Beranda Opini Anjing

Anjing

Ilustrasi seekor anjing - foto istimewa WinNetNews.com

Oleh Wahyu Arya

Putri saya suatu hari merengek meminta dibelikan seekor anjing kepada ibunya. Istri saya kaget dengan permintaan putrinya. Lho kok anjing, kenapa bukan kelinci atau kucing. Kelinci sudah pernah beli dan mati karena Banyusuci terlampau sayang dengan memandikannya setiap pagi dan sore hari.

Putri saya memang termasuk penyayang binatang. Walau kadang ekspresi sayangnya di luar dugaan. Dia perlakuan hewan peliharaan sama seperti dirinya yang harus rajin menjaga kebersihan badan. Alhasil kelinci yang baru saja menghuni kandang harus mandi dengan sampo dan supaya tidak terlalu cepat gerah ia taburkan bedak kesekujur bulunya. Ibunya geleng-geleng kepala, saya tak kuasa mencegahnya.

Putri saya melihat kelinci terlalu ringkih sebagai hewan peliharaan. Oleh karena itu ia meminta anjing. Alasan putri saya, anjing lebih kuat dan tahan berendam berjam-jam. Saya tepuk jidat. Meski lagu Helli atau yang akrab disebut lagu Anjing Kecil karya Nomo Koeswoyo di telinga anak saya, secara keseharian sebagai orangtua saya tak siap untuk memelihara hewan yang satu itu. Di samping karena lingkungan rumah mayoritas muslim, saya secara pribadi melihat anjing masih sebagai hewan najis yang merepotkan meski kadang diam-diam tertarik karena ulahnya yang menggemaskan.

Meski begitu, memang ketika saya pikir-pikir, tampaknya tidak ada hewan yang senahas anjing di muka bumi ini. Selain menjadi sasaran suntik rabies para mantri, anjing kerap menjadi kata makian yang berbobot dan pol untuk mengutuk orang atau kondisi yang tidak menyenangkan. Reputasi buruk anjing diperparah karena legitimasi dari ajaran agama melalui jalur fiqih konservatif yang menyematkan label najis kategori berat (mugholadoh).

Jangankan memakan dagingnya, liurnya saja harus dicuci tujuh kali dengan air dan satu kali dengan tanah. Alih-alih repot dengan motode membersihkan liur anjing yang menjilat air di pancinya, modernis macam Sukarno menyarankan anaknya Ratna Djuami membersihkan dengan sabun dan kreolin beberapa kali hingga bersih. Menanggapi protes sang anak yang tidak seperti saran Nabi, Sukarno hanya menjawab enteng: Ratna, di zaman nabi belum ada sabun dan kreolin! Nabi waktu itu tidak bisa memerintahkan orang untuk memakai sabun dan kreolin.

Di dunia medis, posisi anjing semakin tersudut karena penyakit anjing gila alias rabies. Secara asal usul kata rabies sendiri berasal dari bahasan Sanskerta kuno yakni “rabhas” yang berarti melakukan kekerasan dan kejahatan. Kata rabies dalam bahasa Prancis disebut “rage” berasal dari kata benda “robere” yang berarti menjadi gila. Hal tersebut untuk menggambarkan agresivitas anjing yang terkena virus anjing gila.

Bayangkan, sudah ditakdirkan terlahir sebagai anjing mengidap penyakit gila pula. Ibarat kata: sudah jatuh ketiban tangga. Sungguh Asu nasibmu Njing.

Dalam wacana agama, anjing menemukan posisi yang ambigu antara hewan mulia sekaligus hina. Pada beberapa kisah suci misalnya, posisi anjing kadang-kadang menyandang simbol kesetiaan atau kebajikan (dharma) yang melekat pada orang-orang bijak. Di sisi lain, anjing bisa jadi memanggul stigma mahluk rendah, hina dan kotor.

Cuplikan terakhir perjalanan suci para Padhawa dan istri mereka Drupadi moksa misalnya, seekor anjing menyertai pendakian Yudhistira ke puncak Himalaya untuk mencapai surga. Dalam kesendirian perjalanan berat setelah adik-adik serta istrinya seperti Bima, Arjuna, Nakula, Sadewa dan Drupati moksa mencapai surga seekor anjing menemani perjalanan Yudhistira yang sunyi dan melelahkan. Kesetiaan sang anjing yang tak lain dharma dari Dharmawangsa (nama lain Yudhistira) menggugah perasaan raja Hastinapura tersebut.

Ketika Dewa Indra turun dari langit dengan kereta kencananya menjemput Raja Hastinapura itu untuk moksa naik ke surga, Yudhistira menolak meninggalkan anjingnya. Padahal Indra mengatakan anjing tidak boleh masuk ke surga. Hingga akhirnya anjing tersebut menjelma Yama sang Dewa Dharma sebagai ujian Dewa Indra kepada Yudhistira untuk mencapai surga.

Jika dalam Mahabharata anjing muncul sebagai dharma, pada epos Ramayana anjing merupakan ujian sikap adil bagi Rama. Dalam epos agung itu, anjing merupakan reinkarnasi dari penjaga kuil Kalanjara. Suatu hari yang apes, tanpa kesalahan apapun kepala sang anjing dipukul oleh seorang Brahma bernama Sarwatasida. Anjing yang terluka itu mengadu kepada Rama, sang Raja Ayodhya.

Sebagai raja bijak, Rama mendengarkan keterangan anjing itu dengan saksama kemudian meminta pendapat dari para menterinya. Karena seorang Brahma tak bisa diberi hukuman, sang anjing meminta agar Sarwatasida menggantikan tugasnya terdahulu yakni sebagai penjaga kuil
Kalanjara. Alih-alih mendapat hukuman, Sarwatasida mendapat tugas mulia.

Dalam batinnya, sang anjing berharap
Sarwatasida ceroboh dan tak sabar menjalankan tugas sebagai penjaga kuil yang harus tanpa lelah mempersembahkan puja kepada para dewa dan brahmana, serta mengurus keperluan anggota kuil dengan sabar tanpa lelah. Anjing tadi berpikir bahwa Sarwatasida yang terkenal pemarah tak akan sanggup menjalankan tugas tersebut hingga mendatangkan kemarahan dewata. Di situlah sanksi tersembunyi yang dirahasiakan oleh anjing sebagai reinkarnasi dari penjaga kuil.

Pada bagian lain, anjing sebagai binatang yang setia terekam dalam kisah Ashabul Kafi. Seekor anjing menyertai para pemuda beriman yang tertidur dalam gua. Kesetiaan sang anjing mendapat tempat istimewa dalam Quran (18:18 dan 22). Pembaca mungkin masih ingat cerita seorang pelacur dan seekor anjing yang kehausan. Dengan menolong seekor anjing yang kehausan, Tuhan mengampuni dan memberikan sorga kepada seorang sundal. Narasi tersebut seolah rahmat Tuhan melampaui prediksi manusia yang gampang memberi stigma kotor, najis, dan sejenisnya.

Namun pada perumpamaan lain, Quran juga mengibaratkan sifat anjing yang bengal menyerupai para pendusta ayat-ayat Tuhan (Quran, 7:176). Posisi yang dilema memang, tegangan antara yang setia dan pendusta.

Wah, wah. Jika bicara anjing saja sudah panjang begini, bagaimana dengan bicara harimau atau singa. Dan tentu akan lebih kompleks bin njelimet kalau bicara soal ilmu, alim dan ulama. Tabe!

Penulis Mukim di Kota Serang.