Beranda Opini Kesadaran Palsu dan Kesadaran Kelas dalam Kumpulan Cerpen Antikorupsi “Greed Files 30” 

Kesadaran Palsu dan Kesadaran Kelas dalam Kumpulan Cerpen Antikorupsi “Greed Files 30” 

Ilustrasi - foto istimewa tempo.co

Oleh Firman Venayaksa

Dalam cara pandang kritik Marxis, sastra bukan semata-mata karya seni. Sastra adalah cermin sosial pada zamannya. Maka ketika membicarakan sastra, fokus dari kritik Marxis berada pada pertautan antara teks dengan problematika sosio-historisnya. Pandangan Marxis menolak bahwa karya sastra hanya mengandalkan imajinasi penulisnya. Sebagai bagian dari masyarakat, penulis yang melahirkan karya sastra tidak bisa menghindar dari suasana sosial. Bahkan sastra dianggap sebagai senjata pertarungan kelas.

Sastra memiliki kedudukan yang setara seperti halnya hukum, politik, filsafat bahkan agama yaitu bagian dari superstruktur. Begitulah pandangan kritik Marxis dalam menempatkan sastra. Maka menjadi wajar jika buku kumpulan cerpen ini dikomodifikasi sebagai alat untuk penyadaran bagi masyarakat agar menjauhkan diri dari perilaku koruptif. Setidaknya itulah niat baik dari 34 karya yang terhimpun dalam kumpulan cerpen “Greed Files” ini. Tema-tema antikorupsi menyeruak dengan pelbagai problemanya.

Setelah suntuk membaca karya-karya di dalam buku ini, awalnya begitu banyak urusan struktur dan logika sastra yang hendak saya lontarkan. Hampir setengahnya mendekati kegagalan. Khotbah dan nasihat serta kutipan tentang definisi korupsi begitu menyeruak. Bukankah kekuatan sastra adalah bercerita?

Selain itu ada juga yang belum memahami pengambilan sudut pandang cerita dan konsekuensinya. Ia memakai sudut pandang orang pertama tunggal, tetapi mampu menjelaskan isi hati tokoh lainnya. Beberapa cerpen lagi, masih terjebak pada urusan “curhat” “kemarahan yang tidak terkontrol” dan “gumaman” yang tidak tuntas tentang diri penulis.

Namun dari sekian banyak problematika struktur dan logika cerita tersebut, saya menurunkan ego saya sebagai pembaca setelah menilik latar belakang penulis yang multidimensi. Selain sastrawan, ada yang masih di bangku SMP, SMA, guru, pekerja partikelir, dan seterusnya. Belum lagi sebagian di antara para penulis memang mengaku sedang belajar menulis bahkan healing. Dari sisi kampanye antikorupsi, mungkin inilah yang justru hendak dibidik oleh penerbit. Dengan pelbagai latar belakang yang berbeda itu, begitu banyak warna yang disajikan dalam buku ini. Maka pendekatan di luar struktur nampaknya lebih memiliki nilai yang jauh lebih komprehensif dibandingkan meninjau unsur-unsur instrinsiknya.

Baca Juga :  Mantan Dirut PT SBM Bayar Rp140 Juta agar Izin Tambang Segera Rampung

Kesadaran Palsu dan Kesadaran Kelas
Seperti yang sudah kita ketahui bahwa kritik Marxis memilah dua oposisi biner dalam konstruk sosial yaitu borjuis (kaum penguasa) dan proletar (kaum tertindas). Untuk mencengkram kekuasaannya, kaum penguasa mengkonstruksi kesadaran palsu secara sistematis melalui superstruktur masyarakat, sampai pada tahap kaum tertindas gagal melihat bahwa diri mereka sedang ditindas dan dieksploitasi. Fitrah hidup, kebenaran mutlak, “memang harus begitu”, merupakan ketidakberdayaan kaum tertindas yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari. Kemiskinan dianggap karena kegagalan individu, bukan melihat dari eskalasi besar yang sengaja dibentuk oleh kaum penguasa.

Untuk melawan kesadaran palsu itu, kritik Marxis memberikan jawaban yaitu kesadaran kelas yang memberikan penyadaran posisi kolektif sebagai kekuatan dalam struktur Masyarakat. Dari 34 karya dalam buku ini, mayoritas membicarakan hal itu.

Cermin situasi perlawanan ini dikonstruksi dengan cukup menarik dalam cerpen “Pak Guru Surya” karya Qizink La Aziva. Kesadaran kolektif para siswa yang melakukan aksi terkait korupsi perpustakaan sekolah oleh Kepala Sekolahnya dipantik oleh diskusi tentang korupsi antara Guru Surya dengan para siswanya. Kendati Guru Surya diusir dari sekolahnya, potret itu memperlihatkan betapa kesadaran kolektif bisa mengancam kaum penguasa walaupun dalam struktur yang kecil.

Hal itu juga terjadi dalam cerpen “Konveksi” karya Gol A Gong. Cerpen ini menceritakan tentang seorang ASN Bernama Fitron yang melakukan perlawanan kepada atasannya terkait dengan pengadaan seragam. Umum dipahami bahwa dalam struktur birokrasi di Indonesia yang feodal, atasan dan bawahan adalah konstruk sosial yang sangat sakral. Atasan berhak memerintah dan bawahan tidak memiliki previllage untuk melawan. Pada cerpen ini keberanian melakukan “perlawanan kelas” diperlihatkan walaupun konsekuensi dari perlawanan tersebut akan membayang-bayangi ASN muda tersebut.

Baca Juga :  Pilgub Banten 2024 dan Harapan untuk Masa Depan

Cerpen “Cahaya Kejujuran di Tepian Desa” karya Purwanto, memiliki kesamaaan kesadaran seperti cerpen Gol A Gong. Tokoh Aris berani menolak sogokan terkait dengan pembangunan di desanya. Kendati ada perlawanan dan fitnah, Aris tetap memegang prinsipnya bahkan melakukan perlawanan dengan mengumpulkan semua bukti bahwa apa yang dilakukannya justru untuk kebaikan masyarakat.

Umumnya, cerpen-cerpen dengan tema “heroik” dan “kejujuran berbuah indah” kerap muncul dan mungkin disinilah stereotip benang merah dari buku ini. Namun ada satu cerpen yang cukup mencuri perhatian. Alih-alih memunculkan perlawanan dan heroisme, cerpen satire berjudul “Makan Arang” karya Qaiser Gentza Abyaz memakai tokoh yang berbanding terbalik sebagai tokoh utamanya. Arlo tokohnya. Ia berkarakter pendiam yang menjebakkan diri dalam kesadaran palsu sedalam-dalamnya.

“Setiap orang harus makan arang sedikit agar apinya tetap menyala bukan?” (hal.179)

Ketika kecil, ia menghilangkan empati membantu temannya yang kelaparan. Ketika SMA ia tidak bisa melawan kepalsuan. Masuk dunia kerja, ia menjadi tukang pemalsu tandatangan proyek. Ia akhirnya mati dalam sunyi.

Dalam kritik Marxis, tokoh Arlo mengalami alienasi (keterasingan). Ini adalah konsep krusial yang menjelaskan bagaimana sistem kapitalisme merenggut kemanusiaan para pekerja. Marxisme percaya bahwa hakikat manusia adalah makhluk yang berpikir, kreatif dan memiliki tujuan sadar dalam bekerja. Ketika kerja hanya direduksi hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis dasar, manusia kehilangan percikan kemanusiaannya. Disinilah Cerpen “Makan Arang” mencerminkan situasi tersebut. Arlo diposisikan sebagai manusia yang takberdaya menghadapi dominasi kesadaran palsu akibat dari keenganannya untuk melakukan perlawanan.

Secara umum, cerpen-cerpen di dalam buku ini memiliki warna cerita yang cukup semarak kendati dengan tema yang senada. Sebagai bagian dari kesadaran kolektif agar perilaku koruptif di Indonesia bisa kita pelajari dan menjadi dokumentasi sosial, buku ini tetap penting sebagai ikhtiar penyadaran.

Baca Juga :  Pemerintah Kolaborasi dengan Platform Digital Berantas Judol

*) Disampaikan pada diskusi buku di Kedai Searah Rumah Dunia, Serang 4 Juli 2026

**) Dosen Untirta.