SERANG- Isu lingkungan mungkin tidak selalu menarik perhatian pembaca. Namun, dampaknya bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat, mulai dari perubahan ruang hidup hingga ancaman keselamatan warga di sekitar kawasan eksploitasi.
Hal itu mengemuka dalam diskusi dan nonton bersama dua film dokumenter pendek, Energi Panas Buat Warga Adat Cemas karya Jurnalis Warga Surosowan dan Tanah Jawara di Ambang Bencana karya BantenNews.co.id yang diadakan oleh Kubah Budaya di Bumi Mutiara Serang (BMS), Kamis (27/8/2026).
Usai pemutaran film, empat jurnalis membagikan pengalaman mereka dalam meliput persoalan lingkungan sekaligus membahas cara isu tersebut semestinya diberitakan. Mereka menilai jurnalis perlu mengutamakan suara warga terdampak dengan memberikan ruang yang lebih besar bagi pengalaman dan kepentingan mereka.
Koordinator Jurnalis Warga Surosowan Bahtiar Rifai bercerita mengenai liputan mengenai rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi (geothermal) di Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, menunjukkan masih adanya masyarakat yang belum mengetahui rencana pembangunan tersebut.
Lokasi proyek, kata dia, juga berada di sekitar kawasan yang berdekatan dengan sejumlah kasepuhan dan hutan adat. Kondisi itu membuat sosialisasi kepada masyarakat menjadi penting, terutama karena merekalah yang akan berhadapan langsung dengan perubahan lingkungan di sekitar tempat tinggalnya.
“Sosialisasi masyarakat yang kami temukan di sana ternyata mereka tidak tahu adanya rencana proyek itu,” kata Bahtiar.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya membangun kepekaan dan sikap kritis masyarakat terhadap persoalan lingkungan. Terlebih, dampak pembangunan tidak selalu dirasakan oleh mereka yang menikmati manfaat ekonominya.
“Kita harus menciptakan kepekaan dan kritis. Tiap ada persoalan lingkungan kita apalagi kalian mahasiswa harus kritis. Kalau gunung dipapas yang nikmatin ekonominya bukan kita dan yang ngerasain dampak lingkungannya juga mungkin bukan kalian tapi saudara-saudara kalian yang hidup di sana,” ujarnya.
Sementara itu, Pemimpin Redaksi BantenNews.co.id Wahyu Arya mengatakan, media perlu terus mengangkat persoalan lingkungan agar kondisi di lapangan menjadi bahan pembicaraan publik.
Film Tanah Jawara di Ambang Bencana yang diproduksi BantenNews.co.id, kata dia, merupakan upaya memperlihatkan kondisi lingkungan akibat aktivitas pertambangan, salah satunya di kawasan Gunung Pinang, Kabupaten Serang.
Menurut Wahyu, kondisi pertambangan di Banten saat ini memprihatinkan. Dampaknya terhadap lingkungan dikhawatirkan akan dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.
Ia mengatakan, karya jurnalistik seperti film dokumenter dapat menjadi pintu masuk untuk membangun perhatian publik terhadap persoalan tersebut.
“Pancingan untuk jadi pembicaraan publik,” kata Wahyu.
Di tengah pergeseran pola konsumsi informasi dari media massa ke media sosial, menurut dia, media perlu mencari cara agar persoalan lingkungan tetap diketahui masyarakat.
“Media massa kini sudah tergeser oleh media sosial, ini situasi yang kita hadapi saat ini. Agar publik mengetahui saat ini kondisinya tidak baik-baik saja,” ujarnya.
Pembicara lainnya, Jurnalis Mongabay Anggita mengatakan, sikap kritis juga diperlukan ketika masyarakat menerima klaim pemerintah mengenai manfaat ekonomi dari suatu proyek pembangunan. Masyarakat, kata dia, tidak seharusnya langsung menerima pernyataan bahwa pembangunan suatu proyek akan meningkatkan perekonomian atau produk domestik bruto (GDP). Klaim tersebut perlu diuji dengan melihat siapa yang sebenarnya memperoleh manfaat dan siapa yang menanggung dampaknya.
“Kita harus skeptis soal pernyataan yang menjulang seperti kalau dibangun ini akan membuat ekonomi kita naik, GDP kita naik, tapi kalau kita baca laporan Walhi misalnya hal itu ternyata enggak menyentuh kehidupan masyarakat langsung,” kata Anggita.
Menurut dia, manfaat ekonomi dari suatu proyek mungkin saja benar-benar ada. Namun, pertanyaan penting yang perlu diajukan adalah kelompok masyarakat mana yang memperoleh manfaat tersebut.
“Jangan gampang terpapar informasi dan harus skeptis. Kenapa penting kita melihat isu lingkungan ini. Beberapa klaim mungkin iya secara ekonomi meningkatkan tapi untuk siapa, untuk golongan siapa?” ujarnya.
Anggita mengatakan, persoalan lingkungan sebenarnya merupakan isu yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat karena berkaitan dengan ruang hidup. Namun, isu tersebut sering kali tidak menjadi perhatian utama publik.
Ia menilai kondisi itu menjadi tantangan bagi media karena liputan lingkungan tidak hanya membutuhkan proses panjang, tetapi juga memiliki risiko bagi jurnalis.
“Isu lingkungan ini bukan isu yang seksi dan isu lingkungan itu tidak terlalu digemari, tapi isu lingkungan juga sebetulnya paling dekat sama kita seperti ruang hidup. Tapi isu lingkungan meski sedikit yang baca tapi proses liputannya justru sulit dan banyak risiko,” katanya.
Selain itu, dampak lingkungan yang dialami masyarakat sering kali tidak masuk dalam perhitungan ketika sebuah keputusan pembangunan dibuat.
“Dampak lingkungan yang dirasakan masyarakat juga sering kali tidak dihitung. Itu merupakan keputusan politik yang dampaknya kita rasakan,” ujar Anggita.
Kepala Biro Banten SCTV Aril Maranoes menuturkan, persoalan lingkungan di daerah kerap berkaitan dengan proyek pembangunan dan kepentingan ekonomi. Dalam peliputan di lapangan, jurnalis juga menghadapi berbagai hambatan, termasuk ketika harus berhadapan dengan aparat.
Ia mencontohkan persoalan pembangunan di Kabupaten Tangerang terkait pagar laut. Menurut dia, konflik serupa juga ditemukan dalam persoalan pertambangan dan galian di sejumlah daerah, termasuk Cilegon.
Aril mengatakan, perataan kawasan untuk kepentingan pertambangan tidak selalu diikuti dengan penanganan dampak setelah aktivitas pengerukan selesai.
“Kalau habis pengerukan biasanya seharusnya direklamasi tapi ini tidak dilakukan,” katanya.
Dampaknya, kata dia, dapat dirasakan langsung oleh masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi pertambangan. Salah satunya risiko keselamatan anak-anak yang bermain di bekas lokasi galian.
“Dampak negatif seperti anak-anak yang tinggal di sekitaran tambang main dan tenggelam di galian itu. Pemerintah tidak melihat itu,” ujar Aril.
Penulis: Audindra Kusuma
Editor: TB Ahmad Faizi
