Oleh: Abdul Jabar *
Indonesia menjadi negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Oleh karena itu, tidak sedikit dari penduduknya yang pernah mengenyam pendidikan agama di pesantren atau yang dinamakan dengan santri. Dengan jumlah pesantren di Indonesia mencapai 42.391 unit per September 2025, sedangkan jumlah santri aktif tercatat 1,61 juta per Oktober 2025, dengan Jawa Barat memiliki jumlah pesantren terbanyak.
Ketika mendengar kata santri, banyak orang yang membayangkan bahwa ia adalah sosok anak muda bersarung, memakai peci, membawa kitab, dan berlalu lalang di area pesantren. Bayangan tersebut tidak salah, tapi makna santri yang sebenarnya lebih luas dari sekadar penampilan luarnya.
Santri merupakan pribadi yang sedang membentuk diri: akhlak, ibadah, intelektual, hingga tanggung jawab sosial juga santri tidak hanya dididik menjadi seorang ahli agama, tapi juga calon pemimpin, politisi, birokrasi, pengusaha dan dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Santri, dengan tradisi keilmuan dan militansi keagamaannya, menjadi aktor penting dalam mengawal dinamika kebangsaan sejak masa kolonial hingga era modern. Santri merepresentasikan pertemuan antara tradisi pesantren yang berakar pada nilai-nilai Islam dengan realitas sosial-politik bangsa yang terus berkembang.
Sejarah mencatat bagaimana kaum santri memiliki jasa besar terhadap bangsa ini. Peristiwa 10 November 1945 merupakan salah satu gebrakan santri yang paling fenomenal di Indonesia tapi jarang diketahui oleh masyarakat, yaitu ketika mendorong pejuang untuk memberi perlawanan sengit terhadap penjajah pada peristiwa pertempuran di Surabaya. “Seorang santri harus bernapaskan nasionalisme dan bercorak warna merah putih, Karena leluhur mereka sudah memperjuangkan kemerdekaan.
Begitu pula sejarah membuktikan bahwa santri, tidak hanya membicarakan soal pendidikan dan transmisi ilmu agama, melainkan juga keterlibatan aktif dalam panggung politik nasional. Indonesia pernah memiliki Presiden dan wakil Presiden yang berlatarbelakang santri.
KH. Abdurrahman Wahid dan KH. Ma’ruf Amien menjadi simbol paling nyata santri yang naik ke panggung kekuasaan nasional. Dari ruang pesantren, ia menapaki karier politik hingga menjadi Presiden dan wakil Presiden Republik Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa politik santri bukanlah mitos, melainkan realitas sejarah yang mengantarkan putra pesantren memimpin bangsa. Kedua tokoh btersebut membuktikan bahwa santri mampu mengartikulasikan nilai-nilai keagamaan menjadi visi politik kebangsaan yang universal.
Selain itu pula banyak tokoh pesantren dan alumni santri yang menjadi Menteri, Gubernur, Bupati/Walikota, anggota DPR RI /DPRD, elite partai politik, bahkan pemerintahan. Mereka membawa spirit moderasi Islam dan etika kepemimpinan yang berakar dari nilai pesantren. Keterlibatan santri dalam birokrasi negara menjadi bukti bahwa pesantren bukan lembaga yang terisolasi, melainkan institusi yang terus bergerak mengikuti perkembangan zaman.
Namun, keterlibatan santri dalam kekuasaaan juga menghadirkan dilema. Di satu sisi, ia menjadi ruang aktualisasi untuk memperjuangkan aspirasi umat. Di sisi lain, risiko politisasi agama dan kooptasi pesantren oleh kepentingan politik praktis selalu mengintai. Santri harus menjaga jarak agar tidak kehilangan independensi moral yang menjadi kekuatan utamanya.
Di tengah maraknya politik transaksional, santri diharapkan tetap menjadi penjaga moral bangsa. Kehadiran santri dalam politik harus menjadi penyeimbang, bukan sekadar pelengkap. Politik santri yang ideal adalah politik yang berpihak pada rakyat kecil, melawan ketidakadilan, dan menjaga pluralitas Indonesia.
Dalam konteks kontemporer, santri juga dituntut untuk mampu merespons tantangan global. Isu-isu seperti demokrasi, HAM, lingkungan, dan digitalisasi membutuhkan perspektif politik yang arif dan bijaksana. Pesantren dengan basis keilmuan dan nilai moderasinya dapat menawarkan solusi politik yang tidak hanya lokal, tetapi juga relevan di tingkat global.
Dengan demikian, gerakan santri bukan sekadar catatan sejarah, tetapi juga proyek masa depan. Santri harus terus mengawal demokrasi, menegakkan keadilan, dan menjaga persatuan bangsa. Di tengah dinamika politik nasional yang kerap penuh intrik, politik santri harus tampil sebagai wajah politik yang ramah, santun, dan berlandaskan nilai kemanusiaan universal.
Santri: Tantangan dan Perubahan
Dahulu kala, santri memanglah hanya terfokus mengenai perihal agama saja. Selain itu, penyaluran kepada masyarakat masih dengan ciri khas metode tradisionalnya. Sehingga timbullah suatu pandangan masyarakat mengenai santri dimana image yang terkenal terhadap santri adalah bahwasannya santri hanya mengurusi agama saja. Namun, tidak memberikan pengaruh dan kontribusi dalam bidang politik, ekonomi, dan teknologi. Jika hal itu tetap dipertahankan, maka santri akan kalah dan tertinggal.
Hari ini kehidupan santri tidak lagi terbatas pada kajian agama dan kegiatan keagamaan, namun telah merambah ke berbagai aspek kehidupan lainnya, mengikuti arus perkembangan zaman. Santri tidak lagi terisolasi dalam lingkungan pesantren. Mereka memiliki akses ke teknologi informasi dan komunikasi yang memungkinkan mereka untuk terhubung dengan dunia luar, tanpa meninggalkan esensi dan nilai-nilai keislaman yang mereka pelajari. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan santri telah bertransformasi, menggabungkan antara tradisi dan modernitas dengan harmonis.
Selain itu, santri masa kini juga memiliki peran penting dalam mempromosikan keberagaman dan toleransi dalam masyarakat. Sebagai agen perubahan, mereka memainkan peran aktif dalam membangun jembatan antar kelompok dan memperkuat harmoni sosial di tengah masyarakat yang multikultural.
Santri sebagai generasi muda yang memiliki kecintaan terhadap ilmu pengetahuan, baik agama maupun umum, seringkali menjadi motor penggerak dalam perubahan dan kemajuan di masyarakat. Dengan pengetahuan yang mereka miliki, mereka mampu memberikan kontribusi positif dalam pembangunan dan pemberdayaan masyarakat di berbagai daerah.
Di sisi lain, tantangan yang dihadapi oleh santri masa kini juga tidak sedikit. Era digitalisasi membawa dampak positif dan negatif bagi mereka. Sementara teknologi memberikan akses informasi yang lebih cepat dan luas, namun juga menimbulkan tantangan dalam menjaga akhlak dan moralitas di tengah arus informasi yang tidak terkontrol. Tekanan dari dunia luar yang serba cepat dan kompetitif, kadang membuat mereka harus berjuang keras untuk tetap menjaga identitas dan jati dirinya sebagai santri. Bagaimana mereka dapat menjaga keseimbangan antara kebutuhan dunia modern dengan nilai-nilai tradisi yang mereka junjung tinggi menjadi salah satu refleksi dari kehidupan santri masa kini.
Santri juga dituntut piawai dalam beragama juga harus memiliki bekal yang cukup untuk dapat bersinergi dengan globalisasi. Adapun bekal penting santri di era globalisasi ini, diantaranya pertama, ialah keterampilan digital. Kecakapan digital itu menjadi hal penting berkaitan dengan kondisi saat ini yakni munculnya ekosistem digital, dakwah millennial, dan konten populer. Keterampilan digital atau biasa dikenal dengan digital skills merupakan suatu kemampuan seseorang dalam memahami, mengoperasikan, menggunakan, dan memanfaatkan teknologi untuk mengakses dan mengelola informasi.
Kedua, di era milenial ini santri harus bisa berdiri di atas keteguhan dan keistiqomahan dalam memegang prinsip dan karakteristik santri. Maraknya kenakalan remaja, kasus kriminal, dan merosotnya moral para pelajar di Indonesia yang diakibatkan kurangnya pendidikan berbasis karakter seharusnya tidak dialami oleh santri. Karena seperti yang kita ketahui sudah banyak masalah di zaman sekarang ini baik sosial maupun pribadi masyarakat itu sendiri. Jadi, santri harus dapat bangkit menjadi agent of change (gerakan perubahan) bagi negara. Guna agar negara dapat lebih maju dan juga santri milenial dapat lebih semangat di era digital ini.
Ketiga, santri harus memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi dan daya nalar kritis dalam menyikapi setiap persoalan yang ada. Dalam konteks ini, keilmuan santri harus mampu menyesuaikan dengan keadaan zaman, sehingga tidak lagi dibatasi dengan dikotomi antara keilmuan dunia dan keilmuan akhirat. Santri harus bisa menguasai berbagai bidang keilmuan yang mampu mengantarkan kemenangan di dunia dan akhirat.
Sebagai penutup, kehidupan santri masa kini adalah cerminan dari dinamika kehidupan masyarakat yang terus berubah. Mereka adalah generasi yang cerdas, kritis, dan memiliki komitmen tinggi terhadap nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Oleh karena itu, kehadiran dan kontribusi mereka dalam masyarakat tidak boleh diabaikan, melainkan harus dihargai dan didukung untuk mewujudkan masyarakat yang lebih harmonis dan beradab.
Momentum menjelang hari santri nasional 22 Oktober 2025 tentu bukan sekadar romantisme sejarah, tetapi hadirnya hari santri dapat menjadi “cambuk” bagimana santri dapat “mengejawantahkan” diri dalam peran sosial yang dinamis dan mampu beradaptasi dengan lingkungan yang selalu berkembang, sehingga dapat terwujud tatanan individu masyarakat yang jujur, tanggung jawab, mandiri, sederhana, gotong-royong, mengutakan kepentingan umum, dan lain sebagainya. Selamat hari santri, teladan karaktermu adalah harapan untuk membangun peradaban baru Indonesia di era disruptif, abad millenial, yang lebih bermartabat, berdaulat, adil, makmur dan sejahtera.
*Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Kemandirian Nusantara Kabupaten Pandeglang juga Pengurus CNU Kabupaten Lebak Banten.
