Di tangan para pengrajin Kampung Kosambi, Desa Bumijaya, Kecamatan Ciruas, Kabupaten Serang, tanah liat bukan sekadar bahan baku. Dari gumpalan tanah itulah lahir gerabah-gerabah khas yang menyimpan sejarah panjang, identitas budaya, sekaligus denyut ekonomi masyarakat.
Namun, kejayaan gerabah Bumijaya tak lagi segemilang dulu.
Di sentra gerabah yang pernah menjadi ikon Kabupaten Serang itu, aktivitas produksi kini tak seramai masa jayanya.
Banyak tungku yang mulai dingin. Sebagian pengrajin memilih berhenti. Sebagian lainnya bertahan dengan pesanan kecil, sekadar menjaga tradisi agar tak benar-benar hilang.
Aspuri, salah satu pengrajin gerabah di Kampung Kosambi, berharap pemerintah hadir lebih serius membantu para pelaku usaha.
Menurutnya, persoalan utama yang dihadapi pengrajin bukan hanya pemasaran, tetapi juga akses bahan baku tanah liat berkualitas dan keterbatasan modal usaha.
“Kalau bahan baku dan modal usaha terpenuhi, kualitas dan kapasitas produksi kami pasti bisa meningkat,” ujarnya.
Bagi para pengrajin, tanah liat berkualitas menjadi nyawa utama produksi. Ironisnya, bahan baku terbaik justru banyak keluar dari Kabupaten Serang dan berakhir di daerah lain.
Wakil Bupati Serang, M. Najib Hamas mengaku, dirinya menemukan persoalan mendasar itu saat turun langsung ke sentra gerabah Kosambi. Ia menyebut bahan baku tanah liat dari wilayah Ciruas selama ini justru banyak dibeli pemodal dari luar daerah, termasuk Bali.
“Gerabah ini ikon Kabupaten Serang, tapi kenapa tidak berkembang? Ternyata salah satunya karena tanah bahan bakunya dibeli pemodal dari Bali. Orang Ciruasnya juga dibawa ke sana untuk bekerja,” kata Najib, Sabtu (4/7/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut membuat sentra gerabah Kosambi perlahan kehilangan daya saing. Produk yang dulu bernilai ekonomi tinggi kini merosot drastis. Banyak pengrajin hanya mampu memproduksi gerabah kecil seperti kowi.
Padahal, di tangan pasar yang tepat, gerabah asal Serang memiliki nilai jual sangat tinggi.
“Di sini gerabah mungkin dijual Rp2.500. Tapi di sana bisa dijual Rp15 juta sampai Rp20 juta. Bedanya ada di jaringan marketing dan pasar wisata,” ujarnya.
Najib menilai, kebangkitan gerabah Bumijaya harus dimulai dari tiga langkah utama: penguatan kelembagaan, peningkatan kualitas produksi, dan perluasan jaringan pemasaran.
Langkah pertama, Pemkab Serang mendorong para pengrajin berhenti berjalan sendiri-sendiri. Pemerintah meminta mereka membangun kelembagaan melalui koperasi, kelompok usaha bersama (KUBE), atau BUMDes.
Dengan wadah yang kuat, para pengrajin dinilai akan lebih mudah mengakses modal, pelatihan, hingga pasar yang lebih luas.
Langkah kedua menyasar kualitas produksi. Pemkab Serang berencana menghadirkan tenaga ahli khusus untuk melatih para pengrajin, terutama generasi muda, agar mampu menciptakan produk yang lebih variatif, modern, namun tetap mempertahankan nilai kearifan lokal.
Najib menegaskan, inovasi penting agar gerabah Kosambi mampu bersaing di pasar yang semakin dinamis.
“Anak-anak muda harus mulai tertarik. Produk gerabah harus lebih variatif, lebih kekinian, tapi jangan meninggalkan ciri khas lokalnya,” katanya.
Langkah ketiga adalah memperluas pemasaran. Pemerintah Kabupaten Serang ingin membuka pasar baru dengan mendorong instansi pemerintah, swasta, lembaga pendidikan, hingga sektor perhotelan menggunakan produk gerabah khas Kosambi.
Selain itu, Pemkab juga menyiapkan penguatan digital marketing agar para pengrajin tidak hanya mengandalkan penjualan konvensional.
Najib bahkan melihat peluang besar menjadikan sentra gerabah Kosambi sebagai destinasi wisata edukasi.
Ia membayangkan anak-anak sekolah, wisatawan, hingga masyarakat umum datang langsung ke sentra gerabah untuk belajar sejarah, filosofi motif, hingga proses pembuatan gerabah.
“Kalau sudah tertata rapi, ini bisa jadi eduwisata. Orang datang bukan cuma lihat gerabahnya, tapi juga belajar sejarah dan makna budaya di balik setiap motif,” ujarnya.
Untuk memperkuat perlindungan produk lokal, Pemkab Serang juga mendorong pengurusan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) bagi motif khas gerabah Kosambi.
Langkah ini dinilai penting agar identitas gerabah Serang tetap terjaga dan tidak mudah diklaim pihak lain.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Dsikoperindag) Kabupaten Serang, Adang Rahmat menilai, konsistensi para pengrajin selama ini menjadi kekuatan utama yang menjaga sentra gerabah tetap hidup.
Menurutnya, aktivitas produksi gerabah di Kampung Kosambi, Desa Bumijaya, terus menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.
Di tengah gempuran modernisasi dan perubahan zaman, para pengrajin masih bertahan dengan harapan sederhana, menjaga warisan leluhur tetap hidup.
Kini, harapan itu mulai menemukan jalan.
Jika dukungan pemerintah, inovasi pengrajin, dan pasar yang kuat mampu berjalan beriringan, bukan tidak mungkin gerabah Bumijaya kembali bangkit bukan sekadar sebagai produk kerajinan, tetapi sebagai simbol kebangkitan ekonomi kreatif Kabupaten Serang.
Penulis : Tb Moch. Ibnu Rushd
Editor : Gilang Fattah
