Beranda Opini Membumikan Sastra Bagi Generasi Milenial

Membumikan Sastra Bagi Generasi Milenial

872
0
Perpustakaan Kota Tangerang - (Foto Alwan/BantenNews.co.id)

Oleh : Dinda Nur Anisa, Mahasiswi Sastra Indonesia Universitas Pamulang

Bahasa Indonesia memiliki peranan penting dalam aspek komunikasi sehari-hari warga negara Indonesia. Sering kali dengan alasan mempermudah komunikasi, tidak sedikit orang menggunakan bahasa Indonesia dengan tidak baik dan benar. Karena itu, perlu adanya kepatuhan dalam penggunaan bahasa Indonesia, agar pertahanan bahasa Indonesia tetap terjaga, mengingat banyak pengaruh dikarenakan globalisasi.

Peranan penting lainnya, bahasa Indonesia juga sebagai jati diri atau identitas bangsa. Fungsi bahasa Indonesia yaitu merupakan lambang kebangsaan nasional dan pemersatu berbagai lapisan masyarakat yang berbeda latar belakang sosial budaya. Seiring dengan perkembangan zaman bahasa Indonesia mengalami perkembangan, baik kearah positif maupun negatif. Keadaan yang ada sekarang adalah fungsi bahasa Indonesia mulai digantikan atau tergeser dikarenakan sikap yang menyakini bahwa akan terlihat modern, dan terpelajar jika menggunakan istilah atau bahasa dalam berkomunikasi pada pergaulan sehari-hari. Hal tersebut berdampak pada eksistensi bahasa Indonesia.



Generasi milenial ialah masa adanya peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media dan teknologi digital seperti sekarang ini. Generasi yang hidup di era milenial ini memiliki karakter yang khas. Sejak di bangku sekolah sudah menggunakan dan menjadikan internet sebagai kebutuhan pokok, selalu terhubung dengan internet, supaya dapat mengakses hal-hal baru atau sekedar bersosialisasi dalam media sosial. Generasi saat ini disebut dengan generasi milenial, yaitu generasi yang lahir antara tahun 1980 sampai 2000-an. Pemakaian bahasa generasi milenial terhadap bahasa Indonesia menjadi cerminan masa depan bahasa Indonesia.

Zaman sekarang generasi milenial memanfaatkan media sosial sebagai bahan mengekspresikan diri. Bahkan untuk menjadi terkenal saja sekarang tidak susah, hanya dengan men-cover lagu lewat YouTube orang bisa terkenal, atau sering memposting kalimat-kalimat motivasi di akun instagram, ada pula musikalisasi puisi yaitu dengan memadukan antara musik dan puisi, bahkan kini banyak digemari. Kini remaja mulai berlomba-lomba agar karyanya bisa dilihat dan dibaca oleh banyak orang, bahkan membuka lebar-lebar bentuk apresiasi dan kritik saran dari penonton.

Untuk meminimalisasi generasi milenial yang belum menyukai sastra kini harus diatasi melalui pendekatan untuk menumbuhkan minat baca. Menurut Seno Gumira Ajidarma, ada tiga mitos sastra yang harus dihancurkan, Menurutnya, ini yang membuat sastra itu dijauhi dan membuat alergi (Saputra, 2018). Yang pertama, yakni sastra itu curhat. Kedua, bahasa sastrawan itu mendayu-dayu, rumit, asing didengar, sehingga membuat sebagian pembaca yang jarang membaca karya sastra merasa bahwa sastra bukan bagian dari bacaannya. Ketiga, sastra itu berisi pedoman hidup, petuah-petuah, nasihat-nasihat.

Adanya media sosial ini mempermudah para generasi millenial dalam mengunggah karya-karyanya di media sosial. Tapi, tidak semua anak millenial menyukai sastra. Mereka yang tidak suka menganggap karya sastra sebagai kata-kata yang lebay atau yang lainya. Fakta Generasi Sastra Milenial itu dikemukakan untuk sekurang-kurangnya meyakinkan diri sendiri bahwa terbukti dimensi sastra tidak bisa dihilangkan, dibuang atau ditiadakan dari makhluk manusia.
Sastra itu semacam energi batin, yang berposisi hakiki, niscaya atau sejati, di dalam diri manusia. Sehingga tak mungkin terjadi manusia jika tanpa sastra. Tak mungkin manusia menjadi manusia tanpa sastra. Apabila sastra direduksi dari keutuhan manusia, akan berlangsung ketidakseimbangan yang serius.

Generasi milenial ini tidak tumbuh dari gesekan politik sastra di masa sebelumnya, tetapi dari sebuah trend sastra sebagai gaya hidup. Sastra bukan sesuatu yang ruwet dan sakral, tetapi sesuatu yang asyik-asyik saja, yang juga menyerap anasir budaya populer. Kondisi ini juga berdampak pula pada cara pandang mereka tentang sastra Indonesia secara keseluruhan. Mereka tidak lagi berurusan dengan ada atau tidaknya pusat kesenian atau pusat legitimasi sastra.

Mereka mungkin tahu apa itu politik atau ideologi sastra di Indonesia, tapi tidak menjadikan semua itu sebagai soal penting. Bacaan dan pergaulan mereka membuat pusat itu meluas ke mana-mana, hingga ke seluruh dunia.
Manusia adalah getaran sejati di dalam jiwanya, di mana pengalaman sastra bisa membantunya untuk berada padanya. Manusia adalah resonansi gelombang Tuhan Yang Maha abadi, yang dibuntu dan ditimbun oleh segala jenis peradaban materialisme, namun bisa ditembus dengan lembutnya pengalaman sastra.

Manusia menempuh rentang jarak antara karya sastra dengan pengalaman jiwa sastra. Sastra Indonesia begitu kaya dan luas, mengingat Indonesia memiliki bermacam-macam budaya. Dengan sastra modern, kita bisa memperkenalkan dan membumikan rentetan sastra kepada para generasi milenial dengan sastra berbasis digital.

(***)