Beranda Olahraga Kepemimpinan Captain Tim

Kepemimpinan Captain Tim

188
0
(Sumber foto: sofascore.com)

Pertandingan (Perdana) Ronaldo dan Messi

Oleh Ken Supriyono

Piala Dunia, turnamen terbesar sepak bola. Sejak dibuka per 14 Juni 2018, di Stadion Luzhniki, Moskow, Rusia, langsung menghentak jutaan pasang mata penjuru dunia. Semua menanti tim dan pemain favorit berlaga merengkuh juara. Tak terkecuali, fans Cristiano Ronaldo dan Leonel Messi.

loading...

Banyak asa dipundak keduanya. Warga Argentina yang terlanjur menyembah Messi bak Dewa, juga warga Portugal yang terlampau mengidola Ronaldo sebagai mega bintang sepak bola. Keduanya selalu dibandingkan.

Rivalitas dua pemain terbaik dunia ini seperti tak habisnya. Atsmofer itu memanas sejak Ronaldo membawa juara Champione Leage dan Messi membawa Barcelona juara liga Spanyol. Kini, kepiawaian mereka akan diuiji di ajang perhelatan empat tahunan. Bisakah Ronaldo mendulang sukses bersama Portugal, sebaliknya Messi bersama Argentina?

Nyatanya, pertandingan perdana keduanya di Piala Dunia langsung jadi sorotan. Beranda media tak ada habisnya mengupas. Bahkan, kali pertama tiba di Maskow, Ronaldo-Messi terus menjadi bidikan lensa awak media. Begitu juga pertandigan permulaan mereka di fase group.

Keduanya sama-sama dipercaya menjadi captain tim. Tulang punggung kesuksesan masing-masing negaranya. Sayang, pertandingan keduanya tak berjalan mulus. Ronaldo bersama Potugal harus puas berbagi point dengan Spanyol, sedangkan Messi bersama Argentina ditahan imbang tim debutan Islandia.

Namun, Ronaldo tampil lebih ciamik dibandingkan Messi. Melawan Spanyol Ronaldo sukses menorehkan rekor Hattrick dan menjadi pemain yang secara beruntun mencetak goal sejak debutnya membela Portugal. Padahal, melawan tim matador tak mudah. Juara Piala Dunia 2010 itu dihuni pemain-pemain bintang dari berbagai tim elit di benua biru. Termasuk, Sergio Ramos–captain Spanyol–,yang juga rekan setim Ronaldo di Real Madrid.

Melawan negara tempat ia merumput di clubnya, Ronaldo menunjukan kelasnya. Jebolan akademi Sporting Lisbon langsung tancap gas memecahkan telur. Hadiah pinalti untuknya tak disia-siakan. Eksekusinya langsung merobek jala gawang Spanyol yang dikawal David De Gea. Portugal memimpin skor pertandingan sebelum disamakan Diego Costa.

Spanyol memang lebih dominan ketimbang Portugal. Bahkan membalikan keadaan menjadi 3-2. Tapi, anak asuh Fernando Santos tak ciut nyali. Juara Piala Eropa 2016 ini memacu diri membalas serangan. Ronaldo juga mengukuhkan goal balasan (hattrick). Free kick dua menit jelang bubaran menyelamatkan muka Portugal dari kekalahan melawan juaran Piala Dunia 2010.

Sebaliknya, nasib sial menimpa Messi yang melakoni pertandingan sehari sesudahnya. Meski sama-sama imbang di laga perdana, Messi terlihat kurang bersinar. Selain imbang dengan tim yang jauh kelas dengan Argentina, peluangannya mencetak goal dari pinalti tak berhasil dimanfaatkan dengan baik. Messi juga berkali-kali gagal saat mengeksekusi free kick. Padahal, sebelum Argentina bermain, media masa sudah memprediksi Argentina akan menang mudah atas Islandia. Anak asuh Jorge Sampoeli juga digandang-gadang akan banyak menghujami goal. Sayang, prediksi itu tak sejalan dengan hasil di lapangan. Tim Tanggo harus puas berbagi point.

Islandia memang bukan tim favorit juara. Tim yang ditukangi Heimir Hallgrimsson baru kali pertama tampil di Piala Dunia. Namun, tim berjuluk Strakarni Okkar ini punya spirit juang yang hebat. Ronaldo cs pernah merasakannya. Pada fase group Piala Eropa 2016, Portugal ditahan imbang. Bedanya, saat itu Ronaldo tetap berhasil melesahkan goal. Goal yang juga menyelamatkan muka Portugal dari kekalahan tim yang dipimpin Arron Gunarsson.

Bukan soal trigol dan diraihnya Man of The Mach oleh Ronaldo di pertandingan perdana gelaran akbar empat tahunan itu, Ronaldo juga menunjukkan leadershipnya sebagai seorang captain. Ronaldo tidak hentinya memotivasi rekan setimnya yang sedang tertinggal. Spirit seorang bintang yang dipercaya menjadi jenderal tim. Sikap itu, nyatanya bukan sekalinya diperlihatkan Ronaldo. Di Real Madrid, meski bukan seorang captain, ia seringkali memimpin rekannya menjaga spirit bertanding hingga menit 90. Jejak itu terlihat jelas saat El Real menyingkirkan Juventus di pentas Champione leage.

Sama-sama bintang lapangan, kepemimpinan ini justru tak diperlihatkan Messi sebagai captain. La Pugga hanya diam membisu. Tak ada teriakan motivasi untuk rekan-rekannya. Sialnya, pergantian pemain yang dilakukan Jorge Sampoeli juga tak membuahkan hasil maksimal. Pertahanan kokoh Islandia berhasil meredam serangan bertubi-tubi Argentina. Dan, tibalah pengadil lapangan eniupkan peluit panjang. Tiupan yang tak memuaskan La Mesia cs.

Kekesalan yang hanya bisa dicurahkannya dengan menendang bola jauh-jauh ke atas. Kepala menunduk, dan langsung keluar meninggalkan lapangan. Hal yang beda justru dilakukan Ronaldo. Meski sempat adu syaraf dengan De Gea, ia justru menyambanginya dan saling memberi semangat. Tangannya menjabat erat, badannya merengkuh memeluk sebagai rasa hormat sebagai sesama pemain sepak bola. Tak heran, fans Spanyol pun tetap memberi rasa hormat bagi Ronaldo dengan nyanyian—Ronaldo… Ronaldo… Ronaldo–, lagu yang selayaknya berkumandang di Santiago Bernabue–.

Pertandingan keduanya memberi pelajaran penting. Bahwa, sepakbola bukan sekadar soal kepiawaian mengolah si kulit bundar di atas rumput hijau. Skil individu penting, tapi kolektivitas tim jauh lebih penting. Skil tingkat dewa penting, tapi memimpin rekannya menjaga semangat tak kalah penting. Saat kondisi tim dalam kondisi kritis (tertinggal), sikap kepemimpinan pemain yang dibintangkan (captain), jauh lebih dibutuhkan untuk memompa spirit juang.

Tampaknya pertandingan (perdana) itu memang menjadi milik Ronaldo dan Portugal. Bukan soal tiga goal yang dilesahkannya. Namun kepemimpinan terhadap rekan-rekannya. Sikap yang juga pernah diperlihatkan Ronaldo saat menghantarkan Portugal menerima titel juara Benua Eropa 2016. Ronaldo yang menepi (cidera) di pinggir lapangan, tetap memimpin rekannya yang berjuang. Teriakannya sebagai captain tak berhenti sampai peluit penjang ditiupkan pengadil lapangan.

Sebagai pesepakbola, Ronaldo tentu punya rasa penasaran untuk merengkuh titel Juara Piala Dunia. Kesuksesan yang ingin disandingkan dengan juara Piala Eropa dua tahun silam. Terlebih, di level club, sudah tak ada satu pun turnamen yang luput dari kesuksesannya. Hanya Piala Dunia yang akan melengkapi gelar juara.

Demikian juga Messi, Piala Dunia adalah mimpi untuk bisa menyamai torehan pendahulunya, Diago Maradona. Kesempatan empat tahun silam yang hampir saja dilakukan Messi sebelum akhirnya kandas oleh Jerman. Tim Panser, memang lebih dikenal kolektivitasnya, ketimbang individu-individu pemainnya.

Pertandingan (perdana) Ronaldo dan Messi memang menarik jutaan pasang mata. Bukan soal skil mereka yang di atas rata-rata. Tapi sikap mereka sebagai seorang bintang sekaligus captain tim. Kebintangan yang tak hanya melulu soal adu skil individu, tapi sikap kepemimpinan terhadap tim. Karena sejatinya, juara dunia adalah persembahan atas permainan kerjasama tim memenangkan pertandingan demi pertandingan.

Apa gunanya Messi mendapat pemain terbaik dunia di saat Argentina hanya menjadi runner up Piala Dunia 2014. Namun, betapa harumnya Ronaldo saat Portugal menjadi juara Eropa 2016, padahal ia tak bermain full dan hanya memimpin rekan-rekanya dari tepi lapangan.

Tanpa mengecilkan potensi pemain-pemain potensial lainnya, keduanya akan tetap menjadi sorotan. Lensa media akan terus membidik gerak gerik mereka, layaknya bek-bek tim lawan yang siap menjegal pergerakannya membobol jala gawang.

Belum ada simpulan apa pun hingga turnamen ini melabelkan nama untuk sang juara. Namun, alangkah baiknya, Argentina tidak terlalu membebankan itu kepada seorang Messi. Ia bukan Dewa. Terlebih masih ada pemain muda berbakat, semacam Paolo Dybala yang juga layak diperhitungkan. Kiranya Argentina bisa memberi kesempatan kepada Dybala agar permainan kolektif tim lebih berwarna, lebih hidup, dan mewujudkan asa warga Argentina merengkuhan mimpi, pasca terakhir juara pada Piala Dunia 1986, di Meksiko.

Juga dengan Portugal. Ronaldo memang tulang punggung tim. Namun, kolektivitas tim akan mempermudah kerja Ronaldo sebagai juru gedor. Selakyaknya Portugal mendulang sukses di piala Eropa dua tahun silam. Betapa pentingnya kolektivitas tim, dan kebintangan (kepemimpinan) Ronaldo dan/atau Messi adalah nyawa, spirit, dan visi juara sebagai tim.

Selamat menyaksikan pertandingan demi pertandingan Piala Dunia 2018. Salam persaudaraan, salam sportivitas.

Jurnalis Radar Banten/Pegiat Komunitas BantenFuture.

loading...