Beranda Opini Memetik Hikmah dalam Musibah

Memetik Hikmah dalam Musibah

283
0
Ilustrasi - foto istimewa kompas.com

Oleh: Juhji, Dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Merebaknya musibah di hampir segala penjuru dunia, virus corona yang tak kasat mata membuat kewalahan umat manusia, tak terkecuali di Indonesia. Segala bentuk upaya pencegahan pun dilakukan, kerumunan orang dibubarkan, protokol kesehatan ditingkatkan, sampai sekolah pun diliburkan. Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di berbagai wilayah diterapkan, bantuan sosial pun dikirimkan guna menyelamatkan kehidupan dan tatanan sosial kemasyarakatan. Semua itu dilakukan sebagai upaya pencegahan agar penyebaran virus corona dapat dikendalikan.

Sebagai insan yang tak lepas dari kesalahan, setidaknya ada beberapa hal yang harus dipikirkan dalam menyikapi musibah yang tak jelas kapan ia berkesudahan. Satu diantaranya dalam dunia persekolahan. Sekolah di masa pra pandemi dilakukan secara klasikal dimana para peserta didik belajar dalam ruang kelas yang terbatas, namun di masa pandemi ini pembelajaran di sekolah dilakukan secara virtual dalam ruang dan waktu yang luas.

Lalu pertanyaannya, bagaimana kegiatan pembelajaran di sekolah pada masa pasca pandemi?
Untuk menjawab pertanyaan ini, beberapa analisa pun dilakukan. Para pegiat pendidikan ikut menyuarakan dalam pertemuan-pertemuan seminar di webinar, bahwa akan ada perubahan yang besar dalam tatanan sosial kemasyarakatan, dimana kecanggihan teknologi di era distrupsi menjadi tantangan dan peluang bersama dalam mewujudkan “masyarakat baru”.

Perubahan itu pun tentu berdampak pada dunia pendidikan yang penuh dengan sejumlah hambatan, tantangan, dan peluang. Secara sederhana, ketiganya diuraikan sebagai berikut:

Pertama, terdapat beberapa sekolah mengalami hambatan dalam melakukan pembelajaran secara daring. Minimnya jaringan internet di daerah tertentu serta penggunaan kuota yang meroket dan “menggerutu” tentu menjadi alasan para Guru, peserta didik, dan orang tua peserta didik dalam melakukan proses pembelajaran. Hambatan ini perlu diantisipasi oleh pengambil kebijakan baik di daerah maupun di pusat, bahwa masih ada daerah-daerah yang belum terjangkau oleh jaringan internet.

Sumber daya manusia, Guru dan tenaga kependidikan juga harus dikembangkan (di-upgrade) kemampuannya secara kontinu. Selain itu, perlu adanya kerjasama antara sekolah dengan penyedia jaringan internet yang saling menguntungkan dengan promo sosial kemasyakatan agar “keluh-kesah” para orang tua peserta didik dapat diselesaikan.
Kedua, pemberlakuan pembelajaran secara daring memaksa para Guru, peserta didik, dan orang tua mereka untuk dapat beradaptasi dengan kecanggihan teknologi.

Di masa pandemi ini, para Guru memberikan proses pembelajaran melalui daring. Ada yang menggunakan berbagai macam aplikasi pembelajaran seperti: rumah belajar, meja kita, Icando, IndonesiaX, Google for Education, Kelas Pintar, Ruangguru, Zoom, Classroom, dan ada juga yang berbekal aplikasi Whatsapp Group. Semua itu menjadi tantangan para Guru dalam memberikan materi dan bahan pembelajaran yang terbaik bagi para peserta didiknya.

Ketiga, hadirnya pandemi global Covid-19 di seluruh penjuru dunia, termasuk juga di Indonesia, tak hanya dapat dipahami sebagai musibah belaka, melainkan ada hikmah yang dapat dipetik meskipun “setitik”. Bagi dunia pendidikan, hikmah yang dapat dipetik satu diantaranya adalah hadirnya kecanggihan teknologi di ruang kerja mereka. Para Guru memanfaatkan kecanggihan media teknologi dalam pembelajaran yang dilakukannya. Secara sadar, pemberlakuan kegiatan belajar di rumah saja telah mengubah pradigma dan kemampuan para Guru dalam mengadaptasi dan mengadopsi media pembelajaran.

Para Guru “dipaksa” mampu memberikan proses pembelajaran yang terbaik melalui sistem daring, meski kadang proses pembelajarannya menjadi kering karena tanpa dihadiri oleh sosok guru yang dapat digugu dan ditiru oleh peserta didik. Ini tentunya menjadi peluang dalam membangun dunia pendidikan baru, dimana konsep proses pembelajaran tak melulu dilakukan dalam ruang kelas yang kaku. Pemanfaatan kecanggihan teknologi akan menjadi sarana dalam mengubah dan menciptakan wajah pendidikan yang baru.
Semoga.

(**)