Beranda Opini Burning Season: Representasi Perlawanan Buruh Melawan Ketidakadilan

Burning Season: Representasi Perlawanan Buruh Melawan Ketidakadilan

617
0
Ratusan buruh menutup akses Jalan Perintis Kemerdekaan tepatnya di sekitar Tangcity, Senin (5/10/2020). Mereka menolak pengesahan RUU Omnibus Law Cipta Kerja. (Foto: Alwan/Bantennews.co.id)

Oleh: Salim Rosyadi, Mahasiswa UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten

“… pada awalnya saya mengira hanya berjuang untuk menyelamatkan pohon karet, maka aku berpikir sedang berjuang untuk menyelamatkan hutan hujan Amazon. Sekarang saya menyadari kalua saya berjuang untuk kemanusiaan”
-Cicho Mandes-

Undang-undang Omnibus Law Cipta Kerja yang baru saja diketok palu DPR, tidak berlangsung lama langsung mendapat reaksi luar biasa. Bagi sebagian kalangan, UU tersebut dianggap menguntungkan dalam melakukan reformasi struktural dan mempercepat transformasi ekonomi. Sementara di sisi lain justru dianggap menguntungkan satu kelompok dan menindas kepentingan nasib buruh, petani dan rakyat kecil.



Tidak heran reaksi atas kekecewaan tersebut membuat para buruh, mahasiswa bahkan pelajar turun aksi ke jalanan memadati jalan perkotaan, bahkan berbuntut pada chaos hampir di seluruh pelosok negeri. Sementara potret lain hal ini justru menciptakan klaster tersendiri atas penyebaran Covid-19 yang terus mewabah.

Dari peristiwa mengingatkan pada cerita Cicho Mandes salah satu tokoh dalam film “Burning Season” yang merepresentsikan simbol perawanan atas ketidakadilan kaum buruh sebagaimana yang saat ini terjadi. Yang mengharukan, akhir perjuangan seorang Cicho harus dibayar dengan kematiannya. Kini, untuk mengenang jasanya, wilayah hutan yang ia pertahankan tersebut dijadikan sebagai taman Chacoeira yang diumumkan secara resmi oleh pemerintah Brazil.

Pada awal cerita, film tersebut menggambarkan seorang pekerja karet paruh baya bersama seorang anak lelakinya menelusuri sungai Amazon dengan perahu kecil untuk menjual getah karet kering yang berhasil ia kumpulkan berminggu-minggu untuk dijual ke tengkulak di perkotaan.

Namun, hasil yang ia peroleh tidak sebanding dengan tenaga dan keringat yang ia keluarkan, belum ditambah menempuh waktu untuk menjualnya. Si paruh baya itu melayang terbesit dalam pikirannya sambil pasrah dengan keadaan, ia berharap dengan upah yang ia peroleh cukup untuk membayar hutang dan sisanya sekedar mempertahankan hidup.

Film tersebut berlatarkan era 1950-an menggambarkan sebuah kehidupan masyarakat Chacoeira, Brazil pinggiran sungai Amazon, yang mana masyarakat tersebut menggantungkan kehidupannya pada penyadapan getah karet. Pekerjaan tersebut merupakan salah satu mata pencaharian yang utama bagi mereka.

Dengan sebilah pisau khusus pada tangan mereka yang terampil, mengguratkan pada kulit pohon karet untuk diperoleh getah putih guna dikumpulkan pada tempurung kelapa. Oleh karena itu, keberadaan pohon karet bukan hanya sebatas penyangga keberlangsungan alam, melainkan bagian dari keberlangsungan hidup bagi masyarakat Chacoeira.

Akan tetapi, pada tahun 1980-an, kehidupan masyarakat Chacoeira mulai terusik, daerahnya menjadi terancam semenjak dicanangkannya pembangunan jalan dan pabrik-pabrik peternakan yang akan menghabiskan ladang-ladang petani karet. Terlebih mengancam siklus alam di hutan-hutan tersebut dengan penebangan pohon tua yang hidup beratus-ratus tahun sebagai penyangga dan pelindung keberlangsungan hidup masyarakat sekitar.

Francisco Alves Mendes Filho Cena atau yang lebih dikenal Cicho Mendes merupakan seseorang yang buta hurup, ia lahir dari keluarga penadap karet. Dengan demikian, ia mewarisi pekerjaan ayahnya. Semenjak dihadapkan pada kenyataan tersebut, ia menjadi seorang aktivis lingkungan dan anggota serikat buruh. Bahkan, ia pernah menjabat sebagai presiden gabungan pekerja-pekerja lokal yang berjuang melawan ketidakadilan dan penyelamatan hutan Chacoeira.

Kondisi pekerja penyadap Karet saat itu sangat memprihatinkan. Bagi pemilik ladang, kaum buruh diupah dengan harga murah, bahkan para pengusaha menjadikan mereka sebagai robot-robot pekerja. Ia diperas waktu dan tenaganya untuk mengejar target pasaran dan meraup keuntungan perusahaan, namun tetap saja pada buruh tersebut berada dalam lingkar kemiskinan. Belum lagi kasus-kasus para tengkulak yang menjatuhkan harga dari bahan mentah dengan membuat kerugian yang berlipat bagi para petani karet.

Tidak hanya sampai disitu, seiring dengan program pembangunan yang dicanangkan oleh pemerintah, pohon-pohon karet di hutan Amazon diberangus. Ditebang secara liar, demi pembangunan dan kepentingan investor asing.

Perjuangan Cicho untuk mempertahankan hak-hak petani dan buruh penyadap Karet mendapat perhatian khusus dan dianggap mengancam kepentingan pemerintah korup dan penguasa rakus. Ia membuat pergerakan masyarakat dengan mengorganisir dalam sebuah serikat pekerja Xapuri. Ia bergerak Bersama rakyat untuk memprotes kebijakan pemerintah yang membuat pembangunan jalan dan peternakan dengan menggunduli hutan-hutan penyangga.

Pada tahun 1988, Mendes membuat kampanye untuk menghentikan peternak Darly Alves dan Silva atas rencana penebangan hutan cadangan. Perjuangan tersebut ia tempuh tanpa mengangkat senjata, baginya senjata solutif tanpa harus berdamak pertumpahan darah adalah perjuangan dengan kata-kata, di mana retorika menjadi senjata. Sekalipun perlawanan Mendes harus dibayar dengan kematian teman-teman seperjuangannya, tetapi suatu saat berhadap ia terkenang sebagai pejuang kemanusiaan.

Film tersebut sekiranya sebuah refleksi atas nasib dan kehidupan buruh dari dahulu hingga kini tidak jauh berbeda, ia berputar-putar pada perjuangan ketidakadilan yang seolah tiada berakhir. Isu yang dihembuskan tidak jauh pada persoalan ketidakberimbangan tenaga yang dikeluarkan dengan upah yang didapat, kebijakan yang berpihak pada pemilik modal dan lainnya. Sehingga wajar, jika suara-suara mereka tak henti berteriak atau bahkan turun ke jalan mencari secercah harapan lewat mokropon-mikropon untuk tujuan mendapatkan keadilan dan kesamaan hak sebagai warga negara.

(***)