Beranda Sosok Duo Maestro Lukis dari Pandeglang

Duo Maestro Lukis dari Pandeglang

Agus Djaya (kiri) dan Otto Djaya - foto istimewa

Banten terkenal bukan hanya melahirkan para pejuang dan pemberontak terhadap praktik kolonialisme. Tanah Jawara ini melahirkan para maestro di bidang kesenian. Mulai dari maestro seni rupa, maestro di dunia perfilman, juga maestro dalam bidang komedi.

Kiprah para maestro yang lahir dari tanah para Sultan itu bukan saja dikenal di tanah air, namun nama mereka abadi di level internasional sebagai artis–dalam arti luas–yang selalu menginspirasi para apresiator seni dan terutama para khalayak pengagumnya.

Catatan BantenNews.co.id, maestro pertama berkiprah dalam seni rupa. Dialah kakak beradik Agus Djaya dan Otto Djaya. Kedunya dikenal bukan saja sebagai pelukis, namun sebagai pejuang.

Agus Djaya sebagai sulung lahir di Pandeglang, Banten pada 1913 silam dan tutup usia di Bogor, Jawa Barat 24 April 1994.

Semasa kecilnya, Agus Djaya pernah berkeinginan menjadi dokter dengan alasan banyak anggota keluarga yang menjabat profesi tersebut.

Dalam perjalanan hidupnya bakat seni yang kuat dari ibunya ditambah pengarahan dari guru gambarnya semasa sekolah di H.I.S. Pandeglang, Suwanda Mihardja, membuat Agus Djaja menjadi seorang pelukis. Setelah lulus HIS Agus Djaja melanjutkan sekolah ke MULO, Bandung pada tahun 1923, kemudian ke Middelbare Landbouw School, Bogor (1923-1924), dan diteruskan ke H.I.K. Lembang,Bandung tahun 1927.

Selama di Eropa, Agus Djaya juga berkenalan dengan pelukis-pelukis besar Eropa seperti Pablo Picasso di Vallauris, Prancis Selatan. Juga bersahabat dengan perupa dunia Salvador Dali di Madrid, Spanyol.

Setelah memiliki kesempatan yang luar biasa di luar negri, akhirnya ia kembali juga ke tanah air. Selama di tanah air, prestasi dia makin tenggelam dengan dunia seni rupa, hingga suatu ketika ia memutuskan meninggalkan Ibu kota, hijrah ke Kuta, Bali. Di sanalah ia mendirikan studio sekaligus galeri impian di tepi Pantai Kuta.

Di zaman pendudukan Jepang, ia direkomendasikan oleh Bung Karno menjadi Ketua Pusat Kebudayaan Bagian Senirupa (1942-1945).

Selain bakat yang besar di bidang seni, Agus juga bersentuhan dalam bidang intelijen. Pada masa revolusi kemerdekaan, ia aktif sebagai Kolonel Intel dan F.P (Persiapan Lapangan). Agus sering berseloroh dan menertawakan dirinya yang bekerja seni untuk seni, dengan mengorbankan karier sebagai calon jenderal. Namun, setelah kemerdekaan ia kembali aktif ke dunia seni rupa yang selalu dicintainya hingga akhir hayatnya.

Dunia pewayangan rupanya amat menarik hati pelukis kelahiran Pandeglang, Banten ini. Dalam kanvas-kanvasnya, apabila Agus mengerjakan objek wayang, terasa ada kekayaan.

Lukisan Agus Djaja yang berjudul “Kuda Kepang” (1975), cat air, 50 x 68 cm memiliki warna meriah dan humor yang membersit di sana-sini, agus juga terampil menangkap segi-segi lucu kehidupan.

“Penari” karya Agus Djaya (sumber: lukisanku.id)

Ia dinyatakan sebagai salah seorang cikal-bakal seni lukis Indonesia, Agus pendiri dan Ketua Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia) organisasi pertama para seniman seni rupa Indonesia periode 1937-1942.

Cita-cita yang terkandung dalam Persagi sering disebut menyatu dengan cita-cita pergerakan nasional. Reproduksi lukisannya banyak mengisi buku koleksi lukisan Presiden Soekarno, yang dicetak di Beijing 1960-an. Ia menerima pendidikan kesenian dari Akademi Seni Rupa Amsterdam, Balanda.

Ia berpameran baik itu di dalam maupun di luar negeri, di dalam negeri seperti di Taman Ismail Marzuki, Balai Budaya, Museum Pusat, Mitra Budaya, Lembaga Indonesia (LIA), Oet’s fine art gallery, dll. Sedangkan pamerannya di luar negeri seperti di Stedelijk Museum Amsterdam, Galerie Barbison Paris, Grand Prix des Beaux Art Monaco, Biennale Sao Paolo Brazil, International Art Gallery Sydney dll.

Ia berharap generasi muda Indonesia mampu memenuhi museum-museum yang penuh dengan koleksi seni lukis sebagai ciri dari mutu seni budayanya sendiri.

Adik Agus Djaya yakni Otto Djaya yang juga lahir di Pandeglang 1916 juga terkenal sebagai pelukis. Ia adalah anak kedua dari pasangan Raden Wirasandi Natadiningrat-Sarwanah Sunaeni.

Suasana lingkungan rumah Otto memang mendukung profesinya sebagai pelukis: Terletak di atas bukit dengan pemandangan yang indah. Ukurannya pun besar. Selain untuk rumah tinggal, kediaman Otto juga dijadikan guest-house dan galeri untuk menjual lukisan-lukisan karyanya.

Otto sendiri mulai tertarik pada seni lukis dan mempelajarinya saat ia bersekolah di Hollandsch-Inlandsche. Tahun 1928, atau ketika ia berusia 12, ia mulai mengikuti kelas seni pertamanya.

Lukisan “Pertemuan” karya Otto Djaya (Sumber:lukisanku.id).

Ketertarikannya itu berlanjut hingga ia bersekolah di Bandung, di Meer Vitgebreid Lager Onderwijs. Kala itu Otto melukis dengan gaya bebas sederhana. Otto melukis apa yang ia rasa dan ia lihat.

Hal demikian mungkin membentuk Otto dewasa dalam karya-karyanya ke depan menjadi seorang pelukis bohemian, non-konformis, yang mendefinisikan refleksi dan estetika pribadinya sendiri.

(Diolah dari berbagai sumber)