Beranda Pemerintahan Efektifitas Disoal, Dewan Pertanyakan Arah Program SAUM oleh Dishub Cilegon

Efektifitas Disoal, Dewan Pertanyakan Arah Program SAUM oleh Dishub Cilegon

Kondisi salah satu shelter SAUM Dishub Cilegon di Jalan Lingkar Selatan. (Foto : Gilang)

CILEGON – Sejak resmi efektif beroperasi pada awal Februari lalu, program Sarana Angkutan Umum Massal (SAUM) oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Cilegon belum memberikan dampak apapun bagi daerah.

Melalui pengoperasian dua bus Trans Cilegon Mandiri (TCM) di lintasan Jalan Lingkar Selatan (JLS) pada empat shelter yang ada pun dirasakan belum mempengaruhi volume kendaraan pribadi yang selama ini dinilain pemicu kepadatan lalu lintas kendaraan di ruas jalan.

“Apa yang sesungguhnya menjadi keinginan eksekutif dalam membuat kebijakan itu? apakah sekedar program abal abal atau sekedar menghabiskan APBD saja?,” tanya Anggota Komisi III DPRD Cilegon, Rahmatulloh kepada BantenNews.co.id, Minggu (23/6/2019).

Politisi partai Demokrat ini mengingatkan, pekerjaan teknis empat shelter yang telah menelan anggaran daerah sekira Rp1,57 miliar dari APBD Cilegon 2018 silam. Anggaran itu pun belum termasuk pengadaan dua bus TCM yang hanya beroperasi pada jam-jam tertentu setiap Senin – Jumat tersebut.

“Seharusnya Dishub bisa menjelaskan kepada publik atau minimal pada Komisi III apakah dikomersilkan atau tidak, apakah akan dikelola langsung oleh Dishub melalui UPT atau membentuk BUMD?. Ini jelas kemampuan dinas dalam mengejawantahkan keinginan Pak Walikota yang perlu dipertegas. Karena program itu kan tertuang pada RPJMD, karena itu visi dan misi Walikota,” imbuhnya.

Baca : Dishub Cilegon Wacanakan Pemberlakuan Tarif Komersil Bus Trans Mandiri

Di bagian lain dirinya juga menyoal kabar kondisi shelter yang terdapat di ruas JLS. Selain ruang lantai yang berdebu, kerusakan pintu otomatis pada kanan kiri shelter yang tidak dapat tertutup rapat ditambah kerusakan sarana penunjang di dalamnya pun dinilainya cukup menjadi gambaran keseriusan Dishub dalam menjalankan program tersebut.

“Apalagi ketidakjelasan ini sampai ke fasilitas atau infrastruktur yang baru dibangun dari APBD 2018 sudah rusak atau tidak memadai. Bagaimana dengan pemeliharaannya? Ini amat disayangkan sekali, APBD menguap tanpa hasil dan feedback yang masuk ke kas daerah belum ada,” tandasnya.

Baca Juga : Masih Berplat Merah, Naik Bus Trans Mandiri Cilegon Gratis

Diberitakan sebelumnya dari APBD 2018 lalu itu, Dishub Cilegon sudah membangun empat shelter. Padahal Dishub sendiri ke depan berencana akan melayani penumpang di lima koridor. Koridor pertama dari terminal Seruni ke Ciwandan, kedua dari Seruni ke Jalan Lingkar Utara, ketiga dari Transmart ke Ciwandan, Transmart ke Merak lalu Transmart ke Seruni melalui jalur protokol.

Di bagian lain, Rudi, salah seorang pedagang di sekitaran salah satu shelter di JLS membenarkan sepinya penumpang yang menggunakan sarana bus trans mandiri tersebut. Kendati itu pada hari dan jam kerja.

“Sehari itu paling ada satu atau dua orang aja yang numpang (bus TCM) dari sini, masih sepi. Malah kadangan ngga ada (penumpang) sama sekali. Petugasnya juga (Di dalam shelter) adanya cuma pagi doang,” katanya.

Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan dari Kepala Dishub Cilegon, Andi Affandi yang sempat dikonfirmasi melalui telepon genggamnya. “Saya masih nyetir, ini lagi di jalan tol. Nanti saya telepon lagi,” ujarnya singkat seraya menutup sambungan telepon. (dev/red)