Beranda Opini Mengembalikan Nurani Ibu

Mengembalikan Nurani Ibu

573
0
Ilustrasi - foto istimewa dream.co.id

Oleh: Iim Muslimah S.Pd, Pendidik, Ibu Rumah Tangga

Ada sebuah ungkapan bahwa ibu merupakan madrasah pertama bagi anaknya. Namun bagaimana jika seorang ibu tega menghabisi buah hatinya hanya karena sulit diajari?

Warga Desa Cipalabuh, Kecamatan Cijaku, Kabupaten Lebak, Banten, digegerkan dengan penemuan jenazah anak kecil bernama KS (8) yang terkubur di TPU Gunung Keneng dengan pakaian lengkap. Ternyata korban yang masih duduk di kelas 1 SD itu meninggal usai dianiaya ibunya, LH (26).



Lantaran sulit menerima pembelajaran daring, sang ibu merasa kesal kemudian menganiaya anaknya. Awalnya hanya mencubit, kemudian memukul tubuhnya menggunakan tangan, gagang sapu, hingga mendorongnya dan kepalanya terbentur lantai.

Sang ayah, IS (27), yang datang ke kontrakannya di daerah Kreo, Tangerang, Banten, mengaku kaget putrinya dalam kondisi lemas. Kemudian LH dan IS berniat membawa KS dan satu anaknya lagi jalan-jalan keluar rumah dengan niat mencari udara segar dan membawa ke rumah sakit menggunakan sepeda motor. Nahas, di perjalanan KS mengembuskan nafas terakhir.( Lipuran6.com)

Salah siapa?

Fenomena orang tua membunuh anak kandungnya atau sebaliknya memang semakin banyak terjadi. Terlebih ditengah kondisi yang serba sulit seperti ini. Banyak para orang tua yang mengalami stres yang akhirnya berimbas pada pembunuhan. Tentu ini tidak hanya sekedar salah ibu atau ayah.

Sulit diajari belajar mungkin hanya satu masalah dari sekian masalah yang sedang dihadapi orang tua, terutama ibu. Yang akhirnya harus melampiaskan kekesalan pada sang buah hati.

Bagi mahasiswa atau siswa SMA/MA, mungkin materi yang disampaikan secara daring bisa dipahami. Namun bagi anak SD/MI, faktanya tidak demikian. Biasanya setelah lima menit mereka mulai mengutak-atik layar atau memperhatikan hal lain. Akhirnya orang tua harus menjelaskan materi pada anak. Hanya saja, tak semua orang tua punya kompetensi untuk menjelaskan. Jika anak tak kunjung paham, tak jarang ibu jadi emosi hingga berujung pada penyiksaan sang buah hati. Hal ini tentu tak sehat untuk suasana rumah.

Kenapa seorang ibu tega bertindak seperti itu? Sosok yang seharusnya menjaga ,mendidik dan memelihara serta menghantarkan anak menjadi generasi hebat , anak sholeh permata orang tua, ternyata berubah menjadi sosok yang sangat berbahaya. Pertanyaan besar hinggap di benak kita. Apa sebenarnya yang terjadi?

Ada beberapa faktor yang menyebabkan ibu berlaku kadar diantaranya:

1. Kelelahan mengerjakan tugas rumah tangga
2. Kebosanan karena terkungkung di lingkungan rumah
3. Jenuh akibat pergaulan terbatas
4. Kurang dihargai suami dan lingkungan
5. Pelampiasan konflik dengan suami
6. Pengaruh latar belakang keluarga ketika masa kecil.

Keterbatasan akibat kasus covid-19 yang semakin meninggi membuat para ibu harus berperan ganda. Menjadi ibu sekaligus guru, bahkan ada juga yang harus mencari nafkah untuk keluarga. Sudah lah harus mengerjakan pekerjaan rumah, mengurus anak dan suami pun harus mengajarkan anak belajar dirumah. Bagi ibu yang tidak biasa mengajarkan anak dirumah ini adalah hal yang sulit.

Kondisi ekonomi menjadi penyulut terjadinya kasus ibu tega menyakiti anaknya. Tidak jarang kita lihat, karena faktor ekonomi yang rendah membuat tingkat stres para ibu tinggi, sehingga ketika ada hal hal diluar batas kesanggupannya, mereka tanpa pikir panjang berbuat jahat diluar akal sehat, menyakiti bahkan membunuh anak mereka sendiri. Seolah tanpa sadar ketika melakukannya, setelah kejadian mereka pun menyesal, namun penyesalan tiada gunanya. Naluri ibu akhir hilang dengan mudahnya.

Kehidupan yang serba bebas, memisahkan aturan agama dari ke­hi­dupan Di alam demokrasi, sehingga bagi pasutri yang belum mempunyai pondasi dan iman yang kuat, akan mudah menyerah dengan kondisi yang ada. Standar mereka berbuat pun hanya suka atau tidak suka, bukan halal haram. Sehingga wajar akhirnya ketika sesuatu yang tidak disukai terjadi standarnya tidak lagi Allah suka atau tidak. Inilah karakter ideologi kapitalisme yang sudah mengakar pada jiwa masyarakat.

Sistem kapitalisme hanya memprioritaskan hasil instan, menomorduakan agama. Sehingga berpikir pendek jika terjadi masalah.

Islam Mengembalikan Nurani Ibu

Islam agama sekaligus aturan hidup yang sempurna. Dalam pengaturan agar fungsi seorang ibu terlaksana dengan sempurna, tidak hanya peran ibu yang diperlukan ,nmaun peran suami, ling­kungan ,bahkan negara sangat lah besar. itulah kenapa ketika Islam diterapkan maka fungsi ini dapat terlaksana tanpa beban.

Ibu adalah madrasah awal bagi anaknya. Mengasuh dan mengatur rumah tangga adalah tugasnya. Jika peran ini dikembalikan pada tempatnya, niscaya akan lahir generasi-generasi hebat dari pangkuannya.

Islam menanamkan akidah yang kuat. Mengajarkan bahwa tugas seorang ibu adalah mendidik dan mengasuh anak dengan kasih sayang bukan kebencian. Apalagi anak adalah titipan Tuhan.

Islam tidak hanya menciptakan para Ilmuan hebat, melainkan menyiapkan perempuan-perempuan perempuan agar siap menjadi Ibu dan pengatur rumah tangga ketika telah dewasa. Menyiapkan laki-laki agar siap memimpin keluarga, mencari nafkah, hingga memimpin masyarakat ketika telah dewasa. Sehingga dari mereka tercipta generasi-generasi emas.

Islam juga tidak menghilangkan peran ayah sebagai pendidik anak-anaknya. keberadaan sosok seorang ibu yang hebat akan terwujud jika didukung oleh suami dan keluarga yang juga menunaikan kewajibannya masing masing sebagai anggota keluarga , sehingga beban ibu yang memang luar biasa akan terasa ringan. Dan yang terpenting adalah peran negara sebagai pelayan rakyat, dimana negara akan memberikan ruang yang luas agar fungsi seorang ibu dapat terlaksana dengan baik. Dengan bersinerginya antara peran ibu, ayah, masyarakat dan peran negara , maka naluri seorang ibu untuk menyayangi anaknya akan kembali .

Peran negara ialah memberikan pelayanan dan pemenuhan kebutuhan masyarakat secara penuh. Pelayanan kesehatan, pendidikan dan kebutuhan lainnya secara gratis. Sehingga ibu tidak harus menjadi tulang punggung keluarga untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup.

Pemenuhan kebutuhan tersebut didapatkan dari APBN negara yakni dari hasil pengelolaan sumber daya alam yang ada.

Hal ini tidak bisa dilakukan tanpa sebuah negara. Karena dengan adanya negara, syariat Islam bisa diterapkan secara sempurna. waaAllahu A’lam

(***)