Beranda Sosok Perjuangan Petani yang Belum Usai di Balik Manisnya Melon Pabean

Perjuangan Petani yang Belum Usai di Balik Manisnya Melon Pabean

Fahrur Rozy saat berada di dalam greenhouse melon. (Foto: Istimewa)

CILEGON — Matahari belum sepenuhnya meninggi ketika Fahrur Rozy melangkahkan kaki ke kebun Green Sulur di Lingkungan Pabean, Kecamatan Purwakarta, Kota Cilegon. Udara pagi masih menyisakan kesejukan, embun menempel di dedaunan, sementara suara aktivitas warga belum begitu ramai terdengar.

Namun bagi pria yang akrab disapa Kang Oji itu, hari sudah dimulai sejak pukul 06.30 WIB. Dengan teliti ia memeriksa satu per satu tanaman melon yang berjajar rapi di lahannya. Rutinitas itu berlangsung hingga sekitar pukul 10.00 WIB, hampir setiap hari selama bertahun-tahun.

Perjalanan Kang Oji menjadi petani melon bukanlah sesuatu yang direncanakan sejak awal. Latar belakang pendidikan yang tak berkaitan dengan pertanian tidak menghalanginya untuk menekuni dunia yang selama ini identik dengan generasi tua.

Sejak 2019, ia memutuskan terjun ke budidaya melon. Keputusan itu lahir dari keyakinan bahwa pertanian masih menyimpan peluang besar, sekaligus menjadi alternatif di tengah terbatasnya lapangan pekerjaan.

Di lahan terbuka seluas sekitar 1.500 meter persegi, varietas Golden Alisha tumbuh subur. Jenis melon ini dipilih karena dikenal lebih tahan terhadap serangan virus maupun perubahan cuaca yang sering menjadi momok bagi para petani.

Seiring waktu, pengalaman mengajarkan banyak hal kepada Kang Oji. Dari berbagai kegagalan dan keberhasilan, ia mulai mengembangkan sistem budidaya yang lebih modern melalui pembangunan greenhouse.

Di dalam bangunan beratap plastik itu, tidak ada tanah yang dicangkul atau guludan panjang seperti kebun pada umumnya. Yang terlihat hanyalah deretan pipa putih, tali-tali penyangga, dan tanaman melon yang tumbuh secara teratur.

“Kita punya dua sistem tanam, yaitu lahan terbuka dan greenhouse dengan luas sekitar 300 meter,” ujar Kang Oji, salah satu pendiri Green Sulur yang resmi berdiri pada 2022.

Baca Juga :  Dara, Gadis Kabupaten Serang Jadi Runner Up III Putri Otonomi Indonesia 2023

Greenhouse bukan dibangun demi mengikuti tren pertanian modern. Baginya, keberadaan fasilitas tersebut adalah kebutuhan untuk mengurangi risiko serangan hama yang selama ini sulit dikendalikan di lahan terbuka.

Budidaya melon memang bukan usaha yang mudah. Tingkat kegagalan yang tinggi membuat petani harus terus belajar dan beradaptasi.

Prosesnya dimulai dari penyemaian benih selama sekitar 10 hari sebelum dipindahkan ke media tanam. Setelah itu, tanaman memasuki fase perawatan yang panjang, mulai dari pemupukan, penyemprotan pestisida, pemangkasan tunas, hingga akhirnya siap dipanen.

“Kalau di lahan terbuka, dari pengolahan lahan sampai panen sekitar tiga bulan. Tapi kalau di greenhouse, usia setelah tanam sekitar 70 hari sudah bisa dipanen,” jelasnya.

Setiap musim panen, Green Sulur mampu menghasilkan sekitar satu hingga dua ton melon. Jumlah tersebut sebenarnya belum cukup untuk memenuhi seluruh permintaan pasar.

Selama ini pemasaran dilakukan secara sederhana melalui media sosial. Banyak konsumen yang kemudian datang langsung ke kebun untuk membeli melon segar sekaligus merasakan pengalaman memetik buah langsung dari pohonnya.

Meski demikian, Kang Oji mengakui sistem pemasaran tersebut bukan pilihan ideal. Kerja sama dengan pemasok buah sering kali terkendala persoalan harga yang dianggap kurang menguntungkan petani.

“Kerja sama dengan supplier buah kadang tidak cocok dengan harganya. Tapi kita juga supply ke beberapa minimarket buah di wilayah Cibeber dan Perumahan Taman Cilegon,” katanya.

Di balik manisnya buah melon yang dinikmati konsumen, terdapat persoalan klasik yang masih menghantui petani, yakni keterbatasan modal.

Ketika permintaan meningkat, kapasitas produksi justru tidak mampu mengikuti. Bukan karena kurangnya minat untuk menanam, melainkan karena biaya pengembangan usaha yang tidak sedikit.

Kang Oji mengaku pernah mendengar bahwa kawasan Pabean ditetapkan sebagai salah satu sentra pengembangan melon dalam program Agro Industry Pemerintah Kota Cilegon.

Baca Juga :  Lulus Cum Laude di ITB, Herayati Ingin Mengabdi di Banten

Namun menurutnya, berbagai program tersebut belum sepenuhnya menyentuh kebutuhan nyata para petani di lapangan.

Bantuan pemerintah selama ini lebih banyak berupa benih, pupuk, dan peralatan pendukung yang sifatnya hanya stimulan. Setelah itu, petani kembali berjuang sendiri memenuhi kebutuhan produksi.

“Pemerintah selama ini sebetulnya support, tapi hanya bantuan berupa benih dan pupuk, itu juga tidak rutin. Selebihnya kita beli sendiri, termasuk pupuk impor dari Rusia,” ungkapnya.

Baginya, pengembangan sektor pertanian tidak cukup hanya berhenti pada bantuan sarana produksi. Pemerintah perlu hadir dari hulu hingga hilir, mulai dari pendampingan budidaya, akses permodalan, hingga jaminan pemasaran hasil panen.

Tanpa dukungan yang menyeluruh, program Agro Industry yang digaungkan hanya akan menjadi slogan yang sulit diwujudkan.

Padahal secara ekonomi, melon merupakan komoditas yang memiliki nilai jual tinggi dan prospek pasar yang terus berkembang.

Saat ini Kang Oji tengah memikirkan cara agar panen tidak lagi menunggu hingga tiga bulan. Ia ingin menciptakan pola produksi yang memungkinkan panen berlangsung setiap bulan secara bergantian. Namun sekali lagi, semuanya kembali pada persoalan modal.

Di Green Sulur, terdapat lima orang yang menggantungkan penghasilan dari usaha budidaya melon tersebut. Ketika panen hanya terjadi sekali dalam tiga bulan, maka ada masa panjang tanpa pemasukan yang harus mereka hadapi.

“Sebenarnya banyak warga memilih bertani karena mencari kerja juga sulit. Mau masuk industri tidak punya basic, sementara industri juga padat modal. Kalau panen per tiga bulan, berarti dua bulan kita seperti puasa pendapatan,” ujarnya.

Karena itu, Kang Oji berharap pemerintah dapat membantu pembangunan greenhouse bagi para petani melon di Pabean. Menurutnya, sistem ini lebih efisien, tidak membutuhkan lahan luas, tetapi mampu menghasilkan produksi yang lebih tinggi dibandingkan lahan terbuka.

Baca Juga :  Hasil Panen Melimpah, YBBN Banten Sukses Tanam Padi PS-08

Ia optimistis, jika semakin banyak petani yang memiliki greenhouse, maka kawasan Pabean benar-benar dapat berkembang menjadi sentra melon seperti yang selama ini dicita-citakan.

“Kalau semakin banyak yang budidaya, kita optimis bisa memenuhi permintaan pasar. Tinggal bagaimana pemerintah memfasilitasi pemasaran dengan harga yang sesuai agar petani juga sejahtera,” tandasnya.

Di tengah derasnya arus industrialisasi Kota Cilegon, Green Sulur menjadi bukti bahwa sektor pertanian masih memiliki masa depan. Namun manisnya melon yang dinikmati konsumen hari ini ternyata menyimpan cerita panjang tentang kerja keras, ketekunan, dan harapan para petani yang perjuangannya belum benar-benar usai.

Penulis: Maulana
Editor: Usman Temposo