Beranda Opini Berfilsafat atau Berpuisi

Berfilsafat atau Berpuisi

Ilustrasi - foto istimewa merdeka.com

Berfilsafat atau Berpuisi

Oleh : Sulaiman Djaya

 

Tema dan materi yang diajukan Komunitas Menulis Pontang-Tirtayasa (Komentar), yaitu: Puisi dan Filsafat, sesungguhnya masih sangat longgar untuk ditafsirkan secara bebas. Tema itu bisa berarti: [1] Membincang puisi dan filsafat secara berbarengan, [2] Membincang hubungan puisi dan filsafat atau korelasi filsafat dan puisi, dan [3] Mendiskusikan perbedaan dan persamaan antara puisi dan filsafat atau antara filsafat dan puisi.

Dalam kaitannya dengan beberapa hal itu, tentu ada ragam pandangan dan pendapat, baik dari kalangan penyair dan filsuf, maupun dari teoritikus akademis. Ada satu pendapat yang menarik, sebagaimana dikutip Rene Wellek & Austin Waren dalam buku Teori Kesusastraan mereka, yang dilontarkan Rudolf Unger bahwa sastra bukanlah filsafat yang diterjemahkan dalam wujud dan bentuk pencitraan dan dalam wujud puisi, melainkan ekspressi sikap yang umum terhadap kehidupan. Dan bersamaan dengan itu pula, penyair atau pun sastrawan biasanya menjawabnya dengan cara yang tidak sistematis sejumlah persoalan yang biasanya juga merupakan tema-tema dalam filsafat, dengan cara menjawab yang lebih bersifat puitis ketimbang sistematis.

Barangkali, berpuisi dapat saja kita istilahkan sebagai berfilsafat secara longgar, jikapun seorang penyair memiliki niat menjadikan puisi yang ditulisnya bersifat filosofis, di saat perlu juga diajukan pertanyaan: adakah sebuah puisi menjadi tinggi nilai dan posisinya jika berbau, bercitarasa, dan bersifat filosofis? Tidakkah sebuah puisi dinilai berdasarkan kemampuannya untuk menawarkan suatu wawasan dan cakrawala yang tidak sistematis dan tidak konseptual? Bila demikian, ternyata, tema dan materi diskusi Puisi dan Filsafat lebih sebagai kesempatan yang justru membuka banyak pertanyaan ketimbang jawaban, sebuah moment yang justru mengajak kita untuk berfilsafat, dan nantinya kalau bisa, berfilsafat dengan berpuisi.

Meski mengutip pandangan yang bernada kontra terkait korelasi positif antara sastra dan filsafat, Rene Wellek dan Austin Warren toh tetap pula mengakui sejumlah penyair yang filsuf dan sejumlah filsuf yang penyair, dan kiranya sejumlah nama itu (yang di sini saya tambahkan nama-nama lainnya yang tak disebutkan Rene Wellek & Austin Warren) tidaklah asing bagi kita yang membaca khazanah sastra, khususnya puisi, semisal nama Sa’adi, Omar Khayyam, Ferdowsi, Goethe, dan Nietzsche, sembari mengemukakan hubungan personal antara para penyair dan filsuf dan hubungan intertekstual dan intelektual mereka.

Singkatnya, teoritikus seperti Rene Wellek dan Austin Warren itu, yang tentu saja berbeda pula dengan Terry Eagleton dari Ingris itu, adalah para pendukung keunikan dan kekhasan disiplin masing-masing antara puisi dan filsafat yang lebih banyak perbedaannya ketimbang persamaannya meski para penyair acapkali membaca karya-karya filsafat dan begitu pula sebaliknya, kerapkali para filsuf membaca karya-karya sastra, terlebih lagi jika diantara mereka terjadi kontak dan hubungan personal dalam keseharian mereka yang memungkinkan terjalinnya intertekstualitas atau terjalinnya intertekstualitas tanpa hubungan personal, seperti ketika Shaw membaca Nietzsche dan Samuel Buttler, James Joyce membaca tulisan-tulisannya Thomas Aquinas, Sighmund Freud, Vico, Carl Gustav Jung, Giardano Bruno dan yang lainnya, sementara W.B. Yeats adalah pengagum dan pembaca filsafat Berkeley. Dan begitu pula, ketika para filsuf membaca puisi-puisi para penyair dan naskah-naskah drama para dramawan dan menjadi para penonton pementasan teater.

Dan bila kita berbicara tentang kesamaan atau pun kemiripan antara puisi dan filsafat, satu diantara kesamaan itu adalah baik penyair maupun filsuf adalah sama-sama manusia yang bertanya tentang semesta dan keseharian mereka, meski metode, cara dan bentuk jawaban atau tanggapan dan refleksi mereka berbeda. Terkait penyair dan filsuf yang sama-sama sebagai makhluk penanya dan yang bertanya itu, filsuf Martin Heidegger bahkan merasa mendapatkan inspirasi filsafatnya ketika membaca puisi-puisinya Friedrich Holderlin yang sanggup menyingkap eksistensi manusia sebagai makhluk ‘yang terlempar ke dunia’ sebagai takdir dan nasibnya. Bila demikian, puisi bahkan memiliki fungsi menyingkap serta menghadirkan ‘wawasan’ dan ‘cakrawala’ baru bagi filsafat selain fungsi katartif dan konsolatifnya sebagai karya seni dan sastra.

Demikian pula, bila filsafat kita pahami secara longgar dalam artian tidak melulu akademis, maka aktivitas dan kegiatan kepenyairan dan kepenulisan puisi bisa saja disebut aktivitas berfilsafat dengan jalan dan caranya sendiri ketika berusaha mengajukan pertanyaan-pertanyaan melalui ironi dan metafora, mengakrabi kehidupan dan keseharian lalu mengekspresikan dan menarasikannya dengan aforistis atau dengan puisi liris. Bukankah para penyair hebat adalah mereka yang acapkali mempertanyakan ulang hidup justru dalam rangka menyegarkannya kembali dan menyadarkan kita akan keberartiannya justru dengan mengajukan sejumlah ironi dan paradoks sembari menyajikannya secara indah yang akan membuat kita tersadar akan keberadaan hidup dan kehidupan itu melalui media dan instrument bahasa yang telah digubah melalui metafora atau perumpamaan di saat para filsuf melakukannya secara argumentatif?

Martin Heidegger adalah salah-satu filsuf yang memberi penghormatan dan memiliki kekaguman besar pada puisi dan penyair, dan kemudian filsuf Jacques Derrida dan sejumlah filsuf mutakhir pasca Heidegger memiliki minat yang mendalam pula kepada puisi khususnya dan sastra umumnya. Penyair, dengan merujukkan contohnya kepada Friedrich Holderlin, adalah wujud manusia otentik dan puisi merupakan bahasa paling tinggi, yang sanggup mengajak pembacanya menuju pengertian mendalam tentang otentisitas manusia dan menyingkapkan wajah hidup dan kehidupan yang jujur dan otentik pula.

Puisi itu sendiri adalah buah refleksi penyairnya ketika mengada dalam semesta dunia dan aktivitas menulis dan menghasilkan puisi tentu saja tak lepas dari aktivitas merenung dan berpikir. Seperti ketika penyair memikirkan dan memilih kata atau ketika ‘memikirkan’ bagaimana bentuk naratif puisi yang akan ditulisnya. Tidakkah hal demikian merupakan wujud aktivitas yang juga mirip dan bahkan sama ketika filsuf “memikirkan” dunia dan hidup yang kemudian ia refleksikan dalam wujud traktat atau pun risalah pemikiran atau tulisan filsafat yang sistematis dan argumentatif? Hanya saja, puisi ditulis sembari menghibur dan menghadirkan keindahan sebagai sebuah seni dan karya sastra, sedangkan filsafat acapkali dihadirkan sebagai risalah yang sistematis dan argumentatif, hingga seorang George Santayana pernah berujar bahwa, “filsafat adalah sesuatu yang beralasan dan berat, sementara puisi adalah sesuatu yang bersayap, berkedip dan terinspirasi”, sebuah pernyataan yang akan mengesankan bahwa puisi lebih tinggi posisinya ketimbang filsafat, dalam arti puisi yang memang senantiasa memancarkan makna dan pemahaman yang senantiasa relevan ketika masih selalu dibaca, seperti sejumlah puisi-puisinya Jalaluddin Rumi.

Dan bila kita sependapat dengan Martin Heidegger, anggap saja berpuisi adalah berpikir (berfilsafat) secara non-konseptual dan non-sistematis, sebagaimana kita pun bisa menganggap puisi sebagai sebuah filsafat non-konseptual untuk puisi-puisi yang memang bercitarasa dan bersifat filosofis. Meski acapkali puisi-puisi yang justru filosofis adalah puisi-puisi yang ketika penyairnya menulis puisi-puisi itu malah tak memiliki niatan (intensi) menjadi filosofis, seperti ketika puisi-puisinya William Wordsworth yang hanya sekedar melukiskan keindahan alam dan kesepian seorang penyair dalam mengarungi nestapa hidup:

Berkelana-lah aku sepi bagai awan
Membubung tinggi atas lembah dan gugusan bukit
Seketika aku berjumpa keriuhan
Serumpun daffodil kuning
Di tepi danau, di naungan pohon
Melambai menari dihembus angin

Berketerusan seumpama bintang-bintang yang berkilauan
Dan berkerlap-kerlip di angkasa
Terbentang pada garis tak berujung
Sepanjang tapal batas teluk;
Sepuluh ribu kulihat sekali tatap
Melenggokkan kepala dalam tarian bahagia

Ombak di sisi turut menari, namun mereka
Melangkaui gemerlapan ombak yang riang: —
Seorang pujangga mustahil seriang itu,
Layaknya rerimbun penuh kegembiraan
Aku memandang dan terus memandang namun terlintas di pikiran
Khazanah apa yang telah tersingkap padaku

Sebuah puisi yang terdengar seperti narasi cerita otobiografis moment terilhaminya seorang penyair di kala tersingkapnya tangan-tangan semesta yang menyentuh bathin penyair yang kemudian menuntun penyair untuk merenung dan merefleksikan arti hidup dan perjalanannya dalam mengemban amanat usia sebagai seorang manusia. Sebuah puisi yang sesungguhnya filosofis karena mengutarakan sebuah pertanyaan lembut yang sifatnya reflektif sehingga seakan mengajak kita yang membaca puisinya untuk ‘menghayati’ hidup dan kehidupan yang kadang kita jalani dalam keadaan nestapa dan kadang dalam kegembiraan yang hadir begitu saja. Selamat berpuisi sembari berfilsafat dan selamat berfilsafat sembari berpuisi. (*)

Sulaiman Djaya, budayawan tinggal di Banten.