Beranda Sosial dan Budaya Jasa KH Syam’un untuk Etnis Tionghoa di Tangerang 

Jasa KH Syam’un untuk Etnis Tionghoa di Tangerang 

Brigjen Syam'un. (Foto: istimewa)

Sepak terjang KH Syam’un bukan cuma dalam bidang pendidikan agama Islam di tanah air. Ulama sekaligus pejabat militer Brigjen KH Syam’un juga pernah ambil peran dalam upaya meredam salah paham antara masyarakat Banten di Tangerang terhadap etnis Tionghoa di Tangerang.

Cerita bermula saat Belanda bergerak ingin menguasai Tangerang. Belanda membonceng pasukan Sekutu dan mengultimatum agar pasukan bersenjata pembela tanah air menyingkir dari Tangerang hingga radius 4 kilometer ke seberang Sungai Cisadane. Ultimatum itu disebarkan Inggris melalui udara pada 16 Mei 1946 dengan klaim bahwa pemerintah RI sudah menyetujuinya.

Menurut Matia Madjiah dalam bukunya Dokter Gerilya (1993) peristiwa itu nyaris sama dengan yang dilakukan sekutu terhadap Jakarta dan Bandung. “Belanda membonceng kepada kekuatan Sekutu, kemudian memancing perlawanan dari para tentara kita,” kata Matia dalam buknya.

Ultimatum tersebut mendapat pembenaran dalam kasus Bandung, dimana Perdana Menteri Sutan Syahrir meminta TRI untuk mengikuti keinginan Inggris agar TRI meninggalkan Bandung Utara dan Bandung Selatan pada 23 Maret 1946 dan berujung peristiwa Bandung Lautan Api.

Keesokan harinya, 17 Mei 1946 tentara Sekutu sudah merangsek ke Serpong. Kondisi semakin gawat. Masyarakat Tangerang kian panik. Oleh sebab itu, Pemerintah melakukan rapat bersama TRI, kepolisian dan wakil-wakil rakyat menyikapi ultimatum tersebut. Rapat diambil alih oleh rakyat Tangerang dan dipimpin oleh Sutejo.

TRI yang sudah mendapatkan perintah untuk mengindahkan ultimatum tersebut, akhirnya memutuskan bergeser sambil memindahkan pemerintah Kabupaten Tangerang ke Balaraja. Namun menyuplai granat dan bahan peledak lain kepada badan-badan perjuangan rakyat Tangerang.

Pertempuran meletus di beberapa pos pertahanan badan di Tangerang. Pasukan Sekutu berhasil membombardir pertahanan para pejuang di Tangerang. Akhirnya masuklah tentara Sekutu dan NICA ke Tangerang dibantu pula oleh barisan Pouw An Tui. “Pertahanan rakyat bobol,” kata Matia.

Setelah menguasai Tangerang, upaya membumihanguskan daerah tersebut seperti layaknya Bandung gagal karena perlawanan keras dari etnis Tionghoa di sana. Tangerang jatuh ke tangan sekutu pada 22 Mei 1946 pukul 13.00 WIB. Anak buah Pouw An Tui menurunkan bendera merah putih dan menggantinya dengan bendera Belanda.

Masyarakat Tangerang yang tak mau dijajah kemudian mengungsi ke Banten dan wilayah Tangerang yang masih dalam perlindungan RI. Barisan Pouw An Tui bersama pasukan NICA yang menguasai Tangerang bertindak begitu kejam terhadap penduduk. “Seakan mereka membalas dendam terhadap kekejaman yang dialami pada masa awal revolusi dari golongan kiri,” imbuh Matia.

Rupanya kekejaman Pouw An Tui tersebut membangkitkan kebencian penduduk terhadap atnis Tionghoa. Dari sinilah salah paham terjadi dan merugikan etnis Tionghoa yang ikut menggagalkan upaya Sekutu membumihanguskan Tangerang.

“Akhirnya kebencian tersebut meledak dalam bentuk pembalasan dari pihak rakyat. Sayangnya yang menjadi sasaran pembalasan itu justru orang-orang Cina yang ada di daerah RI yang justru harus dilindungi keselamatan jiwa dan harta bendanya.”

Tidak sedikit etnis Tionghoa di Tangerang menjadi korban pembunuhan karena kemarahan rakyat. Kabar tersebut tersebar melalui koran dan radio. Pihak musuh mengambil momentum untuk menyebarluaskan berita tersebut dengan tujuan merugikan posisi Indonesia di mata dunia internasional. Pemerintah Kabupaten Tangerang bersama TRI dan polisi serta tokoh masyarakat langsung bertindak memberikan perlindungan.

Informasi tersebut segera menjadi isu internasional. Tiongkok Nasionalis yang mendukung pemerintah Indonesia marah akibat mendengar kabar tersebut. “Untuk menyadarkan kekeliruan rakyat maka Komandan Brigade I Tirtayasa Kolonel KH Syam’un membentuk semacam task force (team khusus) yang mengikutsertakan para alim ulama dan tokoh-tokoh terkemuka masyarakat, untuk memberikan penerangan ke pelosok-pelosok,” tutur Matia dalam bukunya.

KH Syam’un bersama Mayor Jenderal Nasution langsung turun ke bawah (Turba) memberikan penerangan tersebut. Hingga akhirnya rakyat dapat disadarkan akan kekeliruan tersebut. Kesalahpahaman pun mereda dengan sendirinya. (you/red)