Beranda Opini Peran Generasi Muda Dalam Memajukan Pertanian Indonesia

Peran Generasi Muda Dalam Memajukan Pertanian Indonesia

Ilustrasi - foto istimewa KampoengNgawi

 

Oleh : Keysha Reva Nathania
LMahasiswa Program Studi Agribisnis
Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

 

Negara Agraris adalah negara yang berperan sebagai penghasil sektor pertanian dalam jumlah yang  besar. Pertanian dalam arti luas tidak hanya mencakup tentang tanaman pangan tetapi juga tentang perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutaan. Indonesia sebagai negara yang termasuk kedalam negara agraris tentu saja memiliki banyak potensi alam yang mendukung. Selain lahan yang luas, iklim tropis di indonesia juga sangat mendukung beberapa tanaman untuk bisa tumbuh dengan subur di tanah di Indonesia.

Lekatnya indonesia dengan julukan  negara agraris ini tentu saja membuat indonesia harus selalu bisa menangani masalah tentang pertanian, terutama tentang masalah regenerasi petani. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS)  pada tahun  2019  jumlah  petani di Indonesia mencapai 33,4 juta orang tetapi jumlah petani yang  termasuk  kedalam umur produktif hanya sekitar 8% atau  setara dengan 2,7 juta orang. Stigma yang kerap menghampiri pikiran para anak muda adalah stigma bahwa petani merupakan  pekerjaan yang kotor dan kurang menjanjikan yang akhirnya membuat para anak muda menjadi memandang sebelah mata pekerjaan ini.

Langkah awal yang sudah dimanfaatkan oleh beberapa petani muda adalah dengan cara menjual hasil pertanian mereka melalui e-commerce. E-commerce sendiri adalah proses jual beli produk secara elektronik oleh organisasi bisnis dengan konsumen. Dengan menggunakan cara ini bisa menjadi salah satu strategi yang sangat bagus di kala situasi pandemi seperti ini, selain praktis cara ini juga dapat membantu banyak orang yang sibuk sehingga tidak sempat ke luar rumah.

Salah satu contoh e-Commerce yang menjual produk pertanian yang masih berkembang sampai sekarang di Indonesia adalah Pak Tani Digital, aplikasi ini merupakan suatu aplikasi yang memudahkan para petani untuk menjual hasil pertaniannya secara online. Aplikasi ini banyak menerima respon positif dari masyarakat indonesia, tampilan aplikasi ini juga sudah  sangat rapih dan mudah untuk dipahami sehingga para petani dan supplier merasa sangat terbantu dengan adanya aplikasi ini. Menurut salah satu pendiri aplikasi Pak Tani Digital Kris Pradana, dia dan teamnya menyasar kaum milenial untuk membantu mengembangkan ekonomi lewat digital marketing di sektor pertanian

“Kita sasar pasar anak muda karena kita tahu petani di Indonesia  itu tua-tua semua, mereka untuk buka facebook aja kurang paham. Kita lagi campaign ke beberapa kampus, kita mau membangkitkan semangat bertani mereka, kita mau ajak mereka jadi petani itu keren, kalian bisa kaya, kalau kalian mampu memaksimalkan digital marketing,” ujar Kris.

Pak Tani Digital berdiri karena dilatar belakangi oleh masih kurangnya ekosistem pertanian di Indonesia, selain itu kurangnya petani yang mumpuni juga menjadi salah satu alasan besar dalam pendirian aplikasi ini, karena jika dilihat petani-petani di indonesia adalah orang yang sudah tergolong lanjut usia, rata-rata petani dengan umur ini tentu saja kurang paham tentang teknologi zaman sekarang sehingga kebanyakan para petani ini kebingungan kemana mereka akan menjual hasil pertanian mereka sehingga jalan akhirnya adalah menjualnya ke tengkulak yang menyebabkan harga jualyang rendah sehingga petani bisa saja kekurangan modal.

“Keterbatasan informasi, dan sulitnya proses distribusi ini yang menyebabkan petani tidak tahu mau dijual kemana padi mereka, kemudian harga komoditas terlalu rendah karena di atur oleh tengkulak, dan seringkali mereka kerja sendiri, mereka juga kekurangan modal pendanaan,” ujar Kris.

Maka dari itu Pak Tani Digital hadir sebagai pemberi solusi dari masalah-masalah yang ada sehingga diharapkan dapat memperluas potensi pasar dan profit yang lebih besar  untuk membantu para petani.

Selain pengebangan melalui e-commerce, ada juga beberapa anak bangsa yang ikut menyumbang teknologi canggih yang bisa digunakan dalam bidang pertanian contohnya adalah Habibi Garden, aplikasi yang diciptakan oleh Dian Prayogi Susanto ini merupakan aplikasi yang berfungsi sebagai pemberi informasi secara langsung mengenai kondisi sebuah tanaman yang ditanam di sebuah lahan pertanian. Cara kerjanya cukup mudah, cukup letakan alat pemantau di lahan pertanian yang diinginkan dan download aplikasi Habibi Garden di smartphone anda dan semua informasi tentang tanaman di lahan itu seperti temperatur, kadar air, cahaya, kelembaban udara, nutrisi tanah, dan lain-lainnya akan otomatis bisa dilihat melalui aplikasi yang ada smartphone anda. Aplikasi ini memudahkan para petani untuk tetap bisa mengontrol tanaman mereka dari jarak jauh tetapi masih bisa mendapatkan informasi yang spesifik.

“Habibi Garden merupakan alat yang membantu petani berbicara atau berkomunikasi dengan tanaman. Nah berbicaranya melalui apa? Berbicaranya melalui sensor-sensor yang kita letakan di areal lahan pertanian. Sensor Internet of Things (IoT)  namanya, sensor-sensor ini kita letakan di kebun dan mengumpulkan data-data seperti, pH tanah, kelembaban tanah, nutrisi tanah, curah hujan, temperatur, intensitas cahaya, dan lainya,” ungkap Dian.

Jadi jika dijelaskan secara sederhana, alat sensor yang ada di alat pemantau akan  merekam kondisi di sekitar lahan pertanian lalu data itu akan di monitori langsung oleh team pusat dari Habibi Garden sendiri, sensor-sensor yang ada juga sudah terhubung dengan pipa-pipa yang terinstalasi di lahan pertanian sehingga aplikasi bisa memerintahkan untuk melakukan penyiraman otomatis sesuai perintah yang masuk melalui aplikasi.

Dian mengaku untuk menciptakan aplikasi ini dia dan temannya yang sama-sama berasal dari lampung  memakan waktu sekitar satu tahun lamanya. Aplikasi ini pertama kali diterapkan di Cipanas, Puncak, Jawa Barat pada lahan kebun tomat milik kelompok petani setempat. Karena hasil yang diinginkan tercapai membuat Dian berani membuat Habibi Garden ini untuk mengikuti kompetisi nasional.

“Dari keberhasilan itu, kita ikutkan Habibi Garden ini di kompetisi nasional dan internasional, seperti di Sidney, Jerman dan Barcelona. Untuk sekarang kita sudah punya investor dari Australia dan Hongkong,” tambah Dian.

Saat ini Habibi Garden yang berada di bawah naungan PT. Digital Habibi Nusantara sudah memiliki tim sekitar 20 orang yang terbagi ke dalam beberapa tim, untuk kedepannya tentu saja diharapkan aplikasi ini akan terus mengalami perkembangan sehingga dapat terus membantu para petani.

Kreativitas yang dimiliki oleh para kaum muda seperti inilah yang diharapkan bisa terus berlanjut sehingga dapat lebih membantu sektor pertanian Indonesia . Anak muda juga harus senantiasa didukung agar bisa tertarik dalam bidang pertanian. Para pemuda juga harus memiliki motivasi yang kuat dalam bidang pertanian agar mereka bisa menjadi penggerak pertanian di Indonesia untuk menuju ke arah yang lebih baik lagi di masa depan.

(***)