SERANG – Langkah Moh Bahri menuju panggung politik Provinsi Banten tidak pernah dimulai dari kemewahan. Ia berangkat dari kesederhanaan pesantren Annuqayah, Guluk-guluk, Kabupaten Sumenepdi Madura dan membawa satu bekal yang tak kasatmata namun menentukan: doa seorang ibu.
Tujuh tahun lamanya Bahri menghabiskan masa pendidikan di pesantren. Kehidupan sederhana, disiplin, dan nilai keikhlasan menjadi fondasi awal yang membentuk wataknya. Setelah itu, ia mengambil keputusan besar dalam hidupnya: merantau ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan.
Tahun 1994 menjadi titik balik. Dengan uang saku Rp125.000 yang diselipkan ibunya sebelum berangkat, Bahri meninggalkan Madura. Nominal itu, pada masanya, cukup untuk ongkos kereta dari Surabaya ke Jakarta, menyisakan sedikit untuk makan dan bertahan hidup di ibu kota. Namun, Jakarta bukan kota yang ramah bagi perantau tanpa pegangan.
Di momen pamitan itulah, percakapan paling menentukan terjadi. Sang ibu menyetujui kepergian Bahri dengan satu syarat: jangan meminta uang lagi. “Ibu tidak punya biaya,” kata ibunya jujur. Namun ia menawarkan sesuatu yang jauh lebih besar nilainya yakni doa.
Jika yakin pada kekuatan doa ibu, Bahri diminta berangkat. Jika tidak, lebih baik tinggal. Bahri memilih yakin.
Keyakinan itu seolah terjawab. Dari ribuan pendaftar calon mahasiswa, Bahri diterima di lembaga pendidikan yang telah menyiapkan asrama, makan, kitab, buku, hingga tunjangan bulanan. Di sanalah ia benar-benar memahami makna “modal barokah”. Uang, betapapun besar jumlahnya, bisa terasa tidak cukup jika tak dibarengi doa orang tua.
Tujuan pertama pendidikannya adalah Universitas Ibnu Saud—institusi pendidikan yang berafiliasi dengan Arab Saudi. Perjalanan akademiknya berlanjut ke Fakultas Tarbiyah di STAI – PTDII Jakarta dan memperdalam sejarah hukum di Asyafi’iyah, hingga akhirnya menempuh pendidikan di Universitas Jayabaya. Jalur pendidikannya panjang, berliku, dan ditempuh bersamaan dengan dinamika hidup mahasiswa perantau.
Di luar ruang kelas, Bahri menemukan rumah keduanya di organisasi. Ia aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), meniti karier dari tingkat komisariat, cabang, hingga dipercaya menjadi bagian dari Pengurus Besar HMI. Aktivisme inilah yang menempa cara berpikir, kepemimpinan, dan keberaniannya bersuara.
Di masa pengabdian di HMI pula takdir personalnya bertaut. Ia bertemu Jamilah Abdul Gani—kini Anggota DPRD DKI Jakarta—dalam lingkaran organisasi. Bahri saat itu menjadi Master of Training, sementara Jamilah adalah peserta. Pertemuan kader itu berujung pada pernikahan, sekaligus mengubah peta hidupnya.
Dari Madura ke Jakarta, lalu menetap di Tangerang, Bahri perlahan semakin mantap melihat masa depan dan pengabdian di Provinsi Banten. Hingga akhirnya, perjalanan panjang itu membawanya ke Gedung DPRD Banten, sebagai Sekretaris Fraksi Partai Gerindra DPRD Banten.
Bagi Bahri, jabatan bukanlah puncak, melainkan ujian. Ia meyakini, yang paling berat dari sebuah amanah bukanlah meraihnya, tetapi menjaganya. Pesan orang tua selalu ia genggam: tidak sombong, menjalankan amanah dengan sepenuh hati, dan bertanggung jawab atas kepercayaan publik.
Kini, di tengah dinamika politik dan tuntutan masyarakat, Moh Bahri tetap berdiri pada keyakinan awalnya—bahwa kekuatan doa, kejujuran niat, dan tanggung jawab moral adalah bekal utama dalam menjalankan peran sebagai wakil rakyat.
Perjalanannya membuktikan, dari pesantren sederhana di Madura hingga kursi legislatif di Banten, langkah yang ditempuh dengan keyakinan akan selalu menemukan jalannya.
Partai Gerindra Sebagai Jalan Pengabdian
Bagi Moh Bahri, politik bukan sekadar ruang kekuasaan, melainkan medan pengabdian. Setelah melalui perjalanan panjang sebagai aktivis dan penggerak organisasi, ia memandang perlu adanya wadah perjuangan yang sejalan dengan nilai keberpihakan, keberanian, dan komitmen terhadap kepentingan rakyat. Pilihan itu kemudian jatuh pada Partai Gerindra.
Bahri meyakini Gerindra sebagai partai yang memberi ruang bagi kader untuk berjuang secara nyata mewujudkan harapan masyarakat, khususnya di Provinsi Banten. Platform perjuangan, orientasi kerakyatan, serta semangat memperjuangkan keadilan sosial menjadi alasan kuat yang mengantarkannya berlabuh di partai berlambang kepala garuda tersebut.
Melalui Gerindra, Bahri menyalurkan idealisme dan pengalaman panjangnya dalam gerakan mahasiswa ke dalam kerja-kerja politik yang lebih konkret. Baginya, menjadi Sekretaris Fraksi Gerindra DPRD Banten bukan semata posisi struktural, melainkan amanah untuk memastikan aspirasi masyarakat tersampaikan dan diperjuangkan dalam kebijakan daerah.
Di tengah dinamika politik lokal, Bahri terus berupaya menjaga ruh perjuangan yang sejak awal ia yakini: politik yang dijalankan dengan kejujuran niat, keberanian bersikap, dan tanggung jawab moral. Banten, menurutnya, membutuhkan wakil rakyat yang tidak hanya hadir di ruang sidang, tetapi juga memahami denyut harapan masyarakatnya.
Tim Redaksi
