SERANG – Senin, 7 September 2026, sekitar pukul 11.30, menjadi hari yang masih dijngat Dziki Oktomauliyadi. Hari itu, ia bertemu sahabatnya, M. Bagus Khoirunnas.
Keduanya sama-sama pewarta foto. Persahabatan mereka bermula pada 2018 ketika bekerja di kantor berita Antara Foto Biro Banten. Dziki bertugas di Cilegon, sedangkan Bagus di Rangkasbitung.
Selama bertahun-tahun, keduanya berbagi banyak hal. Dari berburu gambar, berdiskusi soal foto, saling mendukung pekerjaan, hingga bekerja bersama demi mendapatkan penghasilan tambahan.
“Kita sama sama haus akan visual, tentunya hal itu menjadi keharusan untuk disampaikan ke hal publik,” kata Dziki kepada BantenNews.co.id, Jumat (11/9/2026).
Dziki mengenang Bagus sebagai sosok yang ulet, rajin, bertanggung jawab, dan jujur. Ia dan Bagus juga memiliki latar belakang keluarga yang hampir sama. Mereka tumbuh dari keluarga yang tidak berada dan memiliki satu tekad: bekerja keras untuk membahagiakan orang tua.
Bagus kemudian menikah dengan Desi pada Oktober 2025. Dari hasil bekerja sebagai pewarta foto, Bagus mampu memiliki rumah sendiri.
Kariernya sebagai fotografer juga mencatat sejumlah prestasi. Pada 2025, Bagus menjadi salah satu pemenang Anugerah Pewarta Foto Indonesia untuk kategori General News melalui foto esai berjudul Pesta Demokrasi dengan Balutan Tradisi Badui.
Bagi Dziki, pencapaian itu menjadi bagian dari perjalanan panjang sahabatnya sebagai pewarta foto.
“Rekam jejak beliau sangat luar biasa, perkenalan saya dengan bagus sangat luar biasa dan pertemuan terakhir saya juga sangat indah,” ujarnya.
Pertemuan terakhir itu bermula dari perjalanan yang sama sekali tidak direncanakan.
Sebelum bertemu pada Senin pagi, Dziki masih berkomunikasi dengan Bagus pada Sabtu. Saat itu Bagus berada di pos pantau Gunung Anak Krakatau bersama sejumlah jurnalis lain. Dziki juga masih memantau aktivitas Bagus melalui unggahan WhatsApp.
Pada Minggu, Bagus masih memotret dari sekitar Pasauran. Sehari kemudian, Dziki mendapat tugas dari editor foto Associated Press, Dita Alangkara, untuk memotret dari pos pantau. Ia berangkat pagi menuju lokasi.
Dalam perjalanan, sebuah mobil Toyota Terios hitam membunyikan klakson panjang dari belakang kendaraannya. Dziki sempat melihatnya, tetapi mengabaikan.
Tak lama kemudian teleponnya berdering. Bagus yang menelepon. Dziki mengangkatnya. Dari seberang telepon, Bagus tertawa.
“Hahahaha Bang, mau ke mana lu ngebut amat sih,” kata Dziki mengenang omongan Bagus.
Dziki menjawab hendak menuju pos pantau. Ia kemudian bertanya kepada Bagus mengenai keberadaannya.
Jawaban Bagus membuat Dziki terkejut. “Gue mau motret ke tengah gunung anak Krakatau bang,” kata Dziki mengenang omongan Bagus.
Dziki spontan meninggikan suaranya. ” Lu menepi dulu di pos pantau, jangan nyari bahaya lu,” katanya.
Keduanya kemudian berhenti tepat di depan pos pantau. Dziki turun dari mobil. Bagus membuka kaca mobilnya.
Dziki mencoba meyakinkan sahabatnya agar tidak berangkat ke tengah perairan sekitar Gunung Anak Krakatau yang sedang erupsi.
“Lu mau kemana? Jangan nyari bahaya, kondisi lagi begini, jangan konyol, udah lu parkirin mobil dan ikut sama gue ke atas, kita motret di atas aja, emang siapa aja yg berangkat, berapa bayar kapal,” kata Dziki.
Bagus mengatakan dirinya sudah membuat janji dengan sejumlah jurnalis dari Jakarta.
Dziki lalu memastikan perjalanan itu hanya pulang-pergi. Ia menanyakan kapan Bagus akan kembali ke daratan dan kapan hasil fotonya akan tayang.
Menurut Dziki, hampir 10 kali ia mengucapkan kalimat yang sama.
“Jangan, Gus. Jangan.”
Namun Bagus sudah memutuskan. Kata Dizki, Bagus mengatakan ia berangkat pukul 14.00 siang dan akan pulang sekitar pukul 19.00 malam. Foto yang ia jepret juga dijanjikan tayang pukul 21.00 malam.
Dziki akhirnya berhenti membujuk. Ia tahu karakter sahabatnya. Bagus, kata dia, merupakan orang yang ambisius dan selalu memiliki rasa ingin tahu yang besar.
Ia pun melepas Bagus pergi. Bagus bahkan bilang pamit kepadanya. Kalimat itu justru membuat Dziki menegur.
Selama bertahun-tahun bersahabat, Bagus tidak pernah mengatakan pamit kepadanya.
“Apa-apaan lu bilang pamit, selama kita sahabatan ga pernah lu bilang pamit ke gue, lu berangkat berangkat aja. Udah lu berangkat, cepat balik cepat sampe lagi dengan selamat, doa gue buat lu,” kata Dziki mengenang omongannya kepada Bagus.
Dziki akhirnya berhenti membujuk. Ia tahu karakter sahabatnya. Bagus, kata dia, merupakan orang yang ambisius dan selalu memiliki rasa ingin tahu yang besar.
Ia pun melepas Bagus pergi. Selama bertahun-tahun bersahabat, Bagus tidak pernah mengatakan pamit kepadanya.
Sekitar pukul 14.00, Dziki selesai memotret dan hendak pulang. Namun sebuah peristiwa lain kembali terjadi.
Ayah Bagus, Mansyur Suryana, yang juga bekerja sebagai jurnalis Antara, memarkirkan mobil tepat di depan mobil Dziki. Mansyur kemudian menanyakan keberadaan anaknya.
Dziki mengatakan Bagus hendak menuju tengah Gunung Anak Krakatau bersama sejumlah jurnalis lain.
Mendengar itu, Mansyur sempat terkejut. Kegelisahan Dziki belum hilang. Ia kemudian mengirim pesan WhatsApp kepada Bagus. Untuk mencairkan suasana, Dziki mengirim foto mobil milik ayah Bagus.
Dziki masih ingin memastikan siapa saja yang ikut dalam perjalanan itu. Ia mengirim pertanyaan lagi.
Namun pesan yang dikirim sekitar pukul 14.20 hanya menunjukkan tanda centang dua. Tidak ada balasan.
Setelah itu, komunikasi mereka terputus. Dziki masih menunggu foto yang dijanjikan Bagus. Ia membuka situs Antara Foto sekitar pukul 19.00.
Tidak ada foto baru. Pukul 21.00, masih tidak ada. Pukul 23.00 juga nihil. Hingga tengah malam, foto Bagus belum muncul.
Dziki mencoba berpikir positif. Mungkin sahabatnya kelelahan. Selasa pagi, 8 September, ia kembali memeriksa situs itu. Pukul 08.00 tidak ada foto. Pukul 10.00 juga sama.
Hingga selepas tengah hari, kabar yang paling dikhawatirkannya datang: rombongan jurnalis yang menuju sekitar GAK dilaporkan hilang kontak.
Dziki segera mengirim pesan kepada Bagus. Kali ini, pesan itu hanya menunjukkan satu tanda centang. Dziki lemas.
Ia tidak tahu harus berbuat apa.
Bagus menjadi salah satu dari lima jurnalis yang hilang kontak bersama tiga kru speedboat saat melakukan peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau. Hingga kini, upaya pencarian terhadap mereka masih dilakukan.
Namun Dziki memilih mempertahankan harapan. “Sampai hari ini saya masih optimis bagus masih bertahan dan kawan kawan fotografer yang lain juga sama, mereka akan pulang dengan selamat,” katanya.
Di antara kecemasan dan penantian itu, Dziki kembali mengingat profesi yang mempertemukan mereka hampir delapan tahun lalu: fotografi.
Seorang pewarta foto memang dituntut mendekati peristiwa, melihat lebih dekat, dan membawa pulang gambar yang tidak selalu bisa dilihat orang lain. Namun, bagi Dziki, keberanian itu tetap memiliki batas.
“Dan pada akhirnya kita harus sadar bahwa Foto yang hebat adalah foto yang lahir dari keberanian, kejelian, dan kepedulian. Namun, profesionalisme sejati justru terlihat ketika seorang pemotret tahu kapan harus menurunkan kameranya demi menghargai keselamatan dan martabat kehidupan. Di mana pers dan fotografi ada untuk membela kehidupan, bukan mengorbankannya,” ujarnya.
Penulis: Audindra Kusuma
Editor: Wahyudin
