Beranda Sosial dan Budaya Melihat Alquran Raksasa Karya KH Ahmad Basarudin di Cilegon

Melihat Alquran Raksasa Karya KH Ahmad Basarudin di Cilegon

Alquran raksasa KH Ahmad Basarudin. (Usman/bantennews)

CILEGON – Kota Cilegon memiliki peninggalan yang cukup menakjubkan. Adalah Alquran berukuran besar hasil karya almarhum KH Ahmad Basarudin bin Ali Jaya di Majelis Al-Hikmah di Lingkungan Cigading RT 01/01, Kelurahan Tegal Ratu, Kecamatan Ciwandan.

Di Majelis Al-Hikmah ada dua Alquran berukuran besar yakni paling besar berukuran 180×150 cm dan satu lagi memiliki ukuran 90×60 cm. Dalam sampul Alquran itu tertulis tahun pembuatan yakni 1990-1991.

Hingga saat ini kitab suci umat Islam tersebut masih terawat dengan baik. Pihak keluarga menyimpannya di sebuah ruangan khusus.

Ayi Afifudin (30), anak kandung KH Ahmad Basarudin bin Ali Jaya mengatakan, sebenarnya dia tidak hapal betul kapan  ayahnya menulis pertama kali Alquran berukuran jumbo itu. Sebab, saat itu dia masih berusia cukup kecil dan belum mengerti apa yang dikerjakan ayahnya.

Saat itu ayahnya mengukir ayat demi ayat hingga menjadi mushaf Alquran berukuran besar di dalam rumah.

“Bapak waktu itu menulisnya langsung dengan tangan di dalam rumah ketika waktu senggang. Tapi saya lupa tahunnya karena saya waktu itu masih kecil dan belum ngerti bapak ngapain,” ujarnya ditemui wartawan BantenNews.co.id, belum lama ini.

Dalam pengerjaan penulisan Alquran sebanyak 30 juz ini membutuhkan waktu hingga beberapa tahun. Namun demikian KH Ahmad Basarudin hanya menyelesaikan penulisan seluruh ayat. Sedangkan untuk bagian ornamen dan jilid dikerjakan oleh para santri yang dulu belajar di pesantren yang kini berubah menjadi majelis taklim.

“Jadi santri di sini ikut membantu menyelesaikan ornamen yang di pinggir Alquran karena waktu itu bapak sudah meninggal,” terang anak ke 7 dari 8 bersaudara ini.

Saat ini, pihak keluarga sangat menjaga  Alquran besar tersebut.

“Dulu  waktu saya masih di pesantren sempat tidak terawat bahkan sampai dimakan rayap. Alhamdulillah sekarang setelah saya lulus kita rawat Insya Allah dengan baik,” ucap lulusan Pondok Pesantren Gontor, Jawa Timur itu.

Dia menuturkan bahwa Alquran besar itu sudah menjadi warisan keluarga dan masyarakat sekitar. Sehingga pihaknya tidak memperbolehkan jika Alquran tersebut diminta untuk dirawat oleh pemerintah.

“Biarkan kami saja yang merawat. Alquran ini juga menjadi motivasi saya, keluarga dan masyarakat sekitar untuk terus membaca dan mengamalkannya,” kata pria yang juga mengaku termotivasi menulis Alquran dengan berukuran besar seperti ayahnya ini. (Man/Red)