Beranda Komunitas Museum Multatuli dan Pengembangan Kajian Pascakolonial

Museum Multatuli dan Pengembangan Kajian Pascakolonial

LEBAK – Peran museum seringkali hanya dianggap sebagai ruang pasif untuk membekukan sejarah. Padahal, museum sejatinya menjadi pusat pengetahuan yang dinamis, di mana masa lalu sebagai bagian dari sejarah menjadi sumber pengetahuan untuk refleksi masa kini. Pertalian masa lalu dan masa kini tersebut menjadi dinamis jika museum tidak hanya sekadar menyimpan benda-benda kuno. Museum akan lebih bermakna, jika di dalamnya terjadi upaya untuk terus menggali pengetahuan.

Pengalaman kebangsaan sebagai bekas negeri jajahan menjadikan Indonesia memiliki posisi strategis untuk studi semacam pascakolonial. Museum Multatuli yang berada di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten menjadi penting dan diharapkan menjadi pusat kajian pascakolonial tersebut.

Kepala Museum Multatuli, Lebak, Banten, Ubaidillah Muchtar berharap kehadiran Museum Multatuli dapat menjadi bagian dari pengembangan kajian pascakolonial nantinya. Peran serta institusi seperti kampus di Banten, menurut Ubaidillah akan menopang kajian-kajian mengenai pascakolonial tersebut.





“Jadi tidak tersentral di museum namun menyebar di kampus-kampus. Kami sebagai pengelola museum ingin menyediakan referensi atau sumber primer tentang studi pascakolonial. Kami juga ingin mulai mendata dan menginvetarisasi kajian atau hasil kajian studi pascakolonial,” kata pria yang akrab disapa Ubai ini, Rabu (12/9/2018).

Selain menyediakan referensi primer mengenai studi dan hasil kajian pascakolonial, Ubai berharap bisa bekerja sama dengan kampus yang memiliki jurusan atau disiplin keilmuan yang relevan dengan studi pascakolonial seperti jurusan sejarah dan sastra. “Di Untirta misalnya ada jurusan sejarah dan Bahasa dan Sastra Indonesia, atau kampus lain yang punya jurusan yang ada kaitannya dengan sejarah,” ujarnya.

Melihat potensi kajian ini di Banten, Ubai optimis karena provinsi yang berada di ujung barat pulau Jawa ini memiliki nilai historis yang sangat kaya. “Banten punya potensi yang besar, Banten juga narasi yang bisa digali lebih dalam. Kita tahu bahwa Banten pernah menjadi salah satu bahan pusat perdagangan di era kolonial,” jelasnya.

Untuk menumbuhkan semangat dalam melakukan kajian-kajian terkait pascakolonial yang masih terbilang belum banyak peminatnya di Indonesia, Ubai berharap kajian pascakolonial dapat mengisi ruang diskusi di kampus-kampus di Banten. “Kondisi ini semoga bisa menjadi titik balik untuk memulai (kajian-kajian pascakolonial) dari Banten. Saya harap bisa terus berkelanjutan, tidak berhenti pada simposium saja.”

Pihaknya juga membuka kesempatan bagi akademisi, mahasiswa, seniman dan komunitas yang berminat terhadap kajian sejarah, khususnya mengenai pascakolonial untuk membuat diskusi berkala di Museum Multatuli.

Lebih jauh Ubai berharap, kajian-kajian pascakolonial tidak terpaku pada sosok Multatuli. Ia tidak berharap sosok Multatuli menjadi kultus dalam kajian pascakolonial. “Jangan terpaku kepada tokoh seperti Multatuli, jangan dimaknai sempit. Dalam kajian kita bebas mengkaji tokoh lain, bukan sekadar berhenti di gagasan Multatuli,” harapnya.

Kerja sama dengan lembaga lain seperti Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) misalnya, akan terus dibangun untuk menunjang data-data referensi primer. “Saya sudah komunikasi dengan rekan di ANRI juga dengan pihak Perpusatakaan Nasional untuk menunjang referensi, khususnya yang berkaitan dengan Banten,” jelasnya.

Menghindari Sekadar “Perayaan“

Kritikus Sastra Katrin Bandel menilai Museum Multatuli memiliki sisi menarik dan keunikan tersendiri. Namun ia berharap Museum Multatuli tidak hanya berhenti sebagai sebuah “perayaan” semata. “Kalau saya dengar dari kawan-kawan yang terlibat di sini (Museum Multatuli), bahwa ada rencana untuk membuat semacam pusat studi pascakolonial, nah kalau seperti itu semangatnya sudah tepat,” kata Katrin Bandel saat berbincang dengan bantennews.co.id beberapa waktu lalu usai simposium pascakolonial di acara Festival Seni Multatuli (FSM) 2018, di Lebak, Banten.

Sebagai sebuah kajian, pascakolonial sendiri menurut Kartrin, mencoba untuk melihat bahwa kolonialisme itu terjadi dengan segala kompleksitasnya dan dengan segala implikasinya. “Sehingga negara yang pernah dijajah seperti Indonesia sekadar mengabaikan itu, dengan mengatakan bahwa ‘itu kan sudah sejarah, sekarang sudah merdeka selesai persoalan’, akan banyak hal yang tidak terungkap, dan bayak hal yang menjadi implikasinya sekarang. Kajian pascakolonial ini berusaha melihat kompleksitasnya,” jelas Katrin.

Kompleksitas kajian pascakolonial tersebut, lanjut dia, berada di pihak penjajah dan pihak terjajah. Kompleksitas tersebut seringkali terlihat jelas dalam karya sastra. “Karena lewat karya sastra hal seperti itu sering bisa terungkap. Misalnya dalam novel karya Multatuli: Max Havelaar, salah satu tokoh utamanya Max Havelaar dia bagian dari penjajah, dia pejabat kolonial, tapi dia (juga) memperjuangkan keadilan. Dia kritis terhadap yang dilakukan pemerintahnya sendiri,” kata Katrin menjelaskan soal kompleksitas pascakolonial dalam novel Max Havelaar.

Dalam novel yang sama, Katrin melihat, tampak penguasa lokal bekerja sama dengan penjajah. Hal tersebut menjadikan kolonialisme sebagai sesuatu yang kompleks. “Kolonialisme tidak bisa dirumuskan begitu saja sebagaimana ada orang asing menindas yang lokal, sampai suatu saat yang lokal merdeka, tidak sesederhana itu. Ada kompleksitas di dua pihak (penjajah dan terjajah),” jelasnya.

Di pihak penjajah ada orang yang kritis di dalamnya. Sementara di pihak terjajah juga ada pihak yang diuntungkan dan berkolaborasi dengan pihak penjajah. “Jadi kompleks seperti itu. Hal semacam itu sangat penting dilihat. Karena dalam kelanjutan kolonialisme sekarang itu juga menjadi tetap relevan. Misalnya kadang-kadang pola kolonialisme asing kemudian dilanjutkan oleh elit lokal. Akan sangat bagus jika kita bisa lihat hingga zaman kolonial.”

Kompleksitas lain yang bisa diungkap dengan kajian pascakolonial, Katrin menjabarkan, kolonialisme merasa membawa kemajuan-kemajuan di negeri jajahan. “Tidak setiap upaya memajukan (negeri jajahan) itu sifatnya murni. Tapi bisa jadi itu bagian dari dominasi tertentu. Kompleksitas seperti itu bisa dilihat di kajian pascakolonial. Bukan secara kaku mengatakan segala yang asing itu buruk harus dihilangkan, tapi melihat apa yang terjadi setelah pengaruh barat masuk.”

Di sisi lain, masyarakat lokal juga tidak semata kembali kepada akar tradisi dan menilai segala sesuatu yang datang dari barat harus dihilangkan. “Kompleksitas ini menawarkan pendekatan yang kritis yang sayangnya di Indoensia ini masih kurang. Jadi baru diajarkan di beberapa kampus, lebih banyak di tingkat S-2 sementara di S-1 saya kira hanya sekilas. Jadi pusat studi yang terfokus ke sana (pascakolonial) saya kira belum ada,” kata Katrin.

Dalam kondisi semacam itu, Katrin menambahkan, jika Museum Multatuli bisa mengawali sebagai pusat kajian pascakolonial akan menjadi langkah yang tepat dan penting.

Keterlibatan Semua Pihak

Meskipun Museum Multatuli menjadi aset Pemkab Lebak, peran pihak terkait sangat dibutuhkan untuk menjadikan museum ini sebagai pusat keilmuan, khsusnya kajian pascakolonial. Pihak yang harus pula dilibatkan dalam pengembangan kajian pascakolonial di Museum Multatuli, menurut Katrin adalah dosen, pengarang, dan sastrawan yang sudah memasuki dan mendalami wacana pascakolonial. “Mereka bisa dilibatkan.”

Katrin melihat Museum Multatuli sendiri sangat strategis karena lokasi dan wacana yang diusungnya. Kabupaten Lebak bukan merupakan daerah pusat seperti kota-kota besar semacam Jakarta, Surabaya atau Bandung. Di sisi lain wacana pascakolonial relevan dengan masyarakat di daerah-daerah bekas jajahan.

“Ilmu pascakolonial itu ilmu yang membicarakan ‘orang pinggiran’ bukan berbicara dari ‘pusat’. Seandanya tempatnya di Jakarta, Surabaya atau Bandung, itu kurang tepat. Di Lebak ini sudah sangat tepat, posisinya di ‘pinggir’ namun dekat dengan Jakarta. Strategis sekali,” jelasnya. (you/red)