Beranda Kesehatan Wabah Ini Terjadi di Masa Kesultanan Banten

Wabah Ini Terjadi di Masa Kesultanan Banten

Kawasan Banten Lama - foto istimewa Instagram

Saat ini wabah Coronavirus atau Covid-19 tengah melanda dunia. Wabah ini juga tengah membayangi masyarakat Banten saat ini. Enam kabupaten dan kota di Banten dilaporkan terserang wabah Corona.

Data Gugus Tugas Covid-19 Banten pada Sabtu 18 April 2020 menyebutkan, totoal pasien positif Covid-19 di Bantens sebanyak 229 kasus positif. 162 orang masih berjuang untuk sembuh, 31 sembuh dan 36 meninggal dunia.

Kasus positif Covid-19 tersebut sudah ditemukan di Kota Serang, Tangerang Raya (Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, dan Tangerang Selatan), serta Kabupaten Serang dan Kabupaten Pandeglang.





Di Banten sendiri, wabah yang menyerang pernafasan pernah terjadi dan hampir menewaskan sepertiga penduduk Banten pada abad 17 silam. H.J. de Graaf, dalam bukunya berjudul Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung, menyebut dalam laporan ke Negeri Belanda tanggal 27 Oktober 1625 telah diberitakan bahwa penyakit menular itu mengakibatkan sepertiga penduduk di Banten meninggal dunia dalam lima bulan. Begitu juga di tempat lain seperti Batavia dan Cirebon hingga Surabaya.

De Graaf mengatakan bahwa “kebanyakan [meninggal dunia] disebabkan oleh penyakit paru-paru yang membuat orang demikian sesak napas, sehingga dalam satu jam saja dapat meninggal,” seperti dilansir dari Historia.id.

Sejarawan dari Prancis, Claude Guillot menyebut penyakit yang menyerang masyarakat Banten tersebut adalah pes (la peste). Wabah hebat pes, menurut Guillot tahun 1625 merenggut nyawa sepertiga jumlah penduduk Banten, seperti disebutkan dalam buku Banten: Sejarah dan Peradaban Abad X–XVII.

Jumlah penduduk Kesultanan Banten kala itu menurut catatan sejarah antara 80.000 orang di pengujung abad ke-16. Setelah diserang wabah pes menyusut drastis menjadi 50.000 orang.

Oleh seorang sastrawan cum filsuf Albert Camus wabah yang juga menyerang Eropa tersebut tergambar apik melalui novel La Peste alias Sampar. Meski memotret kehidupan kota Oran Aljazair sebagai koloni Perancis kala itu, novel tersebut banyak menginspirasi pembaca sastra dunia.

Bukan saja menampilkan absurditas manusia di tengah wabah yang merajalela, namun begitu metaforis menggambarkan begitu frustasinya masnusia di tengah Perang Dunia II.

Jika pada Coronavirus hewan tertuduh adalah kelelawar, di La Pesete hewan tertuduh adalah tikus. Kemunculan banyak bangkai tikus di Kota Oran menjadi lonceng wabah sampar mulai mengepung kota itu. Meski pemimpin Oran berupaya menutupi wabah tersebut, perlahan-lahan korban mulai berjatuhan hingga kota itu layaknya kota mati dan tertutup.

Sumber: Historia.id