Beranda Olahraga Living Qur’an menuju Kampus Berpretasi, Humanis dan Religius

Living Qur’an menuju Kampus Berpretasi, Humanis dan Religius

1033
0
Ilustrasi - foto istimewa NU Online

Oleh : Firdaus, M.Pd.I, Dosen PAI Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi UNPAM dan Pengurus Lembaga Kajian Keagamaan UNPAM

Undang-undang nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyebutkan, bahwa dasar pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Pasal berikut, Pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Fungsi dimaksud bertujuan berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Melalui Undang-undang ini dapat kita cermati bahwa sistem pendidikan nasional tidak semata merupakan proses transfer pengetahuan kepada peserta didik, melainkan diiringi dengan transfer nilai yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. Tersirat makna bahwa sistem pendidikan kita mengandung nilai nasionalis-religius, religius-nasionalis. Diambil dari nilai utama ideologi Pancasila yang menegaskan bahwa nilai kehidupan bangsa Indonesia sejak berabad lalu merupakan wujud relasi positif dan menyatu antara nilai agama dan falsafah negara.

Berbagai Perguruan Tinggi umumnya, menurut hemat penulis menyadari pentingnya proses pendidikan yang tidak saja mengimplementasikan proses pengajaran semata (Transfer of Knowledge), tetapi juga implementasi keteladanan atau paktek nilai dalam perilaku (Transfer of Value). Oleh karena itu, beberapa perguruan Tinggi menambah lembaga-lembaga yang menunjang optimalisasi proses pendidikan tersebut.

Misalnya Universitas Pamulang (UNPAM) Tangerang Selatan Banten, membentuk Lembaga Kajian Keagamaan (disebut LKK). Lembaga ini berkembang dan memiliki beberapa program dan dinamika kegiatan yang menunjang pembentukan karakter mahasiswa, sekaligus mendorong mahasiswa dan civitas akademika mencapai visi UNPAM, yakni Menjadi universitas peringkat 40 besar pada tingkat nasional yang dilandasi oleh nilai humanis dan religius pada tahun 2024.

Secara garis besar program LKK UNPAM meng-upgrade potensi mahasiswa khususnya dan civitas akademika umumnya berupa peran kesalehan ritual dan sosial. Kombinasi ini diharapkan melahirkan kultur akademik dan alumni yang humanis dan religius.

Di antara program LKK yang terkait pada Living Qur’an adalah KUM, Kampus UNPAM Mengaji, yakni kegiatan mahasiswa yang dibimbing oleh dosen agama dalam kegiatan belajar dan mengajar Al Quran berikut mentradisikan kegiatan membaca Al Quran dengan cara tertentu, seperti khataman Al Quran secara berkala.

Tentang Living Qur’an

Living Qur’an adalah fenomena Qur’an in Everyday Life, yakni makna dan fungsi al-Qur’an yang riil dipahami dan dialami masyarakat muslim, termasuk mempraktekkannya dalam kehidupan sosial keagamaan.

Living Qur’an termasuk fenomena yang masyhur di masyarakat, misalnya penulisan bagian-bagian tertentu dari al-Qur’an di tempat-tempat tertentu, pemenggalan unit-unit al-Qur’an yang kemudian menjadi formula pengobatan, do’a-do’a dan sebagainya yang ada dalam masyarakat Muslim tertentu, tapi tidak di masyarakat Muslim lainnya.

Tentang fenomena Living Qur’an memang belum menjadi objek studi bagi ilmu-ilmu al-Qur’an konvensional selama ini. Maka tak ayal jika referensi kajian tentang ini tidak semapan studi Al Quran Konvensional.

Di Indonesia, kajian tentang living Qur’an dapat dikatakan baru. Melalui artikel Hamam Faizin tahun 2005, berjudul Al-Qur’an Sebagai Fenomena Yang Hidup (Kajian Atas Pemikiran Para Sarjana Al-Qur’an), memantik para akademisi untuk berminat mengembangkan studi ini.

Hamam Faizin kala itu terlibat dalam Forum Komunikasi Mahasiswa Tafsir Hadis se-Indonesia (FKMTHI). Pada tahun itu FKMTHI mengadakan kongres yang didahului dengan seminar. Tema seminar yang diusung adalah Living Qur’an: Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Tema Living Qur’an ini terus digemakan oleh sejumlah dosen di TH (Tafsir Hadis) UIN Sunan Kalijaga, bahkan pada 8-9 Agustus 2006, Jurusan TH Fakultas Ushuluddin UIN Suka mengadakan Workshop Metodologi Living Qur’an dan Hadis, dengan tujuan membuat metodologi yang jelas untuk kajian Living Qur’an dan Hadis, mengingat pada waktu itu belum ada satu karya yang menjelaskan metodologi living qur’an dan hadis.

Makalah-makalah yang dipresentasikan sejumlah dosen dalam workshop tersebut dan telah dibukukan setahun kemudian, dengan judul Metodologi Penelitian Living Qur’an dan Hadis (Yogyakarta: Teras, 2007).

Bagi para Dosen kenyataan ini bukanlah fakta baru, namun menjadi fakta gembira bagi kita semua bahwa dapat dikatakan tradisi umat Islam Indonesia dalam merespon kitab sucinya dengan berbagai resepsi selama ini adalah perkara yang dapat diteliti secara ilmiah dan telah ada sejak masa Rasulullah SAW.

Ihsan melalui tulisannya, Living Quran dan latar belakangnya, ihsanddragneel.blogspot.com, menyebutkan, sebenarnya gambaran secara umum bagaimana kaum muslimin merespon terhadap kitab sucinya (al-Qur’an) tergambar dengan jelas sejak zaman Rasulullah dan para sahabatnya.

Tradisi yang muncul adalah al-Qur’an dijadikan obyek hafalan (tahfiz), listening (sima`i), dan kajian tafsir di samping objek pembelajaran (sosialisasi) ke berbagai daerah dalam bentuk “majlis al-Qur’an” sehingga al-Qur’an telah tersimpan di “dada” (sudur) para sahabat. Setelah umat Islam berkembang dan mendiami di seluruh belahan dunia, respon mereka terhadap al-Qur’an semakin berkembang dan bervariatif, tak terkecuali oleh umat Islam Indonesia.

Ihsan menuturkan Fenomena yang terlihat jelas pada masyarakat Indonesia tentang ini paling tidak 19 macam. Pada tulisan ini saya mencantumkan beberapa saja sebagai gambaran, di antaranya :

Pertama, Al-Qur’an dibaca secara rutin dan diajarkan di tempat-tempat ibadah (Masjid dan Surau/Langgar/Mushalla), bahkan di rumah-rumah, sehingga menjadi acara rutin everyday, apalagi di pesantren-pesantren menjadi bacaan wajib, terutama selepas shalat maghrib. Khusus malam Jum`at yang dibaca adalah surat Yasin dan kadang ditambah surah al-Waqi`ah. Hal ini juga menjadi kegiatan LKK UNPAM melalui program KUM (Kampus UNPAM Mengaji).

Kedua, Al-Qur’an senantiasa dihafalkan, baik secara utuh ataupun sebagiannya (1 juz hingga 30 juz), meski ada juga yang hanya mehafal ayat-ayat dan surah tertentu dalam juz ‘Amma untuk kepentingan bacaan dalam shalat dan acara-acara tertentu.

Ketiga, Menjadikan potongan-potongan ayat satu ayat ataupun beberapa ayat tertentu dikutip dan dijadikan hiasan dinding rumah, masjid, makam bahkan kain kisywah ka’bah (biasanya ayat Kursy, al-Ikhlas, al-Fatihah dsb.) dalam bentuk kaligrafi dan sekarang tertulis dalam ukiran-ukiran kayu, kulit binatang, logam (kuningan, perak dan tembaga) sampai pada mozaik keramik, masing-masing memiliki karakteristik estetika masing-masing.

Keempat, Ayat-ayat al-Qur’an dibaca oleh para qari’ (pembaca professional) dalam acara-acara khusus yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa tertentu, khususnya dalam acara hajatan (pesta perkawinan, khitan, dan aqiqah) atau peringantan hari-hari besar Islam (tahun baru 1 Muharram, Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj dsb.)

Kelima, Al-Qur’an dilombakan dalam bentuk Tilawah dan Tahfidz al-Qur’an dalam even-even insidental maupun rutin berskala lokal, nasional bahkan international. Dan lain-lain.

Living Qur’an dan Prestasi Akademik
Meski dalam kasus yang berbeda, hemat penulis memiliki susbstansi yang sama, bahwa efek positif dari living Qur’an ini dapat kita buktikan secara ilmiah melalui hasil Penelitian Masaru Emoto, peneliti asal Jepang, tentang air.

Masaru meneliti tentang air. Hasil penelitiannya dituangkan ke dalam buku yang telah diterjemahkan dengan judul; The True Power of Water : Hikmah Air dalam Olah Jiwa. Diterbitkan oleh MQ Publishing 2006. Melalu buku ini Masaru Emoto memperkuat tesis tentang adanya pengaruh air terhadap tubuh manusia, demikian pengaruh doa terhadap kualitas air.

Ia menjelaskan bahwa bunyi tertentu atau keadaaan lingkungan tertentu dapat mempengaruhi kualitas air. Melalui laboratorium dapat dilihat akan energi air melalui bentuk kristal air. Bahwa air yang sering diperdengarkan bunyi positif seperti kata-kata positif memberi pengaruh kepada bentuk kristal air, dari Kristal tingkat rendah (negative) kepada Kristal air yang lebih tinggi (positif). Demikian pula air yang dibaca dengan bacaan doa dapat merubah kristal air yang semula biasa menjadi lebih baik dan mengandung kadar yang baik bagi kesehatan.

Hal ini berlaku bagi manusia yang memiliki kandungan air lebih banyak dalam tubuh. Menurut keterangan kesehatan bahwa 70% tubuh manusia adalah air. Sehingga air di dalam tubuh ini pun dapat dipengaruhi melalui bunyi dan lingkungan sekitar. Oleh karena itu, ucapan positif pada seseorang ikut mempengaruhi sikap positif seseorang. Hal ini tentu sudah banyak penelitian yang membuktikan.

Kembali kepada living Qur’an. Di antara bentuk living Qur’an adalah tradisi membaca Al Quran. Bila dianalogikan kepada hasil penelitian Masaru di atas, maka bacaan Al Qur’an memiliki efek positif pada diri manusia.

Hubungan sederhana ini menjadi kesimpulan sederhana penulis akan korelasi positif antara KUM, kegiatan belajar dan mengajar Al Qur’an, berikut tradisi khataman Al Qur’an membawa pengaruh positif terhadap mahasiswa UNPAM menjadi sarjana berprestasi yang humanis dan religius. Semoga tradisi baik ini terus berkembang dan menjadi instrument positif bagi kekayaan kultur akademik Perguruan Tinggi di Indonesia.

(**)