Beranda Komunitas Festival Bantu Teman untuk Ekosistem Perbukuan Indonesia

Festival Bantu Teman untuk Ekosistem Perbukuan Indonesia

JAKARTA – Festival Bantu Teman adalah festival ekosistem perbukuan yang lahir dari aksi #TemanBantuTeman. Aksi tersebut muncul pada awal Agustus 2021, saat sejumlah pekerja buku di Indonesia menggalang donasi untuk meringankan beban rekan-rekan seprofesi yang terdampak pandemi.

“Sebelum pandemi, kami percaya ada banyak permasalahan yang dihadapi oleh para pekerja buku atau pekerja teks, misalnya gaji atau bayaran yang relatif kecil, kontrak kerja dan tunjangan yang sering kali tidak ada, hingga pembayaran royalti yang tak tentu,” ujar M Aan Mansyur, salah seorang inisiator #TemanBantuTeman melalui siaran tertulis, Jumat (10/9/2021).

Pada bulan Juli, saat angka pasien Covid-19 di Indonesia meninggi, pemilik Jual Buku Sastra (JBS) Indrian Koto dan Mutia Sukma mulai menghubungi beberapa nama setelah tahu bahwa ada sejumlah teman yang harus menjalani isolasi mandiri. Tujuannya, menggalang dan mendistribusikan donasi.

“Itu semacam ungkapan cinta bagi teman-teman yang terdampak pandemi,” sambung Aan.

Beranjak dari situasi tersebut, lahirlah aksi #TemanBantuTeman. Selanjutnya, aksi ini tidak hanya menggalang dana buat teman-teman di lingkaran Aan, Indrian, Sukma, dkk (yang notabene para penulis), tapi juga buat para pekerja buku dan pekerja teks secara umum, mencakup para editor, penerjemah, illustrator, layouter, reseller dan pedagang buku, hingga jurnalis.

Saban hari, akun @bantutemanteman menerima puluhan formulir pengajuan bantuan. Para pengisi formulir diminta untuk menjelaskan mengapa mereka (atau orang-orang yang mereka rekomendasikan) perlu dibantu–hal yang jelas-jelas membutuhkan keberanian. Dalam situasi itulah kesadaran bahwa ekosistem perbukuan di Indonesia belum berpihak kepada orang-orang di dalamnya kian menguat, dan gagasan untuk menggelar Festival Bantu Teman pun mencuat.

“Tujuan jangka pendeknya memang untuk memperluas aksi #TemanBantuTeman. Kas kami kembang kempis sementara formulir pengajuan terus bertambah setiap hari. Namun lebih dari itu, kami juga ingin menggelar diskusi yang lebih intens demi mencari solusi atas kondisi ekosistem perbukuan saat ini,” papar Aan.

Untuk diketahui, seluruh panitia dan pengisi acara yang terlibat dalam festival ini tidak dibayar dan tidak mengambil keuntungan sepeser pun. Semuanya bergerak karena solidaritas dan atas dasar #TemanBantuTeman.

“Tidak ada alasan untuk tidak membantu teman. Setelah memutuskan untuk full menjadi penulis dan pemusik, kemudian pandemi datang, saya masih bertahan ya karena bantuan teman-teman,” kata Reda Gaudiamo, salah satu pengisi acara Festival Bantu Teman.

Eka Kurniawan menambahkan, omong-omong soal teman bantu teman, bahkan sebelum pandemi para pekerja buku sudah terbiasa silih bantu. “Terutama karena kebanyakan mereka tidak memiliki jaring pengaman apa-apa, ya.” Menurut Eka, kegiatan seperti Festival Bantu Teman sebaiknya direplikasi agar obrolan mengenai perbaikan ekosistem perbukuan menjangkau audiens yang lebih besar.

70 Pengisi Acara, 20 Sesi

Festival Bantu Teman diadakan secara daring pada 14-18 September 2021. Sebanyak 70 pekerja buku, seniman, musisi, pembuat film, dan jurnalis akan mengisi 20 sesi festival ini. Ya, dalam sehari, ada empat program yang digelar, meliputi diskusi panel, talkshow, dan pertunjukan. Adapun tema yang dibicarakan berkisar seputar penerbitan, penerjemahan, kepenulisan, ekonomi kreatif, lintas media, serta media baru.

Untuk mengikuti rangkaian program Festival Bantu Teman Anda bisa mengambil paket donasi melalui link bit.ly/festivalbantuteman. Ada dua paket donasi yang disediakan, yakni paket terusan 350 ribu rupiah untuk 20 sesi (lima hari) dan paket harian 100 ribu rupiah untuk 4 sesi. Semua donasi yang masuk akan disalurkan kepada pekerja buku yang terdampak pandemi. Laporan donasi akan diinformasikan secara berkala melalui akun Instagram dan Twitter @bantutemanteman.

Setelah registrasi terkonfirmasi, peserta festival akan mendapatkan tautan untuk mengikuti program festival pilihannya.

“Kami berharap festival ini memberi dampak nyata bagi pekerja buku, dan membuahkan solusi atas berbagai kekurangan dalam ekosistem perbukuan di tanah air,” kata Aan.

Terakhir, atas nama penyelenggara festival Aan mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada teman-teman yang sudah berkenan mendukung Festival Bantu Teman, baik sebagai peserta maupun pengisi acara; serta kepada pihak-pihak yang telah mendukung aksi #TemanBantuTeman sejauh ini.

“Semoga semuanya mendapatkan kebaikan yang berlimpah,” pungkas M Aan Mansyur.

Berikut adalah sederet pekerja buku yang terlibat dalam Festival Bantu Teman:
Adrian Jonathan
Ama Achmad
Ananda Badudu
Andina Dwifatma
Angga Sasongko
Ardhito Pramono
Aris Setyawan
Beni Satryo
Boy Candra
Cholil Mahmud
Ciptaningrat Larastiti
Cyntha Hariadi
Dea Anugrah
Dewi Kharisma Michellia
Dhianita Kusuma Pertiwi
Dicky Senda
Dipa
Dwi Ratih Ramadhany
Eka Kurniawan
Eva Sri Rahayu
Evi Mariani
Evi Sri Rezeki
Faisal Syahreza
Fallissa “utiuts” Putri
Fiersa Besari
Gabriela Fernandez
Galih Nugraha Su
Gina S. Noer
Indah Darmastuti
Indrian Koto
Joko Pinurbo
Kabar Burung
Kalis Mardiasih
Kanaya Sophia
Kapal Udara
Kiki Sulistyo
Lily Yulianti Farid
Louise Monique
M Aan Mansyur
M. Irfan Ramli
Maesy Ang
Marchella FP
Margareth Ratih Fernandez
Margie Segers
Maria Pankratia
Minanto
Monica Hapsari
Muhammad Khambali
Nanik Indarti
Niduparas Erlang
Niesya
Ni Made Purnama Sari
Ninus Andarnuswari
Nurhidaya Rasyid
Oomleo
Papermoon Puppet Theater
Patricia Wulandari
Pradewi Tri Chatami
Prima Sulistya
Puty Puar
Rani Jambak
Rara Sekar
Reda Gaudiamo
Rio Johan
Ronny Agustinus
Ruang Baca
Sabda Armandio
Satria Yanuar Akbar
Splendid Dialog
Teddy W. Kusuma
Tia Ragat
Tiara Sasmita
Triskaidekaman
Umi Lestari
Windy Ariestanty
Wisnu Prasetya Utomo
Yab Sarpote
Yona Primadesi
Yopi Setia Umbara.