Beranda Sosok Melihat Perjuangan Tobri, Guru Ngaji Disabilitas di Kabupaten Lebak

Melihat Perjuangan Tobri, Guru Ngaji Disabilitas di Kabupaten Lebak

1913
0
Aktivitas Tobri saat mengurusi kambingnya

LEBAK – Tobri (60) seorang lansia penyandang Disabilitas asal Kabupaten Lebak akhirnya bisa mendirikan rumah sendiri setelah menunggu puluhan tahun janji manis pemerintah yang tak kunjung datang. Pembangunan rumah yang ia dambakan itu berasal dari jerih payahnya dengan menjaul 6 ekor kambing.

Istana milik Tobri hanyalah sepetak bangunan kecil berdinding triplek tipis, beralaskan tanah merah yang didalamnya tidak terdapat toilet atau kamar mandi.

Di rumah sederhana tersebut Tobri tinggal berdua bersama sang istri bernama Masri. Setidaknya cukup untuk berlindung dari teriknya matahari dan dinginnya hujan.

” Wilujeung sumping di istana abdi, manga calik (selamat datang di istana saya, silakan duduk ,-red),” kata Tobri ketika ditemui awak media di rumah kediamannya, Kampung Cimarga, Desa Margajaya, Kecamatan Cimarga, Kabupaten Lebak, Minggu (10/2/2019).

Tobri yang merupakan seorang lansia yang terpaksa harus kehilangan kaki kiri ketika remaja ini memiliki keseharian berkebun dan mengembala kambing. Selain berkebun, pada malam hari dirinya merupakan seorang guru ngaji anak-anak di musalah. Untuk menuju musalah sendiri Tobri harus berjalan kaki melewati perkebunan karet milik warga yang berjarak 1 kilometer dari rumahnya.

Sementara, untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, Tobri hanya mengandalkan hasil bumi yang biasa ia tukar dengan beras dan lauk di warung dekat rumahnya.

Perjuangan Tobri masih terus berlanjut, ketika Masri yang setia menemani lansia berkaki satu tersebut saat ini hanya bisa terdiam seharian tanpa melakukan aktivitas apapun. Diamnya Masri disebabkan gangguan mental yang dialami dirinya sejak beberapa tahun lalu. Untuk makan dan minumnya sendiri Masri masih harus dibantu oleh Tobri.

“Kalau beras sudah habis, saya biasa jual singkong atau pisang hasil kebun ke tetangga. Nah uangnya itu saya pakai buat beli beras, kalau masih ada sisa saya beliin lauk juga,” kata Tobri.

Ketika disinggung soal bantuan pemerintah, Tobri menepis bahwa dirinya pernah mendapatkan bantuan dari pemerintah. Ia mengatakan dalam kurun waktu 5 tahun ini dirinya tidak pernah mendapatkan bantuan ataupun perhatian dari pemerintah.

Tobri mengungkapkan, dalam kurun waktu tersebut dirinya tidak pernah mendapatkan bantuan pemerintah baik itu program Raskin, Rasta, bedah rumah maupun bantuan lainnya. Padahal sebelumnya, ia merupakan seorang penerima Bantuan Langsung Sementara Masyarakat alias BLSM pada zaman kepemimpinan presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada tahun 2013 lalu.

” Terakhir dapet bantuan itu pada zaman pak SBY, udah itu enggak pernah dapet bantuan lagi,” ungkapnya.

Ia mengaku, sampai saat ini dirinya belum pernah mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah, pusat bahkan pihak desa pun tidak pernah.

“Jangankan bantuan, pihak pemerintah bahkan desa belum pernah tuh ke sini,” tambah Tobri.

Tobri mengatakan, dirinya sudah berhenti berharap kepada pemerintah yang akan datang membantu kehidupan keluarganya.

” Udah engga ngarep lagi bantuan, kalaupun ada silakan, saya terima dengan senang hati. Kalaupun tidak, ya engga apa apa biarkan saya yang sebagai masyarakat kecil semakin tersiksa, sedangkan yang di atas sibuk memperkaya diri sendiri,” tutup Tobri. (Ali/Red)