Beranda Cinta Jangan Senang Dulu, Menikah Bukanlah Satu-Satunya Cara Mengatasi Masalah Hidup

Jangan Senang Dulu, Menikah Bukanlah Satu-Satunya Cara Mengatasi Masalah Hidup

89
0
Ilustrasi - foto istimewa Vemale.com

Punya pengalaman tak menyenangkan atau tak terlupakan soal pertanyaan ‘kapan’? Kata ‘kapan’ memang bisa jadi kata yang cukup bikin hidup nggak tenang.

Seperti kisah yang dilanair vemale.com Pada dasarnya kamu nggak pernah sendirian menghadapi kegalauan dan kecemasan karena pertanyaan ‘kapan’.

Aku pernah mendengar seorang ulama pernah berkata, “Seagung-agungnya ibadah adalah tidak menyakiti hati saudara muslimnya, tidak menyakiti dengan lisan dan tidak melukai dengan perbuatan.” Terkadang kita tidak sadar bahwa perkataan yang kita ucapkan telah menyakiti hati teman kita sendiri, bahkan untuk pertanyaan yang sangat simpel seperti “Kapan nikah? Kapan mau punya anak? Atau kapan sih kamu lulus kuliahnya?

Mungkin sebagian orang berpikir pertanyaan semacam itu hanya pertanyaan biasa yang kalau kita masukin ke hati mereka akan dengan santai bilang, “Ya ampun baper banget sih?” padahal kita tidak bisa menyamakan penerimaan masing-masing orang atas pertanyaan yang mereka dapatkan. Kenapa kita kadang merasakan bahwa pertanyaan-pertanyaan seperti itu menyakitkan? Karena terkadang pertanyaan semacam itu hanya untuk menyudutkan atau mengecilkan hati orang lain, tanpa ada niat baik yang sebetul-betulnya tulus dari pertanyaan seperti itu.

Mama pernah bilang kepadaku, “Berbicaralah dengan hati yang mendoakan kebaikan.” Jika dalam pertanyaan kapan dan kapan itu terselip doa-doa kebaikan yang benar-benar dari hati mungkin si penerima pertanyaan akan senang menanggapinya, namun jika pertanyaan-pertanyaan tersebut hanya berisi sindiran lalu berulang-ulang dilakukan oleh orang-orang sekitar kita, lama-lama juga akan jengah untuk menanggapinya.

Sebenarnya aku sudah sangat kebal menerima pertanyaan seperti itu, aku wanita usia 28 tahun dan belum menikah, aku masih single. Pertanyaan, “Kapan kawin?” atau “Kapan mau nikah? jangan lama-lama loh,” atau yang lebih menyakitkan lagi pertanyaan seperti, “Kamu kok nggak nikah-nikah sih, makanya jangan suka pilih-pilih banget lah sama cowok.” Menyakitkan? Pasti. Tapi terkadang aku menanggapi pertanyaan-pertanyaan seperti itu dengan jawaban yang sangat sopan seperti, “Ya didoain aja jodohnya disegerakan,” atau terkadang dengan nada bercanda kujawab, “Kapan-kapan,” dengan nada lagu sambil bernyanyi.

Ya ada baiknya memang kita cukup diam saja atau menanggapi dengan becandaan aja, karena kalau memang mereka adalah orang-orang terdekat kita, mereka akan mengerti kok dan tahu benar keadaan kita yang sebenarnya atau malah mendoakan kita bukan ikut-ikutan meneror kita dengan pertanyaan seperti itu. Kadang aku merasakan kalau pertanyaan-pertanyaan seperti itu justru datangnya dari orang yang sebenernya tidak memiliki kedekatan pribadi dengan kita, sekadar teman, tetangga, kenalan atau teman lama yang sudah lama nggak ketemu lalu memakai pertanyaan itu dengan dalih basa-basi yang sebetulnya memang basi.

Seperti yang aku rasakan, justru orang tua, kakak-kakakku, dan sahabat terdekatku tidak pernah ada yang bertanya seperti itu. Aku tahu aku selalu ada dalam di doa mereka dan itu lebih baik daripada terus mempertanyakan hal yang sebenarnya kita sendiri bingung dan tidak tahu mau menjawabnya seperti apa karena tidak punya jawaban atas pertanyaan itu.

Mengapa pernikahan menjadi ukuran kebahagiaan buat seseorang atau malah menjadi solusi atas masalah hidup si single, padahal sebetulnya tidak atau mungkin belum tentu. Orang-orang terdekatku justru tahu banget kenapa sampai sekarang aku belum mau menikah, dan orang lain tidak tahu, mereka hanya mempedulikan pertanyaan mereka yang tanpa tahu dan sadar kalau itu terkadang  menyakitkan hatiku.

Pernikahan menjadi momok tersendiri buatku, trauma akan kehidupan pernikahan orang-orang di sekitarku membuatku berpikir kembali atas pernikahan. Aku mempunyai 3 orang kakak perempuan yang semuanya sudah menikah, namun kehidupan pernikahannya tak membuat sedikitpun aku mengerti dimana letak kebahagiaan dalam pernikahan.

Kakakku yang pertama menikah dan sudah memiliki 2 orang anak, namun hubungannya dengan ibu mertuanya sangat buruk, padahal  mereka tinggal di rumah sendiri namun jarak antara rumahnya dan rumah ibu mertuanya hanya beda berapa blok saja. Akan tetapi ibu mertuanya dan adik iparnya terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka termasuk cara kakakku mendidik anak-anaknya, sampai membuat kakakku gerah dan yang terjadi adalah dia menjadi sering bertengkar dengan suaminya. Setiap kali dia menceritakan itu padaku membuat aku berpikir ulang tentang kehidupan pernikahan yang katanya penuh kebahagiaan itu.

Kakakku nomor 2 adalah orang yang pertama menikah di antara ketiga kakakku. Dia menikah dengan seseorang yang sangat agamis, soleh, ahli ibadah, ya bisa disebut juga seorang ustaz, dia telah dikaruniai 4 orang anak laki-laki. Di mata orangtuaku suami kakakku nomor 2 ini adalah menantu yang paling baik, sering dipuji-puji, namun 7 tahun terakhir ini aku tinggal bersama kakakku ini beserta anak dan suaminya dan aku mendapati bahwa kakakku lebih banyak berjuang untuk menopang ekonomi keluarga mereka.

Selain itu hal yang tidak akan pernah bisa kumaafkan darinya adalah di saat kakakku kerja keras untuk membantu kehidupan ekonomi keluarga mereka, justru suami kakakku ini diam-diam menikah lagi dengan perempuan lain tanpa sepengetahuan kakakku. Di mana otak dan perasaannya terhadap kakakku? Apa yang dia pikirkan saat mengkhianati kakakku yang jelas-jelas tidak ada cacatnya sama sekali sebagai sorang istri, mampu memberikan dia keturunan bahkan mampu menghidupi keluarga mereka. Lalu setiap hari aku harus melihat pemandangan penuh kepalsuan dari sebuah kebahagiaan pernikahan. Rasanya muak.

Kakakku nomor 3 lain lagi, dia memutuskan untuk menerima pinangan dari seseorang yang baru saja dia kenal saat usianya 19 tahun. Bahkan pria yang meminangnya pun belum terlalu mampu secara ekonomi untuk kehidupan berkeluarga, lalu alasan kakakku menerimanya adalah iya mau tumbuh bersama, berjuang bersama, dan mau nikah muda karena biar nanti pada saat anaknya udah gede dia masih muda dan bisa jadi teman anaknya. Namun manusia boleh berencana tapi Tuhan lah yang menentukan.

Setelah 12 tahun pernikahan, buah hati yang dia damba-damba tak kunjung tiba, meski sudah dicek ke dokter dan katanya mereka sama-sama sehat tidak bisa dipungkiri riwayat penyakit stroke di masa muda suaminya dulu sedikit banyak berpengaruh kepada kualitas kesuburan mereka, tapi siapa yang disalahkan dalam hal ini? Yaps perempuan. Ibu mertuanya tetap tidak terima kalau anaknya yang berpengaruh terhadap kesuburan keluarga mereka, kakakku tetap jadi bulan-bulanan ibu mertuanya karena tidak mampu memberikan cucu dari anak lanang satu-satunya di keluarga mereka.

Lalu apakah kehidupan ekonomi mereka membaik setelah katanya mau berjuang bersama, tumbuh bersama? Tidak. Kehidupan ekonomi mereka masih begitu-begitu aja. Kadang aku sedih memikirkan kehidupan pernikahan kakakku itu dan membuatku takut apakah hal itu akan terjadi padaku kelak saat aku menikah dan tak mampu memberikan anak untuk keluargaku kelak. Memikirkannya seringkali membuatku takut dengan pernikahan. Karena sepertinya ukuran kebahagiaan pernikahan dilihat dari punya atau tidaknya anak dalam keluarga.

Kehidupan pernikahan orang-orang di sekelilingku tidak memberikan gambaran yang baik tentang kehidupan pernikahan yang aku pikirkan. Bahkan tidak hanya saudara-saudaraku, teman baikku pun pernah datang padaku tiba-tiba lalu menangis sambil bercerita kalau dia mau bercerai dari suaminya karena suaminya berselingkuh di rumahnya dengan teman kerjanya.

Rasanya kehidupan pernikahan yang terlihat bahagia seperti di postingan instagram-instagram orang-orang itu bohong belaka. Rasanya ingin menyumpal mulut orang-orang yang sering bertanya kapan menikah atau kenapa kamu nggak nikah-nikah dengan jawaban, “Apakah kalian berani menjamin bahwa gue akan bahagia dan baik-baik saja setelah menikah? Atau bahkan gue jauh kebih happy di saat gue single seperti ini?” Namun apa gunanya menjawab pertanyaan yang menyakitkan seperti itu dengan jawaban yang juga menyakitkan.

Bila orang lain menyakitimu dengan pertanyaan yang menyebalkan seperti itu tidak perlu lah kita menjawabnya dengan jawaban yang juga menyakitkan, kalau seperti itu lalu apa bedanya aku dan mereka.

Satu hal yang kupelajari adalah janganlah kita menggantungkan kebahagiaan pada kehidupan pernikahan. Karena bahagia itu kita yang mampu ciptakan bukan bergantung pada satu hal atau orang lain. Untuk urusan pertanyaan yang berhubungan dengan “kapan” itu jika ada yang bertanya mungkin jawaban yang baik dan lucu yang mampu kita berikan adalah, “Hm, tanya aja sama Tuhan. Dia kan yang ngasih jodoh dan rezeki di waktu yang paling tepat dan terbaik.”

Iya karena hanya Tuhan yang tahu jawabannya siapa jodoh terbaik buat kita, kapan waktunya, karena yang aku percaya adalah Tuhan tahu waktu terbaik dari semua hal itu. Rencana terbaik kita pun akan kalah dengan rencana yang paling terbaik dari Tuhan. Jadi stop tanyakan kapan, karena hanya Tuhan yang tahu kapan waktu terbaiknya. (Red)