Beranda Opini Eksotika Gunung Pinang, Menjawab Tantangan Pariwisata Banten

Eksotika Gunung Pinang, Menjawab Tantangan Pariwisata Banten

730
0
Puncak Pinang, pemandangan di wisata alam Gunung Pinang

Apakah kita sadari bahwa setiap hari hutan di wilayah Indonesia semakin berkurang?

Menilik data-data kebakaran hutan dan lahan global di beberapa tahun terakhir, tampaknya seluruh masyarakat dunia, para pakar, maupun lembaga multinasional, perlu berpikir ekstra untuk mencari solusi jangka panjang dan fundamental mengatasi kebakaran hutan dan lahan. Fenomena kebakaran hutan dan lahan terjadi di penjuru dunia juga terjadi di Indonesia.

Dari data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI tahun 2015 melansir, kebakaran hutan dan lahan bahkan terjadi pada hampir seluruh wilayah di Indonesia. Fenomena yang paling menggemparkan adalah bencana asap akibat kebakaran hutan seluas 612 hektare di Sumatera Selatan. Dan asap dari kebakaran hutan di Kalimantan bahkan sempat singgah dan mengusik kenyamanan negara tetangga.

Rentetan peristiwa tersebut menjadikan sebuah pertimbangan Perum Perhutani, selaku lembaga pengelola Gunung Pinang dengan mengajak masyarakat di sekitar Desa Pejaten, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang untuk lebih menghidupkan lagi gunung dengan ketinggian 300 meter di atas permukaan laut itu sebagai salah satu pusat wisata alam kebanggaan. Sekaligus menjawab tantangan atas perkembangan dunia kepariwisataan di Banten.

Bukan rahasia umum, Banten sudah identik dengan laut indahnya. Kemolekan pantai di sepanjang Anyer hingga Banten Selatan sudah berpengaruh besar dalam dunia pariwisata di tanah para jawara ini. Padahal tak cuma itu, Banten juga memiliki banyak daerah wisata dengan daya tariknya masing-masing. Termasuk wisata Gunung Pinang yang kini telah menjadi pilihan alternatif guna melepas kepenatan. Melihat banyaknya wisatawan yang datang ke Banten, Perum Perhutani dan masyarakat sekitar mengelola Gunung Pinang yang awalnya dikenal gunung mati menjadi gunung yang memiliki nilai lebih.

Menjaga dan mengelola Gunung Pinang bukan semata karena memiliki kekayaan alam saja, namun Gunung Pinang merupakan sebuah objek wisata yang memiliki nilai budaya, sejarah hingga mitos berkembang yang menyatakan bahwa cerita dibalik Gunung Pinang hampir sama dengan cerita rakyat kebanyakan.

Karena adanya mitos-mitos yang berkembang itulah, nilai jual Gunung Pinang bukan hanya sekedar keindahan alam tetapi juga memiliki sejarah dan budaya leluhur yang harus selalu terjaga. Gunung seluas 222 hektare ini menyajikan pemandangan yang begitu menakjubkan setelah dikelola masyarakat sekitar.

Menurut peraturan Pemerintah nomor 67 tahun 1990 yang membahas tentang fasilitas yang harus mendukung suatu objek wisata, untuk memenuhi Peraturan Pemerintah tersebut kini Gunung Pinang memiliki fasilitas pendukung seperti toilet yang bersih, mushola, tempat makan, bahkan aula yang dapat digunakan untuk berbagai kepentingan. Kini Perum Perhutani bahkan menawarkan program bagi pemilik modal untuk bersama mengelola dan membuat wahana-wahana baru wisata alam Gunung Pinang.

Rumah Hobbit, wahana swafoto lainnya di Gunung Pinang

“Bukan hanya Perum Perhutani saja yang memiliki hak untuk menjaga dan mengelola wisata alam Gunung Pinang, namun kita semua sebagai masyarakat Banten memiliki hak untuk ikut mengelola,” ucap Endang Kosasih, Kepala Tata Usaha Wisata Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BPKH) Perhutani Serang.

Tak heran, kini wisata alam Gunung Pinang sudah memiliki sejumlah spot untuk diabaikan dalam bingkai foto yang diharapkan dapat meramaikan antusiasme masyarakat yang haus akan wisata alam. Bukan hanya wahana buatan saja, wisata alam Gunung Pinang pula menyajikan pemandangan eksotik nan mempesona mata dari ketinggian puncaknya, hamparan hijau pepohonan hingga lautan luas di Teluk Banten.

“Enak tempatnya. Suasananya santai sejuk, bisa melihat pemandangan alam dari ketinggian, selain itu kita juga bisa menaiki wahana yang ada di Gunung Pinang, banyak spot foto yang instagramable banget, cocok lah untuk kita anak muda yang senang foto,” ungkap Reni, salah seorang pengunjung asal Serang.

Hingga saat ini sudah banyak wahana pilihan yang ditawarkan wisata alam Gunung Pinang. Awalnya hanya dengan jumlah spot berfoto ria yang minim, kini sudah diramaikan dengan Green Pinang yang berisikan spot foto tentang dunia fantasi seperti rumah hobbit, flying fox dan lainnya yang dimiliki swasta dan perorangan, Gowes fly atau sepeda terbang milik Lembaga Masyarakat Desa Hutan dan Taman Langit yang berisikan tempat-tempat untuk berswafoto seperti sarang burung, rumah unik, kursi taman berbentuk hati dan masih banyak lagi.

Penulis :
– Nurul Istianah Dewi
– Rizka Farikha,
Keduanya adalah mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten.