Beranda Peristiwa Listrik Ratusan Rumah di Pontang Padam Akibat Kabel Tersangkut Truk Kontainer

Listrik Ratusan Rumah di Pontang Padam Akibat Kabel Tersangkut Truk Kontainer

Warga Pontang saat memprotes truk kontainer yang merusak jaringan listrik warga. (Istimewa)

KAB. SERANG – Sedikitnya 600 rumah di Desa Singarajan, Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang, kehilangan aliran listrik setelah sebuah tiang listrik roboh pada, Sabtu (5/9/2026), sekitar pukul 04.55 WIB dini hari.

Warga menduga iring-iringan mobil kontainer bermuatan peti kemas menyenggol kabel listrik hingga tiang roboh. Kendaraan besar itu melintas dari arah Ciruas menuju Pontang.

Sebelum listrik padam, warga mendengar tiga kali suara ledakan dari jaringan listrik. Warga kemudian menemukan tiang listrik roboh dan menimpa rumah salah seorang warga.

Warga Singarajan, Kholid Miqdar mengatakan, suara ledakan terdengar beruntun sebelum seluruh wilayah RT 1, 2, dan 3 kehilangan listrik.

“Jadi ceritanya begini, pada Sabtu sekitar pukul 04.55 WIB, saya melihat kejadian tiba-tiba ada suara ledakan beruntun tiga kali ledakan dan akhirnya kemudian listrik padam seluruh Desa Singarajan, RT 1, 2, dan 3, Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang,” kata Kholid.

Menurut Kholid, sedikitnya empat kontainer diduga terkait insiden tersebut. Ia menyebut kendaraan itu membawa muatan untuk proyek sejumlah perusahaan di wilayah Sawah Luhur, Kota Serang.

Kholid juga mempertanyakan jalur yang digunakan kendaraan proyek. Menurutnya, kendaraan kontainer seharusnya keluar melalui Gerbang Tol Serang Timur lalu mengambil jalur Kasemen, bukan keluar melalui Tol Ciujung, Kragilan, kemudian melintasi Ciruas-Pontang.

“Kenapa misalnya tidak dari exit Tol Serang Timur kemudian langsung ke jalur Kasemen, Kota Serang? Ini malah justru mengambil jalur exit Tol Ciujung, Kragilan, terus mengambil jalur Ciruas-Pontang, Kabupaten Serang. Akhirnya kejadian seperti ini, menyabet kabel, kemudian yang dirugikan adalah masyarakat,” ujarnya.

Pemadaman listrik kini mengancam aktivitas warga. Kholid mendapat informasi dari PLN bahwa pemulihan jaringan dapat memakan waktu hingga sekitar satu minggu.

Baca Juga :  Demo Tolak Kenaikan BBM hingga Omnibus Law, Buruh Kabupaten Serang : BSU Bukan Solusi, Ini Dagelan!

Kondisi itu berpotensi mengganggu kebutuhan dasar warga. Pompa air tidak dapat bekerja, peternakan bergantung pada listrik, sementara pelaku UMKM juga kesulitan menjalankan peralatan produksi.

“Bagaimana nanti masyarakat yang mandi menggunakan mesin pompa air yang pakai listrik, bagaimana nanti masyarakat yang punya peternakan yang bergantung dengan listrik, terus kemudian UMKM yang bikin bumbu menggunakan mesin blender pakai listrik? Ini otomatis tidak bisa dagang,” tegasnya.

Warga juga menyoroti kerugian akibat terhentinya aktivitas sehari-hari.

“Persoalan ganti rugi mungkin bisa ditangani, hitung-hitungan ekonominya. Tapi bagaimana dengan kerugian tentang kebutuhan kehidupan sehari-hari masyarakat, seperti memasak nasi juga harus pakai listrik. Bagaimana kalau tidak ada listrik? Masa iya masyarakat harus mencari kayu untuk memasak seperti zaman dulu,” tuturnya.

Usai kejadian, warga menahan empat mobil kontainer yang mereka duga terkait proyek Sawah Luhur di depan Kantor Kecamatan Pontang. Warga juga memegang kunci kendaraan tersebut sambil menunggu kesepakatan mengenai ganti rugi.

Kholid meminta pihak perusahaan bertanggung jawab terhadap dampak yang warga rasakan di tiga RT Desa Singarajan.

“Kalau belum ada kesepakatan mungkin harus dinegosiasikan. Ini bicara ganti ruginya. Artinya, pihak perusahaan harus bertanggung jawab kepada tiga RT masyarakat Desa Singarajan,” katanya.

Warga juga meminta pemerintah mengevaluasi jalur kendaraan proyek agar kontainer tidak lagi melintasi jalur Ciruas-Pontang.

“Mobil kontainer besar jangan lagi lewat jalur Ciruas-Pontang,” tegas Kholid.

Tak hanya soal insiden listrik, Kholid meminta pemerintah mengevaluasi dampak pembangunan proyek di Sawah Luhur terhadap masyarakat sekitar. Ia menilai pemerintah harus mempertimbangkan tata ruang serta daya dukung dan daya tampung lingkungan sebelum mengembangkan kawasan industri.

“Kalau mau berbicara investasi itu harus bicara dulu tata ruangnya. Jangan juga tata ruang diubah sembarangan, tidak memikirkan daya dukung, daya tampung, juga tidak memikirkan misalnya wilayah tata ruangnya hijau atau merah. Masa tata ruang yang sifatnya pertanian dan nelayan harus diubah menjadi tata ruang industri? Kerugiannya ke mana-mana,” jelasnya.

Baca Juga :  Belasan Warga Saketi Pandeglang Keracunan Massal

Ia meminta Gubernur Banten, Bupati Serang, dan Wali Kota Serang ikut mengevaluasi dampak aktivitas proyek terhadap masyarakat.

Sementara itu, Kapolsek Pontang AKP Mukhlas membenarkan kejadian tersebut. Polisi mengamankan situasi dan memfasilitasi mediasi antara warga dengan pihak terkait.

“Sudah kita amankan. Ini lagi dilakukan mediasi pergantian rugi akibat kejadian tersebut,” kata Mukhlas.

Penulis : Rasyid
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd