Beranda Opini Penduduk Banten 60 Tahun Terakhir

Penduduk Banten 60 Tahun Terakhir

Ilustrasi - foto istimewa tribunnews.com

Oleh: Suhandi, S.ST, MM, Fungsional Statistisi BPS Provinsi Banten

Tahun 1980-1990 merupakan puncak laju pertumbuhan tertinggi Provinsi Banten, yaitu 4,03 persen pertahun. Kota Tangerang menjadi daerah terpadat di Provinsi Banten, tahun 2020 hampir mencapai 12.500 orang setiap kilometer persegi.

Provinsi Banten berdiri pada tanggal 4 Oktober 2000. Di usia yang menuju ke 21 ini, Banten berusaha untuk berbenah diri menuju ke arah yang lebih baik. Banyak pembangunan dilakukan baik oleh pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota. Segala kebijakan pembangunan tentu saja memperhatikan faktor penduduk. Sekarang ini, penduduk tidak hanya menjadi obyek tapi juga menjadi subyek pembangunan.

Dekatnya Provinsi Banten dengan ibukota negara menjadikan provinsi ini mengalami pertumbuhan penduduk yang pesat. Apalagi setelah Banten dinobatkan sebagai salah satu provinsi yang menjadi tujuan investasi utama di Indonesia. Banyak penanam modal baik domestik maupun asing yang bergerak di bidang manufaktur membangun pabrik di Banten. Sudah terkenal dimana-mana bahwa Kabupaten/Kota Tangerang, Kabupaten Serang dan Kota Cilegon merupakan daerah tujuan pekerja untuk mencari nafkah. Karena menjadi penyanggah ibukota, Banten juga menjadi daerah yang menjadi tempat tinggal bagi penduduk yang bekerja di Jakarta dan sekitarnya.

Jumlah dan laju pertumbuhan penduduk

Dulu, tahun 1961, Penduduk Banten hanya 2,4 juta jiwa. 10 tahun kemudian penduduknya bertambah 600 ribuan menjadi 3 juta jiwa atau dengan laju pertumbuhan sekitar 2,25 persen pertahun. Antara tahun 1961 hingga 1971 daerah yang pesat berkembang adalah kabupaten Tangerang (termasuk Tangsel sekarang). Seiring dengan perkembangan industri di Tangerang, Serang dan Cilegon, penduduk Banten semakin cepat bertambah. Pertambahan terbanyak pada periode 2000-2010, yaitu bertambah sebanyak 2,5 juta jiwa.  Pada awal periode ini, Provinsi Banten berdiri dan mempunyai otoritas sendiri untuk membangun 4 kabupaten dan 4 kota.

Pesatnya pertambahan penduduk Banten bisa dilihat dari besarnya laju pertumbuhan penduduk per tahun. 1961-1971, laju pertumbuhannya hanya 2,25 persen pertahun. Sepuluh tahun berikutnya menjadi 3,12 persen pertahun, lalu laju pertumbuhan 1980-1990 naik lagi menjadi 4,04 persen pertahun. Walaupun pertambahan penduduk 2000-2010 paling besar, namun laju pertumbuhan penduduknya hanya 2,78 persen pertahun. Jadi pada periode 1980-1990 ini laju pertumbuhan penduduk pertahun mencapai puncaknya, yaitu 4,04 persen. Pada periode inilah perkembangan pesat industri terjadi di Tangerang Raya dan Serang Raya (termasuk Cilegon).

Pada periode 1971-1980, pertumbuhan penduduk sudah terlihat pesat. Di Serang Raya berdiri Pabrik Baja terbesar di Asia (saat itu), PT. Krakatau Steel (PT. KS). Berdirinya PT. KS diikuti dengan perusahaan-perusahaan anak menjadikan Cilegon berkembang pesat. Saat itu, Penduduk Kota Cilegon (Kota Cilegon berdiri tahun 1999) tumbuh 4,71 persen pertahun. Pada periode ini, Kota Tangerang (Kota Tangerang berdiri tahun 1990) juga tumbuh pesat. Laju pertumbuhannya tidak mau kalah dengan Kota Cilegon, sebesar 4,11 persen. Diikuti oleh Kabupaten Tangerang dengan laju pertumbuhan 4,07 persen. Tahun 1970 an di Tangerang Raya sudah mulai berdiri perusahaan industri seperti  tekstil, ban, kimia dan lain-lain.

Puncaknya, laju pertumbuhan ketiga daerah tersebut terjadi pada era 1980-1990. Kota Cilegon masih tertinggi dengan laju pertumbuhan mencapai 8,77 persen pertahun. Lalu Kabupaten Tangerang dengan 5 persen pertahun dan Kota Tangerang sebesar 4,85 persen per tahun.  Sementara itu, Kabupaten lebak, Pandeglang dan Serang masih datar laju pertumbuhannya, masih disekitar 2 – 2,5 persen per tahun.

Kepadatan Penduduk

Kalau kita membicarakan masalah kepadatan penduduk di Banten, maka sejak tahun 1961 Kota Tangerang masih nomor satu. Pada tahun 1961 saja, kepadatan Kota Tangerang sudah mencapai 1.343 jiwa per kilometer persegi. Terus berlanjut, Tangerang makin padat dan hasil Sensus terakhir, tahun 2010, rata-rata setiap km2 dihuni oleh 11.685 jiwa. Kepadatan sebesar itu susah untuk dikejar oleh kabupaten/kota lain. Hanya Tangerang Selatan yang sedikit mendekati dengan kepadatan 8.766 jiwa per kilometer persegi. Kabupaten Tangerang, walaupun memiliki jumlah penduduk yang terbesar mencapai 2,8 juta tahun 2010, namun hanya memiliki kepadatan 2.801 jiwa per km2.

Sementara itu, tahun 2010, Kabupaten Lebak menjadi daerah dengan penduduk terjarang, hanya 351 jiwa per kilometer persegi. Lalu diikuti Pandeglang dengan kepadatan 418 jiwa per kilometer persegi dan Kabupaten Serang sebesar 809 per km2. Kota Serang dan Kota Cilegon kepadatannya hampir sama, yaitu 2.134 dan 2.166 jiwa per km2.

Faktor Migrasi

Perubahan jumlah penduduk dipengaruhi oleh kelahiran, kematian dan perpindahan (migrasi). Untuk Kabupaten Pandeglang dan Lebak lebih banyak dipengaruhi faktor kelahiran dan kematian. Namun beberapa tahun terakhir kedua kabupaten tersebut sudah semakin terbuka dan mulai diminati oleh pendatang untuk dijadikan tempat tinggal. Enam kabupaten/kota lainnya, selain kelahiran dan kematian, tingkat migrasi penduduk sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan penduduk.

Tangerang Raya dan Serang Raya menjadi tujuan utama para pendatang. Selain faktor pekerjaan, daerah ini juga menjadi tujuan utama untuk tempat tinggal. Tangerang Raya menjadi tempat tinggal pula untuk penduduk yang bekerja di Jakarta dan sekitarnya. Berkembangnya industrialisasi akan menyebabkan pula berkembangnya sektor lain. Untuk itu, fasilitas perumahan bagi para pendatang harus juga disiapkan. Tahun 2015, angka migrasi masuk kabupaten/kota di Provinsi Banten adalah 41,2, artinya dari 1000 orang terdapat 41 orang pendatang. Tingkat migrasi masuk tertinggi adalah Kota Tangerang, 84,3, dan terendah adalah Kabupaten Pandeglang dan Lebak.

Bagaimana Penduduk Tahun 2020?

Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020 kemarin melaksanakan Sensus Penduduk 2020 (SP2020). Tujuan utama SP2020 adalah untuk menghitung jumlah penduduk, beserta distribusi, komposisi dan karakteristik penduduk lainnya menuju satu data kependudukan Indonesia. Jadi, jumlah penduduk tahun 2020 dapat dilihat dari hasil SP2020. Kelebihan dari SP2020 adalah menggunakan data dasar dari Dirjen Administrasi Kependudukan (Adminduk) Kementrian Dalam Negeri. Artinya, jumlah penduduk versi BPS akan sama dengan versi Dukcapil.

Perencanaan yang matang dari SP2020 banyak berubah setelah datangnya pandemi covid-19 pada Bulan Maret 2020. Pelaksanaan Sensus Penduduk Online dan pendataan wawancara (tatap muka) sangat terganggu sehingga banyak penyesuaian dilakukan termasuk jadwal pencacahan. Kuesioner yang awalnya memuat banyak pertanyaan mengalami perubahan menjadi lebih sederhana dan proses pendataan mengalami kesulitan. Banyak penduduk yang sulit ditemui karena kekahawatiran tertular covid-19 dan berpindah tempat tinggal karena mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) atau sementara tidak bekerja.

Pada minggu ketiga Januari 2021, BPS Provinsi Banten merilis jumlah penduduk Provinsi Banten tahun 2020 adalah sebesar 11,9 juta jiwa. Jadi, selama sepuluh tahun terakhir jumlah penduduk Banten diperkirakan bertambah 1,3 juta jiwa. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir (2010-2020) laju pertumbuhan penduduknya hanya 1,1 persen per tahun. Dari seluruh penduduk Banten, 54,56 persen tinggal di Tangerang Raya, Serang Raya 23,10 persen dan pandeglang/Lebak 22,34 persen.

Jumlah penduduk terbanyak pada tahun 2020 adalah generasi X (50-55 tahun), yaitu 3,34 juta jiwa, diikuti oleh generasi Y atau generasi milenial (24-39 tahun) dan terendah adalah generasi Pre Boomer (75 tahun keatas), 120 ribuan jiwa. Lebih lengkapnya bisa dilihat pada grafik berikut:

 

 

Komposisi Penduduk Menurut Generasi, Provinsi Banten, 2020

Dalam rangka mendapatkan parameter demografi yang akurat, pemerintah perlu melakukan kegiatan sensus penduduk lanjutan dimana pendataan dilaksanakan untuk mengumpulkan data-data yang lebih lengkap tidak hanya terkait parameter demografi, tetapi juga terkait pendidikan, disabilitas, ketenagakerjaan maupun perumahan. Oleh karenanya, dirancang adanya sensus sampel sebagai sensus penduduk lanjutan di tahun 2021 menggunakan kuesioner yang memuat pertanyaan yang lebih banyak dan lebih kompleks atau disebut sebagai pendataan long form SP2020. Kegiatan pendataan long form SP2020 dilakukan pada bulan Agustus hingga September 2021.  Jumlah sampel rumah tangga yang menjadi target pendataan kali ini sebanyak 93 ribu lebih yang tersebar di seluruh desa/kelurahan di Provinsi Banten.

Tantangan utama kegiatan long form SP2020 sensus sampel adalah pandemi covid-19 yang masih tinggi di Banten maupun Indonesia. Mulai dari pelatihan hingga pelaksanaan lapangan, petugas akan di rapid test beberapa kali dan melakukan protokol kesehatan (prokes) yang ketat. Sangat diharapkan kepada masyarakat baik di wilayah pemukiman biasa, perumahan elit, apartemen, asrama dan dimanapun yang menjadi sampel untuk mau menerima dan menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh petugas pendataan. Responden berhak menolak jika petugas tidak melaksanakan protokol kesehatan atau tidak disertai dengan kelengkapan seperti surat tugas dan atribut petugas lainnya.

Mudah-mudahan kegiatan sensus penduduk pada tahun 2021 ini berjalan dengan lancar, aman dan tidak ada petugas atau responden yang saling menularkan virus corona. Sekali lagi, peran serta masyarakat sangat diharapkan demi mendapatkan data kependudukan yang berkualitas  sehingga bisa digunakan oleh pemerintah untuk perencanaan dan evaluasi pembangunan.

(***)