapu, tentu yang lebih benar adalah sejarahnya itu sendiri, dan bukan sejarah dalam arti kajiannya (karena kajian kadang punya kelemahan teori atau metodologi); karena itu seni tidak untuk mencari kebenaran, tapi mengingatkan atau menyadarkan pada kebenaran. Mana ada hidup itu dapat dipastikan, bukan? Apalagi sejarah. Apalagi sejarah yang berlatar skenario pengendalian sejarah. Sejarah kekuasaan adalah sejarah yang dikendalikan kekuatan-kekuatan tertentu dari kelompok-kelompok tertentu yang ingin menguasainya.

Seniman bukan bagian dari pengendali sejarah. Mereka menangkap hal yang mungkin begini dan hal yang mungkin begitu. Kadang saya setuju dengan gerakan-gerakan seni yang abstrak, dan itu bukan seni untuk seni, tapi seni yang untuk menghindari merasa tahu dan menentukan. Sekali lagi, ini menyerupai model absurditas Meursault Camus. Maka akhirnya, seni itu kembali pada tema keindahan, dan bukan kebenaran sejarah. Keindahan itu lebih dekat dengan makna.

Sejarah Gestapu bagi seniman macam Pirous tentu dia rasakan, dan perasaanlah yang lalu dia tuangkan dalam lukisan. Adakah perasaan itu benar? Ada! Tapi benar dalam timbangan perasaan sendiri. Seperti kebenaran tafsir sejarah ya benar menurut tafsir sejarah tersebut. Kalau akal saja relatif, tentu perasaan juga, atau mungkin lebih relatif lagi.

Saya masih tertarik dengan keindahan objektif, apa masih bisa dijelaskan?
Pertama, itu bisa bermakna keindahan dari lukisan itu sendiri. Kedua, bisa juga bermakna dibenarkan atau diakui oleh banyak pengamat. Berapa banyak itu? Tentu tidak berbatas, dan inilah kelemahan dari pengakuan. Bisa juga banyaknya itu sendiri bersyarat, misalnya banyak kritikus mengatakan hal yang sama—tersirat atau tersurat. Bentuk banyak yang terakhir disandarkan pada otoritas pengamat; kritikus punya otoritas daripada pengamat biasa. Subjektivitas-murni bahkan hampir tak mungkin karena tidak pernah ada subjek mengamati benda seni yang tak teramati, karena yang dalam imajinasi pun pada dasarnya ada dalam imajinasi. Dengan kata lain, subjektivitas selalu tentang relasi subjek dan objeknya—nyata atau imajiner.

Kenyataan imajiner seperti apa?
Fiksi tentu imajiner, tapi lukisan tidak. Lukisan yang diceritakan dalam sebuah fiksi, misalnya fiksi detektif yang membicarakan lukisan mahal dan hilang secara misterius, tentu itu pun lukisan imajiner. Dan dalam lukisan itu sendiri, perhatikan, ada hal-hal yang imajiner, itu disebabkan apa yang sedari tadi saya katakan “samar”. Kesamaran lukisan menciptakan imajinasi, dan memang sudah pada wataknya imajinasi itu ingin kejelasan. Silakan Anda berimajinasi tentang bentuk tertentu, maka itu lebih jelas daripada bentuk-bentuk samar dalam lukisan. Saya atau kita tak dapat memastikan bentuk-bentuk apa saja dalam lukisan Pirous yang tadi. Mentari tak dapat dipastikan—kecuali ada relasi antara warna kuning dan judul lukisan tersebut, biru langit yang berpatahan tidak dapat dipastikan kecuali karena saya membayangkan suasana setelah Gestapu itu langit terasa angker; sosok-sosok yang seperti manusia juga tidak dapat dipastikan kecuali saya tak dapat menghindari relasi kemurungan keluarga-keluarga jendral yang terbunuh saat itu: berat memahami kenyataan, tidak dapat bicara, tak jelas harus mengadu kepada siapa atau hukum keadilan yang mana, dst. Kenyataan imajiner itu kemudian bisa menjadi salah satu sudut pandang kita pada kenyataan empirik.

Apakah seni yang indah itu mesti abstrak seperti lukisan Pirous atau Rudi yang Anda maksud?
Pada kadar tertentu setiap seni merupakan abstraksi. Tapi lukisan abstrak biasanya dipahami dan dikatakan macam itu karena tidak jelas atau yang paling remang atau kabur di antara bentuk-bentuk lukisan lain. Jadi, abstraksi tidak sama dengan abstrak. Yang pertama menuntut representasi dari kenyataan yang diwakilinya/dikatakannya; yang kedua menuntut seni sebagai representasi dirinya sendiri. “Seni untuk seni” memayungi semangat abstrak, atau bentuk-bentuk abstrak—dalam produk seni apa pun—adalah rahim dan kenyataan-observatif bagi konsep tersebut. Yang dimaksud dengan kadar pun sangat relasional: subjek-objek tadi. Karena itu pendidikan seni—dalam arti teori, filsafat, sejarah, metode, teknik—sangat penting buat Anda yang kuliah seni; semua itu untuk meningkatkan kadar subjektivitas Anda yang sebagiannya malah dibangun oleh isu-isu objektivitas. Manusia yang baik, seperti seni yang baik, sanggup meleburkan batas subjek[tivitas]-objek[tivitas] seperti meleburnya bentuk-bentuk atau warna-warna atau relasi keduanya dalam lukisan-lukisan abstrak itu. Sayang sekali memang banyak pembelajar seni macam mahasiswa jurusan seni yang mengakhiri karier kuliah dengan riset yang tergoda teori atau metode semata hingga akhirnya kehilangan pengalaman seni yang mengajari kita jadi manusia. Teori itu mestinya meluaskan, tapi kenyataannya sering membatasi Anda, bukan? Semiotika adalah contoh yang memastikan bentuk, karakter, bahkan makna tanda-tanda seni, dan kalau Anda tidak belajar seni secara langsung Anda tidak punya perspektif seni, tapi perspektif teori dan metode semata. Bahaya. Pengalaman seni jangan direduksi pada penalaran terbatas teoretik. Jika seni itu indah, Anda harus tahu di mana dan apa itu indah dan mesti juga indah itu memberi manfaat praktis seperti yang saya contohkan dalam pengalaman saya memahami absurditas Camus dan Rudi dan Ugo. Kita belajar seni untuk berani, bukan? Berani menjadi manusia. Apakah ada tujuan lain? Silakan Anda cari yang lebih baik lagi.*